
...****************...
Aly mengendarai mobilnya sambil menangis. Merasa dadanya mulai terasa sesak Aly menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menunduk dan mengambil inhaler dari dashboard mobil. Setelah ia merasa lebih baik, Aly duduk bersandar di mobilnya. Air mata itu kembali mengalir.
"Kenapa rasanya sakit?" gumam Aly sambil memegang dadanya. Kepalanya berdenyut pelan, "Aku harus tenang" monolognya sambil mengatur nafasnya, "Jika benar, dia pasti akan mencari ku" ujarnya sambil kembali duduk normal.
Tapi saat melihat jalanan, dia baru tersadar jika dia berada di kawasan wisata. Dia menyerit dan turun untuk melihat sekeliling, memang jalan pegunungan dimana biasanya ada beberapa tempat wisata disana. Aly melihat hamparan rumah rumah dari ketinggian gunung Slamet.
Tiba-tiba Aly memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia berusaha menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Kita mau kemana Zak?"
"Tempat yang pastinya akan membuatmu kagum"
Aly mengerjapkan matanya beberapa kali lalu kembali melihat sekitar. Dia melihat jalanan itu dan menemukan hal yang sama seperri ingatannya. Ya ingatannya bersama Zakra. Buru-buru Aly masuk kedalam mobilnya lagi.
"Kau tidak berniat menculik ku kan?"
"Hahaha, dengar kalo aku yang menculik mu. Aku pastikan kau sudah hamil anak ku"
"Gila dasar"
Aly semakin menambah kecepatan mobilnya. 5 menit kemudian Aly berhenti di sebuah padang rumput yang hanya memiliki jalan untuk satu orang pejalan kaki saja. Aly menatap nanar tempat itu. Kepalanya kembali berdenyut.
"Kau ingin mengambil rumput untuk kambing kah?"
"Ayo, hati-hati jalannya licin"
Aly menyusuri jalan setapak itu dengan hati-hati.
"Jika kau takut terjatuh, kau bisa memegang tangan ku"
"Dih mencari kesempatan dalan kesempitan"
Air mata Aly perlahan keluar. Ingatan yang begitu manis menurutnya.
"Zak, ini keren"
Aly berhenti di depan sebuah air terjun yang sangat indah. Ada pelangi yang menjadi hiasan di air terjun itu.
"Lys, jika kau merasa frustasi atau tertekan. Kau bisa kemari, dan ingat setiap masalah pasti ada penyelesaiannya"
Aly jatuh terduduk. Air matanya mengalir dari kedua matanya.
"Jika aku tiada, apa yang akan kau lakukan?" celetuk Zakra sambil menatap Aly yang masih terkagum dengan keindahan air terjun itu.
Aly langsung menatap heran Zakra, "Kau gila? Pertanyaan macam apa itu?"
"Jawab saja dulu"
"Aku akan gila?"
Zakra tertawa pelan, "Jika aku minta kau harus berbahagia gimana?"
Aly menyerit dan menatap Zakra penasaran, "Maksudnya?"
"Suatu hari nanti, akan ada yang datang dan mengembalikan senyuman yang hilang itu" jawab Zakra dengan senyuman, "Walau begitu, akan banyak pengorbanan di masa depan"
"Kau sedang bicara apa?"
Zakra tersenyum lembut, "Apa kau percaya aku bisa melihat masa depan?"
"Ho ternyata benar. Dia disini" seorang pria bertopeng setengah wajah dan seorang bertopeng putih tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka.
__ADS_1
Melihat kedua orang itu Zakra menjadi sangat waspada dan menarik Aly kebelakang nya.
"Jadi dia sungguh memberi tahu kalian?"
"Sepertinya kalian punya hubungan. Tapi bodo amat, karena kami hanya ingin perempuan itu" ujar orang bertopeng putih itu sambil berusaha menggapai Aly.
Dengan segenap kekuatannya Zakra mencegah pria bertopeng itu menggapai Aly, "Lys, lari!"
Saat Aly akan lari pria bertopeng setengah wajah menghadangnya, "Jangan kau pikir, kau bisa lari" ujarnya sambil berusaha menggapai tangan Aly.
Tapi Aly menipu pria itu dengan berlari kesamping, "Sialan! Tunggu!"
Bruk.
"Alyssa!" teriak Zakra saat Aly terjatuh karena pukulan kencang dari pria bertopeng setengah itu.
"Menyusahkan"
"Kalian!"
Bugh
Pria bertopeng putih itu memukul wajah Zakra dengan keras.
"Dasar serangga!"
Bugh.
Bugh.
Pria bertopeng itu memukuli Zakra tanpa henti, "Ayo, bawa gadis itu" titah pria bertopeng putih itu.
Aly menatap nanar Zakra yang sudah babak belur, "Zakra"
Aly tersadar dan berusaha bangun dari atas tanah karena sebuah getaran dari handphonenya. Air matanya kembali keluar lalu dia menangis sejadi-jadinya. 3 menit Aly menangis dan kini dia menatap nanar air terjun. Sudah 2 kali dering handphonenya berbunyi tapi dia hiraukan.
Tring.
Sebuah pesan masuk membuat Aly tersadar jika dia tidak bisa terus begini. Aly membuka handphonenya dan melihat siapa yang menghubunginya. Aly menyerit saat membaca pesan dari Tyno. Handphone Aly kembali berdering tanda ada telfon masuk.
"Halo om?"
...~...
Purwokerto, 10.00
Atha yang sedang libur tengah asik makan cemilan di ruang santai bersama dnegan tumpukan kertas laporan tentang prakteknya. Saat dia sedang berkonsentrasi mengetik, kucing peliharaan Aly, mengeong kencang.
"Ihs, Bell bisa diam tidak?" kesal Atha sambil menatap kucing orange berbadan gendut itu, "Apa? Mau makan?" ujar Atha yang langsung menuju ruangan dimana Kakaknya biasa memberi makan Bell.
Tapi saat dia berbalik sosok Zakra sudah berdiri di depan Atha. Atha mengelus pelan dadanya lalu bersandar sebentar di tembok.
"Lain kali, jika muncul jangan tiba-tiba oke"
"Mereka sudah mulai bergerak" ujar Zakra yang menghiraukan rasa keterkejutan Atha.
Atha menyerit lalu berdiri tegak di depan Zakra, "Maksudmu para penjahat itu?" Zakra mengangguk pelan, "Kakak ku baik-baik saja kan?"
"Sepertinya rencana mereka juga ingin menghancurkan mental Lysa"
"Mental Kakak ku sudah sekuat baja. Memang kenapa?"
Zakra melayang dan menunjuk buku miliknya yang ada di tumpukan kertas milik Atha, "Mereka juga mengganggu orang yang sedang dekat dengan Lysa" setelah mengatakan hal itu Zakra menghilang entah kemana.
__ADS_1
Atha hanya dapat menggeleng pelan lalu mendekati tempat Zakra menghilang tadi, tapi tiba-tiba ia berhenti. Ia membeku, di depannya kini sekarang berdiri sesosok makhluk yang membuat Atha menatapnya tidak percaya. Atha perlahan mundur, lalu berputar cepat. Tapi saat berbalik, sosok itu sudah ada di belakang dirinya.
"Mei" panggil Atha lirih pada sosok di depannya itu.
Sosok menyerupai Mei menatap Atha tajam lalu setetes darah keluar dari matanya. Tetesan itu mengalir seperti air mata.
"Atha. Tolong"
Atha mengerjapkan matanya berkali-kali, "Gak, ini gak mungkin kan?" seperti tidak ingin menerima kenyataan Atha memegang kepalanya kencang, "Ini bohong kan!"
"Tolong aku"
Atha menggeleng pelan, "Ar…" sebelum Atha memanggil Arya, sosok Mei sudah mengangkat tangannya dan mengangkat tubuh Atha perlahan.
"Semua karena kau!" seru Mei hingga membuat kaca rumah Aly pecah berantakan, "Jika saja kau tidak mengusirku saat itu, aku masih hidup!" cekik kan Mei semakin kuat lalu tiba-tiba Mei menghempaskan tubuh Atha di atas pecahan kaca membuat beberapa pecahan kaca itu melukai tubuh Atha. Dengan tatapan penuh dendam Mei mengangkat tubuh Atha lagi, "Kumohon, temukan tubuh ku" ujarnya dengan halus.
Tiba-tiba tatapan Mei kembali penuh amarah dan menghempaskan tubuh tak berdaya Atha ke tembok, "Semua karena kau!"
Saat tubuh Atha akan kembali terangkat, tangan Mei seperti di beri beban 100 kg. Atha mengangkat tangannya dan menunjuk pada Mei, "Kau hanya qorin" ujar Atha lirih, "Ar…ya"
Arya muncul dan menyegel tangan Mei, "Ingkang jahat kesah, ingkang sae wangsul. Ingkang asalipun saking latu badhe tindak dhateng latu,..."
Sebelum Arya menyelesaikan kalimatnya, qorin Mei sudah berhasil melepaskan dirinya. Tatapan penuh amarah kembali dia gunakan. Kekuatannya bertambah dua kali lipat. Arya mundur perlahan melindungi tubuh tak berdaya Atha.
Atha masih mengatur nafasnya, darah mengalir di kepala Atha dan beberapa bagian tubuhnya, "Arya…tanyakan apa maunya"
"Apa mau mu?"
Mei kembali mengangkat tubuh Atha, "Lepaskan aku, tolong" setelah berkata seperti itu Mei melempar tubuh Atha kembali ke arah pecahan kaca berada.
"Raden!" seru Arya saat Atha terlempar tak sadarkan diri.
...~...
Iyas baru saja sampai di halaman depan rumah Aly. Dia melihat garasi Aly yang kosong menandakan bahwa sang empu belum pulang. Tapi yang membuat Iyas heran adalah hawa rumah Aly yang sedikit aneh menurutnya. Dia masuk kedalam rumah dan memberi salam, anehnya tak ada yang menyahuti dirinya.
"Tha?" panggil Iyas yang sedang melepas sepatunya. Saat dia masuk kedalam rumah itu, dia hanya melihat pekerjaan Atha yang masih berantakan di atas meja ruang santai.
"Atha?" panggil Iyas lagi kini dia berniat menuju lantai atas tapi dia melihat jejak tapak Bell yang bewarna merah di lantai mamer cream rumah Aly, "Bell, kau terluka?" serunya sambil celingukan mencari keberadaan Bell.
Namun saat dia melihat kearah ruangan Bell, Iyas membelakkan matanya tidak percaya, "Atha!"
Alfi dan Alfan baru saja sampai di depan rumah Aly. Alfan memakirkan motornya berhadapan dengan mobil Iyas.
"Ini rumah Dokter Aly?" Alfi mengangguk pelan, "Dia tinggal sendiri?"
"Iya, tapi beberapa bulan terakhir adiknya ada disini soalnya lagi praktek. Omnya juga sering bolak balik kesini buat ngecek Dokter Aly" jelas Alfi yang bersiap menekan bel rumah Aly.
Tapi sesaat kemudian sebuah teriakan terdengar sari dalam rumah. Alfan yang mendengar itu langsung sigap membuka paksa pintu rumah yang memang sedang tidak di kunci. Alfi mengekori Alfan yang sepertinya sudah tahu lokasi teriakan itu.
Alfi melihat Iyas yang sedang menopang tubuh Atha yang bersimpah darah, "Atha?!" teriak Alfi, "Om, Atha kenapa?" tanya Alfi yang panik.
Iyas menoleh dan menatap Alfi yang berada di belakang Alfan, "Alfi? Tolong Atha!" seru Iyas yang di angguki Alfi dan langsung memeriksa denyut nadi dan pupil Atha.
"Kita harus bawa Atha ke Rumah Sakit sekarang juga!" ujar Alfi yang langsung di angguki Iyas dan memapah tubuh Atha. Alfan yang sejak tadi diam langsung sigap membantu Iyas.
Sebelum dia meninggalkan rumah, Iyas sempat melihat kearah lantai dua. Disana berdiri sesosok makhluk bertubuh besar dengan empat taring berukuran sedang mencuat keluar. Sosok berbulu kebiruan itu menatap iba Iyas dan Atha.
'Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan binasakan pelakunya!' titah Iyas lewat telepati pada makhluk itu.
"Nggih Raden"
...****************...
__ADS_1