Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 60


__ADS_3

...****************...


17 Nov


Purwokerto, 11.34


Sudah satu bulan berlalu sejak gempa dan tsunami Donggala. Para medis dan Tentara juga mulai bergantian bertukar kembali ke daerah masing-masing. Termasuk Ayda yang kini sedang melamun di ruangannya. Jam prakteknya memang sudah selesai hanya tinggal check up pasien saja. Tapi ada beban yang begitu berat yang kini dia pikirkan.


"Dorrr!"


"Kyaa!" teriak Ayda yang terkejut.


"Hahaha, makannya jangan bengong mulu" ujar orang yang mengejutkan Ayda. Orang itu mengambil roti isi dari dalam lemari penyimpanan ruangan Ayda, "Kenapa? Sini cerita" ujar orang sedangkan Ayda masih termenung.


Ayda yang masih terkejut menatap orang itu tidak percaya, "Kapan kau sampai Purwokerto?"


Aly mengunyah roti isi itu pelan dan memberikan tanda 2 dengan jarinya, "Dua hari lalu", Ayda hanya membulatkan mulutnya, "Jadi kenapa bengong?" tanya Aly lagi sambil duduk di sofa ruangan itu.


Ayda menghela nafas berat lalu duduk di sebelah kiri Aly, "Aku pernah bilang kan soal Naufal yang Ta'arufin aku" Aly mengangguk sambil terus memakan roti isi yang tinggal satu suapan itu, "Aku setuju dengannya"


"Umm, uhuk uhuk"


Melihat Aly yang kesusahan menelan itu Ayda buru-buru mengambilkan dia air lalu dengan cepat Aly habiskan air di gelas itu.


Ayda tertawa kencang melihat wajah Aly yang masih pucat, "Kenapa pula kau ha?"


"Lo tuh kalo mo ngasih sesuatu yang tak terduga mikir dulu gitu!" kesal Aly yang masih mengatur nafasnya karena tersedak tadi.


"Ya maaf oke"


Aly menatap tajam Ayda lalu berubah menjadi tatapan penasaran, "Jadi kapan?"


"Masih November, tanggalnya bakalan di tentuin minggu depan. Dan…" Ayda mengambil sebuah amplop putih dengan cap Rumah Sakit yang berbeda, "Aku pindah"


Aly membaca surat itu dengan seksama lalu menyerit, "Ketempat Bapak dulu?"


Ayda mengangguk, "Setidaknya dekat dengan dia juga kan?"


"Waw. Aku juga ada sesuatu" celetuk Aly yang juga menyerahkan sebuah amplop putih dengan logo Rumah Sakit tempat mereka bekerja sekarang.


Ayda membaca pelan lalu menatap Aly tidak percaya, "Pusat?"


"Aku memang seharusnya disana. Bukan, tapi Zakra"


Ayda tersenyum puas lalu merangkul Aly, "Buat pesta kecil-kecilan?" tawar Ayda dengan nada polos


Aly tersenyum lebar, "Ayo"


...~...


Alfi POV


Huaaa. Rasanya aku ingin menangis kencang sekarang. Tapi entah kenapa air mata ini tak mau terjatuh. Hati dan otakku sangat bertolak belakang sekarang. Otakku mengatakan dia sudah tiada, tapi hati ini bilang dia masih hidup. Akhh kenapa kalian gak bisa sependapat sih!


Aku menghentakkan kaki ku tanda kesal lalu keluar dari ruangan khusus perawat. Aku berjalan keluar menuju ke ruangan Aly. Saat aku membuka pintu ruangannya, aku bisa melihat si empu sedang membereskan ruangannya. Aku bisa lihat dia sedang menata berkasnya?


"Al?" panggilku yang membuatnya langsung berdiri dan menyengir tanpa dosa.


"Oh, hai Alf"


"Kau sedang apa? Maksudku kapan kau sampai di Purwokerto?" tanya ku berurutan.


Aly menatapku bingung lalu merangkulku, "2 hari yang lalu"


Aku membulatkan bibirku, "Terus kenapa ini di masukin box?" tanya ku lagi sambil menunjuk berkas-berkas miliknya.


Dia hanya tersenyum lalu memberikan sebuah amplop putih kepadaku. Aku membacanya dengan seksama.


"Kau akan pindah?" tanyaku yang menatapnya tidak percaya.


Dia hanga mengangguk sambil membereskan barang-barangnya. Setelah kehilangan orang di cintai sekarang ditinggal sahabat juga?


"Oh ayolah, jangan berfikiran seperti itu" celetuknya yang memelukku, "Maafkan aku yang membuatmu jauh dari Alfan ya"


Aku menggeleng pelan, "Tidak, ini bukan salah siapapun. Kan sudah takdirnya begini, kau selalu bilang gitu kan"


Bodohnya aku, memang menyedihkan sekali diriku ini.


"Kau tidak bodoh dan tidak menyedihkan. Itu memang sifatmu saja yang tidak enakan" ujarnya yang menyemangati ku dan aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya, "Kau tau, mungkin Alfan belum tiada"


"Maksudmu?" tanya ku dengan cepat.


Saat Aly akan menjawab ku tiba-tiba handphonenya berdering, "Eh kenapa dia telfon?" monolognya yang lalu mengangkat telfon itu, "Hallo?"


"Kau dimana?"

__ADS_1


Aly menatapku dan aku menatapnya bingung, "Rumah Sakit, kenapa?"


"Rumah Sakit mana?"


"Tempatku bekerja lah"


"Ouhh baiklah"


Pip


"Hi aneh kali manusia ini" celetuknya kesal.


"Kapten?" tanyaku dengan hati-hati agar dia tidak mengamuk.


Helaan nafasnya membenarkan pertanyaan ku tadi, "Kau jadi dekat sekali dengannya setelah kejadian itu" ujarku sambil tersenyum usil.


Aly membalas ku dengan mengulang perkataanku tadi, "Alf, cinta itu rumit. Kadang kita dipisahkan oleh takdir, tapi takdir juga akan membawa sesuatu yang lain untuk dicintai" ujarnya sambil menyerahkan sebuah foto kepadaku. Foto saat Zakra dan Aly baru menjadi sepasang kekasih. Foto berharga ini, dia berikan padaku?


"Siapa Dokter pengganti mu disini?" tanyaku yang tiba-tiba menjadi bersemangat.


"Dian, dan minggu depan datang ya. Kita adakan pesta perpisahan kecil-kecilan"


Aku tersenyum sambil merangkul lengannya, "Tentu"


Benar kata Aly. Cinta bukan hanya soal perasaan saja. Banyak hal yang jadi membingungkan ketika berurusan dengan cinta.


Alfi PoV end.


...~...


Seorang pria tengah bermain handphonenya di dalam mobil SUV yang terparkir di depan Rumah Sakit.


Tok…tok…tok


Ketukan pada kaca mobil membuat si pria membuka kaca mobilnya dan melihat seorang perempuan memasang wajah kesalnya ke si pria.


"Kau gila?"


"Apa?"


"Kau bilang minggu depan baru pulang, kenapa sekarang dah disini?"


Pria itu tertawa cukup keras, "Kau percaya?" ledek pria itu yang membuatnya tertawa makin kencang.


Perempuan itu mencubit lengan si pria cukup keras, "Akh! Sakit Al!"


"Terserah"


"Bibirnya jangan gitu dong. Nanti aku khilaf kek waktu itu gimana?" goda pria itu sambil menaik turunkan alisnya.


Aly mengingat kejadian di Lombok lalu menunduk sesaat, "Jika kau berani kan ku habisi kau, Althyno"


Lagi-lagi Tyno tertawa kencang, "Hobi ku memang bertambah karena dirimu" celetuk nya disela-sela tawanya, "Sudah ayo naik. Aku mau nagih janji jalan-jalan kita"


Aly menatap sinis Tyno lalu memutari mobilnya. Saat di dalam mobil Aly masih yang masih kesal  terdiam sambil memasang seat belt nya. Tyo hanya bisa menatap gemas kelakuan Aly yang masih kesal dengannya.


"Kenapa belum jalan?" tanya Aly dengan nada kesal.


Tyno hanya menatapnya gemas lalu.


Cup


"Sudah ku bilang jangan kesal, kau menggemaskan saat kesal" ucapnya setelah mencium pipi kanan Aly lalu menjalankan mobilnya.


Aly sempat terdiam sesaat sampai, "Althyno Dharma Arisakti!"


"Iya Princess?"


Selama perjalanan mereka sama-sama terdiam. Sampai saat mereka berada di daerah pariwisata di kaki gunung Slamet. Aly melihat ke sekeliling. Dia seperti tahu jalanan yang sedang dia lewati saat ini.


"Kau masih kesal?" tanya Tyno yang terus meliriknya.


"Gak usah banyak tanya, fokus nyetir aja" jawab Aly dengan nada kesalnya.


Tyno hanya tersenyum puas. Tak berapa lama dia menghentikan laju mobilnya di depan sebuah warung.


"Kita sudah sampai?" tanya Aly heran.


Tyno tidak menjawab dia hanya turun dari mobilnya lalu membukakan pintu Aly juga. Dia mengambil sesuatu dari kursi penumpang. Setelah itu dia mendekati pemilik warung.


"Bu Yuni" panggil Tyno pada ibu-ibu penjaga warung itu.


Ibu-ibu itu melihat Tyno dari atas sampe bawah, "Sinten nggih?" tanyanya dengan bahasa jawa.


"Althyno"

__ADS_1


"Ya Allah, mas Tyno!" seru ibu yang dipanggil BU Yanti itu, " Kenapa baru kesini lagi mas?"


Tyno tersenyum lembut, "Baru ada waktunya sekarang"


"Saya masih belum percaya mas Tyno kesini lagi" Ibu Yuni melihat kebelakang Tyno dan menemukan Aly disana, "Pacarnya mas?"


Aly yang terkejut hanya bisa mendelik, "Belum/bukan" jawab Tyno dan Aly bersamaan.


Tyno menggeleng pelan, "Saya titip mobil ya Bu"


"Tentu mas, inget peraturan juga ya mas"


Tyno menunjukkan tanda dengan ibu jarinya.


Aly POV


"Ayo" ajaknya sambil mengulurkan tangannya.


Aku menggapai tangannya lalu mengikutinya dari belakang. Kami berdiri di tempat lebih tinggi.


"Berbalik lah"


Saat aku berbalik aku melihat empat buah pipa besar yang sudah ditutupi lumut. Aku tertegun sesaat.


"Cantik kan?"


Aku menatap Tyno yang tengah mengambil gambar.


"Pipa-pipa itu sejak kapan disana?" tanyaku lirih.


"Sejak jaman belanda" dia menggenggam tangan ku lalu menarik ku pelan, "Ayo, kau pasti akan suka tempat itu"


'Kata-kata itu, Zakra'


Tyno berjalan di depan ku lebih cepat, "Pipa-pipa tadi terhubung dengan sebuah bendungan diatas sana" dia berhenti sebentar mengambil foto disekitar kami, "Bendungan itu menampung air dari sebuah air terjun di atas" jelasnya lagi sambil membidik kameranya ke aku?


"Kau tahu banyak soal daerah sini?" tanyaku yang membuatnya terdiam tanpa menjawab apapun.


Kini kami di depan sebuah tangga yang menurun curam. Dia menatapku lalu berjongkok membelakangi ku, "Naik. Kaki mu masih belum pulih sepenuhnya kan?"


Aku menyerit ragu, "Aku berat loh"


"Mana ada. Ayo naik"


Aku naik ke punggungnya lalu dia berjalan pelan. Saat akan berjalan menanjak, ada sebuah warung.


"Mas, mesra sekali"


Aku menunduk malu sedangkan Tyno menjawab ibu itu, "Makasih bu"


Saat kami berada di atas bukit dia menurunkan ku lalu menuntun ku. Di depan kami kini terdapat sebuah bendungan dan aku juga bisa samar-samar mendengar suara deburan air terjun. Aku tengah duduk sambil meminum air yang ku beli di warung dekat pembelian karcis sedangkan Tyno sedang membeli karcis untuk kami berdua.


"Kita masih setengah perjalanan lagi untuk sampai ke air terjunnya" ujarnya sambil berjalan kearah ku.


Aku menyerahkan sebuah botol air padanya lalu dia berjongkok untuk meminumnya, "Kaki mu baik-baik saja kan?" tanyanya dengan nada khawatir.


Aku mengangguk pelan, "Sedikit pegal but it's fine"


Dia tersenyum lalu mengulurkan tangannya, "Let's go"


Selama perjalanan dia terus mengeluarkan jokes menyebalkan. Saat kami melewati dinding tebing tiga air terjun langsung menyambut kami. Sebuah air terjun yang diampit dua air terjun kecil, terlihat sangat aesthetic dan keren. Aku terpana menatap air terjun itu. Tiba-tiba Tyno mengambil kedua tanganku lalu membuatku menghadapnya.


"Aku ingin jujur sesuatu" celetuknya sambil menatapku sendu, "Arif cerita tentang hubungan mu dengan Zakra"


Mendengar nama Zakra aku menatapnya bingung, "Kau tau Akra?"


Dia tidak menjawab tapi mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya, "Milikmu?"


Aku merebut kalung itu, "Aku menemukannya di makam Zakra" dia menjeda perkataannya cukup lama, "Aku, Zakra dan Bima. Kami bersahabat" ujarnya lirih tapi masih bisa ku dengar, "Kami bertengkar, dan membuat kami terpisah"


Aku menatap kalung kucing itu, "Aku dan Zakra terpisah saat kami berada di air terjun juga" aku menatap Tyno dengan sedih, "Saat itu aku di culik dan Zakra pingsan"


Tyno mengeluarkan sebuah kalung lainnya dengan bandul berbentuk lingkaran dengan motif seperti sebuah sayap dengan warna putih dan gold, lalu menyerahkan pada ku, "Aku menyukai mu, bahkan mencintai mu sepenuh hati"


Dia menghela nafas kasar, "Jika kau menerima ku, pakai kalung ku. Jika tidak kau bisa membuangnya kesana" ujarnya sambil menunjuk kolam di bawah air terjun.


Aku terdiam cukup lama. Aku melihat kalung Zakra cukup lama juga tapi kemudian aku menggeleng pelan. Dengan pasti aku memasang kalung yang Tyno berikan dan si empu hanya menatapku tidak percaya.


"Itu artinya…"


Aku tersenyum sambil mengangguk, "Aku menerima mu"


Senyuman Tyno makin melebar, "Aku akan mencintai mu selamanya Alyssa Mustika Arikinan!" teriaknya kearah air terjun.


Masa yang telah lewat, tidak akan kembali…karenanya dimasa sekarang dan yang akan datang…disanalah tempat kita menembus waktu yang hilang itu. Masa lalu, masa kini dan masa mendatang terjahit menjadi satu oleh benang takdir. Yang terjadi pada suatu masa akan mempengaruhi oleh situasi di noktah masa yang lain.

__ADS_1


Aly POV end.


...****************...


__ADS_2