
...****************...
Lombok, 9 Agust
08.00
Di sebuah bangunan kosong Fox membersihkan luka-lukanya. Dia melempar pisau yang menancap tepat di kaki kanannya.
"Haishh! Bernando sialan!" umpatnya sambil mengacak-acak rambutnya. Lalu dia menghela nafas kasar dan membersihkan lukanya lagi.
Hukk~
Suara seekor burung terdengar di telinga Fox. Saat dia melihat keatas, dia bisa melihat seekor burung elang berukuran cukup besar bertenger di fentilasi. Burung itu turun dan mendekati Fox yang masih membersihkan lukanya. Tanpa melihat dia menekan sesuatu di leher burung elang itu.
"Kenapa harus Enel?" tanya Fox dengan nada malas.
"Kau jangan kebiasaan sulit di hubungi ya! Kau tau seberapa khawatirnya kami dengan Alys! Mana Bear juga gak bisa dihubungi!" omel seorang wanita dari sebrang alat itu.
Fox menghela nafas pasrah, "Bear sibuk, dia akan memegang kendali evakuasi mungkin. Dan untuk Alys, Bernando kemarin muncul di depannya. Dia masih terlihat sedikit takut dengannya tapi dia bisa melawannya" jelas Fox sambil menutup lukanya.
"Alys baik-baik saja kan?"
"Dia baik, hanya aku yang terluka"
"Kamu masih bisa menjawab artinya masih baik-baik saja"
Fox memukup angin dan menghela nafas kesal, 'Sabar'
"Bawa Enel, dia alat komunikasi kita saat ini"
"Baik Nyonya"
Pip.
"Seandainya bukan Nyonya besar sudah ku kraus itu orang tua" gerutu Fox sambil mematikan alat komunikasi itu.
...~...
Purwokerto, 9 Agust
09.00
Atha masih berfokus pada layar di depannya sampai dering telfonnya mengganggunya sesaat.
"Iya?"
"…"
"Gak usah ngadi-ngadi lu!"
"…"
"Ah bacot semua dah!"
Dengan perasaan agak kesal Atha menutup telfon itu dan di saat itu Mba Dyah masuk kedalam ruangan Atha.
__ADS_1
"Kenapa sih Tha?" tanyanya yang heran dengan tingkah Atha.
Atha sedikit gelagapan dengan pertanyaan Dyah barusan, "Itu…temen ku…apa ngasih kabar kalo aku harus ketemu dia sekarang gitu" dustanya.
Dyah menatap Atha curiga tetapi dia tepis saat akan memberi kabar pada Atha, "Kau tahu tempat Aly terjadi gempa lagi?"
Mendengar itu Atha membeku sesaat dan menunduk, "Jadi beneran" gumamnya sambil menyambar kunci mobil milik Aly lalu pergi meninggalkan kantor.
"Atha!" teriak Dyah yang berusaha menghentikan Atha tetapi dia tahu perasaan Atha juga, "Biarkan saja kalo gitu"
Atha sedikit mengebut ke rumah persinggahan Enda, "Nenek?!" teriak Atha saat baru masuk kedalam rumah.
"Hai! Can you don't scream?!"
Atha menatap Sebastian tajam, "Who here must quite is you, Damn Bastard!"
"What!"
"Stop you two"
Monty muncul sambil memapah Enda yang juga baru turun dari mobil.
"Nenek! Kakak!"
...~...
Lombok, 12.15
Aly memeluk kencang lengan besar yang terlihat memakai perban. Dia merasa takut dengan getaran yang dirasakannya. Iya, tamah Lombok kembali berguncang, walau tidak menimbulkan tsunami tetapi Aly masih merasa takut dengan gempa sebelumnya.
"Maaf"
"Tak apa, lagian memang Kapten juga sedang tidak disini"
"Terimakasih, umm…"
"Bara"
"Iya, terimakasih Bara"
"Tak masalah"
"Dokter Aly!" Tyno masuk kedalam tenda darurat yang lalu mendekati Aly dan mengecek keadaannya, "Syukurlah kau baik-baik saja"
"Kalian belum ada status tapi sudah saling peduli" sewot Bara sambil menatap arah lain.
Tyno dan Aly terdiam dengan perkataannya. Aly tahu sikap aneh Tyno yang perhatian dan berusaha mendekatinya. Tapi dia gak mau berharap banyak jiga dari Tyno. Saat dia tau bahwa dia tidak bisa membaca pikiran Tyno, Aly lebih siaga dengan pikirannya tentang sikap Tyno. Dia berpura-pura bodoh juga untuk menjaga hatinya. Selain itu Aly masih harus membereskan kasusnya dengan Zakra jadi hatinya juga belum siap.
"Aly, apa kau tidak ada perasaan untuk ku?" celetuk Tyno yang mendapati tatapan bingung dari Bara dan Aly.
Aly terdiam masih mencerna perkataan Tyno barusan, "Kau serius?" Tyno mengangguk ringan sedangkan Aly menunduk dalam, "Maaf aku belum siap, selain itu aku harus menyelesaikan sesuatu dulu" ujar Aly yang menatap Tyno penuh sesal.
Tyno tersenyum lalu mengelus lembut kepala Aly, "Mau atau tidaknya kau, aku akan menunggunya. Tenang saja, aku sudah ada perasaan pada mu" ujarnya lembut dengan senyuman manis juga.
"Wow" ujar Bara yang takjub dengan senyuman Tyno.
__ADS_1
Perempatan tiba-tiba muncul di kepala Tyno yang masih tersenyum, "First time aku liat Kapten senyum"
Wajah Tyno tiba-tiba berubah menyeramkan dan menatap Bara kesal, "Diam! Kembali bekerja!"
"Siap!"
Saat Bara sudah meninggalkan tenda darurat tawa Aly sudah tidak bisa di tahan lagi, sedangkan Tyno dia speechless sesaat karena pertama kalinya di melihat Aly tertawa seperti itu tetapi kemudian ikut tertawa. Saat tawa Aly berhenti, Tyno duduk di bangku sebelah Aly.
"Maaf sebelumnya…tapi kemarin aku dengar pria misterius…"
"Bernando, namanya Bernando" potong Aly sambil memainkan jarinya tanda tidak nyaman dengan nama itu.
"Iya dia, memanggil mu dengan nama Arikinan. Kau anggota keluarga Arikinan?" tanya Tyno dengan lembut takut Aly merasa tertekan.
Aly menatap Tyno terkejut dan kembali menunduk, "Iya" jawab Aly lirih tapi masih bisa di dengar Tyno.
"Jadi nama aslimu?"
"Alyssa Mustika Arikinan"
Tyno mengangguk angguk pelan, "Pria…maksudku Bernando itu ada masalah apa dengan mu atau keluarga mu?"
Aly menatap keluar tenda dari pintu tenda yang tidak tertutup sambil menghela nafas berat, "Sebenarnya salah ku, tapi keluarga ku juga kena akhirnya"
"Arikinan, kalo tidak salah bisnis mereka itu fokus ke markerting dan teknologi. Apa pria itu musuh mu?"
Aly menggeleng, "Dulu saat aku masih kuliah di luar negeri, saat praktek aku menyelamatkan seorang ketua mafia. Dia terluka cukup parah, tapi tak ada yang mau mengurusnya" Aly menarik nafas panjang.
"Kemudian dia ngejar-ngejar kamu?"
"Lebih rumit sebenarnya" jawab Aly yang hanya ditatap dengan tatapan penasaran, "Intinya…Master Bernando itu tergila-gila dengan ku. Aku punya trauma dengan Bernando, karena dia melakukan kekerasan dan pelecehan padaku" ujarnya yang makin lirih.
Tyno menatap bahu yang bergetar lalu memeluknya. Aly terkejut sesaat namun kembali menangis di dalam dekapan Tyno.
'Dia lebih rapuh dari tampilannya' pikir Tyno sambil menatap Aly yang sudah tertidur karena menangis. Genggaman Tyno semakin mengerat dan memilih meninggalkan Aly di tenda sendirian. Saat keluar dai bertemu Arif yang ingin masuk ke dalam tenda.
"Aku menyerah" ujar Tyno yang membuat Arif berhenti berjalan, "Aku akan meninggalkan Dokter Aly" lanjut Tyno yang menatap Arif dan sedikit terkejut dengan tatapan Arif yang seperti tidak terima.
"Jangan lakukan itu, temuilah dia sesekali atau hubungi dia" ujar Arif yang kemudian masuk kedalam tenda.
Tyno tersenyum getir, "Kalaupun aku bisa, akan aku lakukan" gumamnya yang pergi meninggalkan tenda darurat.
Arif menatap Aly yang tengah tertidur lelap lalu mendekatinya, "Maafkan aku…maka dari itu aku tidak akan melarang dia mendekati mu…aku melihat Zakra dalam dirinya juga" gumamnya sambil memegang tangan Aly yang tidak memakai infus.
Dari balik tenda Ayda tersenyum senang dengan perkataan Arif saat bersama Tyno tadi, "Sepertinya kau sudah mulai terbuka ya Arif"
"Bara sudah saatnya" celetuk seseorang dari sambungan telfon miliknya yang membuat Bara menatap lurus dengan tajam.
Dia menutup telfonnya lalu menghela nafas berat. Senyuman licik tiba-tiba terukir dengan jelas di wajahnya yang lumayan tampan itu.
Ting.
Bara melempar koin yang memang biasanya dia gunakan jika dia merasa bimbang, "Wah, sudah saatnya ya" celetuknya sambil melihat koin yang menunjukkan kepala burung.
...****************...
__ADS_1