
...****************...
Aly dan Tyno sampai di daerah pengungsian pukul 7 tepat dan saat itu juga mereka bertemu Miko dan Ekgita yang sepertinya sedang bosan di bangsalnya. Ekgita menoel pinggang Miko dan seperti paham maksud Ekgita, Miko langsung berdehem memecahkan keheningan diantara mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Ekgita yang dibuat-buat agar terlihat khawatir.
"Gapapa sayang, cuma kayak ada bunga yang lagi mekar" ujar Miko yang terus berdehem.
"Apa hubungannya kau dan bunga bermekaran?" tanya Aly polos.
Miko tersenyum usil, "Soalnya bunga satu ini…aku agak alergi"
Tyno yang merasakan ejekan disana hanya bisa melempar batu yang dia ambil di bawah sepatunya. Miko berusaha menghindar dengan tawa yang terus keluar. Aly juga hanya bisa terkekeh mendengar ledekan Miko tadi.
"Puas ngeledek?" geram Tyno dengan wajah kesal.
"Aduh, duh. Baby boy ngambek" kali ini Ekgita meledek Tyno dengan memperlihatkan sifat yang jarang dia tunjukan.
Tyno mendelik kesal karena panggilan Ekgita tadi. Matanya tak sengaja melihat Aly yang ikut tertawa bersama Miko dan Ekgita. Dia tengah merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Geli dan hangat.
"Hormat!" tegas salah seorang Tentara yang medekati mereka, "Lapor, Kapten dan Letnan Satu Miko diperintah menghadap Komandan, Mayjen Hari dan Jendral Galang untuk sidang. Laporan selesai"
Miko dan Tyno saling bertatapan. Keduanya seperti terkejut dengan laporan tadi. Ekgita yang mendengar nama ayahnya disebut juga ikut terkejut. Sedangkan Aly yang tak tau apa-apa hanya bisa membaca pikiran Miko dan Ekgita.
"Jadi mereka dalam masalah besar" gumam Aly yang kemudian menatap Tyno.
Tyno juga menatap Aly balik lalu menepuk pelan kepala Aly pelan, "Kau disini dulu oke. Temani Ekgi" ujar Tyno yang tersenyum lembut.
Ekgita yang melihat senyuman Tyno menjadi ikut tersenyum, "Ku tinggal sebentar ya" kecupan singkat di pelipis Ekgita menjadi pamit Miko yang kemudian meninggalkan Tyno terlebih dahulu.
Saat Miko dan Tyno mulai menjauh Aly mengeluarkan htnya yang memiliki bentuk yang berbeda dari yang lainnya, "Atha, jemput aku di pengungsian sekarang"
Stt "Kenapa?"
"Kita harus menyelamatkan Alfan"
Stt "Ha?"
"Kau harus memberitahu mereka tentang penglihatan mu itu"
Stt "Itu bukan aku, tapi si Zakra!"
Aly terdiam cukup lama stt "3 menit aku sampai"
"Al?" panggil Ekgita yang kebingungan dengan percakapannya tadi, "Ada apa?"
Aly menggeleng pelan, "Apa ayahmu sebegitu menakutkan?"
Ekgita menghela nafas kasar, "Bagi sebagian besar pasukan…Iya" jawabnya yang diakhiri tawa ringan, "Kau akan menyusul mereka?"
Aly mengangguk pelan, "Demi Alfan"
"Terimakasih"
"Tidak, ini sudah tanggung jawabku sekarang"
"Jangan lama-lama, kaki mu harus istirahat" peringat Ekgita yang menepuk pelan bahu Aly.
Aly tersenyum lalu menyentuh tangan Ekgita yang di bahunya, "Tentu"
__ADS_1
...~...
Donggala, 07.30
"Kalian pikir ini dalam permainan ha?!" seru seorang dari radio, "Ini alasan terbesarku mengapa aku menolak kalian menjadi satu tim!"
"Siap salah!" jawab Tyno dan Miko bersamaan.
"Aku mungkin akan memaklumi Kapten Tyno yang memang sudah mendapat izin dari Jendral. Tapi kau!" gebrakan meja terdengar hingga membuat Komandan Setyo sedikit tersentak, "Kau pikir kau punya wewenang apa sampai tidak melapor, Lettu Miko! Kau tahu karena kebodohan mu, salah satu personil kita mati sia-sia!"
"Mayjen Hari, Miko hanya datang membantu Tyno. Itulah solidaritas, walau aku akui dia salah karena tidak melapor terlebih dahulu" celetuk Galang yang terdengar lebih santai.
"Anda memaafkan dia?" tanya Hari dengan nada yang lebih di kecilkan.
"Tentu, tapi untuk nya pasti ada konsekuensi lainnya karena membuat Lettu Alfan tiada"
"Anda terlalu memanjakan dan membebaskan mereka Jendral. Anda tau siapa mereka berdua dulunya itu membuat kita harus lebih tegas pada mereka"
"Saya tahu kekecewaan anda, Mayjen Hari. Tapi jika kita lebih menekan mereka dan kita berdua tahu background mereka dahulunya, anda yakin dapat mengendalikan mereka?" tanya Galang dengan nada lebih serius, "Aku memasukkan mereka dalam satu tim karena tahu mereka akan lebih efektif nantinya"
Hari terdiam cukup lama, "Itu alasan aku membencinya" bisik Hari yang terdengar lirih dan tidak jelas, "Untuk Kapten tidak ada hukuman ataupun hadiah. Untuk Komandan Setyo dan Miko kalian dihukum untuk lari 2 porsi dengan membawa perlengkapan lengkap" ujar Hari dengan nada penuh tekanan, "Dan untuk Lettu Alfan kita tidak bisa apa-apa sela…"
"Intrupsi. Maaf menyela" celetuk Tyno yang sejak tadi diam, Setyo yang melihat tajam Tyno menyenggol tubuh Tyno yang ada di sebelah Kanannya, "Untuk keputusan Lettu Alfan, saya menolak" ujarnya yang memang sudah dia rencanakan.
"Kenapa kau menolaknya, Kapten?" tanya Galang dengan nada tegas.
"Siap. Saya punya keyakinan jika Letnan Satu Alfan masih hidup"
"Apa maksudmu? Sudah jelas dia gugur dalam misi itu kan?!" tanya Galang yang kali ini terdengar menaikan suaranya.
"Siap, memang tapi saya yakin dia selamat" ujar Tyno yang terdengar menyakinkan.
"Kau ada buktinya?" tanya Galang dengan nada bingung karena jawaban Tyno tadi.
"Siap, tidak. Tapi atas nama pribadi saya menolak keputusan yang menyangkut Letnan Satu Alfan" jelas Tyno singkat.
"Apa-apaan kau!" seru Hari yang kesal .
"Saya Letnan Satu Miko juga menolak keputusan apapun yang menyangkut Letnan Satu Alfan"
"Kalian!" seru Hari yang makin menaikan suaranya.
"Pasti ada alasan kalian kompak menolak keputusan yang menyangkut Letnan Satu Alfan" celetuk Galang dengan nada heran.
"Maaf menyela, mungkin saya bisa menjelaskannya secara singkat" celetuk seorang perempuan yang masuk ke dalam tenda dengan tongkatnya.
"Siapa kau!" Setyo berusaha mendekatinya tetapi tiba-tiba penglihatannya seperti berputar dan dirinya sudah berada di atas tanah dengan tangan yang dikunci di punggungnya.
"Jangan pernah sentuh Kakak ku" bisik Panther yang menekan kunciannya.
Tuk.
Aly memukul pelan kepala Panther dengan tongkat berjalannya. Atha membebaskan Setyo dan membiarkan dia bangun. Tyno dan Miko yang melihat kemunculan Aly menjadi sangat terkejut.
"Apa yang sedang terjadi? Dan suara siapa tadi?!"tanya Hari yang terdengar sedikit panik.
"Maafkan saya. Saya Alyssa Mustika Arikinan, senang bisa berbicara dengan Jendral dan Mayor Jendral" celetuk Aly dengan nada penuh hormat, "Saya korban penyekapan dan penculikan itu"
Hari dan Galang terdiam cukup lama, "Kau Dokter saya di Purwokerto ya?" tebak Galang yang baru mengingat nama Aly.
__ADS_1
Aly tersenyum kecil, "Iya"
"Wah, Arikinan?"
Tawa kecil keluar dari mulut Aly, "Maaf jika anda tersinggung tuan Arisakti"
"Tidak, aku sama sekali tidak tersinggung"
"Kau sandra itu?" tanya Hari dengan kebingungan.
"Benar"
"Lalu siapa yang menyerang Setyo dan bagaimana kau bisa masuk tanpa ada yang menghalangi?"
Panther maju satu langkah, "Anda perlu melatih bela diri mereka lagi, Mayor Jendral"
"Siapa kau?!"
"Athala Nararya Putra, senang bertemu dengan kalian" perkenalan singkat Atha membuat Tyno dan Miko makin mendelik terkejut.
"Kau tak pernah bilang kalau Dokter kecil itu ternyata anak orang kaya" bisik Miko yang tidak percaya dengan perkataan Atha tadi.
Tyno masih dalam keterkejutannya, "Aku juga baru tahu"
Hari tidak mengatakan apapun lagi setelah itu, "Tadi kau membela mereka berdua?" tanya Galang yang penasaran dengan pembelaan Aly tadi.
"Benar" jawab Aly tegas.
"Kau membela pernyataan mereka kalau Letnan Satu Alfan masih hidup?" tanya Hari yang terheran-heran.
Aly terdiam beberapa detik, "Iya"
"Kau Dokter kan? Kau lihat dia jatuh kan? Artinya dia sudah tiada kan?!" semua pertanyaan tadi membuat Aly geram.
Aly mengepalkan tangannya pada pegangan tongkat berjalannya, "Saya memang Dokter. Saya juga tahu Alfan jatuh. Tapi dia memang belum tiada"
"Kenapa kau percaya hal itu?" tanya Hari lagi yang kini terdengar lebih lembut.
Aly menoleh ke arah Atha dan dibalas anggukan kecil darinya, "Mungkin karena background keluarga saya(?)"
Hari dan Galang terdiam cukup lama. Tyno yang sejak tadi diam jadi ikut penasaran kenapa Aly menjawab tentang background keluarganya.
"Saya kira itu rumor belaka" celetuk Galang dengan helaan nafas panjang, "Arikinan memang semisterius itu"
"Memang" jawab Atha dengan santai.
Helaan nafas kasar terdengar di radio itu, "Bagaimana Mayjen, tentang Letnan Satu Alfan?"
Hari yang sebenarnya tidak paham apa yang sedang terjadi hanya bisa menghela nafas kasar, "Saya akan mengikuti semua yang anda katakan saja" pasrahnya dengan nada yang benar-benar tidak peduli lagi.
"Baiklah" Galang memberikan jeda beberapa saat, "Jadi, apa yang kalian mau, Arikinan?" tanyanya dengan nada penasaran.
Aly menatap Atha dan juga sebaliknya. Keduanya tersenyum penuh arti.
"Apa pun?"
"Tentu, apapun"
...****************...
__ADS_1