
...****************...
Setelah Althyno dan para perempuan lari lalu perintah untuk menghentikan Tyno. Alfan dan Afrizal mencegah para Tentara di depan tenda rahasia itu.
"Kalian sebenarnya bawahan siapa?"
Afrizal menatap pria yang berceletuk itu. Tatapan Afrizal menandakan ketidaksukaannya pada pria itu.
"Lebih baik kau diam, Bara"
"Apa peduli ku"
Sekarang Afrizal dan Bara tengah bertatapan satu sama lain dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa kalian masih belum ada kabar?! Hentikan Kapten dan Dokter-dokter itu!"
Tyno menghela nafas saat melihat bawahannya terpecah hanya karena perintah itu. Merasa geram dengan keadaan, Tyno berusaha memisahkan Afrizal dan Bara sambil mengambil ht dari saku Bara.
"Kapten?!"
Tyno mengangkat tangannya tanda Bara harus berhenti, "Komandan" Tyno terdiam sesaat, "Jika kita tidak melakukan ini, Langit akan tiada" jelas Tyno di ht milik Bara.
Semua orang disana terdiam, mereka tahu walau Tyno orang yang dingin dan keras pada mereka, dia tetap salah satu orang yang akan maju saat mereka ada masalah. Bara mengeratkan genggamannya sambil menatap arah lain, mengingat fakta sifat Tyno membuat hatinya tergoyahkan sesaat. Dendam dan rasa bersalah semakin tumbuh. Bukan karena rasa care Tyno, tapi karena perkataan Tyno hanya untuk membuat tameng agar Aly tidak kena masalah.
"Saya tidak peduli, saya ingin kau menghentikan Dokter-dokter itu"
"Tidak akan saya hentikan mereka"
Saat Bara akan merebut kembali ht nya, Tyno kembali berbicara.
"Kalau pun anda bilang begitu, sama saja anda tidak pernah memperdulikan bawahan kan? Artinya itu menandakan sebarapa egois anda" perkataan Tyno kembali membuat bawahannya terdiam.
Afrizal menatap Bara yang mendelik terkejut juga.
'Kenapa gerak gerik anak ini agak mencurigakan?'
...~...
"Dokter Aly" panggil Lio yang menjadi asisten Aly dan Cecil yang menjadi asisten Ekgita, "Boleh saya bertanya?"
"Silakan"
"Bagaimana anda tau ada benda ini di dalam diri Langit?" ujar Lio sambil menunjukan sebuah benda yang berbentuk seperti kujang kecil berbentuk layar sebelum wayang di mulai.
"Entah, mungkin firasat"
"Aku juga mau bertanya" timpal Cecil yang mengambil sebuah gunting dan memberikannya pada Ekgita, "Apa anda punya sixth sense?"
Sebuah kekehan kecil terdengar di telinga tiga dokter itu, "Ekgi bagian mu menjahit ya" ujar Aly sambil berjalan menjauhi pasien, "Untuk jawaban peetanyaan mu, mungkin karena bawaan keluarga(?)" celetuk Aly yang kemudian keluar dari tenda itu.
Di depan tenda Aly melihat beberapa tentara yang seperti terbagi dua. Aly melepas sarung tangan dan maskernya lalu membuangnya ke tempat sampah di depan tenda yang memang khusus sampah medis.
"Kalian terbagi karena saya ya?" tanya Aly sambil tersenyum simpul yang membuat para Tentara disana tersipu, kecuali 3 pria itu.
"Diam lah. Setelah ini kau harus ikut aku"
__ADS_1
Aly menatap Tyno bingung, "Kemana?"
"Pusat"
"Ho?"
...~~~~...
"Aly?" merasa di panggil Aly berbalik sambil mengeringkan rambutnya yang basah karena habis mandi, "Kau mandi malam malam gini?"
"Kau kenapa kesini, ini kan tempat khusus perempuan" ujar Aly dingin.
"Aku ingin mem…"
Aly mengangkat tangannya, "Cukup, Arif. Enough about your bullshit" ujar Aly yang pergi meninggalkan Arif sendirian disana.
Arif menggenggam tangannya kuat sampai kukunya memucat, "Brengsek!"
"Sudah selesai?"
"Kau memang suka mengagetkan ya!" geram Aly sambil meremas angin dengan gemas.
"Kenapa? Kaget kah?"
Aly menatap Tyno yang sedang tersenyum usil, "Cih"
"Ayo, kita jalan?" ujar Tyno yang mengulurkan tangannya.
Aly langsung melengos meninggalkan Tyno dan tangannya yang tergantung, "Haish perempuan memang sulit dimengerti" gumam Tyno sambil melihat langit.
"Yes baby" Tyno terhenti sejenak, 'Haish mulut!'
"Manggil gitu lagi, ku gips mulutmu!" ancam Aly saat mereka sudah di mobil.
"Haha, galak"
...~...
Aly POV
Saat sampai di pengungsian di Lombok Pusat, aku berjalan mengekori Tyno sambil melihat sekitar. Pandangan ku menatap seorang Dokter dan seorang perempuan berhijab yang kotor. Dokter itu seperti berusaha memberi pengertian tentang obat, tapi perempuan itu seperti menolak.
"Tunggu" ujar ku sambil menepuk pundak Tyno lalu menuju ke arah Dokter dan perempuan itu, "Ada apa?"
Dokter itu menatapku bingung, "Dia mengalami patah engsel dan aku berusaha memperbaikinya, tapi dia terus menolak untuk di anestasi" jelas Dokter itu dengan nada kesal.
"Excuse me, are you speak english?" ibu itu tidak menjawab dia hanya memberikan secarik kertas. Aku sedikit terkejut dan berbisik pada Dokter itu, "Dia sedang hamil"
Dokter itu menaruh suntikan dan barang barangnya, "Tapi itu akan sakit" ujar Dokter itu lirih sambil sedikit mengeluarkan air mata.
"Dia pasien mu, itu pilihan mu. Kami permisi" ujar Tyno yang kemudian menarik ku menjauh dari mereka.
Oke sekarang aku setuju dengan perkataannya, "Eh bentar. Tadikan perkataan ku harusnya!"
Sedangkan yang di gertak hanya tertawa kecil sambil terus menggandeng tangan Aly menuju tenda komandan tentara.
__ADS_1
'Perasaan nyaman yang familiar'
"Komandan, Kapten dan Dokter yang anda minta ada disini" lapor tentara di depan ku.
"Baik, kembali lah bekerja" ujar yang sepertinya komandan tentara itu.
Brak.
Suara gebrakan meja itu membuatku eedikit berjingkat karena terkejut. Aku melirik Tyno yang hanya menahan tawanya.
"Kalian gila?!" sentak orang itu lagi yang membuat ku lagi, "Kenapa kalian bergerak sendiri tanpa persetujuan ha?!" sentak orang itu.
Beberapa detik kemudian aku menatap aneh komandan tentara itu, "Bentar bentar" potong ku saat komandan tentara itu tengah berbicara dengan Tyno, "Anda bilang apa? Persetujuan anda? Maaf tapi saya Dokter dan ditempat saya tadi hanya ada Kapten, dan Kapten setuju. So, artinya anda gak ada hak untuk melarang saya" jelas ku yang berusaha memperjelas keadaan tadi.
"Tapi saya pimpinan disini!"
"Tapi saya gak peduli" komandan Tentara dan hampir semua Tentara bahkan Tyno mendelikkan matanya karena terkejut. Oke aku juga terkejut dengan isi pikiran para tentara dan Komandan Tentara ini, "Saya Dokter, persetujuan operasi pada pasien dilakukan oleh keluarga. Saat itu keluarga terdekat adalah Kapten sebagai atasan disana" lanjutku sambil melipat tangan ku di depan dada, "Terlebih seorang Dokter tidak butuh perintah dari siapa pun. Seandainya dia bisa, dia akan melakukannya. Ini berhubungan dengan nyawa seseorang, bukan perintah atasan"
Semua perkataan dalam pikiran Tentara di sekitar ku yang mendengar perkataan ku seperti memuji keberanian ku melawan komandan tentara ini. 'Aku tidak bisa membaca pikirannya?' pikirku sambil menatap Tyno yang menatap tajam komandan tentara yang masih speechless dengan perkataanku.
Brak.
Gebrakan meja kembali membuatku terkejut. Aku memegang dadaku yang masih bedegup kencang.
"Dokter, tolong keluar dulu saya ingin bicara dengan Kapten"
Aly POV end.
Aly mengangguk dan keluar dari tenda itu. Setelah melihat sekeliling, Aly akhirnya memilih untuk menunggu di mobil yang tadi dia dan Tyno pakai. Saat jarak antara mobil dan dirinya tinggal 2 meter seseorang menepuk pundak kirinya.
"Kyaa!" teriak Aly sambil menutup wajahnya dan saat membukanya seorang pria paruh baya tertawa pelan.
"Astaga ternyata itu benar kau, apa kabar Alyssa?"
"Paman Iwan? Paman disini?"
"Hahaha, Paman cuma mampir cek keadaan dan ternyata sangat buruk ya" jawab pria paruh baya bernama Iwan itu.
Aly tertawa miris, "Kau Medis disini?" tanya Paman Iwan yang tersenyum lembut.
Aly menggeleng pelan, "Aku ada di bagian Timur"
"Seperti biasa, selalu mengambil resiko" ujar Paman Iwan dengan tatapan lembut, "Alyssa saya boleh minta sesuatu?" Aly memiringkan kepalanya dengan wajah bertanya-tanya, "Mau kah kau kembali ke Rumah Sakit Pusat? Kami butuh tenaga dan kemampuan mu. Kami juga butuh Dokter Senior disana. Paman akan berikan kau posisi Zakra nanti, bagaimana?" tawar Pamab Iwan seperti memohon.
Genggaman Aly mengerat. Dia marah. Dia seperti alat yang digunakan saat dibutuhkan saja. Tapi genggaman itu memudar saat dia mengingat tentang Zakra. Aly membisu tak menjawab. Dia bimbang. Harga dirinya atau rasa kemanusiannya, mana yang harus dia pilih?
"Tak apa, kau bisa menjawabnya saat kau sudah memilih. Mintalah Bima untuk memberikan pesan mu pada ku oke?" Aly tidak menjawabnya, "Paman permisi dulu ya" Paman Iwan menepuk kepala Aly sesaat lalu meninggalkan Aly yang masih bergeming.
Genggaman Aly kembali mengerat, 'Sampah! Dasar manusia manusia sampah!' jerit pikirannya sambil menarik nafas untuk menahan kekesalannya.
Puk.
"Kyaa" jerit Aly lagi walau sekarang tidak terlalu keras, "Kau!"
...****************...
__ADS_1