Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 37


__ADS_3

...****************...


Paginya saat para Dokter berkumpul di ruangan milik Aly yang memang luas serta terdapat microwave dan Kulkas disana. Ayda dan Alfi bekerja sama untuk memanaskan ayam yang Ayda bawa tadi. Aly baru masuk kedalam ruangannya dan terkejut dengan keberadaan teman-temannya.


"Ni lama-lama ruangan ku jadi kantin pribadi nih" sindir Aly yang masih berada di ambang pintu.


Iza yang sedang memakan tempe yang dibawa Alfi berhenti sesaat, "Sini ikut makan, sekalian ada bahan ghibah"


"Anjirr bahan ghibah gak tuh" ujar Aly yang memasuki ruangannya lalu menaruh tas gendong kecilnya diatas meja dan akhirnya bergabung bersama teman+temanny, "Ghibah apa nih?"


"Ayda di ajak Taaruf beneran sama Naufal"


Aly yang sedang minum teh yang Alfi berikan menjadi sedikit tersedak dan membuatnya batuk cukup keras.


"Iya, mati sekalian kau"


Alfi mencubit lengan Ayda, "Omongan doa loh"


Ayda berbalik dan membawa ayam yang sudah ia hangatkan, "Jadi gimana ceritanya?" tanya Aly yang sangat antusias.


Ayda memutar matanya kesal, "Kau ingat yang kemarin aku pulang mendadak? Nah itu"


Aly membelakan matanya, "Terus?"


Ayda menarik nafas panjang, "Dia beneran gila pokoknya. Bisa-bisanya dia beneran ketemu Ibu. Dan kau tahu kan aku sempet delay sampe jam 1, ternyata tau gak…" Ayda berhenti sesaat sambil memperhatikan wajah teman-temannya, "Mas Alif dah di rumah dong"


"Hahahaha, gila gentle banget" tawa Aly pecah sampai dia menangis, "Mas Alif sampe dateng loh" ujarnya lagi di sela-sela tawanya.


"Berarti Mas Alif juga kaget, Ay. Sampai dia balik dari Jogja coba" timpal Alfi yang menahan tawanya.


"Keren kali si Naufal, sampe berani nemuin Mas Alif" celetuk Iza yang ikut tertawa bersama Aly.


Sedangkan Ayda berdecih tidak suka dengan tawa keduanya, "Jadi udah sampe mana rencananya?" tanya Alfi dengan antusias.


"Baru bulan pernikahan, tanggalnya masih belum tau kapan" jawab Ayda dengan ketus sambil memakan ayam yang tadi ia panggang.


"Bulan apa?" tanya Iza yang sudah berhenti tertawa sedangkan Aly masih berusaha mengontrol tawanya.


"November"


"Berarti masih ada waktu Ay" celetuk Aly yang sudah berhenti tertawa dan kini tengah minum tehnya.


Ayda menyerit dengan perkataan Aly tadi. Perkataan yang menurutnya sedikit ambigu, sedangkan Iza menatap Aly bingung dan Alfi dengan wajah penasaran, "Waktu buat apa?"


"Saling mengenal" celetuknya lagi sambil di akhiri dengan tawa lagi.


Ayda mendengus kesal, "Sekarang aku harus gimana?"


"Kau sudah menerima pinangannya kan?" tanya Alfi sambil mengambil nasi di dekat Ayda.


Ayda mengangguk pasrah, "Ya mau gimana lagi kan? Kalo udah takdir kita gak bisa nolak kan?" celetuk Iza yang membuat Ayda menghela nafas pasrah dan mengangguk lemas.


"Ay dengerin. Kalau dalam 3 bulan ini kamu bisa nyaman dengan kehadiran Naufal, berarti Taaruf kalian itu berhasil menumbuhkan benih cinta masing-masing dari kalian" Aly berhenti sebentar untuk memakan ayam yang sudah ada di piringnya, "Tapi kalau kamu malah ngerasa risih atau bahkan kamu malah makin gak suka, kamu harus langsung bilang ke Naufal juga kalau kamu gak bisa nerima Taaruf itu. Jangan gantung anak orang, Ay. Kasian dia" lanjutnya setelah menelan makanan dalam mulutnya.


Alfi, Iza dan Ayda menatap Aly tidak percaya. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Iza yang duduk dekat Aly langsung mengecek dahi Aly.


"Gak panas" ucap Iza.


"Otaknya berarti" celetuk Ayda yang menggoyangkan keras tubuh Aly.


"Al, kamu sehat kan?" tanya Alfi sambil menjepit pipi Aly.


Aly menggerakkan tubuhnya untuk mengusir ketiga temannya, "Sakit!" seru Aly sambil menekan-nekan pipinya yang di cubit Alfi, "Aku sehat waalfiat. Cuma aku juga gak nyangka aku bilang gitu" ketiga orang itu menatap Aly heran, "Aku kayak pernah ngucapin hal itu aja. Ya mungkin bisa jadi motivasi buat kamu biar gak terus terusan mikirin gimana apalah" lanjut Aly sambil menonyor kepala Ayda.


Iza dan Alfi mendelik terkejut, "Kamu udah ingat?" tanya keduanya bersamaan.


Aly memutar matanya lalu menghela nafas berat,"Aku tahu kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari ku. Tapi aku udah maafin kalian tentang hal itu"


Ayda dan Alfi saling berpandangan tapi kemudian menatap Aly terkejut, "Kamu tahu darimana?" ujar mereka bersamaan lagi.

__ADS_1


"Emang kalian nyembunyiin apa dari Aly?" celetuk Iza dengan polos, "Kok aku gak tau?"


Aly melirik Iza sambil minum sedangkan Ayda menghela nafas kesal, "Kalau kita kasih tau kamu, yang ada Aly udah tahu lama"


"Emang ada apa?"


"Rahasia kematian Zakra dan ingatan Aly yang hilang" ujar Alfi yang pasrah dengan kepolosan Iza.


Iza membulatkan bibirnya, "Kenapa di rahasiain?"


Ketiganya hanya bisa menghela nafas berat. Aly terbengong sesaat, dia mengingat kejadian Arif kemarin.


"Kalian tahu. Arif ternyata Kakak kandung Zakra"


Prufttt


Iza dan Ayda yang memang sedang minum harus keluar dengan cara tidak elit.


"Ha?"


"Hoi hoi, ni ada yang kerasukan kah?" ujar David yang baru saja masuk kedalam ruangan Aly.


Kedua makhluk itu menatap sinis dan tajam David. Arif mengikuti David yang masuk kedalam ruangan Aly. Tanpa basa basi David langsung duduk sebelah Ayda lalu mengambil makanan di meja.


"Kalian tahu gak. Aku liat Kapten dan Letnan Alfan tadi" ujar David yang memulai percakapan, "Anehnya nih muka dia kek bonyok gitu"


"Iya, habis di hajar sama saudaranya" celetuk Aly yang berdiri saat Arif baru akan makan, "Aku pergi dulu, ada tour pasien bareng koas" ujarnya sambil mengambil jas Dokternya.


Setelah Aly pergi Arif menghela nafas pasrah lalu mengambil makanannya, "Aly dah tau hampir setengah dari keseluruhan ingatannya yang hilang" celetuk Ayda sambil membersihkan mulutnya dengan tisu, "Seperti yang ku katakan sebelumnya, sepintar apapun kau menyimpan bangkai akhirnya akan tercium juga" lanjutnya yang pergi menyusul Aly.


...~...


11.45


Tyno sekarang sedang berada di dalam ruangan Galang. Dia memegang tangan Galang erat, bahunya mulai bergetar tanda dia tengah menangis.


"Paman, apa Althy memang lemah?" pegangan Tyno semakin mengerat, "Althy merasa kalau Althy itu gak berguna jadi pemimpin. Althy ngebiarin anggota Althy berkhianat". Bahu tegap itu bangkit dari posisi menunduknya tetapi kepalanya masih menunduk, "Aku memang selalu jadi biang masalah kan, Paman?"


"Hey!" sentak seseorang dari arah belakang Tyno dan membuat dia berbalik, "Ikut aku"


Di luar ICU Lesma menatap tajam Tyno yang baru saja keluar dari kamar Paman Galang.


"Ada apa?"


Bugh.


Tanpa basa basi Lesma memukul wajah Tyno cukup keras sampai sudut bibirnya berdarah.


"Bajingan seperti kau memang harus di pukul dulu baru sadar kah?!" seru Lesma yang menggema di seluruh lorong. Lesma mengunci gerakan Tyno dengan menindih dirinya lalu memukulinya tanpa henti, "Kau pikir dengan berkata seperti itu Ayah ku bisa bangun?!"


Para Dokter dan perawat melihat langsung berusaha memisahkan mereka. Aly yang kebetulan lewat di salah satu lorong merasa penasaran dengan keramaian di depan ruangan ICU. Saat dia mendekati kerumunan itu, Aly bisa melihat tubuh Tyno di lantai dengan wajah babak belur.


"Tyno!" panggil Aly yang langsung membantu Tyno untuk berdiri, "Kau lagi! Dia saudara mu tapi kenapa kau malah suka memukulinya?!"


"Karena dia gak pernah sadar diri!"


"Tapi gak pake kekerasan kan bisa!"


"Kau lebih baik diam, Dok. Kau bukan bagian dari kami!"


Mendengar perkataan Lesma barusan mengingatkan Aly pada kejadian di Lombok saat Tyno juga mengatakan hal itu. Aly mengeratkan genggamannya lalu


Bugh.


Aly memukul wajah Lesma cukup keras, "Kenapa, mau balas? Ayo balas!" celetuk Aly yang menunjukkan pipi kananya untuk di pukul Lesma.


Lesma berdecih lalu berjalan meninggalkan Aly dan Tyno. Lagi-lagi Tyno berada di dalam ruang pribadi Aly. Dia menatap wajah Aly yang serius menjahit luka di pelipisnya.


"Tumben gak meringis?" tanya Aly yang memecahkan keheningan diantara mereka.

__ADS_1


Tyno tersenyum tipis, "Saat melihat dirimu, rasa sakitnya seperti hilang begitu saja"


"Gombal"


"Ini bukan gombal, tapi kenyataannya"


Aly menutup luka Tyno lalu membereskan peralatannya, "Aku akan beri paracetamol sama antibiotik buat lukanya oke"


Tiba-tiba Tyno tersenyum lebar, "Kau seperti sedang mengajari anak SD, aku sudah dewasa tau"


"Oh iya? Ku kira kau memang harus di eja"


"Iya, aku memang perlu di eja" celetuk Tyno yang membuat Aly menatapnya heran, "Mengeja bagaimana agar kau menerima diriku"


Aly menatap datar Tyno lalu menarik resepnya dengan paksa, "Ambil di apotik besar medica, kalau ambil disini pasti bakal ditanyain"


Tyno menghela nafas kasar laly berjalan mendekati Aly. Kursi yang dipakai Aly dia putar untuk menghadapnya lalu menahannya, "Bisa gak jangan buat aku terus jatuh cinta?"


Aly menyerit dan menatap takut Tyno, "Aku benar-benar suka kamu. Tapi sialnya setiap aku berusaha melupakannya, malah makin besar rasa itu"


"Aku…aku…"


"Apa kau sungguh tak ada rasa padaku?" potong Tyno yang  menatap Aly dengan tatapan membingungkan.


Aly menatap mata onyx Tyno yang terlihat bergetar, 'Tatapan itu…dia mengutarakan dari dalam hatinya'


Drtt…drtt…drtt


Getar handphone Aly yang berada di atas meja membuatnya kembali ke dunia nyata lalu mengangkat telfonnya, "Hallo, ada apa Tha?"


"…"


Aly mengangkat salah satu alisnya, "Tentu, di cafenya Om aja"


"Oke, jam 12 aku dah disana, see you"


Aly menutup telfonnya lalu menatap arah lain agar dia tidak menatap mata Tyno secara langsung, "Umm, bisa aku permisi. Aku ada janji makan siang di luar"


Tyno menghela nafas pasrah, "Memang aku harus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan" gumamnya yang kembali duduk di bangku sebrang Aly.


"Hum?"


"Tidak, aku pergi dulu" pamit Tyno dengan lemas.


Alt tersenyum lalu tertawa pelan. Tyno yang mendengar tawa Aly kembali berbalik.


"Kau lucu saat sedang merasa frustasi seperti itu ya"


Mata Tyno tiba-tiba berbinar. Seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya, bahkan hatinya juga terasa hangat. Perlahan Tyno ikut tertawa pelan. Hari ini dua hati beku perlahan mencair. Hati yang hancur perlahan terkumpul kembali. Hati yang kosong kembali terisi.


Di balik pintu ruangan Aly seseorang mendengar semuanya. Hatinya merasa sakit, tapi dia juga merasa bahagia disaat bersamaan. Tawa Aly yang lama menghilang, perlahan kembali. Tawa yang dirindukan banyak orang.


"Kau berhak berbahagia, Alyssa"


...~...


Saat Tyno akan pergi tiba-tiba seorang wanita muncul di hadapannya.


"Baby!" seru perempuan itu yang berlari mendekati Tyno lalu bergelayut di lengannya, "Baby kangen aku?"


Tyno menarik tangan perempuan itu lalu menaiki motornya, "Baby, jangan cuekin aku dong"


"Najis" ucap Tyno lalu meninggalkan perempuan itu.


"Baby!" teriak perempuan itu lalu menghentakkan kakinya, "Ihs, apa lagi sih?" perempuan itu langsung mengangkat telfonnya, "Apa?!"


"Ke lokasi yang ku kirim, sekarang juga"


"Ihh gak bisa liat orang bahagia sebentar apa" kesal perempuan itu sambil berjalan menjauhi rumah sakit.

__ADS_1


Tanpa ia sadari seorang pria sedang memata-matai dia, "Gotcha"


...****************...


__ADS_2