
...****************...
11.46
Tyno baru saja keluar dari ruangan Arif. Dia berjalan pelan menuju ruang tunggu ICU. Selama perjalanan dia menatap lurus dengan tatapan kosong. Saat dia berada di ruangan Arif, Tyno baru menyadari satu hal. Masih ada banyak rahasia antara dia dan Aly. Tyno menggeleng pelan lalu duduk di salah satu kursi di ruang tunggu.
Laksa yang baru keluar dari ruangan ICU menghampiri Tyno dan duduk di sampingnya. Sesekali dia melirik Tyno.
"Perempuan cantik tadi Dokter yang Anas dan Afri katakan ya?" tanyanya dengan hati-hati.
"Siapa yang kau sebut cantik?" nada suara Tyno memang terdengar tenang tapi tidak dengan tatapannya.
Laksa mundur beberapa centi, "Haha, jangan marah dong" ucapnya dengan wajah panik.
Tyno memutar matanya lalu bersandar dengan menopang kepalanya. Laksa lagi-lagi melirik Tyno.
"Apa kau menyukainya?" tanya Laksa lagi tapi kali ini terdengar seperti sedang mengintrogasi.
Tyno terdiam cukup lama lalu menghela nafas kasar, "Sangat"
"Tapi dia juga sepertinya menyukai mu"
"Tahu dari mana kau?"
Laksa tersenyum lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang, "Walau dia bertingkah aneh saat Belatung itu mendekatinya, ada ekspresi kecewa disana"
Tyno tertawa miris, "Aku sudah di tolak 2 kali, kau harus tahu itu"
"Terus? Kau menyerah gitu?" celetuk Laksa yang seperti meremehkan Tyno, "Perempuan tadi terlihat sangat kecewa saat si Belatung tadi gelanyutan di lengan mu. Berarti itu tandanya dia ada rasa juga padamu, walau sedikit" ucapnya sambil melipat tangannya di depan dada, "Minta maaf lah, mungkin dia akan memaafkan mu nanti"
Tyno tidak menjawab. Dia memikirkan perkataan Laksa yang sepertinya ada benarnya. Tyno berdiri, "Titip paman sebentar, aku ingin mencari angin"
"Tentu"
Tyno berjalan menuju keluar daerah ICU. Tapi saat dia akan menuju keluar Rumah Sakit, dia melihat Alfan yang turun dari sebuah mobil bersama Alfi dan membantu seorang pria yang menggendong seorang pria lainnya. Karena penasaran dia mendekati mereka.
"Permisi!" seru Alfi yang mengambil brankar lalu mendorongnya masuk ke UGD, "Arif!" seru Aldi saat dia masuk kedalam UGD.
Arif yang saat itu sedang jaga, langsung mendekati Alfi yang mendorong brankar Atha. Arif di buat terkejut dengan keadaan Atha yang bersimpah darah.
"Atha? Kok bisa gini?" tanya Arif yang tenang tapi ada raut kekhawatiran di wajahnya.
"Aku juga gak tau, tapi kepalanya berdarah dan ada beberapa bagian yang terkena pecahan kaca"
Arif menyerit lalu melihat luka Atha sekilas, "Dia lompat dari ketinggian kah?"
Alfi menyerit lalu melihat luka Atha sekilas juga, "Tapi kenapa bisa kaca rumah Aly yang di dekat ruang kucing pecah?"
"Lupakan, ada keluarganya kan?" tanya Arif yang sudah memasuki ruang pemeriksaan.
Alfi mengangguk, "Ada Om nya"
"Iyas?" tanya Arif yang di angguki Alfi lagi, "Baiklah, tunggu di luar"
Alfan yang menunggu Alfi yang masih di dalam ruang pemeriksaan merasa khawatir juga dengan keadaan Atha. Dia melihat Iyas yang masih mondar mandir.
"Siapa yang masuk UGD?" tanya Tyno yang tiba-tiba sudah berada di sebelah kanan Alfan.
Alfan yang terkejut mundur beberapa langkah hingga menabrak Iyas yang sedang mondar-mandir tadi, "Heh!"
"Maaf, maaf" ujarnya sambil menunduk meminta maaf, "Kapten kenapa bisa disini?"
"Jawab dulu pertanyaan saya"
Alfan melihat Alfi yang keluar dari ruang pemeriksaan, "Om tenang dulu, Atha pasti baik-baik saja. Sekarang dia sedang dilakukan tindakan kok"
Iyas tidak menjawab dia hanya menghela nafas kasar lalu duduk sambil menarik rambutnya frustasi. Tyno memukul lengan Alfan keras.
"Jelaskan apa yang terjadi"
Alfan menghela nafas pelan, "Adik Dokter Aly ditemukan pingsan bersimbah darah di rumahnya. Aku dan Alfi baru sampai saat Omnya berteriak, jadi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi" jelas Alfan sambil menunjuk Iyas dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Tyno tidak menjawab apapun tapi menatap Iyas tajam, 'Rengganing Tyas Arikinan? Sepertinya memang penyihir itu mengincar Arikinan'
"Oh iya, Alys mana? Kenapa dia belum sampai rumah tadi?" tanya Iyas yang baru sadar dengan ketidakhadiran Aly di rumah ataupun di Rumah Sakit.
Tyno menyerit, "Dia sudah pergi 1 jam yang lalu" jawab Tyno dengan nada khawatir dan langsung mengecek handphonenya.
"Perjalanan dari sini ke rumah itu tidak sejauh itu" monolog Iyas yang kemudian meraba saku belakang celananya, "Handphone ku?" setelah sadar bahwa dia tidak membawa handphone, Iyas memukul tembok dengan cukup keras, "Bangsat! ketinggalan di Rumah Alys" gumam Iyas dengan frustasi.
Alfi ingin membantu dengan menelfon Aly tapi Tyno sudah memberikan handphonenya yang sedang menghubungi Aly, "Sejak kapan?" tanya Iyas heran.
Tyno hanya menatap Iyas datar, "Tadi"
Iyas mengambil handphonenya lalu menunggu Aly mengangkatnya. Tapi tidak diangkat juga, Iyas kembali menelfon Aly tapi tidak diangkat juga, "Kenapa gak diangkat?!" kesal Iyas sambil menatap Tyno.
Tyno mendelik terkejut setelah mengingat kejadian dengan Dhita tadi, "Sepertinya Anda harus mengirim pesan teks dulu. Saya dan Dokter sedang ada salah paham" jelas Tyno yang langsung di lakukan oleh Iyas.
Setelah mengirim pesan, Iyas langsung menghubungi Aly lagi dan kali ini Aly langsung mengangkatnya.
"Halo Om?"
"Hallo Al! Kau dimana?" tanya Iyas jhawatir.
"Maaf, Alys lagi diluar sebentar"
"Lupakan, sekarang ke rumah sakit segera!"
"Kenapa?"
Iyas terdiam sebentar, "Atha…dia masuk UGD"
"Ha? Okeh Alys jalan sekarang"
"Hati-hati, Om punya firasat tidak enak" ujar Iyas dengan lirih agar orang-orang disana tidak mendengarnya.
"Tentu"
Aly mematikan sambungan telfonnya. Iyas menatap handphone Tyno sesaat lalu mengulurkan tangannya untuk mengerikan handphonenya.
Tyno menatap Iyas datar, "Sepertinya" jawab Tyno yang bergumam.
Iyas menyerit dan menatap arah lain untuk meredam rasa khawatir dan kesalnya. Arif tiba-tiba keluar dari dalam ruang Tindakan. Melihat itu Iyas langsung berdiri dan mendekati Arif.
"Gimana Atha?"
Arif menghela nafas pelan, "Dia sudah baik-baik saja, tapi kita perlu menunggu hasil CT untuk mengecek keadaan kepala Atha. Tapi luka-luka lainnya sudah kami tangani" jelas Arif dengan pelan, "Saya permisi masuk lagi"
...~...
Setelah mendapat telfon dari Iyas, Aly buru-buru menghapus air matanya lalu membersihkan celana kain yang ia pakai dari tanah dan debu. Saat jarak Aly dan mobilnya tinggal 3 meter lagi, dia berhenti. Aly mundur beberapa langkah saat dia melihat seseorang berdiri di dekat mobilnya. Seorang dengan topeng yang familiar dengan Aly. Topeng yang sudah merenggut nyawa kekasihnya dan ingatannya.
Aly menatap sosok wanita bertopeng itu dengan wajah ketakutan, "Kau"
"Ho~ lama tidak berjumpa ya, Arikinan"
Keduanya saling memandang dan sedetik kemudian wanita bertopeng kelinci itu berlari menuju Aly. Tanpa aba-aba wanita itu langsung menyerang Aly dengan pisau adventure nya.
Tring!
"Nona!"
Aly melihat siapa yang membantunya.
"Lari!" ujar pria bertopeng rubah.
Tapi karena fokusnya terpecah, wanita bertopeng kelinci itu menghindari Fox dan berusaha melukai Aly yang tengah berlari menuju mobilnya.
Tring!
Lagi-lagi seseorang menghalangi serangan wanita itu.
"Kau!"
__ADS_1
Aly langsung pergi dari tempat itu. Fox mendekati bear yang menghalangi serangan wanita bertopeng kelinci itu.
"Dia wanita" ujar Fox yang berbisik pada Bear.
"Terus? Maaf, tapi aku penganut kesetaraan gender" celetuk Bear.
"Bangsat!" wanita itu melemparkan bom asap yang langsung membuat Fox serta Bear menutup hidung dan matanya.
"Siap kita kelepasan"
"Tapi setidaknya dia tidak akan mengejar Nona" timpal Bear yang berlari meninggalkan tempat itu.
...~...
12.00
Aly baru sampai di rumah sakit lagi, lalu langsung berlari ke arah UGD. Sat sampai UGD Aly melihat Iyas yang duduk dengan menopang dagu.
"Om?" panggil Aly yang langsung memeluk Iyas.
Iyas yang mendengar panggilan Aly langsung berdiri dan membiarkan dia memeluknya. Iyas menepuk pelan punggung Aly.
"Kok bisa Atha masuk Rumah Sakit?" tanya Aly setelah dia melepaskan pelukannya.
Iyas menggeleng pelan, "Kita harus nunggu hasil CT" celetuk Iyas dengan lemah. Dia sudah cukup kehabisan tenaga dan shock juga.
Aly terdiam lalu melihat seorang pria yang duduk di sebelah Iyas. Tadinya dia tidak ingin menegurnya, tapi mengingat dia meminjamkan handphonenya.
"Thanks, sudah meminjamkan handphone mu tadi" celetuk Aly tanpa melihat Tyno.
Tyno ingin menjelaskan kejadian tadi, tapi Arif sudah keluar dari ruang pemeriksaan, "Hasil CT Atha sudah keluar" ujarnya yang kemudian mengeluarkan selembar kertas dari map cokelat itu, "Daei hasil semuanya bagus, hanya retakan kecil dan sobekan yang lumayan serius di pelipisnya"
Aly dan Iyas bernafas lega saat Arif menjelaskan hal itu, "Tapi untuk mengobservasi lebih lanjut, aku ingin Atha rawat inap terlebih dahulu selama 2 hari. Jika hasilnya masih bagus, dia boleh langsung pulang, tapi jika tidak kita perlu melakukan tindakan operasi" lanjut Arif sambil memberikan map itu pada Aly.
"Terimakasih" ujar Aly yang di angguki Arif.
"Kalau begitu, Atha akan dipindahkan saat pembayarannya sudah selesai. Aku permisi dulu"
Saat Arif pergi Iyas menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya kasar, "Om mau bayar dulu, abis itu pulang buat kasih laporan ini. Kau tunggu Atha sebentar ya"
Aly mengangguk lalu Iyas meninggalkannya bersama Tyno berdua. Tyno masih duduk di bangku dengan wajah datar. Aly ikut duduk di sampingnya lalu menelfon seseorang.
"Hallo Mam"
"…"
"Alys baik kok"
"…"
"Itu yang gak baik. Atha di Rumah Sakit sekarang"
"…"
"Alys juga belum tau apa yang sebenarnya terjadi, Ok juga belum tahu apa yang terjadi"
"…"
"Iya Mam"
Aly mematikan handphonenya lalu bersandar pada tembok.
"Apa yang dikatakan Dhita benar" celetuk Tyno yang membuka suara, "Tapi aku tidak pernah menganggapnya ada dalam hidupku" jelas Tyno yang kemudian menatap Aly, "Aku…maafkan aku"
Aly tiba-tiba berdiri, "Kau tidak salah. Aku yang salah" Aly menatap onyx Tyno dalam, "Salah membuka hati untuk mu"
Setelah berkata seperti itu, Aly pergi meninggalkan Tyno sendirian. Tyno berjalan gontai menuju ruang tunggu ICU sampai suara notifikasi handphonenya membuyarkan lamunannya. Tyno membaca pesan itu dengan wajah serius. Lalu dia mencari sebuah nomor di handphonenya.
"Hallo Alf, kau dimana?"
...****************...
__ADS_1