
...****************...
Tyno menggendong Aly dengan gaya bridal style. Sesaat dia berhenti di 5 anak tangga terakhir. Sayup-sayup dia mendengar suara bertarung di bawah dan terdengar jelas juga ada suara tembakan dari arah depan rumah itu.
"Tempat ini sudah jadi medan tempur" celetuk Tyno yang melangkah pelan untuk mengecek keadaan di bawah.
Aly mengeratkan pegangannya lalu menatap Tyno sesaat, "Maaf, aku merepotkan mu"
"Aku hanya melakukan apa yan harus kulakukan" jawab Tyno sambil menengok kearah sekitar, "Aku hanya tak ingin orang yang sudah kuanggap rumah kembali hilang"
Mendengar itu Ay hanya bisa menyerit heran.
Bugh.
Arif mundur beberapa langkah lalu tersenyum licik yang membuat Bara kembali tersulut emosinya. Tyno dan Aly akhirnya sampai di lantai satu dan adegan pertama yang mereka lihat adalah kekuatan Arif yang setara dengan Bara. Tyno hanya bisa terdiam dengan apa yang sedang dia lihat.
"Kita harus menghentikan Arif!" seru Aly yang panik.
"Kenapa?"
"Arsa pasti sudah mengambil kesadarannya" ucap Aly yang memukul pelan bahu Tyno agar dia di turunkan.
Tyno menurunkan Aly perlahan, "Kesadarannya?"
Aly mengangguk keras, "Arif…dia punya Alter Ego"
"Maksudmu kepribadian ganda?"
Aly hanya mengangguk keras lagi. Tyno terdiam sesaat lalu menyerahkan Aly sebuah pisau dan pistol, "Tetap disini dan untuk jaga-jaga"
Seperti memahami kekhawatiran Aly, tanpa pikir panjang Tyno langsung membantu Arif.
Bugh
Pukulan keras itu berhasil membuat Bara mundur beberapa langkah.
Dagh.
Tendangan Tyno juga berhasil mengenai wajah Arif yang membuat sang korban terjatuh.
"Wey, brengsek!" umpat Arif yang masih di kendali oleh Arsa.
Tyno menarik kerah Arif lalu memukulinya lagi. Melihat itu Bara menyerang Tyno secara tiba-tiba. Aly memperhatikan Tyno yang memukuli Arif hanya bisa menepuk jidat.
"Kenapa kau menyerang Arif?!" tanya Aly yang sedikit berteriak.
Tyno yang masih menangkis serangan Bara dengan sengaja membuat Arif ikut bertarung, "Dia masih si Alter ego kan?" Aly menyerit heran, "Seorang dengan Alter Ego hanya bisa di kembalikan dengan ego mereka juga"
Aly membulatkan bibirnya dan mengangguk pelan. Arif melihat Aly sesaat lalu berhenti saat jarak antara dia dan Aly sedikit mendekat.
"Lari" titah Arif yang diangguki pelan oleh Aly.
"Sepertinya yang akan menyelesaikan semua tugas itu adalah aku!" celetuk Bara yang berusaha bangun tegak saat serangan terakhir Tyno tadi, "Kau memang hebat, Kapt" pujinya sambil mengeluarkan pisau adventure nya, "Tapi kau tetap bodoh!" serunya yang langsung berusaha menyerang Arif yang sedang lengah.
Tapi dengan cepat juga Tyno menggapai tangan Bara lalu memegang pergelangannya, "In your dreams" celetuknya yang mematahkan tangan Bara.
Aly mulai berjalan pelan menjauhi tempat pertarungan itu sambil tertatih karena luka di kakinya.
"Dokter" panggil seseorang dari arah pintu. Tempat itu benar-benar gelap, tak ada satu pun penerangan, hanya beberapa lampu yang para penculik itu bawa saja.
Aly menyipitkan matanya dan seketika mendelik terkejut sekaligus takut saat dia tahu siapa yang memanggilnya. Sesosok pria perlahan muncul dari kegelapan, wajahnya terlihat tenang dengan senyuman hangatnya.
__ADS_1
Aly perlahan mundur, "Anji" panggilnya lirih, "Apa kau ingin membunuhku seperti mereka?" tanya Aly dengan was was sambil menggunakan kemampuannya.
Anji menggeleng pelan, "Aku tidak akan melakukan itu" perlahan Anji mendekati Aly lalu meraih tangannya, "Aku terlalu mencintai mu, jadi aku terlalu lemah untuk membunuhmu"
Dengan kasar Aly melepaskan genggaman Anji lalu mengacungkan pisau yang Tyno berikan tadi, "Kau bukan Anji yang ku kenal. Dia tidak akan mengatakan hal itu"
Senyuman hangat Anji tidak pudar sama sekali, "Aku mencintai mu dalam diam, dan itu kebenarannya"
Perlahan Aly menurunkan pisaunya lalu menatap tajam Anji, "Ayo pergi dari sini" bujuk Anji yang mengulurkan tangannya.
Aly menatap curiga Anji tapi kemudian perlahan tangannya akan menggapai tangan Anji.
Dor.
Dor.
"Al?!" panggil Tyno saat ia mendengar suara tembakan. Tapi belum sempat ia melihat kearah belakang, Bara sudah kembali menyerangnya.
Tangan Aly masih berada diatas angin. Tapi tangan Anji sudah berada di tanah dengan genangan darah yang mengalir dari arah kepala dan punggung sebelah kirinya. Mata Aly membulat sempurna melihat Anji yang sudah tak sadarkan diri. Tubuh Aly sekita terjatuh di depan tubuh Anji.
Aly mendongak dan melihat si penembak, "Dhita?" lirih Aly. Pandangan Aly tiba-tiba saja kabur, lalu menatap tubuh Anji lagi.
"Hahaha, kau pikir aku akan berdiam diri saja" Dhita mendekati tubuh Anji lalu menginjaknya keras, "Pecundang sepertu mu itu memang pantas berada di bawahku" ujarnya sambil menekan tubuh Anji dengan kakinya, "Ahh, aku seperti Deja vu" celetuknya sambil memainkan senapannya, "Ahh, benar" Dhita mendekati Aly yang masih syok, "Ini seperi saat Zakra mati kan?"
Bugh.
Arif yang sudah hampir kehabisan tenaga hanya bisa membacking Tyno yang masih terus melawan Bara. Dia melihat Dhita yang sedang menatap Aly sambil menginjak tubuh Anji.
"Dokter…Anji?" gumam Arif yang tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang, "Dia?!"
Dor.
"Akhh!"
"Alys?!" teriak Tyno yang memastikan apa yang terjadi.
Bara yang hendak melawan Tyno lagi juga terdiam saat melihat apa yang dilihatnya, "Apa-apaan ini?!"
Arif masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan, "Lysa…menembak?"
Aly berdiri dengan pistol yang masih dia pegang, "Manusia hina seperti mu memang harus mati perlahan"
"Dia punya PTSD dengan suara tembakan kan?" gumam Bara yang kemudian diam-diam menyiapkan pelurunya.
"Masih ingat aku, Dhita?"
Miko mulai bergerak bersama Alfan dan Afrizal. Melihat tubuh yang sudah tak berdaya membuat Afrizal sedikit heran.
"Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Miko saat menatap wajah bingung Afrizal.
Afrizal tidak langsung menjawab, dia malah mengambil snipper milik Miko dan mengarahkannya ke arah balkon lantai dua, "Power ada di lantai dua" ujarnya yang memeriksa keadaan.
Miko menepuk pelan bahu Afrizal, "Kembali ke posisi awal. Biar aku dan Bloody yang maju"
Afrizal hanya mengangguk lalu bersiaga kembali dengan senjatanya. Alfan melihat sekitar lalu berhenti bergerak, "King, bom" ujarnya sambil menunjuk sebuah kabel dan bahan peledak yang di tempel di rumah tersebut.
"Bahaya" celetuk Miko yang kemudian mengecek bom itu, "Ada waktunya"
Alfan menarik paksa bahu Miko agar menyingkir, "Bantu Kapten, bomnya biar aku yang urus"
"Baiklah" Miko kembali masuk kedalam rumah itu dan tidak sengaja melihat Aly yang sedang menyerang Dhita dengan membabi buta di ruangan lainnya. Dia ingin segera menuju tempat Aly berada tapi seseorang sudah menyerang Miko terlebih dahulu.
__ADS_1
Tyno masih terkejut dengan suara Aly yang tiba-tiba berubah. Tapi dia sudah tau juga siapa yang sedang berbicara. Dia bimbang, ingin menyelamatkan Aly atau mengalahkan Bara. Tapi rasa bimbangnya itu tidak lama, Bara sudah kembali menyeretnya agar berdiri.
Sedangkan Dhita terus menghindari segala bentuk serangan Aly.
"Kau tidak melupakan ku bukan?" celetuk Aly dengan suara yang berubah, "Atau aku perlu memberikan mu hadiah terakhir yang kau berikan padaku?" lanjutnya yang sudah membuat Dhita terjatuh.
Aly kembali menarik pelatuk pistolnya, lalu
Dor.
"Akhhh!" teriak Dhita yang langsung jatuh.
Timah panas bersarang di kaki Dhita, "Sakit?" tanya Aly dengan tatapan kosongnya, "Sekarang tinggal kepala mu saja" lanjutnya lagi yang kembali menarik pelatuknya.
Sesaat sebelum Aly menekan pistolnya, Tyno menarik tangan Aly dan memeluk paksa Aly.
"Zakra, ku mohon…lepaskan Aly. Jangan jadikan Aly sebagai pembunuh" ucap lirih Tyno yang masih memeluk Aly.
Arif terlempar cukup jauh karena serangan Bara, "Haa~ cukup sampai disini saja" ujar Bara sambil menarik pelatuknya.
Crash
"Akhhhh!" teriakan Bara memenuhi seluruh ruangan.
Arif dan Tyno menatap Bara terkejut lalu menatap Aly tidak percaya. Dhita membuka mulutnya tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, tapi merasa ada kesempatan kabur dia memilih bangkit dan menyeret kakinya. Tapi belum juga dia keluar dari ruangan itu, sebuah pucuk senjata sudah menyentuh dahinya.
"Mau kemana kau?"
Dhita menatap Miko dengan tajam, lalu membuang wajahnya ke samping, "Sialan"
Bara masih berteriak kesakitan karena ulah Aly yang melempar pisaunya hingga menusuk tepat di bawah matanya. Tiba-tiba tubuh Aly menjadi lemas dan jatuh kedalam pelukan Tyno.
"Al?" panggil Tyno panik.
Aly perlahan membuka matanya, "Aku baik Tyno" celetuknya yang lemah.
Tyno memeluk Aly erat lalu menggendongnya ala bridal style, "Aku duluan"
Miko yang masih mengurusi Dhita mengangguk pelan. Arif masih ngos-ngosan lalu terjatuh duduk, dia melihat Bara yang masih memegang matanya yang tertunduk pisau Aly. Perlahan pandangan Arif menjadi buyar dan dirinya terjatuh pingsan.
Miko menatap Arif lalu menghela nafas kasar, "Beban"
Saat Miko keluar dari rumah itu, pemandangan pertama yang dia lihat membuat dirinya terhenti sejenak, "Apa yang…"
Perlahan Atha terbangun dari pingsannya. Dia mengeratkan kepalan tangannya lalu berusaha bangkit dari posisinya. Tapi saat dia mulai bangkit dia terbatuk darah.
"Raden" panggil Arya yang khawatir dengan keadaan Atha.
Helaan nafas berat dihembuskan olehnya lalu berusaha berdiri sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
Atha menaikan tangannya tanda untuk Arya berhenti, "Kita perlu rencana" celetuk Atha yang melihat deburan ombak, "Apa Ursha bisa kita mintai tolong?"
Arya menatap datar Atha, "Tentu"
Senyuman jahat terukir di wajah Atha, "Ya mau gimana lagi" celetuknya sambil berjalan mendekati daun jendela, "Kita perlu satu tumbal"
"Maaf, jangan lakukan itu"
"Maka dari itu" Atha berhenti lalu menatap Arya dengan mata yang sudah berubah bewarna hijau tua, "Aku perlu kau"
...****************...
__ADS_1