
...****************...
Lombok, 24 Agust
07.00
Bruk.
Aly yang sedang membawa beberapa kotak yang berisikan alat dan obat-obatan yang baru tiba hampir terjatuh karena tersandung oleh ikat sepatu miliknya sendiri. Untung saja seseorang memegang pundaknya dan mengambil alih kotak-kotak itu. Aly terkejut melihat pria yang membantunya.
"O, terimakasih ya Bara"
Bara hanya memandang Aly dengan dingin lalu berjongkok dan mengikat tali sepatu Aly, "Bisa gak jaga diri sendiri?"
Aly hanya mengangguk lalu Bara meninggalkannya. Siang harinya Aly yang tengah merapikan obat-obatan berusaha menggapai bagian tertinggi rak dan dirinya hampir terjatuh lagi. Dan lagi-lagi Bara muncul untuk menyelamatkannya.
"Kalo jelas gak bisa minta tolong kan bisa" kesal Bara yang langsung meninggalkan Aly.
"Ada yang aneh dengannya" gumam Aly yang menaruh kotak kardus di atas meja, "Jelas…aku harus pakai kemampuan ku"
Sore harinya Aly tengah sibuk memeriksa setiap keadaan pasien-pasiennya. Sekarang Aly tengah berbincang dengan Lisa yang akan ikut pulang bersamanya dan tim besok. Dan saat itu Aly yang tengah bercanda tidak sengaja tersandung kaki Ayda yang juga menemaninya. Namun saat Aly menutup matanya untuk merasakan sakit. Dia malah merasakan tangan yang menompangnya.
'Dasar wanita meresahkan!'
Mendengar pikiran itu Aly langsung membuka matanya dan langsung menatap mata cokelat tua yang dingin milik Bara.
'Dasar menyusahkan!'
Aly langsung berdiri tegak sendirinya.
"Bisa lebih hati-hati tidak?!" kesal Bara, 'Apa aku juga mulai jatuh hati padanya?'
Aly sedikit tersentak dan mengangguk pelan. Seperti sebelumnya Bara langsung meninggalkannya. Ayda yang melihat itu merasa heran dengan tingkah Bara.
"Agak mencurigakan gak sih?" tanya Ayda yang menopang kepalanya.
Aly mengangguk tanda setuju. Malam harinya Aly sedang berada di rumah tempat biasanya tim medis perempuan bersih bersih.
Dugh.
"Kau tahu Bara kan?" tanya Aly ke arah suara itu.
"Memang kenapa?"
Aly duduk di sebuah bangku dan melihat kearah ruangan yang sangat gelap, "Ada yang aneh dengannya, dia seperti terus mengikuti ku"
"Dia juga masuk dalam target" Aly berdiri karena terkejut, "Anda harus hati-hati, dia sepertinya juga punya rencana lain"
00.30
Pip
Sebuah notif pesan masuk membuat seorang pria dengan jaket orange yang robek di bagian tudungnya berdiri di pantai dengan tenang.
"Sudah waktunya ya?"
Splaassh.
Suara antara ombak yang tertabrak kasar oleh sebuah kapal cepat membuat pria itu berjalan pelan menuju ke tempat yang lebih dalam. Saat Kapal cepat itu sampai pria itu langsung menaikinya.
"Yo, Shadow" seorang pria bertubuh atletis dan berkulit sedikit hitam menyapa pria itu akrab.
Sedangkan pria yang di panggil Shadow hanya diam dan melihat sekitarnya, "Ayo pergi" setelah mendengar perkataan pria bertopeng itu, pria itu langsung menjalankan kapal cepat itu pergi, 'Kenapa ada rasa bersalah?'
Di pantai tempat pria bertopeng itu pergi, seorang pria bertopeng beruang setengah wajah melihat kepergian pria itu dengan penuh curiga.
"Apa perlu kita kejar?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul dari balik pohon kelapa.
Pria bertopeng beruang yang tak lain adalah Bear salah satu anggota Predator keluarga Arikinan, hanya menggeleng pelan, "Kita laporan saja dulu, selagi Nona muda aman kita gak perlu mengejarnya" jelas Bear.
Pria bertopeng rubah yang tak lain adalah Fox yang juga salah satu anggota Predator hanya mengangguk setuju dan memanggil Enel, elang komunikasi milik keluarga Arikinan.
'Mau kemana dia?' pikir Bear yang kemudian seperti terkejut dengan pikirannya sendiri, 'Atau jangan-jangan dia…'
"Bloody pada Goblin" suara ht milik Bear mengejutkan dia dari lamunannya sendiri.
"Ada apa?"
__ADS_1
Stt "Kita dalam masalah"
Bear terdiam cukup lama, "Aku akan segera kembali" Bear memasukan htnya kedalam saku celana Tentaranya. Dia melepas jubah hitamnya serta topeng beruangnya, "Fox aku harus kembali, ada masalah di pengungsian sepertinya"
Fox hanya mengangguk heran, "Apa jadi ketua itu menyusahkan?" tanya Fox yang menatap punggung Bear, "Ahh baiklah baiklah, jadi pengganti Kapten itu memang menyusahkan. Maaf okeh"
Mendengar perkataan Fox, Bear yang merupakan Bear kembali berjalan menuju jeepnya untuk kembali ke pengungsian. Di pengungsian Bear buru-buru melepas topengnya dan jubahnya. Dia dapat melihat beberapa anggotanya yang mondar mandir seperti panik.
"Hey, ada apa ini?" tanya Bear pada salah satu Tentara yang lewat di depannya.
"Oh Letda, ada yang orang tertusuk dan tertembak"
"Ha?"
Di dalam tenda darurat Aly, Ekgita, Cecil, dan Tio berusaha menangani 2 Tentara yang memiliki luka yang berbeda. Aly, Ekgita dan perawat mereka mengurus seorang dengan luka tusuk yang lumayan dalam. Sedangkan Cecil, Tio dan perawat mereka menangani seorang dengan luka tembak yang sebenarnya juga lumayan dalam. Afrizal hanya bisa melihat mereka dalam diam, dia menuju sebuah tenda kosong bekas Langit di rawat intensif. Tetapi sebelum dia sampai, Alfan sudah berada di depannya.
"Kacau bukan?" Afrizal hanya menatap Alfan datar, "Aku sempat melihat seseorang menyerang keduanya"
Afrizal mengangkat tangannya tanda Alfan untuk berhenti, "Apa kau tahu dimana Bara sekarang?"
Alfan menggeleng ragu, "A benar juga, atau mungkin itu dia"
"Maksudmu?"
"Seperti yang ku bilang tadi,aku melihat orang yang menyerang keduanya. Tapi aku juga ragu siapa dia"
Afrizal termenung di atas ranjang sambil melihat lurus ke arah dinding tenda. Dia masih memikirkan perkataan Alfan tentang Bara tadi.
"Kenapa kau disini?" suara perempuan menyadarkan dirinya dari lamunannya. Afrizal yang tadinya duduk di ranjang langsung berdiri dan sedikit membungkuk seperti memberi hormat, "Dua pasien itu agak aneh"
Afrizal memiringkan kepalanya lalu hanya menghela nafas berat, "Aku saja tidak mengerti apa yang sedang terjadi"
"Kau sudah tahu siapa pelakunya kan?" tebaknya sambil menatap Afrizal tajam.
"Sepertinya memang Bara lah pelakunya, Nona" celetuk Afrizal yang menatap Aly penuh hormat.
Aly terdiam sesaat, "Tapi kenapa dia punya luka yang sama?"
Mendengar itu Afrizal menatap Aly penuh selidik, "Maksudnya gimana Nona?"
"Beberapa hari yang lalu, Bara juga terluka. Dia seperti menyembunyikan lukanya, walau dia sudah menutupinya, tapi lukanya kembali merembes seperti di tusuk lagi" jelas Aly sambil bersandar di sebuah meja.
Aly hanya mengendikan bahunya tanda tidak tahu, "Aku harus kembali"
"Nona, apa aku bisa minta sesuatu?"
Aly memajukan kepalanya tanda kata silakan, "Bisa cek apa luka milik Langit, Bara dan Tentara yang tadi kau tangani apa mereka memiliki kriteria luka yang sama" ujar Afrizal yang diangguki Aly sebagai jawabannya.
Saat Aly benar-benar keluar Afrizal kembali duduk di ranjang, "Seandainya dia dan Kapten benar-benar bersama pasti akan lebih mudah menemukan jawabannya" gumam Afrizal yang akhirnya membanting tubuhnya di ranjang pasien itu.
...~...
Lombok 03.44
Aly masih berada di tenda darurat bersama dua Tentara yang terluka tadi. Salah satu Tentara yang terluka tembak berusaha menggoda Aly dengan memberikan beberapa gombalan miliknya tapi dengan santai Aly membalasnya dengan perkataan yang sangat tajam. Sampai saat Arif masuk kedalam tenda darurat seorang tentara seperti berusaha menggoda Aly lebih lagi.
Grep.
"Mau apa kau?"
Arif berhasil mencengkram tangan tentara itu sebelum berhasil menyentuh Aly. Sedangkan Aly masih membeku terkejut karena tidak percaya dengan apa yang dia hampir alami.
"Aku hanya ingin memperbaiki kerah jas Dokternya saja" ujar Tentara itu seperti ketakutan.
Arif makin menekan pegangannya, "Lihat si brengsek ini" gumam Arif yang hanya dapat di dengar Tentara itu.
"Kau bilang apa tadi?!" seru Tentara itu sambil melayangkan pukulannya.
Arif dengan santai menghindari pukulan itu lalu memuntir tangan Tentara itu lalu membantingnya. Tentara yang terluka tusuk hanya bisa terbengong dengan kemampuan bertarung Arif.
Arif berjongkok satu kaki, "Ahh maaf tapi sepertinya tangan mu patah" ujar Arif sambil memuntir tangan Tentara itu lagi.
"Arif!"
Arif memilih menarik Aly keluar dan saat itu mereka bertemu dengan Ekgita yang juga kebetulan akan masuk kedalam tenda darurat.
"Wah kebetulan sekali bertemu anda, Dokter Ekgita" celetuk Arif sambil menatap Ekgita kesal, "Beritahu teman-teman anda itu untuk lebih sopan terlebih ke perempuan" ujar Arif yang berniat menarik Aly lagi.
__ADS_1
Tapi dengan sekali sentak tangan Arif langsung terlepas dari pergelangan Aly, "Aku mau sendiri" ujar Aly yang langsung meninggalkan Arif dan Ekgita.
"Lucu, kau posesif sekali dengan Dokter Aly padahal kau hanyalah sebatas teman" ledek Ekgita yang masuk kedalam tenda tenda meninggalkan Arif sendirian.
Arif memukul angin dengan kesal, "Brengsek!" umpat nya yang setengah berjongkok.
"Anda tidak boleh berbicara kasar seperti itu, Dokter Arif" mendengar suara familiar itu Arif mendongak dan matanya langsung menangkap seorang perempuan yang tersenyum tulus ke arahnya, "Seberat apapun keadaan anda, anda tidak boleh berbicara kasar. Terlebih ke seorang perempuan" perempuan itu mengambil tangan Arif, "Perempuan itu punya hati yang lemah"
Arif tersenyum lalu menggenggam balik tangan perempuan itu, "Terimakasih ya, Nabil"
...~...
Lombok, 25 Agust
07.30
Ayda, Alfi, dan Iza tengah membereskan barang barang mereka sebelum mereka pulang kembali ke Purwokerto. Disaat bersamaan juga David, Anji, dan Naufal masuk kedalam tenda Dokter untuk membereskan barang barang mereka juga. Hari ini Naufal juga akan pulang, sedangkan Anji memilih untuk kembali terakhir.
"Ternyata rasanya berat ya, walau kenal kalian baru kemarin tapi rasanya udah berat gitu" celetuk Lilis yang baru saja selesai membereskan barangnya dan membantu Alfi membereskan barang milik Alfi dan Aly.
"Tuh mulut bisa gak diem? Cempreng" ujar David sambil menatap Lilis jijik.
"Ngajak ribut bilang!" tantang Lilis yang berusaha mendekati David tapi di cegah Alfi dan David di cegah Naufal juga Anji.
Aly tiba-tiba masuk dan melihat dua makhluk bertubuh gempal itu saling menatap tajam. Dengan santai dia menampar kepala David cukup kencang. David melihat siapa yang melakukannya dan berniat mengajaknya berkelahi juga, tapi saat dia melihat itu Aly dia langsung menjadi tenang bahkan bersikap sopan dengan menundukkan kepalanya. Naufal dan Anji yang melihat perubahan sikap David 90° membuat mereka terdiam juga.
Aly menggeleng pelan lalu melewati ke tiganya dengan wajah yang terlihat sangat kelelahan. Alfi yang memang tahu dengan insomia Aly hanya bisa menggeleng dan tersenyum meledek, "Kau pasti belum istirahat?"
Aly menaikan salah satu alisnya, "Kenapa? Ada yang salah kah?"
Alfi menggeleng cepat, "Tidak"
Aly hanya memutar matanya malas lalu menatap Anji yang memang sejak tadi menatap Aly, "Kau sudah cek Lisa?"
Anji menunduk dan mengangguk pelan, "Sudah, sekarang dia bersiap untuk kembali di bantu Dokter Arif"
"Baiklah, kalo gitu bisa antar aku kesana?"
Anji mengangguk dan keluar tenda bersama Aly. Di tenda pasien Aly melihat Arif dan Lisa yang sedang bercanda ria, sedangkan Ibu Lisa membereskan barang barang mereka.
"Kakak Cantik!" seru Lisa saat Aly dan Anji mendekati mereka, sedangkan Arif tersenyum lembut dan meninggalkan mereka.
"Sudah siap untuk pulang?" tanya Aly yang berjongkok lalu mengelus pelan rambut Lisa.
"Sudah dong, Kak Cantik. Kakak Tentara kemana?"
Menerima pertanyaan mendadak itu membuat Aly sedikit gelagapan, "Ah itu, Kakak Tentara sedang sibuk sayang"
Anji belum berani menatap Ibu Lisa, "Maaf gara-gara saya nyawa Lisa hampir terancam"
Ibu Lisa ingin menenangkan Anji tapi Aly sudah memotongnya lebih dahulu, "Dia masih kecil, belum tau apa itu kematian. Bawa hal-hal menyenangkan yang bisa buat dia lupa tentang hal itu" ujar Aly dingin tapi dengan senyum yang menanggapi semua perkataan Lisa.
Anji kembali terdiam dan menatap Lisa, "Maafkan kakak ya, kalau besok kita bertemu lagi bisa kau memeluk kakak?" tanya Anji yang diangguki Lisa, "Good, big hugh?"
Aly melihat Anji dan Lisa hanya bisa tersenyum bahagia juga.
12.00
Aly dan tim yang akan kembali tengah bersiap dengan menaiki truk Tentara. Banyak para pengungsi dan Tim Relawan yang mengantarkan kepergian mereka. Aly yang belum naik kedalam truk sempat melihat keatas langit dan menatap langit biru tanpa awan itu.
"Aly, ayo" panggil Arif dari dalam truk.
Aly melihat Arif sebentar lalu menatap langit lagi, "Ayo" ujar Aly yang akhirnya masuk kedalam truk.
Sedangkan di tempat lain seorang pria tengah duduk di atas sebuah bangunan sambil menatap langit. Pria itu menyesap rokoknya dalam dalam lalu membuangnya.
"Haishh kenapa aku kepikiran Dokter itu ya?"
"Tyno! Sedang apa kau diatas?!" seorang pria dari bawah berteriak hingga membuat orang orang disana ikut mendongak.
"Berisik! Lagi menghayati nih!"
"Gila lo ya?! Turun!"
Tyno berdecih pelan lalu menggapai ujung atap. Dia memegang ujung atap itu kuat-kuat lalu melompat turun ke lantai dua tempat itu. Setelah itu dia menggapai pegangan lantai dua lalu melakukan hal yang sama saat dia turun dari atap.
"Pengganggu dasar" celetuk Tyno yang akhirnya meninggalkan tempat latihan.
__ADS_1
...****************...