Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 54


__ADS_3

...****************...


Ekgita saat ini sedang memperhatikan kalung milik Miko. Dia tau benar resiko apa yang sedang ia hadapi sekarang. Bahaya Miko bisa dia rasakan juga. Nabil yang sedang mengganti infus Ekgita juga bisa merasakan kekhawatirannya. Suara berisik ht membuat Ekgita sedikit kesal.


Sttt "Kami butuh Dokter di tenda darurat"


Suara yang familiar itu membuat Nabil dan Ekgita saling memandang. Tanpa berfikir panjang dia menarik infusnya lalu berlari menuju pintu keluar medicube.


"Dokter!" panggil Nabil panik.


Saat Ekgita akan membuka pintu ruangannya keseimbangannya tiba-tiba hilang dan hampir teejatuh, jika orang di depannya saat ini tidak menangkapnya. Ekgita melihat siapa yang menangkapnya dan menatapnya sendu. Tiba-tiba tubuh Ekgita terangkat dan sudah berada di gendongan Miko.


"Kau itu kebiasaan" ujar Miko lirih sambil membawa Ekgita ke ranjangnya.


Nabi langsung membersihkan darah di tangan Ekgita dan kembali memasang infusnya.


Ekgita tersenyum lalu mengalungkan kalung Miko ke lehernya kembali, "Selamat datang kembali, Miko"


Miko tersenyum lalu mengecup dahi Ekgita singkat, "Aku pulang"


...~...


Jam menunjukkan pukul 3 pagi, dan Aly baru sadar 5 menit yang lalu. Kini dia melihat ke ranjang di sebelah kirinya yang kini kosong. Sebuah tepukan pelan di kepalanya menyadarkannya dari lamunannya. Aly menyingkirkan tangan Atha dari kepalanya. Atha yang paham apa yang sedang Aly pikirkan hanya bisa menghela nafas pasrah yang kemudian duduk membelakangi Aly.


"Bagaimana kau ada disini?" tanya Aly lirih.


Atha terdiam cukup lama lalu menghela nafas pelan, "Setan yang mereka kirim…dia yang memberitahuku apa yang akan terjadi" jawab Atha yang lirih juga, "Aku terbangun lalu langsung kemari tanpa memikirkan apa pun"


Aly tidak mengatakan apapun lagi, dia memilih untuk kembali menidurkan tubuhnya tanpa mempedulikan Atha yang masih disana. Sedangkan Atha masih terdiam di tempat.


"Aku hanya khawatir dengan kakak" gumam Atha yang kemudian meninggalkan Aly di medicube dengan Arif yang masih pingsan.


Setelah Atha pergi, Aly kembali duduk dan melihat kakinya yang terluka, 'Apa dia masih merasa bersalah?' pikir Aly yang melihat ranjang kirinya yang kosong. Dia melihat Arif yang masih pingsan di ranjang seberangnya lalu mengambil alat bantu jalannya.


...~~~~...


Miko Pov


Aku baru saja keluar dari medicube tempat Ekgita di rawat. Tanpa sengaja pandangan ku terarah pada seorang gadis yang  berjalan pelan menjauhi pengungsian. Awalnya aku tidak terlalu menghiraukannya,


"Jaga Alys sampai aku kembali" perkataan Tyno tiba-tiba melintas dalam memoriku.


"Sialan, bisa-bisanya aku ikut kepikiran" ucapku sambil memijit pelan pangkal hidungku, "Tapi…" akhirnya aku menyerah dan mendekati gadis itu, ya gadis itu Dokter Alyssa.


Langkah gadis itu berhenti di dataran yang lebih tinggi dimana ada tumpukan batu disana. Aku mulai mendekatinya dan secara jelas juga bahwa dirinya sedang tidak fokus. Bahkan mata yang hangat seperti milik Ibu juga hilang. Mata itu seperti kehilangan binarnya, kosong.


"Dokter?" panggil ku pelan tapi malah membuatnya sedikit tersentak. Dia benar-benar kacau rupanya.


Aku melihat dia menggeleng pelan lalu tersenyum tipis, "Anda rupanya" ujarnya yang juga lirih, "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan senyuman palsu.


"Harusnya saya yang bertanya seperti itu" ujarku yang dibalas senyuman kecut darinya, "Kau bisa bercerita atau bertanya sesuatu kepadaku" tawar ku yang lebih santai padanya.


Dia terdiam beberapa saat, "Apa dia selalu seperti itu?"


Aku yang paham 'dia' disini siapa hanya bisa menghela nafas kasar lalu duduk di batu besar di belakangku, "Iya, seperti yang kau lihat tadi dan sekarang" jawabku yang kemudian tertawa geli, "Saat kami pertana bertemu…bahkan dia lebih aneh dari sekarang" celetuk ku yang kembali mengingat kejadian pertama kami bertemu.


Dokter kecil itu melihatku bingung dan penasaran, "Kau percaya dulu dia gangster?"

__ADS_1


Mimik wajahnya berganti terkejut, "Apa anda juga?"


Aku menyerit, "Kenapa kau berfikir aku juga?"


Dia kembali terdiam lalu mengendikkan bahunya, "Melihat kau dan dia sangat akrab, bahkan seperti saudara(?)"


Aku tersenyum miring dan menghela nafas kasar, "Dia itu termasuk orang yang nekat" celetukku yang melipat tangan ku di depan dada, "Saat pertama kami bertemu, dia tanpa pikir panjang menyerang markas tempat geng ku berkumpul dulu. Masalahnya termasuk kecil, kami tidak sengaja membegal temannya"


"Membegal?" ulangnya yang aku balas dengan anggukan.


"Tapi aku mencegah anggotaku untuk membunuhnya, jadi karena hal itu dia tidak menghabisi ku" lanjut ku sambil melihat mata Dokter kecil itu, "Ada kata yang diucapkan dan sampai sekarang membuatku merasa dia itu memang psikopat gila"


"Apa?"


Lagi-lagi aku tersenyum miring, "Aku akan bertindak saat sesuatu milikku diganggu. Entah dia orang besar atau kecil, selagi dia mengambil milikku, aku akan menghabisinya"


"Apa saat itu kau sudah di dalam militer?"


Aku menggeleng keras, "Aku masuk militer saat aku dibantu olehnya untuk keluar dari underground"


"Bentar, underground?"


Aku menyerit saat dia mengulang kata underground, "Kau tau itu?"


"Iya"


Saking kagetnya dengan jawabannya, aku terbangun dari dudukku, "Arikinan juga punya bisnis gelap. Dan harusnya kau tau itu kan?"


"Arikinan?" tanya ku yang menyerit heran lalu berubah terkejut, "Kau Arikinan?"


Dia hanya terdiam tak menjawab pertanyaan ku, "Apa alasanmu meninggalkan Ekgita saat itu karena mereka?"


"Kau pasti sangat tertekan saat itu"


"Iya, aku sangat takut jika mereka mengancam orang-orang terdekatku" jawab ku sambil memainkan jari ku, "Baru beberapa saat, setelah aku resmi melamar Ekgi, mereka mengejar ku. Aku di keroyok 15 orang, dan tidak sadarkan diri sampai 2 bulan"


"Jadi itu alasan mu yang tiba-tiba menghilang sebelum hari pernikahan kalian"


Aku mengangguk pelan, "Saat aku sadar orang pertama yang kulihat adalah Tyno. Dan kau tau apa yang langsung dia katakan saat aku sadar" gadis itu menggeleng pelan, "Beri aku perintah dan aku pastikan mereka binasa"


Helaan nafas berat dikeluarkan olehnya, "Tapi mengapa dia selalu menghiraukan perintah atasannya?"


"Karena dia manusia yang bebas" jawabku singkat sambil melihat tenda-tenda pengungsian, "Setelah mendengarkan itu, apa kau masih mau bertahan?" tanyaku yang berhasil membuat dia mendelik terkejut.


"Maksud mu?"


"Kau tidak mengkhawatirkannya?" lagi-lagi dia menatapku terkejut sudut mataku menangkap ekspresi wajah sedihnya, "Dia sangat takut kehilangan dirimu. Apa kau takut kehilangannya juga?" tanyaku secar blak-blakan.


Aku menghela nafas pelan, "Saat aku dengar Ekgita dipatuk ular pikiran pertamaku adalah kehilangan untuk kedua kalinya" aku menatap langit hitam tanpa bintang itu, "Aku takut jika suatu saat aku pergi dan Ekgita juga pergi meninggalkan ku" celetukku yang menatapnya, "Maka dari itu aku menandainya sebagai milikku selamanya"


Dia menatapku terkejut, "Ha? Artinya kau dan Ekgi…"


"Heh! Pikiran anda ternyata lebih kotor daripada wajah polos anda" potongku yang tau apa yang dia bicarakan.


"Salah mu juga yang memilih kata yang ambigu" protesnya yang membela dirinya.


"Maksudku itu menunjukkan pada semua irang bahwa dia itu milikku dan aku adalah miliknya" protesku yang memperjelas perkataan ku tadi.

__ADS_1


"Nah gitu kan jelas. Intinya kalian berbaikan dan kembali berpacaran kan?"


Aku mengangguk lalu menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisku, "Sejak awal kami masih berhubungan dan bertunangan" aku menatap cincin hitam polos itu dengan seksama, "Aku berniat membawanya ke altar setelah dari sini"


"Aku senang mendengarnya" ucapnya yang terdengar sangat tulus, "Aku iri pada kalian"


"Tyno sudah mengatakan perasaannya kan?"


Dia hanya terdiam, "Anda bisa Dok" aku melihat Dokter kecil itu, "Tinggal kau pilih saja. Ego mu atau hatimu"


"Aku tidak menolaknya karena ego ku" tepisnya yang berusaha membela dirinya sendiri, "Aku hanya…tak ingin kejadian yang sama terulang" ujarnya yang lirih.


Aku menghela nafas kasar, "Semua sudah selesai, Dok. Sekarang tinggal kau mau jujur atau tidak dengan perasaanmu itu" aku mendekatinya, "Biarkan masa lalu itu dijadikan sebagai pelajaran bukan ketakutan" aku mengulurkan tanganku, "Sekarang ayo kembali, dia pasti mencari mu" tawarku yang dianggukinya.


Aku membantunya berjalan, "Hei, apa aku bisa memanggilmu Kakak?"


Mendengar permintaannya itu aku tertawa geli, "Tentu"


Sepertinya kalian berdua memang ditakdirkan bersama. Kalian memiliki kisah yang belum selesai, dan sepertinya kisah kalian harus diselesaikan bersama. Atau mungkin kisah kalian itu sebenarnya saling terhubung dan kalian harus menyelesaikannya bersama.


Miko POV end.


...~...


Alfi tengah berada di dalam medicube bagian obat-obatan. Dia menata obat-obatan itu dengan tidak fokus. Tatapannya kosong. Sedari Aly dan yang lain kembali, dia belum lihat sekalipun keberadaan Alfan. Saat dia bertanya pada Tyno, dia meninggalkannya tanpa sepatah kata. Lalu Alfi bertanya pada Miko saat dia mengganti infus Ekgita, dan jawaban yang Miko berikan membuatnya terus bertanya pertanyaan yang sama.


David masuk kedalam medicube dan menemukan Alfi yang tengah melamun dengan memangku kotak berisikan obat-obatan. David dapat merasakan apa yang tengah Alfi rasakan sekarang. Salahkan dia yang menaruh hati pada perawat kecil itu yang notabenenya baru merasakan jatuh cinta saat bertemu Alfan. Dia mendekati Alfi lalu mengangkat kotak besar yang tengah dia pangku.


Alfi terkejut bukan main karena dia kira kotak itu akan terjatuh, "David?" panggil Alfi saat David tengah menaruh kotak itu di bawah, lalu ia berjongkok dan menatap Alfi sendu.


"Belum pasti dia tiada kan? Artinya masih ada harapan" celetuk David yang berhasil membuat Alfi menjatuhkan air matanya yang sudah ia tahan sejak tadi.


Saat itu Ayda tepat masuk dan melihat Alfi menangis, "Alfi?" panggil Ayda yang langsung memeluknya, "Kita semua disini" celetuknya yang berusaha menenangkan Alfi. Tanpa David atau Alfi bercerita, Ayda sudah paham apa yang sedang terjadi pada Alfi.


David mengelus punggung Alfi pelan, "Lihat. Kau tidak sendirian bukan?" ujar David yang tersenyum saat Alfi menatapnya.


"Terimakasih"


Ayda mengangguk lalu menghapus air mata Alfi yang tersisa, "Sudah tenang?" tanya Ayda memastikan keadaan Alfi.


Alfi mengangguk, "Kalau aku lihat kalian cocok juga ya" celetuk Ayda yang akan keluar dari medicube sambil membawa beberapa obat fi tangannya, "Seperti angka sepuluh"


"Ayda!" seru keduanya yang tidak terima.


"Hanya bercanda" ujarnya yang diakhiri sebuah tawa.


David menatap Alfi lagi, "Kau harus kuat. Contoh Aly, saat dia ingat Zakra apa dia menangis di depan kita? Tidak, padahal kita tahu bagaimana hancurnya perasaannya" ucap David yang menatapnya lembut.


"Kau benar, dia lebih hancur dari ku" setuju Alfi yang berdiri dari bangkunya, "Dan jangan pernah sentuh aku lagi" ancam Alfi yang keluar dari medicube.


"Itu baru Alfi yang ku kenal" seru David pad Alfi yang sudah berjalan keluar, "Aku harus memastikan apa yang dikatakan Atha itu benar atau tidak tentang Alfan" David memijat pangkal hidungnya, "Semakin lama, semakin pusing memikirkan tentang Arikinan ini"


"Jangan kau pikirkan, semakin kau memikirkannya semakin dalam bahaya juga kau nanti" celetuk seseorang dari arah belakang David.


Tapi David sudah tau milik siapa suara itu, "Kau sudah baikan, Arif?"


"Aku gak ingat apa yang terjadi" celetuknya yang duduk di bangku bekas Alfi duduki tadi, "Lysa baik-baik saja kan?"

__ADS_1


David menghela nafas pasrah, "Aku akan cerita dari sudut pandang Atha saja ya"


...****************...


__ADS_2