Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 15


__ADS_3

...****************...


Purwokerto, 21.00


Atha POV.


Aku baru saja kembali dari rumah Nenek dan sekarang tengah mempersiapkan makan malam untukku dan…


"Tuan muda, biar saya yang lanjutkan memasak"


Aku menatap pria di depan ku dengan datar dan memberikan alat masaknya padanya.


"Monty, apa kesan pertamamu pada Predator?" tanya ku sambil menatapnya yang sedang membalikkan makanan.


Monty terdiam sesaat, "Saya masuk Predator karena Nona, bukan karena kalian" jawab Monty sambil menaruh makanan yang sudah jadi ke meja makan.


"Cih" decihku tidak suka sambil menuju ruang santai.


Tetapi sebelum pantatku menyentuh sofa empuk ruang santai, bel pintu berbunyi yang harus membuatku berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang menekan bel. Saat aku mengintip dari kaca kecil yang berada di pintu aku langsung menempel pada pintu dan menatap lurus dengan kosong. Untuk menyakinkan diriku, aku melihat lagi siapa yang datang.


"Kenapa dia bisa disini?" gumam ku dan bel rumah membuatku menjadi sangat ketakutan.


"Anda kenapa? Sedari tadi bel berbunyi" ujar Monty dengan suara sedikit kencang dan buru-buru aku menutup mulutnya.


"Bisa gak pelanin suara lo? Di depan tuh ada cewek freak!" ujar ku yang berbisik di telinga Monty.


Monty melihat ku heran dan menggeleng pelan. Dia menghiraukan perkataan ku dengan membukakan pintu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Monty dengan datar tentunya.


"Umm, Athalanya ada?" tanya perempuan di depan Monty.


Monty melirikku yang berada di balik pintu. Aku menggeleng dan melakukan pose memohon.


"Ada urusan apa?"


"Aku cuma ingin memberikan dia ini" ujar perempuan itu sambil mengangkat rantang yang berisikan makanan sepertinya.


Aku bisa melihat senyuman tipis di wajah Monty, "Tuan muda, dia mencari anda"


Mendengar itu aku memukul Monty dengan tenaga dalam ku, "Ha…halo Me…Mei" sapaku dan Monty masuk kedalam rumah sambil memegang pinggangnya yang kesakitan.


"Bener kan dugaan mu kalau kau di…"


"Mei!" aku menghentikan perkataannya, "Lo tau, gue udah punya pacar dan kehadiran lo itu gak pernah gue tanggapi" ujar ku dengan wajah malas, "Please, tinggalin gue. Lupain gue. Gue gak pernah ada buat lo, dan juga sebaliknya" lanjutku sambil masuk kedalam rumah.


"Atha! Aku belum selesai bicara!" teriakan dan gedoran pintu tidak menggoyahkan keputusanku. Perlahan suara gedoran dan teriakan itu menghilang. Aku memilih menuju ruang santai.


"Anda kenapa tidak menanggapi baik perempuan tadi?" tanyanya sambil menaruh appron yang dia pakai di dekat wastafel.


Aku yang hendak duduk di sofa mengurungkan niatku, "Karena aku merasa risih" jawabku dengan nada serius dan membuat Monty sedikit terkejut.


Ting…tong


Bel rumah kembali berbunyi. Aku menutup mataku dan membuka pintu itu kasar.


"Mei sudah gue bila…"


"Atha?"


Aku mengerjapkan mataku berkali-kali dan menganga malu, "Mba Dyah? Ad…Ada apa ya mba?" tanyaku sambil.menahan malu.


Mba Dyah tersenyum lembut, "Aku membuat Dimsum, kau mau?" tawarnya sambil menyodorkan sebuah rantang.


"Tuan muda, kita…" ucapan Monty terhenti saat aku masuk bersama Mba Dyah, "Dyah?"


Aku menatap Monty dan membuka sedikit mulutku, "Zio?" panggil balik mba Dyah.


Mengerti keadaan aku mengambil rantang milik Mba Dyah dan mendorong Monty, "Lo bisa ngatasin gue tapi gak bisa ngatasin cewek kebangetan" ujar ku saat melewatinya.


Atha POV End.


"Dyah, aku…"


Pryangg.


Mendengar suara benda jatuh membuat Monty langsung mencari sumbernya.


"Tuan muda?!" Monty dan Dyah mendekati Atha yang diam mematung.


"Atha kamu kenapa?"


"Gak mungkin…" Atha masih terdiam sambil terus melihat televisi, "Kakak" buru-buru Atha mengambil handphonenya dan memanggil seseorang.


...~...

__ADS_1


Bima yang masih berada di Rumah Sakit tengah membriefing anak-anak residen terkejut karena getaran handphonenya. Dia berusaha menghiraukan panggilan itu, tetapi saat melihat siapa siapa yang menelfon membuat ku langsung mengangkatnya.


"Kalian boleh pulang" ujar Bima yang langsung menyambar handphonenya, "Hallo Atha?" saat Bima melewati sebuah televisi yang berada di ruang tunggu dan berhenti sejenak.


"Kau sudah dengar berita gempa di Lombok? Apa kau tahu keadaan Kakak?"


Bima tidak menjawab, matanya terlalu fokus dan pikirannya terlalu blank melihat berita ditelevisi, "Aku akan menghubungi mu lagi, setelah menadapatkan kabar" celetuk Bima yang menutup telfon itu dan langsung berlari ke ruangan Feni.


...~...


Brak.


Atha melempar handphonenya ke tembok. Dia menggenggam tangannya kuat-kuat.


"Atha!" panggil seseorang dari arah pintu.


Dyah yang merasa tidak enak memilih untuk kembali diantar Monty sampai depan rumah.


"Monty hubungi Fox!" titah pria yang mengusap wajahnya kasar di sofa.


Sedangkan Atha masih melihat televisi, "Kakak" panggil lirih Atha saat melihat layar televisi.


"Atha, Om yakin dia baik-baik saja sekarang" ujar Iyas yang menenangkan Atha dengan menepuk bahunya.


"Tuan, Fox tidak bisa di hubungi lewat telepon satelit"


Tiba-tiba Iyas mencengkram kerah Monty, "Terus hubungi dia"


"Ba…baik!"


...~...


Enda tengah berbincang dengan Sebastian di ruang santai lantai dua rumahnya. Sebastian masih menatap Enda sebagai halangan untuknya mendapatkan Alyssa.


"Ayolah Sebastian jangan menatap saya seperti itu"


"Anda itu pengganggu"


"Oh ya?" Enda tertawa sesaat dan menyesap tehnya perlahan.


Suara derap langkah cepat membuat Enda berhenti sejenak dan saat langkah itu berhenti tidak jauh darinya Enda berbalik. Santi berusaha mengatur nafasnya dan menyerahkan iPad yang dipegangnya ke Enda. Mata Enda mendelik bahkan dirinya langsung berdiri.


"Sudah hubungi Bear atau Fox?" tanya Enda yang tergesa-gesa.


Santi hanya bisa menggeleng, "Hubungi Tuan besar sekarang" titah Enda sambil yang langsung di jalani Santi, "Hawk!" serunya. Sesosok Pria bertubuh sedang menunduk penuh hormat, "Siapkan Enel, kirim ke Fox".


"Baik Nyonya" ujar pria itu yang langsung pergi meninggalkan Enda dengan Santi.


"Nyonya. Tuan Besar" ujar Santi sambil memberikan handphonenya ke Enda.


"Hallo Pa"


...~...


Lombok, 19.00


Gempa sudah berhenti sejak 15 menit yang lalu. Untung tsunami tidak sampai di tempat mereka. Aly masih pingsan, dan Ekgita tengah mendapat penanganan dari Ayda yang juga memeriksa keadaan Aly.


"Saya sudah membalut luka Dokter Ekgita dan saya saran kan agar anda jangan terlalu banyak menggunakan tangan anda dulu sampai jahitan lukanya kering" ujar Ayda sambil membereskan perlengkapan miliknya, "Untuk Aly, saya sudah cek memang mengkhawatirkan untuk pernafasannya mengingat dia juga punya asma. Tapi saya yakin dia sudah baik-baik saja. Untuk kakinya juga tolong katakan padanya untuk istirahat terlebih dahulu, jangan banyak gerak" lanjut Ayda yang berdiri sambil menatap Aly sendu.


Kedua tentara yang menemani mereka mengangguk bersamaan, "Terimakasih Dokter Ayda" ucap Ekgita sambil memeriksa kedua lengan dan pergelangan tangannya yang terluka.


"Kalau begitu saya permisi" pamit Ayda yang langsung keluar dari tenda darurat.


Tyno terus memperhatikan Aly yang masih tertidur dengan selang oksigen menempel di hidungnya.


"Lebih baik kalian kembali bekerja" ujar Ekgita yang menatap datar kedua Tentara itu, "Terlebih kau Tyno. Kau itu kapten disini. Seharusnya kau memperhatikan pekerjaan bawahan mu" celetuk Ekgita sambil menunjuk Tyno yang masih memperhatikan Aly.


"Aku masih ingin disini" jawab Tyno singkat.


Ekgita menggertakkan giginya kesal, Miko yang memperhatikan keduanya hanya menghela nafas berat, "Kau beristirahatlah" celetuk Miko yang berdiri dan menyentuh bahu wanita berambut sebahu itu.


"Kau mau kemana?" tanya Ekgita sambil menahan tangan kiri Miko yang masih berada di bahunya.


Miko mengangkat sebelah alisnya, "Bukannya kau barusan bilang untuk kembali bekerja? Tyno belum mau pergi, artinya aku yang harus mengurus pekerjaannya" jelasnya sambil menatap Ekgita heran.


"Sepertinya kepala Ekgita juga terluka" sindir Tyno yang masih menatap Aly.


Ekgita menatap dan berdecih tidak suka ke Tyno dengan tangan yang masih menggenggam tangan Miko, "Jadi aku boleh pergi atau tidak?" tanya Miko.


Ekgita melepaskan genggamannya kasar, "Ya sana" jawab acuhnya.


Miko tersenyum lembut dan berjongkok satu kaki di depan Ekgita. Tatapan Miko berubah lembut, dan dia mengambil tangan Ekgita yang  terluka. Secara lembut Miko mencium tangan yang yang terluka itu. Ekgita hanya bisa diam tersipu dengan perlakuan Miko.


"Cepatlah sembuh" ujar Miko sambil tersenyum manis lalu meninggalkan Ekgita di tenda darurat.

__ADS_1


"Cih gak sadar tempat" sindir Tyno lagi sambil menatap tajam Ekgita.


Ekgita menatap tajam balik Tyno, "Iri? Bilang!"


Tyno yang berniat membalas Ekgita terhenti saat sebuah erangan kecil dari mulut Aly membuatnya menatap Aly kembali.


"Dokter Alyssa, kau sudah sadar?" tanya Tyno panik.


Perlahan Aly membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah mata hitam milik Tyno. Mata yang saat pertama kali dia lihat sangat dingin, sekarang menatapnya khawatir?


"Dokter Alyssa apa ada yang kau rasakan?" tanya Ekgita yang membuyarkan lamunannya.


Aly mengangguk pelan dan berusaha mendudukkan dirinya di bantu Tyno, "Hanya sedikit pusing dan sakit di lengan"


"Mau aku periksa?" tawar Ekgita sambil menatap khawatir Aly.


Aly menggeleng dan tersenyum, "Tak usah, paling efek gempanya memang belum hilang dari ku"


Tyno dan Ekgita menghela nafas pasrah dengan jawaban Aly barusan. Di tenda Darurat itu tidak hanya mereka, tetapi ada 4 orang lainnya. Disana ada Cici dan Cecil dengan Perawat mereka masing-masing. Ekgita dan Tyno masih saling menyindir, sedangkan Aly hanya tertawa dan sedikit sweetdrop dengan tingkah Ekgita yang dia kira dewasa.


"Anas ambilkan aku obat bius sekarang!" teriakan Cecil berhasil membuat tawa Aly terhenti dan berniat mendekati Cecil.


Tyno mencegah Aly berdiri dengan menahan tangannya, "Mau apa?"


"Aku minta kau untuk keluar sekarang" titah Aly yang menarik paksa tangannya tetapi Tyno malah menghalangi dengan berdiri di depan Aly.


"Kau gila? Kau baru sadar!"


Aly menghela nafas pelan, "Ini resiko seorang Dokter" ujarnya yang langsung mendorong Tyno kesamping.


Ekgita terdiam dengan keprofesionalan Aly, "Oke…Aku semakin respect dengannya" ujar Ekgita yang menatap Aly yang langsung menangani pasien itu, "Lebih baik kau kembali bekerja" lanjut Ekgita yang melirik Tyno yang  masih menatap Aly khawatir.


Tanpa menjawab Tyno langsung meninggalkan tenda Darurat, 'Sial! Aku semakin tertarik dengannya!' rutuknya sambil mengusap kasar wajahnya.


...~...


Di belakang tenda Darurat seseorang sudah mengawasi apa yang terjadi sejak Aly baru memasuki tenda itu. Seorang pria menatap Tyno yang baru keluar dengan tatapan menusuk tapi saat Tyno berbalik pria itu langsung kembali bersembunyi. Untungnya Tyno tidak mencari tahu siapa yang sudah memberikannya ancaman membunuh walau tidak secara langsung.


"Kau sudah tahu siapa yang menjadi ancaman?" celetuk seorang pria bertubuh sedikit tambun mendekati pria berkacamata itu.


"Tidak, Mom Feni hanya memberikan info itu. Tidak dnegan ciri-cirinya"


"Apa menurutmu para Tentara itu sudah tahu, Arif?"


Arif menatap arah lain dengan dingin, "Sepertinya sudah. Dan apa menurutmu Bima sudah tahu?", Pria itu terdiam dan mengendikkan bahunya, "Yah memang membingungkan hubungan mereka bertiga"


"Lagian sepertinya Bima sudah mendapatkan backingan"


Arif tertawa hambar, "Ya dia itu licin seperti belut. Ah iya dari kemarin aku seperti melihat Alfi dekat dengan seorang Tentara. Kau tidak cemburu, David?" tanya Arif dengan nada meledek.


David yang tidak suka pertanyaan Arif langsung menatapnya marah, "Dengar! Jangan pernah mengusik privasi ku, Dokter Arif!" geramnya yang langsung meninggalkan Arif.


...~...


Alfi sedang menuju tenda yang dulunya tenda obat-obatan untuk membantu Ayda dan lainnya membersihkan bekas pecahan kaca dari obat kaca. Tapi sebelum dia mencapai tenda itu, di belakang Tenda Darurat Alfi melihat Arif dan David tengah berbincang serius.


"Bukannya David bilang mau ke tenda pasien?" gumam Alfi yang terus melihat dua pria itu dan memilih mendekati mereka, tapi sebelum dia menegur keduanya Alfi malah mendengar pembicaraan mereka.


"Sepertinya sudah. Dan apa menurutmu Bima sudah tahu?"


'Bentar kok bawa-bawa Dokter Bima?' pikir Alfi yang semakin penasaran.


"Lagian sepertinya Bima sudah mendapatkan backingan"


"Ya dia itu licin seperti belut. Ah iya dari kemarin aku seperti melihat Alfi dekat dengan seorang Tentara. Kau tidak cemburu, David?"


Merasa sudah tidak ada pembicaraan penting lainnya Alfi memilih meninggalkan mereka. Namun, saat dia akan memutar tubuhnya, kakinya malah tersandung tali penyangga tenda dan hampir membuatnya terjatuh.


"Hup, tertangkap" celetuk seseorang yang berhasil menyelamatkan Alfi agar dirinya tak terjatuh. Mata keduanya saling memandang, "Hati-hati, kalo jalan tuh liat depan" ucap orang yang menyelamatkan Alfi sambil tersenyum.


Melihat senyuman itu Alfi menutup wajahnya yang sudah memerah karena malu, dan terpesona. Pria yang menyelamatkannya membantunya berdiri tegak dan tak sengaja David melihat kejadian itu. Tangannya mengepal kuat dan berusaha mengatur nafasnya, karena dadanya terasa sesak.


"Ekhem. Sorry ganggu, tapi ini ditempat umum"


Alfi yang terkejut langsung melihat David dari sela-sela jarinya dan langsung menurunkan tangannya dari wajahnya, "David, bukannya kau harusnya ke tenda pasien?" tanya Alfi yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


David menatap Alfi datar, "Tadi ketemu Dokter Arif dulu buat cek data" jawab David seadanya, "Aku pergi dulu" pamit David yang meninggalkan Alfi dengan pria tadi.


Pria tadi terkekeh geli, "Dia cemburu".


Alfi menggelengkan kepalanya, "Alfan!"


"Apa? Nyatanya dia cemburu"


Alfi hanya berdecih kecil, "Kau ada luka?" tanya Alfan yang hanya di balas dengan gelengan saja, "Kalau begitu, kau bisa mengetik bukan?" Alfi menatap Alfan dengan tatapan heran. Alfan menyodorkan handphonenya, "Ketik nomormu"

__ADS_1


"Emang aneh kau ini" celetuk Alfi sambil merebut handphone Alfan kasar. Sedangkan Alfan dia hanya terkekeh senang melihat tingkah Alfi barusan.


...****************...


__ADS_2