
...****************...
Purwokerto
00.40
Atha POV
Jam sudah masuk menit 40, tapi mata ini belum mau terpejam. Tubuhku memang merasa lelah, sangat lelah. Tapi pikiran ku terus memikirkan keadaan Kak Aly disana. Ditambah Kak Bima yang tidak ada kabar semenjak terakhir memberi kabar. Haish memikirkannya saja membuatku makin pusing. Saat aku memejamkan mata ku sesaat.
Tak
Dug
Karena terkejut mendengar suara benda terjatuh itu, aku langsung membuka mataku dan berjalan keluar kamar. Suara itu berasal dari kamar Kak Aly yang berada tepat di depan kamar ku. Takut ada maling atau sesuatu hal, aku berniat masuk kedalam kamar kak Aly, tapi suara tadi tergantikan dengan suara televisi di lantai satu. Aku menengok dari pembatas lantai dan melihat Om Iyas yang tertidur di sofa dengan televisi menyala.
Dug
Suara itu lagi, tapi sekrang dari lantai 1. Aku buru-buru menuruni tangga dan langsung berputar melihat sekeliling. Tak ada siapa pun, aku mendekati Om Iyas dan melihat siaran terakhir yang dia lihat.
"Dia juga mengkhawatirkan kakak" gumam ku sambil melihat Om ku itu yang tertidur dengan setengah badan di bawah.
Klak.
Suara itu membuatku mendongak, sosok menakutkan seperti baru saja masuk kedalam rumah. Aku berniat menuju lantai dua mengejar makhluk itu. Tapi aku lupa satu hal. Posisi tidur Om Iyas.
Brak.
"Ha? Siapa? Maling?!" seru Om Iyas yang langsung melakukan kuda-kuda bertarungnya.
"Ck!" decihku yang menarik kaki ku dari sela-sela kaki Om Iyas.
Om Iyas menatapku dengan wajah yang masih bingung, "Atha? Kenapa kamu di bawah?"
Aku berdiri dan menatap Om Iyas datar, "Gegara Om, kenapa tidur disini?" kesal ku.
"Om menunggu kabar dari Fox dan Bear, tapi sepertinya ketiduran" jelas Om ku itu sambil melihat handphonenya, "Dah kamu istirahat aja sana, Om juga mau tidur lagi"
"Om" panggilku ragu dan Om Iyas menatapku menunggu kata kata yang keluar dari mulutku, "Gak jadi" ujarku yang langsung berjalan ke lantai dua, 'Om Iyas tidur?'
Tak
Dug
Lagi lagi suara itu. Dengan keberanian yang ada aku membuka pintu kamar Kak Aly. Gelap. Tapi sesuatu tengah duduk menghadap ke cermin meja rias Kak Aly. Aku buru-buru menyalakan lampu, dan
"Apa hanya halusinasi ku?" gumam ku kembali mematikan lampu. Tapi siluet itu ada lagi dengan posisi yang sama, 'Aduh!'.
Lampu kembali ku nyalakan tetapi siluet itu juga hilang. Aku berusaha mengumpulkan keberanian ku lagi dan mematikan lampu kembali. Kali ini siluet itu bediri dengan masih menghadap ke cermin. Aku menyalakan lampu lagi dan lagi-lagi siluet itu hilang, "Akan ku nyalakan saja lampunya" monologku sambil berbalik hendak menuju kamarku. Tetapi sosok itu…dia menatapku tajam…
"Hah!" teriak ku sambil mengatur nafas ku, "Hah! Mimpi?!" aku menengok dan melihat jam di nakas samping tempat tidur ku, "00.40?"
Tak
Dug
Lagi lagi suara itu! Kali ini aku langsung keluar kamar dan mengecek kamar kak Aly. Aku mematikan dan menyalakan lampu sampai 3 kali dan nihil tak ada apapun disana. Aku mengecek lantai bawah dan lagi, Om Iyas tertidur dengan posisi yang sama seperti mimpi tadi. Aku mendekati Om ku itu.
"Om, bangun ada yang aneh dengan ru…"
"Atha? Kau belum tidur?" seseorang memanggilku dari arah dapur dan Om Iyas berjalan sambil membawa air minum ditangannya.
Aku mendelik terkejut, "Kalau Om disitu, yang di sofa…" aku menunduk melihat siapa yang tidur di sofa. Kosong. "Om tadi ak…" saat aku melihat tempat Om Iyas berdiri tadi. Kosong. Aku menunduk lagi dan sosok yang sama menatapku lagi.
"Hah!" aku terbangun lagi tapi kali ini aku berada di, "Hutan?"
"Lihat kekasih mu. Lihat!" seorang perempuan memaksa seorang perempuan lainnya yang tengah tengkurap lemas di tanah untuk melihat seorang laki-laki yang juga tengah tengkurap lemas sambil berusaha menggapai perempuan itu, "Ada pesan terakhir?"
Bibir perempuan itu bergetar, "Za…kra"
Laki-laki itu menggeleng, "Maaf"
"Haha payah"
Klik.
Perempuan tadi menarik pelatuk piatolnya dan mengarahkannya pada perempuan malang itu, "Sayonara, Arikinan"
Aku mendelik terkejut mendengar siapa yang akan ditembak.
__ADS_1
Dor.
Aku termenung melihat kejadian di depan ku.
"Atha!" suara itu mengejutkan ku dan akubkembali terbangun.
Kini aku berada di sebuah lorong?
"Atha! Kembalilah!"
Suara ini…
"Dia Kakak mu, aku mantannya" sosok mengerikan sebelumnya sekarang berada di depan ku, "Kambalilah, penjagamu sudah sampai" ujarnya sambil memberikan ku sebuah buku, "Aku akan menemui mu lagi, Athala"
Aku nasih termenung dengan kejadian dan perkataannya barusan.
"Rarghh!" auman itu menyadarkan ku.
'Sialan! Aku baru sadar ini lorong pemisah!' pikir ku sambil berusaha mencari jalan keluar. Tetapi terlambat sosok bewarna hitam dengan tanduk sudah berada di depanku. Mengendus dan hendak memotongku dengan kuku runcingnya itu.
"Raden!" suara Arya mendengung di telinga ku dan…
"Hakk! uhuk uhuk" aku kembali terbangun.
"Kau buat Om panik!" ujar Om Iyas sambil memberika. segelas air minum padaku.
"Aku lucid dream lagi" Ujar ku yang masih linglung.
"Sudah lupakan. Sekarang mending kita sholat dulu"
Atha POV end.
...~...
Lombok
00.40
Di tempat yang berbeda tetapi dengan jam yang sama, seorang lelaki sedang mengamati sebuah kerumunan pengungsian. Lelaki itu seperti mencari sesuatu diantara kerumunan itu. Pandangannya tiba-tiba terhenti pada seorang perempuan yang sedang memberikan selimut pada beberapa pengungsi.
"Haha ketemu" gumam lelaki itu.
Seorang pria berjubah turun dari atap rumah yang tidak jauh darinya. Lelaki itu menatap pria itu dengan wajah ketakutan.
"Hoho kenapa?"
Lelaki itu tidak menjawab malah menunduk dan melemparkan segenggam pasir ke wajah pria itu. Reflek pria itu menarik jubahnya dan menutupi agar pasir itu tidak mengenai matanya.
"****!"
Tap.
"Siapa kau?"
Pria berjubah itu terdiam sesaat, "Pengungsi" jawab pria itu.
"Penjarah" gumam pria yang bertanya padanya.
Pria berjubah itu tersenyum dan berbalik, "Salah…pembunuh" bom asap dilempar oleh pria berjubah dan langsung lari.
"****! Big boss pada semuanya! Ada penyusup yang baru saja lolos dari ku, semuanya harap siaga!"
"Tyno" Tyno berbalik dan menemukan Miko yang membawakannya sebotol air.
"Ada penyusup" ujar Tyno sambil mencuci wajahnya tang terkena bom asap itu, "Dia pembunuh"
Miko mendelik terkejut, "Ha!"
"Ikut aku" Tyno berlari ke arah pria berjubah itu berlari.
Bruk.
"Aduh!" seorang laki-laki baru saja ditabrak Tyno. Memang tubuh lelaki itu lebih kecil dari tubuh Tyno tetapi memiliki tinggi yang sama dengannya.
"Maaf" ujar Tyno yang gelagapan terkejut.
Miko menggeleng dan membantu lelaki itu untuk bangun.
"Lari gak liat-liat kah?"
__ADS_1
"Maaf" ulang Tyno yang menatap lelaki itu dengan wajah menyesal.
"Udah orang aneh itu nabrak juga, sekarang kalian"
Tyno dan Miko saling bertatapan, "Orang aneh?"
"Dia memakai jubah?"
Lelaki itu menatap Tyno dan Miko bergantian, "Jubah? Sepertinya tidak, tapi dia berwajah eropa gitu"
"Bukan orang yang kita cari" celetuk Tyno dengan helaan nafas berat di akhir.
Miko menatap tanah pijakannya sambil menghela nafas berat juga.
"Kau relawan kan?" tanya Miko dingin. Laki-laki itu mengangguk, "Kembali ke daerah pengungsian, tidak aman keluar sendirian saat malam. Banyak penjahat yang berkedok pengungsi"
Wajah lelaki itu berubah ketakutan dan mengangguk pelan lalu meninggalkan Tyno dan Miko yang masih di tempat. Tetapi saat dia menjauhi dia Tentara itu, lelaki itu tersenyum sinis, "Aman"
...~...
6 Agust
Jakarta, 07.20
Sepasang suami istri baru saja memasuki sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi tidak bisa di sebut sederhana juga. Sang suami membukakan pintu mobil dan di sambut oleh seorang wanita dengan senyuman sumringah.
"Selamat datang Nyonya Ama" sambut wanita itu saat Sang Istri baru saja keluar dari mobilnya.
"Bi Darmi, terimakasih"
"Bi, Atha belum ada kabar?" tanya sang suami.
"Maaf Tuan, Tuan Besar bilang kalo Tuan Muda ada di Purwokerto" ujar Bi Darmi sambil menunduk.
Ama mendelik marah, "Anak satu itu ya"
"Ya memang anak mu" ujar si Suami sambil melewati istrinya itu.
"Heh!"
Bi Darmi hanya tersenyum melihat dua majikannya yang sudah dia anggap sebagai keluarganya.
"Bi, Avi sering bolak balik tidak?" tanya Ama sambil masuk kedalam rumah lumayan besar itu bersama Bi Darmi di belakangnya.
"Iya Nyonya, kemarin saja dia pulang hanya untuk makan siang saja"
Ama tertawa pelan dan berhenti saat televisi sedang menanyangkan berita. Bi Darmi tengah ke dapur sebentar untuk membuat dua majikannya itu minuman.
Brak
Prangg
Mendengar suara benda terjatuh dan pecah membuat Bi Darmi langsung berlari tanpa memikirkan minuman yang tengah dia buat.
"Nyonya Ama?!" seru Bi Darmi saat melihat Nyonya nya itu terduduk lemas di lantai.
"Ama?!" teriak sang suami yang terlihat panik saat mendengar suara benda jatuh dari dalam rumah, "Bi Nyonya kenapa?" tanya sang suami dengan khawatir.
"Saya juga tidak tau Tuan"
"Ama ada apa?" tanya sang suami dengan lembut.
Ama menunjuk ke arah televisi yang sedang memberitakan kejadian gempa susulan di Lombok. Air mata Ama mulai mengalir.
"Axel…Alys…Alys disana" ujar Ama yang masih menunjuk televisi.
Axel dan Bi Darmi mendelik kan mata mereka bersamaan.
"Bi, bawa minum ke kamar ya" titah Axel yang lalu menggendong Ama ala bridal style.
Saat sampai kamar Axel menidurkan Ama di kasur lalu mengeluarkan handphonenya.
"Pap mau menelfon siapa?"
Axel menjawab Ama dengan memberikan isyarat agar tetap berbaring di kasur.
"Halo Atha?"
...****************...
__ADS_1