Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 46


__ADS_3

...****************...


Ulujadi, 17.57


Aly POV


Sepi. Aku diam sambil.melihat kanan kiri yang masih berantakan. Aku menoleh ke spion tengah dan tak sengaja mata kami bertemu. ku menatap arah lain agar wajah canggung ku tidak terlihat.


"Kau memang tinggal di Purwokerto kah?" tanyanya yang memecahkan keheningan kami.


"Tidak, tapi aku memang lahir di Purwokerto"


"Kau pernah mengatakan, tempat pusat dirimu bekerja. Maksud mu itu Rumah Sakit Harin?" tanya nya yang sedikit menyerit.


Aku ikut menyerit karena wajah penasarannya, "Iya, kenapa memangnya?"


Dia hanya terdiam tapi beberapa saat kemudian dia menghela nafas kasar, "Aku seharusnya memegang Rumah Sakit itu dan salah satu hotel milik Rorety.Group" ujarnya yang  membuatku makin menyerit, "Tapi semua itu hanya angan saja sekarang" lanjutnya sambil tersenyum kecut.


Aku menatapnya lalu mengangkat kedua alis ku, "Kau tau alasan mengapa keluarga kita tidak bisa akur?"


"Karena kejadian 6 tahun lalu saat kasus meninggalnya anak sulung Aji Arikinan?"


"Ada hal lain" ujarku sambil menatap lurus jalanan, "Dan hal itu yang membuat keluargaku mencurigai ada permainan Arisakti dibelakang kejadian itu"


Helaan nafasnya terdengar berat. Beberapa menit kemudian kami berhenti, "Ayo turun" ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Aku menggapai tangan itu lalu turun dari mobil jeep tentara itu.


Tyno berjalan di depan ku sambil membersihkan beberapa puing yang menghalangi jalan. 


"Aku tak pernah berurusan dengan Rorety. Group hampir selama 15 tahun"


"Ha?" aku berhenti dan menatap punggung Tyno dengan wajahbterkejut.


Tynobjuga berhenti dan berbalik sambil tersenyum palsu, "Aku pergi dari rumah" celetuknya dengan kekehan berat disana, "Dan aku merasa itu pilihan yang benar"


Tyno kembali berjalan dan aku juga mengekorinya lagi, "Bunda meninggal saat ulang tahun ku yang ke 8 dan di ulang tahun ku yang ke 10, Ayah memberikan hadiah terburuk untukku"


"Hadiah terburuk?"


Tyno mengangguk. Tiba-tiba dia berhenti, "Karena dia membawa penyihir ke rumah" lanjutnya yang kemudian menghela nafas panjang, "Kita sudah sampai"


Aku berjalan dan beridri di sebelah Tyno. Sesaat akubterdiam dan menatap hamparan laut yang tenang setelah beberapa saat yang lalu mengamuk itu. Hamparan bintang menghiasi langit malam itu. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali menatap keindahan itu.


"Lys, dengar. Laut adalah tempat terbaik untuk mendengarkan semua keluh kesahmu. Dia hanya akan mendengarkan semua curhatan mu dan di jawab dengan deburan ombak yang akan menenangkan mu"


Aku terduduk lemas setelah dia mengatalan itu, "Alys?" panggilnya panik.


"Kenapa kau menagatakan hal itu?" tanyaku lirih tanpa menatapnya.


"Ada apa?"


"Kenapa kau mengatakan hal yang sama?" tanyaku yang sekarang menatap wajahnya.


Tyno masih menatapku khawatir tetapi sekarang terlihat bingung juga, "Maksudmu?"


"Kenapa kalian mirip?" perlahan air mataku mulai mengalir, "Apa mau mu sebenarnya?"


Tyno mengerjapkan matanya beberapa kali lalu memegang kedua bahu ku erat, "Apa yang kau sembunyikan?"


Aku terdiam tanpa menjawab perkataan Tyno lalu dia berjongkok saru kaki dan menghapus jejak air mataku, "Aku akan menunggu mu siap untuk bercerita. Aku tidak akan memaksa, percayalah"


Mendengar itu, air mataku kembali mengalir tapi kali ini mereka mengalir dengan deras. Tyno memelukku lalu menepuk pelan punggungku, "Aku disini, semua akan baik-baik saja sekarang"

__ADS_1


Aly POV end


"Sudah puas menangisnya?" tanya Tyno pada Aly yang sedang membersihkan jejak air matanya.


"Ah ****. Kenapa aku harus menunjukkan sisi lemah ku pada mu" umpat Aly sambil tersenyum tipis.


"Language girl" tegur Tyno sambil memberikan Aly botol mineral yang ia bawa, "Ayo kembali, aku harus melapor pada atasan" ujarnya sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam.


Aly mengangguk dan berdiri bersamaan dengan Tyno. Saat perjalanan kembali ke jeep Aly terus menatap Tyno sesekali.


"Kau tahu" ucap Tyno memecahkan keheningan diantara mereka, "Aku masih berharap dan berjuang untuk mu"


Ucapan Tyno tadi membuat Aly menunduk lalu menatap tanah. Tarikan nafas berat dan helaan nafas panjang Aly membuat Tyno melirik Aly dalam.


"Dan maaf jawaban ku masih sama"


Tyno tersenyum kecut, "Sebenarnya apa kau ada masalah?"


Aly berhenti saat jarak mereka dan mobil mereka tinggal 2 meter saja. Tanpa aba-aba Tyno juga ikut berhenti lalu menarik Aly kebelakang tubuhnya.


"Dia?" gumam Aly saat melihat seorang pria bertopeng setengah wajah dan berhoodie orange tengah duduk di kap mobil jeep mereka.


"Kapten! Kita bertemu lagi" celetuk pria itu sambil melompat turun dari kap mobil, "Tapi kau membawa target besar juga"


"Sebenarnya siapa kau?" tanya Tyno dengan nada dingin.


Pria itu mengendikan bahunya lalu menjentikkan jarinya lalu muncul 3 orang dari kedua sisi jeep itu.


"Take the girl" titah pria itu.


Dua orang lainnya lari berusaha menangkap Aly. Dengan cepat Tyno menarik Aly kedalam pelukannya. Saat Tyno akan menyerang balik sosok pria bertudung yang tadi muncul bersama dua orang lainnya malah menyerang balik dua orang itu.


Bear melemaskan otot lehernya lalu bersiaga untuk menyerang. Tyno menyerit lalu memutar tubuh Aly.


"Dengar, lari dan jangan menunggu aku" ujar Tyno dengan nada cepat.


"Kau gila!"


"Saat aku bilang lari, lari dan pergi bawa mobil" titah Tyno yang bersiap untuk lari, "Kau, bantu buka jalan"


"Siap" ujar Bear sambil menyiapkan kuda kudanya.


Pria bertopeng itu memijit pelan pangkal hidungnya, "Kau predator rupanya. Serang mereka"


Dengan perintah itu dua orang itu kembali menyerang Bear tapi dengan sigap Bear berhasil menahan mereka. Sedangkan Tyno berlari menarik Aly lalu melompat dan menendang pria bertopeng itu.


"Lari!"


Aly lari dan menyalakan mobil lalu pergi daei tempat itu. Sedangkan pria bertopeng itu masih merasa pusing dengan serangan dadakan Tyno. Saat dia berusaha bangun dan memegang pinggangnya dimana senjatanya di simpan. Dia menepuk pelan pinggangnya lalu mencari senjatanya.


"Kau tahu, aku benci buat laporan persediaan" ujar Tyno sambil menyiapkan pistol milik pria itu.


"****!" umpat pria itu lalu berlari menuju pohon kelapa besar.


Dor.


Tembakan pertama membuat pria itu cukup ketakutan.


Dor. Dor.


Dua tembakan itu berhasil mengenai dua orang yabg sedang melawan Bear.

__ADS_1


Bear melihat Tyno sesaat lalu


Dor. Dor


Bear menembak dua orang itu sampai meninggal, "Bara! Keluar kau!" teriaknya.


Tyno terdiam sesaat, "Bara?" gumamnya sambil mengingat kejadian Paman Galang, "Kau!" saat Tyno berbalik Bara sudah berada di dekatnya lalu kembali menyerang Tyno dan berhasil merebut pistolnya dari Tyno, "Kau! Kenapa kau menyerang paman?!"


Bara menyiapkan pistol itu, "Karena itu tugas ku"


"Kapten!"


Citt.


Dor.


Brugh.


Mobil jeep yang di kendarai Aly berhasil menabrak sisi kiri Bara hingga sasaran dia meleset. Aly berhasil berhenti di depan Tyno.


"Naik!"


Tanpa pikir panjang Tyno langsung melompat naik kedalam jeep. Bear yang memastikan Tyno dan Aly yang sudah menjauh, juga berlari menjauhi Bara tapi sebelum ia benar-benar menghilang dia sempat melihat Bara yang masih kesakitan karena dia tertabrak oleh Aly.


"Kan ku buat kau menyesal, Bara"


...~...


"Kau gila!" sentak Tyno pada Aly yang  tengah tersenyum lebar.


"Ternyata aku masih bisa nge drift" monolog Aly yang berbahagia dan membanggakan dirinya sendiri.


"Heh! Kau berniat membunuhku?"


"Ouh kau terluka?" tanya Aly dengan nada biasa saja.


Tyno menyenderkan tubuhnya di kursi, "Heish dia benar-benar gila"


"Sadar diri" timpal Aly sambil terus mengendarai mobil menuju tempat pengungsian.


Saat mereka sampai Aly melihat Tyno yang terus memegang lengan kirinya, "Lihat tangan mu" ujar Aly yang meminta Tyno mengulurkan tangannya.


Tyno menyerit sesaat lalu mengulurkan tangannya. Saat Aly akan memeriksa tangan Tyno, seseorang sudah berteriak.


"Dokter Aly!"


Merasa terpanggil Aly dan Tyno mencari sumber suara. Keduanya mendelik terkejut kala Langit mendekati mereka dengan membawa seorang wanita dengan menggendongnya ala bridal style.


"Ekgita" gumam keduanya yang masih dalam keadaan terkejut.


"Tolong" pinta Langit dengan wajah melas.


Aly langsung memeriksa keadaan Ekgita. Dia menyerit dalam saat memeriksa detak jantung Ekgita, "Bawa masuk" ujar Aly pada Langit.


Saat Langit akan masuk, tangan Ekgita menyentuh kemeja yang Aly pakai, "Miko" panggil Ekgita lemah.


"Tolong panggilkan Miko" ujar Aly buru-buru pada Tyno.


Tyno mengangguk lalu langsung pergi mencari Miko.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2