
...****************...
Bugh.
'Sialan!'
'Lysa, Zakra kalian masih hidup kan?'
Mata Aly seakan terpaku, "Ada saksi lain?" monolognya lagi sambil menyiramkan wajahnya dengan air agar terlihat fresh. Buru-buru Aly berjalan keluar dari kamar mandi. Karena tidak melihat jalan didepannya, Aly tidak melihat ada tanda licin karena sedang di pel yang akhirnya membuat dirinya terpeleset. Aly menutup matanya dan siap merasakan sakit pada tubuhnya.
Grepp.
'Kok gak sakit?' pikir Aly dan perlahan membuka matanya, "Si pemotong antrian?!"
"Ck, udah ditolong malah dihina" gumam pria yang tadi membuat Aly kesal di minimarket, dan dia juga yang menyelamatkan Aly agar tidak terjatuh ke lantai.
Cepat-cepat Aly berdiri dan memperbaiki bajunya. Aly memperhatikan Pria itu dari bawah sampai atas, "Ohh jadi anda Tentara?" ujar Aly yang melipat tangannya di depan, "Tapi sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang Tentara" gumam Aly yang sebenarnya masih bisa di dengar pria itu.
"Saya masih bisa dengar" celetuk pria itu, "Anda tahu, harusnya anda berterimakasih bukan menghina, dasar perempuan aneh" ujar pria itu sambil membuang wajahnya dan hendak meninggalkan Aly.
"Hei! Harusnya kau juga meminta maaf padaku!" sentak Aly yang membuat pria itu kembali berbalik menatap Aly, "Kau.Harus.Minta.Maaf" kata Aly dengan penekanan di setiap katanya.
"Untuk apa?" tanya pria itu sambil melipat tangannya seperti Aly.
Aly yang ingin menjawab pertanyaan pria itu di hentikan oleh getaran handphonenya yang berada di saku rompi jeans yang dia pakai. Saat Aly hendak berbicara, pria tadi membuat handphone itu terlempar dan saat handphone itu akan terjatuh dengan cepat juga pria itu menangkapnya. Pria itu mematikan sambungan telfonnya dan menatap Aly dengan santai.
"Apa...apa yang kau lakukan, Dasar Tentara geblek?!" kesal Aly sambil menahan amarahnya.
Mendengar panggilan lucu dari Aly pria itu terkekeh, "Hey saya punya na...".
"Aku gak peduli!" geram Aly sambil terus mengepal menahan marah.
Lagi-lagi pria itu menahan marah, "Anda tahu, mata anda aneh" hina pria itu sambil meninggalkan Aly sendirian.
"Hey! Handphone ku!" teriak Aly yang menggema di lorong itu.
Pria itu melemparkan handphone Aly.
Aly yang belum siap tetap berusaha menyelamatkan handponenya agar tidak terjatuh, "Dasar Tentara Geblek!" lagi-lagi Aly berteriak marah saat dia melihat handphonenya terjatuh.
Di sebuah pesawat, Aly masih terlihat marah dan sekali-kali mengusap pipinya kasar. Arif yang melihat itu, memberi isyarat pada Ayda menanyai ada apa. Ayda mengendikkan bahunya, dan memberikan isyarat pada Alfi untuk bertanya.
Alfi menghela nafas pelan, "Kau kenapa Al?".
"Handhphone ku rusak karena tentara geblek sialan itu" sumpah serapah Aly berhasil membuat dokter-dokter disana kaget dan tercengang, "Dan beraninya dia bilang mataku aneh coba!"
David dan Iza menahan tawa mereka dengan perkataan Aly, sedangkan Arif tetap stay cool walau dia juga berusaha menahan tawanya, Ayda? Jangan tanya, pastinya dia sudah tertawa.
Aly melempar sepatu miliknya kearah Ayda, Iza dan David yang duduk di sebrang Aly dan saling bersebelahan, juga melempar sepatunya kearah Arif yang hanya terhalang Alfi, "Ya mau gimana lagi, memang kebenarannya seperti itu" ujar Arif sambil sambil melempar kembali salah satu sepatu Aly dan berhasil menerimanya.
Alfi mengelus pelan bahu Aly, "Mungkin itu selera humor nya" ujarnya sambil memberikan sepatu Aly lainnya yang di lempar lewat bawah oleh Ayda.
"Humor darimana! Tatapannya aja dingin kek lantai pesawat ini. Ditambah tuh muka kaku banget!" ujar Aly sambil menghentakkan kakinya yang baru saja memakai sepatunya, "Gyahhhh, Berilah Hamba Kesabaran dan Ketabahan Ya Rabb!" teriak Aly sambil mengusap pipi chubbynya keras sampai merah.
...~...
Semua tim yang baru datang langsung turun dan diarahkan menuju tempat pengungsian dengan truck Tentara. Saat mereka sampai di tempat pengungsian sudah banyak relawan, Tentara, bahkan Tim mlMedis yang membantu para korban gempa itu.
"M 6,4 sudah bisa menghancurkan kota ini, bagaimana jika M 7,0?" gumam Iza yang menghapus air matanya.
Arif yang sedang membagikan pita pada tim nya menepuk pelan kepala Iza, "Mungkin sudah bisa menghancurkan satu provinsi" ujarnya sambil menyerahkan kotak berisikan pita pada Alfi.
Dengan santai Alfi menampar tangan Arif kencang, "Omongan doa loh" sentak nya halus.
"Sudah, ayo bekerja. Iza, Alfi, dan David kalian urus barang-barang kita dulu. Kalian berdua berpencar" ujar Aly yang langsung mendekati seorang ibu yang tidak jauh dari tempatnya turun tadi.
Setelah semua yang diperintahkan Aly selesai, Alfi langsung bergegas menghampiri Aly yang sudah berada di tenda darurat yang tengah memeriksa seorang pasien disana.
"Umm permisi" seorang wanita berpakaian tentara namun memakai jas Dokter mendatangi Aly, "Kau Dokter?" tanya wanita itu sambil menatap Aly, "Ah sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu, sebelumnya aku Mika Cecilia. Kau bisa memanggilku Cecil" ujar perempuan itu sambil memperkenalkan diri.
"Alyssa Mustika, Aly".
__ADS_1
"Sebenarnya bisa kau bantu aku mengurus salah satu tentara disana. Dia adikku, kakinya terkilir dan aku ada rapat sekarang, jadi aku tidak bisa mengobatinya. Bisakah kau mengobatinya?".
Aly mengerjapkan matanya berulang kali, "Tentu".
"Terimakasih, katakan saja padanya Cecil yang menyuruhmu" teriak Cecil sambil berlari menjauhi Aly.
Aly menghela nafas pelan dan berjalan menghampiri seorang pria yang tengah duduk di sebuah velbed, "Permisi, saya disuruh Cecil untuk mengobati anda" Aly masih berdiri menatap pria berpakaian tentara lengkap itu.
"Hm" gumam pria itu.
Tanpa basa basi lagi Aly langsung memeriksa kaki pria itu dan memberikan obat salep lalu memasangkan perban elastis, "Anda keseleo dan mungkin efeknya akan nyeri, tapi mengingat kita sedang berada di tempat seperti ini, saya sudah memasangkan perban elastis agar mengurangi rasa nyerinya" jelas Aly sambil kembali menata peralatan pribadinya.
"Siapa nama mu?" Aly menatap pria itu bingung, "Ck, aku Miko Mahandika".
"Ah iya, Saya Alyssa Mustika".
"Berapa umur mu? Kau terlihat 'muda' untuk seorang dokter lama" tanya Miko yang berdiri dan mencoba membiasakan pergerakan kakinya yang keseleo.
"Umur?" tanya balik Aly yang membuat Miko mengangkat salah satu alisnya, "Memang saya masih muda untuk menjadi seorang dokter, tapi itu bukan hambatan untuk saya berkembang kan?".
Miko tersenyum tipis, "Terserah kau saja, Oh dan terimakasih" ujar Miko sambil berjalan menjauhi Aly.
Aly menghela nafas pasrah lalu kembali kedalam tenda darurat.
...~...
Aly baru saja selesai dan berniat kembali ke tenda istirahat khusus Dokter. Tetapi mengingat tempat itu belum ada listrik, serta handphone Aly yang mati mau tak mau dia harus memakai senter kecil yang biasa dia pakai untuk memeriksa pasiennya. Sesekali Aly memeriksa jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Merasa dia sudah berjalan sangat lama, Aly berjongkok sebentar dan melihat sekitar.
"Aku tersesat atau gimana sih ini" kesal Aly yang menggembungkan pipinya sambil terus melihat sekitar, "Tapi...ngeri juga. Malem, sunyi, gelap. Seandainya tak ada kamu, suram jalan ku" monolog Aly sambil menunjuk bulan bulat yang berada di langit, "Okeh, walau tersesat aku harus berjuang menemukan jalan yang benar. Semangat!" ujar Aly yang menyemangati dirinya sendiri.
Saat Aly mulai berjalan lagi, karena jalanan begitu gelap dia tidak melihat bahwa di depannya terdapat lubang bekas gempa dengan diameter cukup besar dan cukup dalam juga. Aly tidak fokus pada jalan di depannya, sehingga.
Srekk.
"Kyaaa!"
Grepp.
"Setan Lombok" suara serak nan berat itu membuat Aly secara otomatis mendongak mencari tahu siapa yang berbicara, tapi moment yang tepat bulan tertutup awan membuat Aly tidak dapat melihat siapa yang menyelamatkannya.
Pikirannya sudah melayang kearah hal yang menakutkan, "Siapa pun kamu, maafkan aku. Aku hanya numpang lewat, maaf jika tadi aku menginjak mu. Beneran deh, aku cuma tersesat tadi" celoteh Aly yang ketakutan membuat orang yang menyelamatkan Aly mendengus geli dan terkekeh pelan.
"Anda harus membayar semuanya".
"Okeh-okeh apa yang kau inginkan? Menyan? Atau tumbal?" tanya Aly sambil masih terus menutup matanya.
Orang yang menyelamatkan Aly menatap Aly heran dengan tawaran-tawaran Aly tadi, "Anda itu benar-benar aneh ya".
"Kenapa jadi aneh? A...apa aku boleh pergi?"
Orang itu tersenyum usil melihat ketakutan Aly, "Tidak...anda harus ikut saya".
Aly berkata lirih karena ketakutan, "A...aku mohon, lepaskan aku, gantinya aku akan beri kau menyan. Tapi lepaskan aku dulu, ku mohon, aku hanya ingin ke tenda istirahat medis saja".
Orang itu mengeratkan pelukannya, karena posisi mereka yang sekarang berada di pinggiran lubang itu, "Coba anda pikirkan, mana mungkin ada tenda istirahat ditempat berantakan seperti ini? Sudah jelas anda salah jalan, nona aneh".
"Bagaimana kau tahu dimana tenda istirahat?" Aly terdiam sesaat, "Oh iya, kau kan penunggu sini, makannya kau tahu seluk beluk tempat ini".
"Ck" oke pria itu mulai kesal dengan celotehan Aly yang makin tidak masuk akal itu.
Dengan sekuat tenaga pria itu menggotong tubuh Aly memindahkannya ke tempat yang pijakannya lebih aman, "Kyaaa! oke maaf aku hanya mengatakan kebenaran kan?" pekik Aly dengan suara ketakutan.
Brugh.
Pria itu menghempaskan tubuh Aly keatas tanah dengan lumayan keras karena kesal pria itu. Pria itu merosot kesamping dan berlutut satu kaki di depan Aly yang masih menutupi wajahnya dengan tangannya. Perlahan pria itu menyingkirkan kedua tangan Aly dari wajahnya, dan menarik dagu Aly agar mendongak melihatnya. Secara kebetulan juga cahaya rembulan kembali bersinar dan tepat mengenai wajah Aly.
'Malaikat?' pria itu menggeleng keras, "Oy, buka matamu" titah pria itu.
Aly yang masih ketakutan, tapi dengan keberanian yang ada dia membuka sebelah matanya perlahan, lalu menutupnya kembali saat melihat pria itu sekilas, "Aa...iya iya, kau tampan kok, aku mengakui hal itu".
Pria itu menghela nafas kesal dan mengacak-acak rambutnya yang tidak terlalu pendek itu, 'Bagaimana bisa, aku sefrustasi ini karena wanita aneh ini?!',"Buka matamu itu atau aku buang kau ke bawah reruntuhan itu" ancam pria itu dengan tegas.
__ADS_1
"Jangan! Oke oke" seru Aly yang langsung membuka matanya dan sedikit terkejut saat pria itu sudah berada di depannya yang hanya berjarak 4 jengkal, "Si penyerobot antrian?!".
"Saya punya nama" ujar pria itu dengan wajah datar.
Aly membuang wajahnya karena malu mengingat kejadian tadi, "Ya...maaf, kan aku belum...tau namamu" ujar Aly lirih dan masih menatap arah lain.
"Kau itu dokter tapi bisa buat orang frustasi juga ya" kesal pria itu sambil menatap arah lain.
Merasa tak terima Aly bangun dari posisinya, "Kau tentara tapi ketus sekali. Lagian kenapa kau menceramahiku ha? Memangnya kau udztad ha? Lagi pula kau duluan yang menakut-nakutiku" sembur Aly yang mulai merasa kesal.
"Ck. Kenapa jadi memarahi balik?" gumam pria itu sambil mengusap wajahnya kesal, "Dengar, saya baru saja menyelamatkan anda. Setidaknya ucapkan terimakasih" .
Aly melongo mendengar penuturan pria itu, "Songong kali kau! Main nuntut terimakasih pula! Kau juga yang menakut-nakuti diriku duluan kan, jadi kau harus minta maaf!".
Pria itu meremas angin sambil menghela nafas kesal, "Dengar baik-baik, jika saja saya tidak menarik anda tadi, pasti anda sudah menjadi salah satu penghuni tetap kawasan ini, Paham!".
"Kau berteriak padaku?".
"Dia dulu yang memulainya" desis Pria itu sambil membuang wajah.
"Kau menyalahkanku? Aku hanya membe..."
"Saya tidak menakuti anda, nona aneh" pria itu mendekati Aly yang membuat jarak mereka hanya tinggal sejengkal, "Saya hanya mengikuti anda, karena berjalan ke kawasan terlarang. Tadi anda bilang mencari tenda istirahat, jawabannya berada di bagian Timur bukan Selatan".
Aly menatap mata hitam pria itu, mata tenang itu...terlihat ada sedikit tatapan khawatir disana. Tiba-tiba kepala Aly berdenyut kencang, pijakan Aly menjadi oleng. Melihat gerakan aneh Aly, pria itu memegang salah satu bahu Aly erat.
"Anda kenapa?" tanyanya yang mulai khawatir dengan keadaan Aly.
"Dengar...larilah...jangan melihat kebela..."
"Terlambat"
Dor.
"Ha!" Aly masih berusaha mengatur nafasnya. Perlahan penglihatan miliknya kembali seperti semula, denyutan dikepalanya juga mulai berkurang.
"Hey, kau kenapa?".
Aly menyingkirkan kedua tangan pria itu dari bahu Aly, "Aku tak apa" ujar Aly yang berusaha mulai berjalan.
Pria itu menghela nafas pasrah. Tiba-tiba Aly berhenti, dan berbalik, "Kau berhutang maaf"
"Kau...wey hidungmu"
Aly memegang hidungnya dan melihat ada darah yang terus mengalir, "Astaga" gumamnya sambil mendongakkan kepalanya agar mimisannya segera berhenti.
"Kau bawa tisu?".
"Ah iya, ada di saku sebelah kanan" pria itu merogoh saku jas dokter Aly dan langsung mengambil 2 tisu.
"Haish, sepertinya gula darahku rendah" ujar Aly sambil terus mendongak.
Mendengar itu pria itu langsung berjongkok, "Naik" titah pria itu, "Tak ada penolakan".
Aly ingin sekali berprotes, tapi karena mimisan itu tenaganya menjadi menipis dan menuruti apa yang dikatakan pria itu. Pria itu berjalan dan masih memberikan tisu pada Aly.
"Maaf kan aku".
Mendengar itu Aly menatap wajah pria itu dari samping. Diam-diam Aly tersenyum penuh kemenangan, "Gitu dong dari tadi, dasar penyerobot antrian" ujar lirih Aly sambil menaruh kepalanya di pundak pria itu sambil terus menahan hidungnya yang masih mimisan.
"Althyno Dharma"
"Ha?"
"Althyno Dharma, panggil saja Tyno".
Lagi-lagi Aly tersenyum tipis, "Dasar Setan Lombok" gumam Aly yang matanya mulai memberat.
"Aku masih bisa dengar" tak ada jawaban hanya dengkuran kecil yang membuat Tyno terkekeh lirih, "Selamat malam".
...****************...
__ADS_1