Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 43


__ADS_3

...****************...


28 Sept


Rumah sakit, 02.00


Tyas POV


Huhh! Atha kau benar-benar berhasil membuatku kacau. Kenapa bisa kamu mengalami luka seperti ini. Aku menyentuh salah satu luka milik Atha lalu menggenggam tangan ku kuat-kuat. Aku menghela nafas berat saat menatap Atha. Aku memikirkan kejadian saat aku menemukan Atha pertama kali. Telungkup. Pecahan kaca yang berserakan. Dan yang terpenting luka di kepalanya tanda jika dia jatuh dari atas. Aku menggeleng pelan saat mengingat hal itu.


"Raden" suara lemah dari arah belakang ku itu membuatku menyerit heran.


"Kau tahu siapa pelakunya kan, Arya?"


Tak ada jawaban bahkan tak ada pergerakan disana. Aku berbalik dan menatap Arya datar.


"Saya rasa sudah waktunya Raden Atha mempelajari hal itu. Maaf" celetuk Arya sambil menunduk.


Aku tidak menjawab perkataan Arya dan hanya melirik keadaan Atha yang masih pingsan.


"Raden" suara serak berhasil membuyarkan  lamunan ku.


"Apa yang kau temukan, Gatra?"


Gatra terdiam sesaat, "Iblis"


Mendengar itu aku menatapnya serius, "Kau bercanda?"


"Itu alasan saya meminta agar Raden Atha mulai mempelajari hal itu. Maaf"


Aku menatap keduanya dengan marah, "Tapi belum ada manusia yang bisa bertahan hidup saat Iblis mulai menguasai dirinya!"


"Tapi memang ada Raden dan untuk kali ini, saya setuju dengan Arya"


Aku masih menatap keduanya marah sampai suara handphone ku membuyarkan lamunan ku, "Ada apa? Baiklah" aku menutup telfon ku, "Sialan, aku pergi"


"Iyas?"


"Kakak? Astaga kapan Kak Ama sampai?" tanyaku beruntuttan saat Kak Ama tiba-tiba muncul dan menaruh tasnya di meja kecil di ruangan Atha.


"Tadi sore, kau di panggil Papa kan?" aku mengangguk, "Udah sana pergi, Atha biar kakak yang jaga"


"Oke" aku berpamitan pada Atha dan Kak Ama disana, "Arya, jaga Atha. Walau kau bukan bagian dari Arikinan, tapi aku mengandalkan mu" ujar ku saat sudah berada di luar kamar inap Atha.


Arikinan adalah keluarga yang memiliki sebuah kutukan tentang indra keenam, tapi perlahan kami bisa hidup berdampingan dengan indra keenam kami. Sudah 4 generasi yang mendapatkan kemampuan itu, tapi anehnya tidak berlaku untuk keturunan perempuan mereka. Dan lebih anehnya, baru dua generasi yang mendapatkan keturunan perempuan. Arya bukanlah salah satu makhluk yang selalu menjaga Arikinan. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Arya, tapi yang pasti dia bukan jin biasa.


Arikinan memiliki perusahaan yang diberi nama Kian.Corp. Perusahaan yang berjalan dalam bidang marketing dan pembuatan aplikasi. Selain itu, Kian.Corp juga berjalan di bidang Rumah Makan.


Aku sampai di basement dan Lukman sudah menunggu disana, "Fox memberi laporan tadi" ujar Lukman sambil menyetir


"Terus?" tanyaku sambil menatap tajam dirinya.


"Mereka bertemu Rabbit, dan hampir melukai Nona muda"


Aku menyerit saat Lukman menjelaskan hal itu, "Alys baik-baik saja saat sampai di Rumah Sakit"


"Mereka berhasil mencegah itu"


Aku menghela nafas lega, "Kau sudah menemukan apa yang ku mau?"


Lukman mengangguk dan menyerahkan sebuah IPad pada ku, "Dalang pembunuhan Tuan muda Zidan dan kasus Nona muda sama"


Aku menyeringai saat membaca beberapa informasi di dalam IPad, "Ini lebih dari cukup"


Iyas POV end.


...~...


06.45


Aly baru saja sampai di basement Rumah Sakit tempat ia bekerja. Dia keluar daei mobilnya sambil menenteng jas Dokternya. Saat Aly akan menuju pintu masuk, seseorang menghampirinya lalu langsung menyerang Aly. Tapi dengan cekatan Aly bisa menghindari serangan itu dengan menunduk dan dengan tepat dia menendang pisau yang di pegang oleh orang itu.


Aly menaruh tas dan jasnya di dekat pintu masuk, lalu melakukan peregangan ringan. Penyerang yang tak lain adalah Rabbit, bangkit sambil memegang pergelangan tangan kanannya yang tadi Aly tendang.


"Urusan kita belum selesai. Jadi mari selesaikan disini!" seru Rabbit sambil berlari mendekati Aly dan mengambil pisaunya yang  terjatuh tak jauh dari dirinya, lalu kembali menyerang Aly.


Aly terus menghindari segala serangan Rabbit, "Kau pikir aku tidak ingin menyelesaikan ini?" gumam Aly yang kemudian menyerang Rabbit dengan memukulnya. Tapi kali ini Rabbit mundur beberapa langkah dan langsung terjatuh sambil memegang uluh hatinya yang dipukul Aly.

__ADS_1


Rabbit menatap Aly yang memainkan kepalan tangannya. Disitu Aly menggunakan sesuatu di tangannya, "Knuckle? Sialan kau Arikinan!" seru Rabbit yang kembali menyerang Aly dengan pisaunya.


Dengan mudah Aly menangkis gerakan pisau Rabbit, "Mati kau!" ujar Rabbit saat dia akan menusukan pisau lainnya ke perut Aly.


Tring!


Pisau Rabbit berbenturan dengan knife knuckle milik Aly. Rabbit menatap Aly terkejut.


"Terkejut?" ledek Aly yang kemudian menendang perut Rabbit lagi.


'Sialan! Lebih baik aku mundur dulu' pikir Rabbit yang hendak kabur dari Aly, tapi saat dia akan berbalik Arif yang baru selesai shift malam menghadang Rabbit.


Melihat celah itu Aly berlari lalu menendang punggung Rabbit hingga ia terjatuh. Aly menahan Rabbit dengan satu kakinya.


"Siapa dia?" tanya Arif yang menyerit melihat keadaan itu.


Aly mengacuhkan pertanyaan Arif dan memilih menunduk meraih kepala Rabbit, "Kau pikir aku lemah? Mungkin iya dulu, tapi sekarang berbeda" bisik Aly di telinga Rabbit, "Dan kau harus tahu satu hal, aku akan membunuhmu seperti kau membunuh Zakra, Dhita" ujar Aly yang masih berbisik di telinga Rabbit alias Dhita.


Dhita membelak kan matanya di balik topeng kelinci yang ia pakai. Dia tidak percaya jika Aly bisa mengenalinya padahal ia memakai topeng yang benar-benar menutupi wajahnya. Merasa terdesak, Dhita meraih kaki Aly dengan cepat lalu berbalik agar Aly terjatuh. Tapi dengan sigap Aly melompat mundur agar Dhita tidak bisa meraih kakinya. Namun Dhita tidak hanya sampai disitu, dia mengeluarkan pistol dari balik jubah yang menutupi tubuh bagian atas saja.


Dor.


Aly menutup telinganya saat mendengar suara tembakan itu, tapi sebelum timah panas itu mengenai Aly, dengan sigap Arif menangkap tubuh Aly lalu terjatuh bersama ke tanah. Walau Aly berhasil menghindari peluru itu, lengan Arif masih terkena tembakan itu.


"Kau tak apa?" tanya Arif pada Aly yang masih di pelukannya.


Kini Arif dan Aly berada di ruangan Aly. Dengan telaten Aly melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan timah panas yang  bersarang di lengan Arif.


Arif menatap Aly datar saat Aly berhasil mengeluarkan peluru itu, "Orang tadi, dia salah satu pelaku itu kan?" tanya Arif serius.


Aly hanya membalas pertanyaan Arif tadi dengan anggukan saja, "Kau masih marah padaku?"


Aly menjahit luka Arif dengan hati-hati, "Bukannya ini keinginan mu agar mereka keluar?" tanya balik Aly dengan nada dingin.


"Tapi aku tidak mengira mereka akan melakukan hal itu"


"Penjahat tetaplah penjahat" ujar Aly sambil menutupi luka Arif dengan kasa, "Aku sudah memaafkan mu, tapi aku masih belum bisa percaya lagi dengan mu" lanjut Aly sambil membereskan peralatannya.


Arif menatap Aly serius, "Maafkan aku"


"Ouh" celetuk seseorang dari arah pintu, "Dokter Arif belum balik?" tanya Alfi yang berbasa basi karena terkejut Arif tidak menggunakan atasannya.


Arif tidak menjawab dan hanya memperbaiki kemejanya.


"Ada apa Alf?" tanya Aly saat dia selesai membereskan peralatannya.


"Pasien ICU, Galang Adipura Arisakti sudah sadar" celetuk Alfi dan berhasil membuat Aly terdiam sesaat lalu menatap Arif dan Arif juga menatap Aly terkejut.


Sedetik kemudian Aly dan Arif berlari keluar ruangan Aly. Alfi mengikuti keduanya dengan cepat dan saat akan berbelok di lorong menuju ruangan Galang, Alfi menabrak seseorang hingga terjatuh.


"Alf! Kau tak apa?" tanya pria bertubuh sedikit tambun itu.


Alfi menarik tangannya agar terlepas dari genggaman pria itu, "Heh makhluk buntal, sakit tau!"


David yang dikatakan buntal hanya tersenyum lima jari, "Setidaknya tabrakannya empuk kan?"


"Dasar menyebalkan"


20 menit sudah berlalu dan Aly keluar bersama Arif yang sudah memakai jas Dokternya.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Budhe yang terlihat sangat khawatir.


Aly tersenyum, "Keadaanya sudah membaik dan stabil, untuk saat ini dia akan di pindahkan ke ruang Rawat Inap dan untuk paru-parunya…" dia diam dan langsung dilanjutkan oleh Arif yang menjelaskan keadaan paru-paru Tuan Galang.


Saat setelah Arif menjelaskan keadaannya sekarang, dia pamit pergi. Sedangkan Aly masih disana sambil menjelaskan tentang beberapa obat untuk Tuan Galang kedepannya.


"Dokter sedang dekat dengan ponakan saya kan?" tanya Budhe saat Aly berpamitan dengannya.


Aly menyerit dalam lalu dengan ragu mengangguk pelan, "Saya tidak pernah bisa mengerti isi hatinya. Dia selalu bergerak dengan pikirannya, bukan hatinya" jelas Budhe sambil menatap wajah Aly, "Tapi entah ini firasat seorang Ibu atau bagaimana, saat dia bertemu Dokter, saya bisa melihat gerak geriknya yang bergerak sesuai kata hatinya, bukan pikirannya saja" lanjutnya sambil merogoh tasnya, "Dia menitipkan ini pada saya"


Budhe menyodorkan sebuah amplop bewarna biru yang terapat tulisan To : Alyssa From : Althyno. Aly mengambil amplop itu dengan wajah heran.


"Terimakasih sudah datang dalam hidup Althy, Dok" gumam Budhe yang membuyarkan lamunan Aly.


"Anda mengatakan sesuatu?" tanya Aly yang baru tersadar dari lamunannya.


Budhe menggeleng lalu pamit pergi untuk membayar tagihan Rumah Sakit Tuan Galang.

__ADS_1


...~...


12.00


Sekarang Aly berada di ruangannya sambil mengetik beberapa laporan. Lalu dia membanting kepalanya di atas meja. Dia merasa sangat lelah, bukan hanya fisik, tapi hatinya juga. Disaat itu Alfi tiba-tiba masuk sambil membawa bekal.makan siangnya. Dia menatap Aly heran.


"Kau kenapa?" tanya Alfi dengan nada khawatir.


Belum ada jawaban dari Aly, tapi tiba-tiba dia berdiri yang membuat Alfi mundur beberapa langkah karena terkejut, "Aku harus bertemu dengannya" monolog Aly dengan nada bersemangat.


"Bertemu siapa?" tanya Alfi lagi dan lagi-lagi Aly tidak menjawab dia hanya sibuk membereskan barang-barangnya. Merasa geram, Alfi mencubit pinggang Aly dengan kencang. Karena merasa sakit, Aly kembali duduk sambil memegang daerah yang Alfi cubit tadi.


"Sakit tau!"


"Bodo, aku tanya gak di jawab ya kesal!"


"Emang kau tanya apa?"


Alfi menghela nafas kesal, "Kau ingin bertemu siapa?"


"Tentara geblek itulah!" jawab Aly dengan sedikit ngegas.


Alfi menyerit sambil menatap Aly heran, "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Aly sambil duduk bersidekap.


"Kau tidak tahu?" tanya Alfi yang menaruh bekalnya di atas meja kecil Aly.


"Tidak, kenapa?" tanya Aly yang akan membuka pintu untuk kabur dari Alfi.


"Alfan dan Kapten sudah pergi"


Perkataan Alfi tadi berhasil membuat Aly membatu. Dia membeku terkejut dnegan perkataan Alfi barusan. Aly menengok kearah Alfi yang berada di sisi kanan ruangannya dengan tatapan penuh tanya.


Seperti baru mengingat sesuatu, Aly merogoh tasnya mencari amplop yang diberikan oleh Budhe tadi.


Dear Alys


Aku tahu cara surat menyurat seperti ini terlihat kuno tapi aku nyaman mengatakan hal ini dnegan tulisan tangan daripada ketikan. Maafkan aku tentang kejadian kemarin, aku benar-benar tak ada hubungan dengan ****** sialan itu. Kumohon percayalah. Maafkan aku juga yang tidak mengabari mu, aku terlalu takut untuk meminta maaf padamu.


Jika kau sudah tidak marah padaku, aku ingin mengajakmu jalan-jalan, apa kau mau ?


Althyno Dharma Arisakti


...~...


14.45


Aly masih berada di ruangannya. Dia melamun sejak tadi. Dia memikirkan surat dari Tyno. Dia tak tahu harus marah, kesal atau bahkan bahagia.


Setetes air mata Alu turun lalu dnegan cepet Aly menghapusnya. Bukan air mata kesedihan tapi dia merasa sangat lega, entah mengapa.


Tok…tok


Ketukan pintu itu membuat Aly dengan buru-buru menghapus air matanya.


"Masuk!"


"Dok" panggil Alfi yang sudah memakai jaket yang sepertinya dia akan pulang, "Kita dipanggil atasan" 


Mendengar itu Aly dengan buru-buru langsung menyambar tasnya dan menuju ruangan Feni.


"Kalian akan di kirim ke Palu" ujar Feni sambil menyalakan Televisinya.


Aly, Alfi, Ayda dan Iza yang berada disana mendelik terkejut dengan berita yang sedang disiarkan.


"Arif sudah ku hubungi, kalian akan berangkat malam ini juga. Jadi persiapkan apapun itu secepatnya"


...~...


"Kau tahu" Sakti mematikan handphonenya lalu menyalakan korek apinya dan menyulut rokoknya, "Ini adalah kesempatan yang bagus"


Bara menatap langit hitam tanpa bulan dan bintang itu dengan wajah datar nan dingin, "Ayo bersiap, ini menjadi lebih mudah"


Sakti tersenyum sinis lalu membuang rokoknya yang tinggal setengah dan mengekori Bara yang sudah berjalan terlebih dahulu.


'Sudah waktunya ya? Kenapa aku merasa seperti orang lemah?'


...****************...

__ADS_1


__ADS_2