Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 3


__ADS_3

...****************...


Tok…tok…tok


Aly yang tengah memasak di dapur mendengar suara ketukan pintu langsung mematikan kompornya, "Aku aja, Kakak lanjut masak aja" ujarnya sambil melewati Aly. Merasa penasaran Aly mengintip siapa yang datang dari pastry.


Klek.


Bugh.


Tak.


Melihat pertempuran yang cepat itu membuat Aly buru-buru mendekati dua orang yang tengah aaling beradu pukulan itu, "Atha!" Aly menangkap tangan Atha dan menguncinya dan Aly juga menendang kaki si penyerang, lalu memuntir tangannya agar menghadap kebelakang, "Om Iyas?".


Aly POV


Aku mengompres lebam milik Atha yang tadi sempat terkena pukulan Om Iyas. Sedangkan Om ku yang satu ini malah membuat minuman untuk dirinya sendiri. Perkenalkan dia Om ku, anak terakhir dari keluarga Arikinan. Bisa dibilang dia lahir karena ketidak sengajaan, bayangkan saja umur ku dengannya hanya selisih 2 tahun saja. Om Iyas sudah bekerja diperusahaan Arikinan yang bernama Kian.Corp. Ralat bukan bekerja, tapi melanjutkan kepemimpinan di sana sebagai CEO. Om ku yang satu ini termasuk orangnya penyanyang keluarga, tetapi dingin kepada orang lain. Mungkin karena itu dia belum juga memiliki kekasih hingga saat ini.


"Om kenapa kesini? Terus kenapa main pukul Atha segala coba?" tanyaku sambil memberikan obat oles pada lebam Atha. Sedangkan dia hanya menatapku dengan tatapan yang membuatku jengkel, "Katakan, aku sedang malas membaca pikiranmu".


Om Iyas menelan air yang tadi berada di dalam mulutnya, "Pertanyaan pertamamu karena Nenek tahu cucu kesayangannya mau pergi, dan yang kedua karena aku dapat kabar ada yang kabur".


Atha menunduk seketika dan menatapku memelas, "Bodo, pokoknya jangan ada yang bertengkar lagi, aku mau istirahat besok harus berangkat awal"


"Emang kamu mau kemana?" tanya Om Iyas sambil kembali menyelesaikan tetesan demi tetesan air minum yang dia buat.


Aku berfikir sesaat dan tersenyum manis, "Kesana" ujarku sambil menunjuk TV yang tengah menanyangkan berita tentang gempa lombok.


Pufttttt.


Seketika aku bisa melihat muka Atha yang sudah basah karena semburan maut, "Kau gila?!" tanya Om Iyas setengah berteriak.


"Gak lah, lagian ini perintah jadi aku harus mengikutinya kan?" tanyaku balik yang membuat Om Iyas hanya bisa menghela nafas kasar dan pasrah.


Om terlihat sedikit gusar tapi, "Kapan kamu berangkat?"


Aku tersenyum dan memeluknya dari belakang, "Besok, mau antar aku?"


"Tidak, Atha yang akan antar. Om ada kerjaan"


Atha mendengus kesal, "Kenapa sih masih ngurusin kafe kecil itu? Om kan CEO di Kian.Corp, jadi fokuslah di Kian.Corp saja" ketus Atha yang masih mengompres lukanya sendiri.


Sebuah gerakan cepat berhasil membuat kain yang sedang dipegang Atha terjatuh. Tangannya sudah terkunci dibelakang, dan badannya sudah menunduk di sofa, "Bilang kaya gitu lagi, jangan harap bisa makan lagi kamu"


"Woy! Dia gak bisa makan, Om gak bisa liat ya" ujarku dengan senyuman manis, tapi terdengar sangat menakutkan.


Om Iyas dan Atha berpelukan satu sama lain, "Ehehe maaf tuan putri" ujar Om Iyas dengan penuh ketakutan.


"Dah aku mau bobo" kataku sambil berjalan kearah lantai dua, "Kau besok antar aku" ujarku sambil menunjuk Atha dilantai satu.


...~...


Pukul menunjukkan jam 12 malam, rumah sudah tenang, tapi aku masih bisa mendengar suara televisi dilantai satu, itu pasti Om Iyas. Om Iyas punya masalah dengan Insomia sleep onset. Dimana dia bisa saja mengantuk tetapi pikirannya tidak bisa untuk mengatakan tidur. Aku terduduk di ranjangku dan menghela nafas berat.


"Sampai kapan…" aku mengambil sebuah pil obat dan keluar dari kamar, "Om" panggilku dan reflek Om Iyas menatapku. Aku memberikan dia segelas air san sebuh pil, "Ini obat Alys, aku tahu Om gak bawa obat kan?" Om Iyas tersenyum tipis dan mengambil gelas serta obat itu.


Setelah meminumnya dia bangkit dan mengelus pelan kepalaku, "Kalo kau sudah ingat kejadian itu, kau bisa tidur nyenyak. Jangan seperti Om yang harus terus bergantung pada obat" ujarnya yang lalu masuk kedalam kamar tamu di dekat ruang tv.


Aku kembali kekamar dan meminum obat yang sama seperti yang tadi aku berikan ke Om Iyas. Aku kembali merebahkan tubuhku, serta memutar sebuah lagu dari earphoneku.


"Kau tak apa?"


"Sakit"


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku meninggalkan mu"


Bugh.


"Selamat datang, selamat bergabung. Zakra"


"Zakra!" aku mengatur nafasku yang masih pendek.


Mimpi tadi apa itu? Itu Zakra? Tapi siapa pria itu? Akhh kepalaku terasa sangat pening! Tadi mimpi atau ingatanku?


Kring…kring…kring


Aku mematikan alarm handphoneku dan langsung bangkit untuk mengambil wudhu.


"Haaaaa!" teriakan sari kamar Atha membuatku langsung berlari menuju kamar Atha yang berada di depan kamarku.


Saat keluar aku juga bertemu Om Iyas yang baru saja naik dan langsung membuka pintu Atha.


"Atha?" panggil Om Iyas yang langsung menghampiri Atha yang masih mengatur nafasnya.


"Kau kenapa?" tanyaku sambil menekan nadi dan mengecek lehernya.


Atha masih mengatur nafasnya lalu mengambil air yang Om Iyas ambil tadi, "Gapapa, Atha cuma mimpi buruk"


Om Iyas menatap Atha heran, "Buruk atau diganggu?" Atha menggeleng pelan dan menatapku.


"Kakak mah enak gak bis…"


"Udah gak usah pada berantem, Atha ikut Om sholat berjamaah aja, Alys juga sholat"


"Iya Om" sahut ku dan Atha bersamaan.


Aku kembali ke kamar dan langsung mengambil wudhu. Setelah sholat aku memilih kembali mengecheck packingan ku. "Sudah semua sepertinya" tiba-tiba aku teringat sesuatu dan membuka lemari rahasiaku yang berada di belakang lemari pakaianku. Setelah merasa semua sudah siap aku memilih mandi terlebih dahulu. Saat sedang bercermin di kamar mandi aku baru sadar, "Kalungku mana?"


Aly POV end.


...~...


"Kau yakin yang kau lihat itu Bang Zidan?"


"Om, aku serius. Yang kulihat itu Om Zidan dan dia minta aku untuk…itu yang gak jelas, setelah itu sosok mengerikan itu…" ujar Atha yang berusaha mengingat mimpinya semalam.


Mereka sedang berjalan pulang sehabis sholat shubuh berjamaah di masjid dekat rumah Aly. Atha menceritakan apa yang dia mimpikan semalam.


Iyas hanya menghela nafas pelan, "Sepertinya akan ada masalah yang sama seperti dulu lagi" celetuk Iyas dengan nada lirih dan berat.


Atha merangkul Omnya itu dan mengelus punggungnya pelan, "Percaya ama Atha, akan ada yang menjaga Kak Alys, dan dia orang yang tak terduga"


Iyas menatap Atha heran dan tersenyum sinis, "Kau bukan penglihat masa depan" ketus Iyas sambil mengacak-acak rambut Atha.


Klek


"Eh?" Atha dan Iyas sama-sama terkejut saat mereka akan membuka pintu, ternyata pintu itu juga akan dibuka oleh Aly.


Aly mengerjapkan matanya berkali-kali, "Apa? Kamu makan abis itu kita langsung pergi" ujarnya sambil melewati mereka berdua yang kemudian menyalakan mobilnya.


Iyas mengisyaratkan Atha untuk masuk mengikuti perkataan Aly, sedangkan dirinya mendekati Aly yang terlihat gusar mencari sesuatu, "Kau kenapa?" tanya Iyas yang akhirnya keluar saat melihat Aly memakai kalung yang biasanya dia hanya cantelkan sebagai pajangan spion dalam.

__ADS_1


"Kalungku hilang, jadi aku ambil kalung ini" jawab Aly sambil tersenyum manis.


Iyas menyerit heran, 'Tapi itu kan kalung…'


"Om katanya ada kerjaan pagi?" celetuk Aly yang membuat Iyas kembali ke alam sadarnya.


"Oh iya, Kamu ati-ati disana" ujar Iyas sambil menepuk pelan kepala Aly lalu meninggalkannya ke kamarnya.


Aly yang tahu apa yang Iyas pikirkan hanya bisa tersenyum tipis lalu pergi ke lantai dua.


...~...


31 Juli 2018


Aly tengah berdiri sambil menatap jajaran obat kumur di sebuah minimarket. Dia mengambil sebuah obat kumur dan setelah dia meluhat komposisinya dia mengembalikannya kembali ketempatnya.


"Umm lebih baik aku beli dua, satu berakohol dan satu tidak" monolognya sambil berniat mengambil salah satu obat kumur yang tidak berakohol.


Tapi saat tangannya akan menyentuh merk obat kumur yang dia incar, sebuah tangan yang lebih besar dari tangannya. Seorang pria menatap Aly, begitu juga Aly yang menatap pria itu. Awalnya Aly menatap pria itu dengan tatapan heran, tapi sedetik kemudian tatapan Aly berubah saat pria itu mengambil obat kumur yang sudah diincarnya dan langsung berjalan meninggalkan Aly.


"Hey!" Pria itu berhenti dan berbalik lalu menatap Aly, "Saya yang lihat duluan obat kumur itu, jadi…"


"Memang disini tertulis nama anda?" potong pria itu dengan wajah polos, "Tidak kan? Jadi ini masih hak semua orang yang melihatnya"


Aly membuka mulutnya karena kesal dan berniat memukul pria itu tapi dia hanya bisa mengepalkan tangannya di depan wajahnya sendiri.


"Huh dasar perempuan aneh" gumam pria itu sambil meninggalkan Aly yang masih kesal.


"Dia panggil aku apa?!" kesal Aly yang mengambil obat kumur lainnya dan memasukkannya kedalam keranjang yang dia bawa.


Saat akan membayar, Aly hendak menaruh keranjangnya tetapi sudah di dahului oleh pria yang tadi berebut obat kumur juga dengan Aly, "Kau!" sentak Aly kesal.


"Apa? Jadi berapa mas?"


"Hei aku dulu yang menaruh belanjaanku!"


"Dengar dan lihat, saya hanya belanja tiga barang, sedangkan anda satu keranjang. Jadi anda bisa lebih mengalah" ujar pria itu sambil menanyai kasir tentang harga belanjaannya.


"Dasar pemotong antrian!" Aly menahan kesalnya dan menarik keranjangnya ke kasir lainnya.


Atha yang menunggu Aly di mobil, bermain dengan handphonenya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.


Brak.


Mendengar suara pintu mobil tertutup paksa membuat Atha terkejut dan melempar handphonenya ke dashboard mobil. Atha menengok Aly yang berada di sampingnya dengan wajah kesal, "Kakak kenapa?" tanya Atha sambil menyalakan mobil untuk perjalanan menuju bandara khusus Tentara.


"Gila, seandainya bukan di tempat umum dah ku habisi dia" gerutu Aly sambil *******-***** angin lalu mengusap pipinya kencang-kencang.


Atha hanya terdiam sambil berdoa, semoga kakaknya tidak memakannya. Maksudnya tidak menjadikan dirinya sasaran kekesalannya.


Setelah sampai di lingkungan bandara khusus Tentara, Aly langsung mencari keberadaan timnya. Tak butuh lama mereka menunggu, 40 menit kemudian mereka sudah sampai di bandara besar Tentara lainnya untuk berkumpul dengan relawan, dan tim medis lainnya. Banyak orang yang saling bernalan atau hanya saling mengobrol dengan orang yang mereka kenal. Sedangkan tim medis Aly sangat tertarik dengan pesawat darurat milik Tentara.


Wuunngg


Semua mata tertuju pada sebuah pesawat besar bewarna loreng dengan tulisan TNI bercetak tebal yang baru saja mendarat.


"Wahh" celetuk David yang terkagum dengan pesawat TNI itu.


"Kau sadar, ini sudah keempat kalinya kau berkata 'Wahh'" kata Ayda yang mengikuti cara David kagun tadi.


Iza dan Alfi tertawa keras dan memuji kemiripan Ayda menirukan David, sedangkan Arif hanya tertawa ringan. Alfi memperhatikan pintu masuk bandara, sambil duduk disamping Aly yang sejak tadi mendengarkan lagu di earphonenya.


David melirik Aly sinis, "Lysa benar, lagian jika pesawat kita seperti itu yang ada kita akan dikira anggota Dokter Tentara" timpal Ayda yang disetujui Arif dan Iza.


"Sudahlah, aku mau ke wc. Alf jika sudah mau berangkat, aku titip barang" ujar Aly yang meninggalkan mereka.


Iza memperhatikan Televisi dan tiba-tiba segerombolan tentara masuk yang langsung melewati mereka. Iza yang hanya menatap mereka tiba-tiba memperhatikan Alfi yang ikut melihat para tentara itu, "Ada apa Alf?".


"Aku penasaran, bagaimana wajah Kapten pusat. Mengingat saat pelantikan dia tahun lalu, dia tidak diperlihatkan" jawab Alfi sambil terus memperhatikan para tentara itu.


Arif hanya menghela nafas pelan, "Kenapa kau penasaran?" tanyanya dengan nada ketus.


Alfi sedikit tersentak dan memilih diam sambil memainkan kuku tangannya. Ayda yang melihat itu memukul kepala Arif lumayan keras, "Aly liat ini abis kamu".


Sedangkan ditempat Aly yang baru saja selesai buang air kecil menatap cermin westafel dengan lekat. Tiba-tiba kepala Aly terasa pening, sekelilingnya seperti terasa berputar. Aly menahan tubuhnya dengan memegang pinggiran westafel kuat-kuat.


'Aku yakin kau kuat'


'Tidak ada yang bisa selamat sekarang, kau…'


Sringg


'Matilah bersama nona muda Arikinan'


"Ha!!" Aly berusaha mengatur nafasnya, setetes darah tiba-tiba mengucur dari hidungnya. Cepat-cepat Aly membersihkannya dan menatal kembali cermin, "Tadi…apa?" gumam Aly sambil terus menekan kepalanya yang berdenyut keras.


Bugh.


'Sialan!'


'Lysa, Zakra kalian masih hidup kan?'


Mata Aly seakan terpaku, "Siapa…ada saksi lain?" monolognya lagi sambil menyiramkan wajahnya dengan air agar tidak terlihat kusut. Buru-buru Aly membersihkan wajahnya dengan tisu sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Karena tidak melihat jalan didepannya Aly tidak melihat ada tanda licin karena sedang di pel, yang akhirnya membuat dirinya terpeleset. Aly menutup matanya dan siap merasakan sakit pada tubuhnya.


Grepp.


'Kok gak sakit?' pikir Aly dan perlahan membuka matanya, "Si pomotong antrian?!".


"Ck, udah ditolong malah dihina" gumam pria yang tadi membuat Aly kesal di minimarket, dan dia juga yang menyelamatkan Aly agar tidak terjatuh ke lantai.


Cepat-cepat Aly berdiri dan memperbaiki bajunya yang kusut, karena insiden tidak terduga tadi. Aly memperhatikan Pria itu dari bawah sampai atas, "Ohh jadi anda Tentara?" ujar Aly yang melipat tangannya di depan, "Tapi sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang Tentara" gumam Aly yang sebenarnya masih bisa di dengar pria itu.


"Saya masih bisa dengar" celetuk pria itu, "Anda tahu, harusnya anda berterimakasih bukan menghina, dasar perempuan aneh" ujar pria itu sambil membuang wajahnya dan hendak meninggalkan Aly.


"Hei! Harusnya kau juga meminta maaf padaku!" sentak Aly yang membuat pria itu kembali berbalik menatap Aly, "Kau.Harus.Minta.Maaf" kata Aly dengan penekanan di setiap katanya.


"Untuk apa?" tanya pria itu sambil melipat tangannya seperti Aly.


Aly yang ingin menjawab pertanyaan pria itu di hentikan oleh getaran handphonenya yang berada di saku rompi jeans yang dia pakai. Saat Aly hendak berbicara, pria tadi membuat handphone itu terlempar dan saat handphonenitu akan terjatuh dengan cepat juga pria itu menangkapnya.Pria itu mematikan sambungan telfonnya dan menatap Aly dengan santai.


"Apa…apa yang kau lakukan, Dasar Tentara geblek?!" kesal Aly sambil menahan amarahnya.


Mendengar panggilan lucu dari Aly pria itu terkekeh, "Hey saya punya nama, jadi…"


"Aku gak peduli!" geram Aly sambil terus mengepal menahan marah.


Lagi-lagi pria itu menahan marah, "Anda tahu, mata anda aneh" hina pria itu sambil meninggalkan Aly sendirian.


"Hei! Handphone ku!" teriak Aly yang menggema di lorong itu.


Pria itu melemparkan handphone Aly. Aly yang belum siap tetap berusaha menyelamatkan handponenya agar tidak terjatuh, "Yakkk! Dasar Tentara Geblek!" lagi-lagi Aly berteriak marah saat dia melihat handphonenya terjatuh dan tidak menyala.

__ADS_1


Pria itu sudah berada di dalam sebuah pesawat sambil tersenyum dan sekali tertawa tidak lebih tepatnya terkekeh. Teman-temannya yang lainnya melihat pria itu sedikit takut dan sedikit merinding. Sedangkan di pesawat lainnya, Aly masih terlihat marah dan sekali-kali mengusap pipinya kasar. Arif yang melihat itu, memberi isyarat pada Ayda menanyai ada apa. Ayda mengendikkan bahunya, Ayda memberikan isyarat pada Alfi untuk bertanya.


Alfi menghela nafas pelan, "Kau kenapa Al?".


"Handhphone ku rusak karena tentara geblek sialan itu" sumpah serapah Aly berhasil membuat dokter-dokter disana kaget dan tercengang, "Dan lagi pula, beraninya dia bilang mataku aneh coba!" semua kekesalan Aly akhirnya keluar dan berhasil membuat semuandokter yang berada di pesawat itu terdiam takut, bahkan ada yang masih shock dengan umpatan-umpatan yang seharusnya tidak dikatakan oleh seorang Dokter.


David dan Iza menahan tawa mereka dengan perkataan Aly, sedangkan Arif tetap stay cool walau dia juga berusaha menahan tawanya, Ayda? Jangan tanya, pastinya dia sudah tertawa.


Aly melempar sepatu miliknya kearah Ayda, Iza dan David yang duduk di sebrang Aly dan saling bersebelahan, "Ya mau gimana lagi, memang kebenarannya seperti itu" ujar Arif sambil sambil melempar kembali salah satu sepatu Aly dan berhasil menerimanya.


Alfi mengelus pelan bahu Aly, "Mungkin itu selera humor miliknya" ujarnya sambil memberikan sepatu Aly lainnya yang di lempar lewat bawah oleh Ayda.


"Humor darimana! Tatapannya aja dingin kek lantai pesawat ini" uhar Aly sambil menghentakkan kakinya yang baru saja memakai sepatunya, "Gyahhhh, Berilah Hamba Kesabaran dan Ketabahan Ya Rabb!" teriak Aly sambil mengusap pipi chubbynya keras sampai merah.


...****************...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...****************...


...…To Be Continue…...

__ADS_1


__ADS_2