
...****************...
08.45
Sekarang Aly dan Atha dalam perjalanan kembali ke Ulujadi setelah berdiskusi cukup alot tentang Alfan. Tyno dan Miko masih disana karena ada urusan yang harus mereka selesaikan. Sejak keluar dari wilayah Donggala, Atha hanya terdiam. Begitu juga Aly, yang sejak tadi sibuk membaca pikiran Atha.
"Kamu dihubungi Kakek?" tanya Aly tiba-tiba saat Atha baru saja memikirkan perkataan Kakeknya sebelum dia menjemput Aly tadi.
Atha menelan ludah terlebih dahulu, "Iya" jawab Atha singkat, "2 hari. Waktu Kakak disini hanya 2 hari" celetuk Atha sambil terus menyetir, "Helicopter, akan menjemput kita setelah itu"
"Gila kau ya! Aku belum selesai loh disini" seru Aly yang tidak terima dengan perkataan Atha barusan, "Aku Kapt…"
"Mau kau Kapten divisi Jateng atau bahkan Komandan divisi Jateng, kami tidak peduli" potong Atha yang memberhentikan mobil jeepnya di dekat pengungsian Ulujadi, "Kakek setuju, Om juga setuju. Kakak gak dapet suara apapun" jelasnya yang membukakan pintu untuk Aly, "Tenang, Kakek udah urus semua"
"Minggir!" usir Aly yang kemudian berjalan menjauhinya.
Atha menghela nafas pasrah lalu berjalan menjauhi pengungsian. Aly menggebrak meja panjang di cafetaria lalu mengatur nafasnya yang menjadi pendek karena menahan marah. Getaran handphone di sakunya membuat dia terdiam sesaat lalu langsung mengangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Hallo"
"Nak" suara sorang pria terdengar dari sebrang, "Syukurlah kau baik-baik saja" Aly tidak menjawab perkataan pria itu, "Nak, kau marah pada ku?"
Aly terdiam lama lalu menghela nafas kasar, "Kenapa gak tanya Alys dulu?"
"Karena jika Kakek bertanya, apa kau mau mendengarkan?" ujar Aji dengan senyuman kecil, "Dengar, kau kembali ke Jakarta obati kaki mu dulu. Setelah itu kau bisa kembali ke Purwokerto, oke?"
Aly menghela nafas pelan lalu memijit pelan pangkal hidungnya, "Baiklah"
"Anak pintar, Kakek matikan dulu ya"
Pip.
Brak.
Kursi plastik disebelahnya terlempar begitu saja, "Damn!"
"Dokter Aly?"
Aly berbalik dan menemukan Lilis yang membawa kardus besar lalu menaruh kardus itu diatas meja, "Anda kenapa disini? Anda kan harusnya beristirahat!"
Aly tersenyum canggung, "Ah itu, aku sebenarnya mau minta makanan, tapi tadi telfonan sebentar"
"Kan bisa minta Alfi atau Iza"
Aly hanya tertawa garing dan Lilis hanya bisa menggeleng pelan lalu memilah kardus kardus lainnya dari dalam kardus besar itu, "Ada surat untuk anda dan…" Lilis mengambil sebuah kardus berukuran sedang, "Ini ada paket Tentara nyasar di kita, atas nama…" Lilis membaca penerima paket itu, "Miko Mahardika, anda kenal dia bukan?"
Aly mengangguk lalu mengambil kotak itu, "Terimakasih Lis" ujar Aly sambil tersenyum.
Lilis langsung berpamitan untuk mengantar paket lainnya. Aly melihat kotak milik Miko sesaat lalu memutar matanya malas. Kini dia melihat dua buah amplop berukuran sedang bewarna putih. Aly membuka amplop paling atas dengan cap Provinsi.
Brak.
Aly kembali menggebrak meja panjang itu, "Sialan" umpat pelan Aly sambil terus membaca surat penarikan dirinya dari relawan Dokter. Dia meremas kasar kertas itu lalu membuka amplop kedua yang memiliki cap Rumah Sakit tempat dia bekerja.
Di amplop kedua ini dia hanya menyerit heran lalu duduk terdiam di kursi yang tak juah darinya, "Sampai membuat surat resmi? Memang luar biasa mereka" ujar Aly yang kembali meremas surat kedua, "Sialan!"
09.00
Tyno dan Miko baru saja sampai di tempat pengungsian. Tyno turun terlebih dahulu lalu bersandar di dekat pintu Miko. Sedangkan Miko juga hanya membuka pintu itu belum ada niatan untuk turun dari mobil jeep mereka.
__ADS_1
Miko menghela nafas kasar, "Kalo saja dia bukan Ayah Ekgita, sudah ku habisi" gumamnya yang menunduk dalam.
Tyno ikut menghela nafas pasrah, "Aku masih kurang info, di tambah ada inflasi di Rorety Grup bagian kesehatan" ujarnya sambil melihat handphonenya.
"Masalah kita berbeda, tapi kenapa frustasinya sama aja" celetuk Miko sambil memijit pelipisnya dengan posisi masih menunduk.
"Hu'uh" jawab Tyno lesu.
Beberapa Tentara yang melewati mereka juga hanya memberi hormat tanpa menegur mereka.
Afrizal yang melihat keduanya dari kejauhan hanya bisa menggeleng pelan, "Abis kena semprot mereka, kasian sekali"
Stt "Letnan Satu Miko ada paket untuk mu"
Panggilan untuk Miko membuat Afrizal menyerit sebentar, "Paket? Untuk Miko?"
"Paket?" ulang Ekgita yang sedang membaca buku di atas ranjangnya.
Stt "Apa kau sudah kembali?"
"Siapa nama pengirimnya?" tanya Miko dengan lesu.
Aly membaca nama pengirim yang tertera, "Sophie?"
Miko dan Tyno saling bertatapan, "Kau dimana?"
"Cafetaria"
Ekgita tertawa pahit lalu menarik selang infusnya tanpa membuka plester di punggung tangannya. Miko dan Tyno langsung berlari tanpa mempedulikan sekitar mereka, sesekali Tyno memukul pelan bahu Miko.
Aly melihat paket itu lalu mengangkatnya memastikan apa yang ada di dalam kotak itu.
"Siapa Sophie?!" sentak Ekgita saat melihat nama pengirim kotak itu.
"Kenapa kau berteriak padaku?" tanya Aly heran.
Ekgita menarik paksa tanda pengenal Aly yang kemudian dia jadikan itu sebagai alat pembuka kotak.
Aly mendelik terkejut, "Apa kita boleh membukanya?"
"Siapa yang bilang gak boleh?" tanya balik Ekgita yang masih terlihat kesal.
Aly mengalihkan pandangannya ke kotak itu, "Eh? Minuman berenergi?" ujar Aly sambil mengambil satu pack minuman berenergi.
Brak.
"Memang cari mati manusia itu" Ekgita menunduk dan menemukan sebuah kartu ucapan.
Aly yang penasaran berjinjit untuk melihat kartu ucapan itu, "Oh" ujarnya sambil merebut sebuah foto dari dalam kartu ucapan itu. Ekspresi Aly berubah saat melihat foto itu, "Sumringah sekali senyumannya" celetuk Aly sambil melihat foto itu, "Kau tidak membawa senjata mu ya?"
"Kau tidak membawa perlengkapan mu?"
"Aku selalu bawa knuckle"
Drap
Suara langkat berhenti membuat keduanya berbalik dan menemukan dua pria dengan keringat yang membasahi mereka.
"Hu, huf Ekgi…Kau disini?" tanya Miko yang masih ngos-ngosan.
__ADS_1
"Kau juga disini Lys?"
Aly menunjukan foto tadi, "Sumringah sekali kau"
"Itu…" Tyno terdiam sesaat, "Sepupu Miko" Miko menatap Tyno horor.
"Oh, sepupu?" kedua pria itu saling menelan ludah, "Sebutin dalam hitungan ketiga, yang mana sepupu Miko?"
Keduanya hanya bisa gelagapan dan menatap menatap horor Ekgita, "1…2…3"
"Kiri/kanan" ujar keduanya berbeda.
Tyno melihat Miko yang sudah berkeringat dingin, "Kanan/kiri"
Aly mengangguk paham,sedangkan Ekgita merebut foto itu dari Aly lalu meremasnya dan membuat kedua pria itu merinding seketika.
"Itu semua ide Kapten yang mengusulkan blind date, lalu memintaku untuk menelfon Biru untuk memanggil teman-temannya" jelas Miko yang masih pada posisi siap.
Tyno tersenyum pahit, "Pengkhianat"
Aly memijit pangkal hidungnya lalu berdiri tegak dibantu kruknya, "Ikuti aku" ujarnya yang melewati Miko dan Ekgita begitu saja. Tyno menepuk bahu Miko lalu mengekori Aly keluar cafetaria.
Miko berniat mengikuti Aly dan Tyno tapi, "Maju satu langkah, mati kau" seketika Miko terdiam dan kembali pada posisinya.
Aly berhenti di tenda obat-obatan lalu duduk di kursi plastik, "Apa kau mengejar banyak perempuan?" taya Aly to the point.
"Ngga, itu aku…lagi gabut aja" jawab Tyno dengan sedikit gelagapan.
"Apa kau mengejar ku?" tanya Aly lagi dan kali ini Tyno hanya mengangguk, "Apa aku hanya mainan mu?"
Mendengar itu Tyno mendelik garang, "Ngga, kau bukan mainan. Kau perempuan yang berani memukulku dan berani melelehkan hati ku"
Aly hanya tersenyum miring mendengar pernyataan Tyno, "Terserah" beberapa saat hanya ada keheningan diantara mereka.
"Kau masih marah?"
Aly menatap Tyno tanpa ekspresi, "Pikir sendiri" jawabnya ketus, "Aku akan pergi 2 hari lagi" celetuk Aly yang membuat Tyno menatap nya terkejut, "Aku harus menerima perawatan pada kaki ku"
Tyno menghela nafas pelan lalu berjongkok satu kaki di depan Aly yang masih duduk di kursi plastik itu, "Ini luka dalam"
"Tak apa, aku pernah punya luka yang lebih menyakitkan"
Perkataan Aly tadi membuat suasana keduanya menjadi canggung.
"Kau tidak bilang kalau kau anak Amalia Arikinan dan Axelsen Ertha Putra"
Aly menatap Tyno bingung, "Tau darimana kau nama Ertha pada nama Ayahku?"
Tyno memegang kedua tangan Aly, "Tak perlu tahu"
Tatapan Aly seketika menjadi horor lalu mengeluarkan ht yang Atha berikan, "Atha, sepertinya kita punya satu sampah yang harus dibereskan"
"Bentar! Baik aku katakan!"
Tiba-tiba Ekgita berjalan keluar cafetaria yang melewati tenda obat-obatan dan adegan kejar-kejaran antara Ekgita dan Miko pun terlihat oleh Aly.
"Kau tak ingin bantu Miko?"
Tyno menengok melihat apa yang sedang dilihat Aly, "Ayo, kita bantu mereka"
__ADS_1
...****************...