Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 32


__ADS_3

...****************...


Sebastian terus tersenyum, lehernya yang masih menggunakan penyangga membuatnya kesulitan, tapi adanya Bernando dan Monty membuatnya sedikit terbantu. Sekarang bahkan senyumannya tidak bisa hilang. Aly yang berada di sisi kirinya meliriknya dan mengangkat satu alisnya.


"Apa?"


Sebastian menggeleng sedikit, "Aku hanya tidak menyangka kau ada di depan ku sekarang"


Aly tidak membalas, dia hanya fokus mengupas apel untuk Sebastian. Monty yang duduk di sofa bersama Bernando hanya bisa melihat aneh Sebastian.


"Dia memang seperti itu?"


"Itu memang sifat manjanya"


Aly menyuapi Sebastian dan saat bersamaan pintu terbuka. Bima dan beberapa koas di belakang mengikutinya masuk.


"Wah sepertinya apelnya enak" ujar Bima yang tersenyum aneh kearah Sebastian.


Tuk.


Aly memukul pelan kepala Bima, "Kerjakan saja tugasmu, jangan buat pasien takut" ujar Aly yang menggunakan bahasa Indonesia lalu keluar ruangan.


Saat Bima keluar, Aly masih bersandar di tembok depan ruangan Sebastian. Bima tersenyum lebar dan menyuruh para koas mengikuti perawatnya dulu lalu dia akan menyusul.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Bima yang ikut bersandar pada tembok.


"Baik, dua hari lagi aku akan mulai kerja lagi" jawab Aly yang kemudian berdiri tegak.


Saat akan masuk kedalam ruangan, Bima menarik tangan Aly, "Kau…sudah ingat semuanya?" tanya Bima yang kali ini terlihat seperti ragu untuk mengatakannya.


"Belum semua. Tapi untuk sekarang aku mulai ingat kau dan dia" jawab Aly yang kemudian menghela nafas kasar, "Hei. Apa Akra punya saudara?"


Bima menyerit, "Kenapa?"


"Apa dia punya Kakak?"


Bima memiringkan kepalanya.


...~...


Brum.


Sebuah motor sport tiba di tepi pantai dengan hamparan batu kecil sebagai pembatas antara laut dan pantai. Pria yang mengendarai motor itu melepas helmnya dan berjalan menuju sebuah speed boat yang sedang bersandar.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya orang yang berada di atas speed boat itu.


Pria tadi melepas kacamata hitamnya dan menatap orang itu, "Sayap Garuda"


Mendengar sandi barusan orang di atas speed boat memberikan kunci speed boatnya pada pria itu, "Thanks" ujar pria itu yang kemudian membawa speed boat itu pergi.


"Bigboss melapor"


Sttt, "Bukannya kau sedang cuti?"


"Kalo bukan perintah saya juga tidak akan mau"


Tyno menginjakkan kakinya di pantai berpasir putih, gak lama kemudian seorang tentara mendekatinya dan memberi hormat.


"Jadi, kenapa saya tiba-tiba di panggil untuk mengatur rencana ini?" tanyanya sambil berjalan bersamaan dengan Tentara itu.


"Jendral bilang kalau anda memang yang paling pantas untuk mengatur rencana pelatihan"


Tyno masuk kedalam sebuah tenda dan sudah ada 5 Tentara lainnya yang langsung memberi hormat padanya, "Apa jendral bilang sesuatu lagi?"


"Dia bilang, kalau anda menolak dia tidak akan memberi anda lepas cuti"


"Itu ancaman" gumam Tyno sambil menghela nafas pasrah, "Kapan para kadet sampai?"


"Besok, menjelang sore mereka baru tiba"


Tyno mengangguk, "Beri mereka istirahat, jangan bagi mereka agar mereka berfikir bagaimana lolos dari neraka ini bersama" Tyno berdiri dan melepaskan jaket hitamnya, "Saya hanya akan mengawasi saja, selanjutnya saya serahkan pada kalian"


"Baik!"


Tring


Sebuah pesan masuk di handphone Tyno dan sebuah senyuman tiba-tiba terukir jelas di wajahnya, "Wah, harta karun" ujarnya sambil mematikan handphonenya, "Haruskah aku meminta maaf padanya dengan membelikan handphone baru?"


...~...


Aly berjalan santai masuk kedalam ruangan Sebastian. Enda dan Iyas yang sedang menemani Sebastian menatap heran Aly.


"Kenapa?"


"Kau yang kenapa"


"Oh, aku hanya ingin memberikan ini" ujar Aly sambil memberikan sebuah berkas rumah sakit pada Monty yang kemudian dia serahkan pada Bernando, "Dan Monty, mulai besok kau itu bodyguard ku. Aku harus pergi dulu, ada rapat. Permisi"

__ADS_1


Setelah kepergian Aly, Monty menatap langit kemudian bersorak gembira. Ini pertama kalinya Aly berbicara padanya setelah percobaan pembunuhan yang dilakukannya 5 tahun lalu. Bernando membaca hasil lab dan tulang milik Sebastian dengan seksama lalu menyerahkannya ke Enda.


"Sebastian, sepertinya kau akan di perbolehkan pulang tidak lama lagi"


"Sungguh?"


Enda mengangguk dan memberikan hasil pemeriksaan pada Sebastian, "Bernando, siapkan tiket pulang dari sekarang"


"Baik tuan"


"Dan Monty, diam ini Rumah Sakit bukan rumah mu"


Mendengar itu Monty kembali terdiam dan menatap Enda takut.


"Aly" panggilan itu membuat Aly berbalik dan menemukan Bima yang mengatur nafasnya karena berlari, "Pas banget ketemu kau disini"


Aly memakan pudding yang ada di tangannya sambil menatap Bima, "Kenapa?"


Setelah dia berhasil mengatur nafasnya Bima berdiri tegak sambil menaruh tangannya di pinggang, "Aku akan kembali ke Jakarta 3 hari lagi"


"Terus?"


"Aku akan ke makam Zakra sambil kerumahnya buat beresin rumahnya sekalian"


Aly mengangguk, "Ide bagus"


"Aku dengar kau bertemu Direktur"


Tiba-tiba Aly berhenti memakan pudingnya dan menatap Bima sinis, "Iya"


"Elvan cerita, Direktur menawari mu posisi Zakra?"


Aly menghela nafas berat, "Iya, tapi aku menolaknya"


Bima menyerit, "Kenapa?"


"Kalau pun aku kembali ke pusat, harusnya posisi yang lebih tinggi dong"


Mendengar itu Bima hanya bisa menganga tidak percaya, "Tapi kau mau balik ke pusat?"


"Selagi itu bukan untuk keegoisan manusia manusia itu, aku bisa memikirkannya lagi" ujar Aly yang kembali memakan pudingnya.


Bima hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Aly tadi, "Oh iya, operasi Tuan Ibnu berhasil"


Aly tersenyum lembut, "Syukurlah, terimakasih ya, Dokter Bima" ujarnya yang kemudian membuang cup bekas pudingnya ke tong sampah di dekatnya, "Aku permisi dulu ya, bye" pamit Aly yang berbalik sambil memasukkan tangannya ke dalam jas Dokternya. Senyuman Aly menghilang, 'Manusia manusia itu memang harus di beri pelajaran lebih'


"Aly pasti gak mungkin diam aja. Pasti ada yang dia rencanakan"


...~...


"Sejak kapan kau jadi pecandu puding?" tanya David yang mengejutkan Aly saat dia berusaha menelan puding yang tengah dia makan.


"Kau ingin membunuhku?!"


David menarik kursi di depan Aly dan duduk sambil menatap Aly yang rakus memakan puding, "Ni puding jangan jangan ada obatnya"


Aly menampar tangan David kencang sampai sang empu berteriak kesakitan, "Sakit!"


"Arif bawakan aku puding 3 lagi" seru Aly pada Arif yang sedang memesan makanan.


"Kau melupakan Es Krim?"


Aly menggeleng pelan, "Engga, masih cinta aku sama Es Krim ya"


Arif datang dengan dua tangan yang memegang nampan miliknya dan David, "Kau sedang gila puding kah?"


Aly langsung mengambil 3 pudingnya dari nampan Arif setelah dia menaruh kedua nampan itu diatas meja dengan sempurna, "Kau cocok jadi pegawai nasi padang, kenapa kau tidak bekerja saja disana? Daripada jadi Dokter Paru kan?"


Arif membalas perkataan Aly dengan menunjukkan muka datar dan masam saja, sedangkan David sudah tertawa bahagia dengan ejekan Aly tadi.


"Biasanya kau bersama Alfi atau Ayda. Kemana mereka sekarang?" tanya Arif sambil menyendokan nasi kedalam mulutnya.


"Ayda sedang safari pasien, sedangkan Alfi sepertinya dia membantu Dokter Bima tadi" jawab Aly sambil memakan pudingnya.


David memandang Aly dengan bingung sedangkan Arif menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, "Kau memakan sesuatu dengan rakus saat kau sedang memikirkan sesuatu. Apa ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Arif sambil kembali menyendok kan nasi ke dalam mulutnya.


"Tidak" jawab singkat Aly.


"Atau jangan jangan kau sedang memikirkan Kapten Tentara itu?" tebak David.


"Uhuk!" Aly memukul kasar dadanya karena menelan puding bulat bulat.


Dengan buru-buru Arif menepuk tengkuk Aly agar puding itu di muntahkan, sedangkan David membuka segel botol yang tidak terbuka juga. Aly berhasil memuntahkan puding itu ke lantai dan merebut botol yang di tangan David lalu membukanya dengan mudah.


"Anjir" gumam David saat dia melihat Aly berhasil membuka botol mineral itu dengan sekali percobaan, "Aku benar ya?"


"Bacot! Dengar ya, aku baru kenal Kapten aja itu disana, di tambah aku tidak terlalu berpikir lebih padanya" jelas Aly yang duduk bersandar sambil membuka pudingnya lagi.

__ADS_1


"Sudah dua minggu semenjak kita pergi dari Lombok. Apa kau tidak berhubungan dengan Kapten?"


"Berhubungan apa anjir?" tanya Aly dengan mulut penuh puding.


"Berhubungan intim?"


Byurr.


Arif menatap David dan Aly bergantian dengan terkejut. Wajah David di penuhi dengan puding bewarna pink.


"Aly! Kotor!"


"Yang kotor itu mulut kau!"


"Ya gak usah nyembur juga kali!"


"Kau duluan yang mancing!"


Arif hanya menggeleng pelan sambil melanjutkan makan siangnya dengan lantunan hujatan dari Aly dan David yang bergantian mencaci satu sama lain.


"Ini yang katanya Dokter wibawa? Jangan salah mereka juga toxic" gumam Arif sambil menikmati makan siangnya.


...~...


Seorang pria keluar dari dalam stasiun. Dia melihat sekeliling dan menghirup nafas dalam dalam. Sedetik kemudian tatapan pria itu berubah. Seseorang melewatinya, tetapi sebilah pisau tertancap tepat di perut sisi kirinya.


Bruk.


Pria itu terduduk sambil memegang pisau yang masih ada di perutnya itu.


"Sudah kuduga kalau itu tidak akan menumbangkan anda, Jendral"


Seorang pria lainnya dengan pakaian serba hitam berdiri tepat di depan pria tertusuk itu. Pria itu memasangkan sebuah peredam pada pistolnya lalu mengacungkannya pada pria tertusuk itu.


"Saya berbaik hati"


Syutt.


Sebuah peluru tepat bersarang di dada kanan pria itu.


"Tidur nyenyak, Tuan Galang" ujar pria itu ya g kemudian meninggalkan pria paruh baya itu.


Srukk


"Wah Aly, ternyata pasien kita sebelahan ya" ujar Ayda yang juga masih safari pasien.


Aly menatap anak kecil yang menjadi pasien Ayda, "Keknya itu pasien Syafiq ya?"


"Iya, Syafiq nitip soalnya dia ada urusan"


"Bukannya kau juga ada urusan?"


Ayda bertos dengan anak itu lalu menatap Aly yang juga sudah selesai mengurusi pasiennya itu, "Kata ibu orang itu masih bisa nunggu"


"Dih buat orang nunggu"


Kring kring


"Panggilan Darurat, Dokter Aly untuk ke IGD segera. Sekali lagi Panggilan Darurat, Dokter Aly untuk ke IGD segera"


Mendengar peringatan itu, Aly yang di panggil langsung menyerahkan data pasiennya pada Koas miliknya lalu berlari menuju IGD.


Tring


Sebuah pesan masuk kedalam handphone Tyno yang tengah menunggu para Tentara latihan. Matanya membelak saat sebuah gambar terunduh dari handphonenya. Tyno mengeratkan genggaman pada Handphonenya lalu berbalik menuju tenda yang sebelumnya di gunakan untuk meeting. Tak berapa lama dia keluar dan langsung menuju speed boatnya.


Tring


Sebuah pesan masuk, "Selanjutnya adalah kau" itulah pesan yang masuk ke handphone Tyno.


Drap.


"Budhe?" panggil Tyno pada seorang wanita paruh baya yang memeluknya.


"Gimana ini? Laksa masih bertugas, Lesma masih di jalan. Bank darah stoknya juga terbatas" ujar wanita yang di panggil Budhe itu terisak di dalam pelukan Tyno.


"Kan ada Althy. Althy bantu semampu Althy oke" ujar Tyno yang melepaskan pelukannya lalu menuju seorang perawat untuk memberikan darahnya.


Aly baru saja keluar dari ruang operasi dan berpapasan dengan Tyno yang akan menuju tempat donor darah.


Tap.


Keduanya berhenti tetapi tidak berbalik satu sama lain. Aly kembali berjalan menuju Budhe sedangkan Tyno masih berdiam di tempat.


Sebuah senyuman tipis terukir di wajah tampannya, "Ternyata ada Kuntilanak Hijau di rumah sakit ini"


Tyno kembali berjalan dan menghiraukan kehadiran Aly. Setelah Tyno hilang dari pandangan dan urusannya dengan Budhe selesai Aly berbalik dan mencari keberadaannya.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa seperti melihat dia?"


...****************...


__ADS_2