Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 19


__ADS_3

...****************...


Aly baru saja mencuci mukanya saat tiba-tiba Ekgita muncul tepat di depannya.


"Haishh, kau mengejutkan ku" gerumul Aly sambil mencipratkan air dari wajahnya ke Ekgita.


"Aku ingin ke pusat, tapi aku ada pasien. Jadi bisa kau jaga pasien itu?" tanya Ekgita yang terlihat gelisah.


Aly memimiringkan kepalanya, "Kau ingin menemui Miko?" Ekgita mengangguk mantap, "Hmm oke, serahkan pada ku"


"Tapi pasien ini bisa buat kau punya masalah dengan Komandan Tentara"


Mendengar itu Aly membuka mulutnya lebar. Dia tercengang.


"Kenapa gak bilang di awal!"


"Kalo aku bilang di awal, kau pasti akan menolak"


"Ya pastilah!"


"Kau sudah mengiyakan jadi… aku pergi dulu"


Aly meratapi kepergian Ekgita dan menghela nafas berat, "Ya mau gimana lagi" celetuknya sambil berjalan ke sebuah tenda.


...~...


Ekgita bersama dengan seorang pria berusaha dengan keras untuk membawa mobilnya dengan cepat. Pria itu sesekali melirik Ekgita dengan cemas. Saat mereka sampai di sebuah bandara, Ekgita langsung berlari menuju sebuah pesawat Tentara yang berjarak tidak jauh dari tempat mobilnya berhenti.


"Cinta mereka memang rumit"


Ekgita mencegah seorang pria masuk kedalam pesawat dengan menahan tangannya. Pria itu berbalik dan terkejut dengan kedatangan wanita yang masih sangat dicintainya.


"Ekgita?!"


Ekgita yang masih ngos-ngosan melepas tangan itu dan menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan, "Puas?" pria itu mengnyerit heran, "Puas buat aku tersiksa?!" teriak Ekgita yang terdengar sangat frustasi, "Puas membuatku gila?!" teriak Ekgita lagi sambil memukul dada bidang pria itu, "Katakan Miko!".


Miko masih terdiam sambil terus menerima pukulan demi pukulan Ekgita. Dia tau selama ini dialah yang salah. Menghilang tanpa kabar. Meninggalkan kisah bahagia yang sudah terancang sempurna. Melukai hati kekasih yang sangat ia cintai.


"Jawab Miko. Kenapa kau meninggalkan ku? Kenapa kau menghilang?" ujar Ekgita lirih dan Miko masih menatap Ekgita datar tanpa ada satu kata pun, "Apa kau sudah tidak mencintai diriku lagi?"


Mendengar itu dengan cepat Miko memeluk Ekgita dan merubah wajahnya menjadi khawatir.


"Tidak, aku masih sangat mencintai mu. Bahkan saat aku bangun dari koma, aku langsung kembali ke Jambi untuk menemui mu" Miko menitikkan air matanya, "Tapi Komandan melarangku, dia bilang karena diriku dia kehilangan senyuman putrinya"


Ekgita tak menjawab air matanya masih membanjiri pipinya, "Tapi kau tidak ada usaha sama sekali" Ekgita mendorong Miko lalu meninggalkannya bergitu saja.


"Sampai aku mati pun…" teriak Miko sambil melihat kepergian Ekgita, "Aku akan selalu mencintai mu!"


Deg.


Ekgita berhenti sesaaat sambil mengeratkan genggamannya tetapi dia kembali berjalan menuju mobil dimana temannya sudah menunggu. Saat perjalanan kembali ke pengungsian air mata Ekgita tak henti untuk berjatuhan.


'Bullshit…Everything is bullshit. Right?' pikir Ekgita.

__ADS_1


...~...


Aly masuk kedalam sebuah tenda. Ada 2 orang berpakaian tentara tetapi berjas Dokter tengah berbincang di dekat seorang pasie. dengan alat EKG di tubuhnya.


"Dokter Aly?!" riang seorang Dokter Tentara itu sambil memeluk Aly.


"Dokter Cecil saya sesak"


"Oh iya maaf" ujar Cecil sambil menyengir lebar, "Tapi kenapa kau kemari?" tanya Cecil yang seketika sadar dengan kehadiran Aly di tenda yang bisa dibilang tenda rahasia.


Aly memutar matanya berfikir, "Ekgita meminta saya untuk menggantikannya" ujar Aly dengan tenang. Cecil dan seorang Dokter lainnya ingin berkomentar tetapi di hentikan Aly, "Saya sudah tau resikonya, dan saya akan menanggungnya" lanjut Aly yang berhasil membuat 4 mata disana mendelik terkejut.


"Al, kamu gak perlu…"


"Saya tidak akan mundur, karena ini permintaan Ekgita langsung"


Cecil menghela nafas kasar, "Baiklah, tapi kami tidak akan bisa membantu mu jika ada sesuatu nanti"


Aly mengangguk paham dan mendekati pasien itu, sedangkan Cecil di tarik keluar oleh Dokter laki laki yang bersamanya tadi.


"Kau gila?" sentak Dokter itu berbisik.


"Mau gimana lagi kan?"


"Bukan itu! Dia Dokter muda, apa dia bisa ngehandle ini?"


Cecil menutup mulut dokter itu dengan tangan kanannya, "Lio jangan bilang kau tidak tahu dia?"


Dokter bernama Lio itu melepaskan tangan Cecil dan menatap Cecil penasaran, "Dia Alyssa Mustika, Lulusan Dokter termuda di Inggris"


Aly masih mengobservasi pasien yang terbaring dengan berbagai alat bantu itu saat Cecil dan Lio masuk kembali kedalam tenda.


"Apa aku boleh bertanya?" tanya Aly yang menatap mata Cecil, "Kenapa dia mengalami koma? Padahal lukanya yang di daerah vital sudah tertutup seharusnya sudah aman"


Cecil menatap Lio yang berada di sebelahnya dengan tatapan bingung, "Sebenarnya kami juga masih bingung, kenapa dengannya" jelas Lio yang memberikan sebuah file pada Aly.


Aly membaca file itu dengan hati-hati dan sedikit menyerit saat membaca bagian luka pada pasien, "Dia Tentara?" Cecil mengangguk, "Apa penyerangnya juga seorang Tentara?"


"Bukan" jawab Lio dengan cepat.


Aly menyerit heran, 'Jadi dia di pecat tidak terhormat'


"Kenapa anda bertanya soal penyerangnya?" tanya Lio curiga.


Mendengar pertanyaan yang merujuk pada menginvestigasi, Aly hanya bisa menghela nafas kasar, "Kalian percaya hal ghaib atau mistis atau ya tentang dunia lain?" tanya Aly balik sambil menekan dada dan dahi tengah pasien itu.


"Kita Dokter, kita mengedepankan…"


"Bukan dalam persepsi Dokter…tapi persepsi Tentara kalian" potong Aly sambil menyerahkan file itu kembali pada Cecil.


"Memang kenapa?" tanya Lio lagi yang  semakin curiga.


"Biar aku tebak…" ujar Aly sambil mengambil sesuatu dari tas medis kecilnya yang selalu ia bawa, "Penyerang dari Langit, adalah seorang dengan ilmu ghaib yang tinggi kan?"

__ADS_1


Lio dan Cecil mendelik terkejut dengan penuturan Aly barusan. Pasalnya Langit cidera sampai koma seperti ini memang tidak ada yang tahu kecuali 3 dokter tentara, komandan, kapten divisi khusus dan pasukan divisi khusus.


"Anda jangan asal menyimpulkan sesuatu yang belum pasti ya!" gertak Lio yang membuat Aly memandang Lio.


"Tapi itu kenyataannya kan?"


"Sudah Lio. Kenapa kau menyimpulkan seperti itu Al?" tanya Cecil yang sebenarnya juga sangat kesal dengan Aly.


Sebuah kalung terangkat oleh Aly. Kalung berliontin hati berwarna hijau pekat, entah bagaimana mengeluarkan cahaya bewarna ungu kehitaman. Cecil menyerit bingung, sedangkan Lio menatap takjub kalung itu.


"Emerald segoro kidul?" gumam Lio yang hanya dapat di dengar Cecil, "Bagaimana kau bisa memilikinya?"


Aly mengendikkan bahunya dan mendekatkan kalung itu ke jantung Langit. Secara tiba-tiba Langit kejang-kejang. Lio dan Cecil langsung sigap mendekati Langit dan memegang tubuhnya sedangkan Aly langsung memeriksakan keadaannya.


"Suntikan penenang?!" mendengar itu Cecil langsung menyambar sebuah suntikan dan botol berisi obat penenang dan langsung menyuntikkannya di selang infus Langit. Perlahan kejang Langit mulai mereda, perlahan juga Lio melepaskan pegangannya. Lio, Cecil dan Aly menghela nafas lega. Aly menghembuskan nafas pelan sambil menunduk. Saat Aly akan kembali berdiri tegak, sebuah serangan berupa cekikkan dengan cepat menggapai leher Aly.


"Dokter Aly?!" teriak Lio dan Cecil bersamaan.


"Mustika Segoro kidul" gumam Langit yang mencekik Aly sampai dirinya mulai kesusahan bernafas.


"Langit lepaskan!" teriak Lio sambil berusaha melepaskan cekikkan Langit.


"Kapten! Ini Harmony, Mayday!" ujar Cecil panik sambil menghubungi Tyno.


Aly terus berusaha agar terlepas. Tapi tenaga Langit sangat kuat, bahkan tidak masuk akal kekuatannya. Aly menggigit ujung bibirnya sampai berdarah, "Ur…sha" ujar Aly lirih sambil mengoleskan darahnya ke dahi Langit. Seketika cekikkan itu terlepas.


"Dokter Aly?!" panggil panik Cecil dan Lio.


"Kenapa Langit bisa gitu?" tanya Cecil sambil memeluk Aly dari samping.


Lio memperhatikan bekas cekikkan Langit yang berbekas di leher Aly, "Dokter Aly leher anda terluka" ujar Lio sambil memeriksa leher Aly.


"Ekhem!"


Sebuah deheman membuat tangan Lio berhenti di atas angin dan melihat siapa yang datang ke tenda mereka.


"Kapten?" panggil Lio yang langsung berdiri sedangkan Aly berdiri di bantu Cecil.


"Dokter Aly kenapa anda ada disini?" tanya Tyno dingin dan tajam.


Aly menatap mata Tyno dan menghela nafas berat, "Ekgita yang meminta" jawabnya singkat.


"Sekarang…kenapa semua berantakan?"


Lio dan Cecil saling berpandangan, tak ada yang menjawab dari mereka berdua. Aly yang sudah kehabisan energi, terpaksa membaca pikiran mereka dan menghela nafas pasrah.


"Apa anda percaya hal ghaib, Kapten?" Tyno mengangkat salah satu alisnya, "Kalo anda percaya, mungkin saya bisa menceritakan apa yang terjadi"


Tyno memperhatikan Aly dari atas sampai bawah. Dia melihat leher Aly yang masih memerah dan darah yang masih mengalir dari sudut bibirnya. Matanya langsung menatap Aly khawatir. Tetapi dia tutupi dengan wajah dingin.


"Baiklah, Lio kau tetap disini. Cecil ikut kami" titah Tyno yang keluar dari tenda.


"Kalau dia seperti tadi, kau bisa gunakan ini" kalung tadi Aly lempar ke Lio lalu meninggalkannya sendirian di tenda itu.

__ADS_1


"Matilah aku"


...****************...


__ADS_2