
...****************...
Selama perjalanan aku memperhatikan Snowa yang berada di kursi tengah. Tiba-tiba mobil di depan berhenti mendadak yang membuatku harus mengerem mendadak. Sebuah foto terjatuh dari selipan penghalau cahaya. Aku mengambil foto itu dan terkejut. Dengan buru-buru aku menaruhnya di dalam saku jaketku.
Saat sampai di rumah gonggongan anjing menyalak keras dari dalam. Saat aku masuk bersama Snowaa, dua anjing langsung menyergapku hingga aku terjatuh.
"Hahaha, okeh okeh. Stop!" perintahku yang langsung di turuti dua anjing itu, "Good boy, good girl!" aku mengelus mereka berdua.
"Kau tahu mereka sangat berisik".
"Malah bagus, ngusir kamu juga"
Sosok perempuan dari lantai dua hanya menatapku tidak suka.
"Loh Bima?"
"Iya Mom, cuma sebentar nganterin Snowa abis itu pergi ngeband"
"Ya udah kalo gitu"
Aku bangkit dari posisi ku sebelumnya, "Bemz pergi dulu ya Mom"
"Iya, ati-ati loh"
"Wokeh"
Saat aku akan membuka gerbang sesosok mengangetkan ku sehingga aku mundur beberapa centi.
"Ku kira dia hanya lewat" gumam ku dengan tangan yang masih mengambang.
"Bemz, kau baik-baik saja?"
"Hati-hati, ada aura tak baik darinya"
'Gak usah kau kasih tau, aku juga udah tau' Jawabku pada sosok perempuan tadi, "Bemz baik kok Mom, aku pergi dulu"
Selama perjalanan aku memikirkan makhluk tadi, auranya yang gelap menandakan aku tidak akan sanggup menahan bahkan melawannya. Memikirkannya saja aku sudah pusing. Aku merogoh saku jaket ku yang hendak mengambil permen karet yang biasa aku bawa, tapi malah foto tadi yang terambil.
"Bajingan sialan!" umpatku sambil meremas foto itu dan melemparnya ke dasbor mobil.
Bima POV end.
"Kan, apa gue bilang dia pasti lupa" ujar seorang pria yang kesal sambil melempar hpnya ke meja dan hampir terjatuh.
"Gue tahu kau punya banyak uang, tapi kan bisa gak usah buang uang" ujar pria lainnya yang duduk di sebrang pria tadi.
"Ya suka-suka gue lah"
"Ck. Zak bilangan temen mu tuh"
Zakra yang duduk diantara mereka hanya menghela nafas sambil menutup buku jurnal yang selalu dia bawa kemana-mana, "Kalian berisik" ujar Zakra singkat sambil kembali membuka jurnalnya.
"Kok gue kesal ya!" kata pria yang tadi marah-marah dan hendak mencengkram Zakra.
"Sabar Ran, ngehadapin bunga bangkai kudu sabar"
"Siapa yang kau sebut bunga bangkai ha?!" seru Zakra sambil hendak memukul pria tadi, dan di cegah pria yang marah-marah.
"Good evening boys!" seru seseorang yang berhasil membuat tenang meja itu, "It's looks great everyone…wait where Bima?" tanya pria yang tiba-tiba datang.
"Biasa telat" jawab Zakra dengan senyuman khas miliknya.
"Ahh, pas sekali kalau begitu!" seru pria itu yang merupakan pegawai cafe sekaligus Mc yang selalu membantu jika ada yang ingin perfome, "Ada seseorang yang ingin mengisi terlebih dahulu, jadi boleh dia tampil duluan?" tanya pria itu sambil menatap Zakra dan kedua temannya bergantian.
"Ranfi?" bisik pria lainnya pada pria pemarah tadi, "Kesempatan juga buat kita nunggu si Bima"
Zakra melirik ke arah pria itu sambil menatapnya datar, "Boleh" ujar Zakra pada Mc itu,"Lagian kita masih nunggu Bima, kan Bemby?"
__ADS_1
"Ah…iya, lagian keknya Bima masih lama" ujar Bemby sambil tersenyum kikuk.
Ranfi hanya membuang muka kearah lain tanpa melihat Bemby dan Zakra, "Oau great, thanks boys. Kalau begitu jika kalian siap panggil saja aku" ujar mc itu sambil meninggalkan mereka.
"Daripada bayaran di potongkan?" celetuk Zakra sambil menepuk pundak kedua temannya itu.
Ranfi menghela nafas kasar sedangkan Bemby menatap Zakra malas, "Iya Zak iya" ujar mereka berdua bersamaan.
"Hello everyone, I hope everyone here have a great days. Karena band yang biasa menemani kita belum lengkap, jadi kita akan di temani oleh seorang perempuan terlebih dahulu"
Zakra yang merasa haus memilih minum yang sudah dia pesan sebelumnya sambil mendengarkan Mc tadi 'mengoceh' di panggung berukuran kecil di depan dekat pintu masuk cafe.
"Mari sambut Alyssa Mustika!"
Mendengar nama itu secara reflek air di dalam mulut Zakra langsung menyembur keluar mengenai Ranfi, "Uhuk…uhuk emm. Kok dia disini?!"
"Hahaha Ran liat muka lu deh, berantakan banget sumpah" celetuk Bemby di sela-sela tawanya yang meledek Ranfi.
"Diem gak lo! Zak apa-apaan sih, main sembur segala. Gue lagi kagak kesurupan kali" kesal Ranfi sambil mengelap wajahnya.
"Sorry sorry, gak sengaja sumpah" sesal Zakra yang memberikan tisu pada Ranfi.
"Untung gue selalu bawa ganti, kalo kagak mati gue" ujar Ranfi yang berdiri sambil mencari pakaian gantinya di dalam tas miliknya, "Dahlah gue ke kamar mandi bentar"
Saat Ranfi pergi Zakra masih memperhatikan Aly yang tengah duduk sambil mengecek gitar yang dia bawa, "Hallo semua, nama saya Alyssa Mustika. Saya akan menghibur semuanya dengan suara saya"
Saat petikan di gitar Aly berbunyi, dengungan di kepala Zakra juga mengejutkan dirinya.
"Lu kenapa Zak?" tanya Bemby saat mendengar rintihan Zakra tadi.
Zakra yang masih mendengar dengungan itu hanya tersenyum kecut, "Gapapa, cuma biasa telinga berdengung"
"Kagak mo cek ke dokter spesialis gitu?"
"Ngga, lagian cuma dengungan sebentar" ujar Zakra yang menenangkan salah satu teman karibnya itu, 'Haish bohong lagi kan' pikirnya sambil menatap Aly.
"Bukannya dia anak baru di tempat kita ya?" celetuk Bima yang mengejutkan kedua makhluk yang fokus pada aktivitasnya masing-masing.
"****** ya Bim!" umpat Bemby sambil melempar bungkus makanan ke Bima yang hanya terkekeh.
"Udah jago nyanyi, jago ngerebut hati orang pula" ujar Zakra yang membuat dua temannya menatap horror.
"Zak waras?"
"Gak lagi kerasukan kan lu?"
Zakra berusaha menyingkirkan tangan dua temannya itu dari wajahnya, "Kagak aku sehat dan aku waras!" sentak nya sambil mengambil jurnalnya yang terjatuh.
"Lo kerasukan Zak?" tanya Ranfi tiba-tiba yang berhasil membuat 3 laki-laki tadi terkejut. Bahkan Bemby sampai mudur karena Ranfi berada di sebelahnya.
"Berantem kuy!" tantang Bemby sambil memukul lengan Ranfi.
"Bangsat!" umpat Ranfi yang memiting leher Bemby.
Zakra hanya menghela nafas pasrah sambil terus menulis, sedangkan Bima memukul kepala keduanya sambil mendekati Mc yang tengah bersandar di meja dekat dapur.
"Wah wah, Bro Bemz! Udah lengkap nih anak-anak?" tanya mc itu sambil memberikan salam tangan pada Bima.
Bima tersenyum sambil memperhatikan Aly, "Perform sekali?" tanya Bima sambil menunjuk Aly.
"Iya, band mau duet?" tawar Mc yang seakan tau apa yang dipikirkan Bima.
Senyum Bima semakin merekah, "Nice idea!" ujarnya sambil menepuk punggung Mc itu lumayan keras.
"Okeh kalo gitu, ready lah!"
"Nice!" ujar Bima yang pergi meninggalkan Mc itu dan kembali berkumpul dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Abis ngapain lu?" tanya Ranfi curiga.
"Ngeliat yang manis-manis" jawab Bima sambil mengerlingkan matanya, "Udah ayo siap-siap"
Mendengar itu Zakra dan Bemby yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing menjadi terhenti dan bersiap dengan peran mereka masing-masing sebagai band.
"Wahh beautiful voice! Thanks Alyssa sudah mau menemani kami. Tapi sebelum turin, band bilang mau bernyanyi dengan mu, apa kau tidak keberatan?"
Mendengar perkataan Mc itu secara reflek Zakra yang tengah berjalan terhenti dan melirik sinis Bima, "Apa?" tanya Bima dengan wajah polos.
Aly yang melihat Zakra dkk yang menaiki panggung kecil itu hanya terdiam dan mengangguk menanggapi Mc itu.
"Jika kau keberatan ka…"
"Kita mau nyanyi apa?" tanya Aly yang memotong perkataan Zakra.
Melihat keduanya berinteraksi membuat Bima gemas sendiri, 'Yuhuu kapal ku berlayarlah!' teriak Bima dalam hatinya.
Setelah acara band itu Bima langsung pulang, tetapi dia malah menuju apartemen bukan rumah. Saat dia akan turun, matanya menangkap buntalan kertas yang merupakan foto yang dia benci. Tapi merasa bersalah, Bima mengambil buntalan itu dan menaruhnya di saku jaketnya lagi. Pagi harinya Bima yang berangkat awal karena praktek pagi tengah berada di ruangannya sambil mengetik data pasien.
Klek.
"Bemz?" panggil Zakra yang memunculkan kepalanya saja, memastikan Bima di dalam.
Bima yang merasa di panggil hanya bergumam dan menatap sahabatnya itu heran. Zakra duduk di depan Bima sambil menyerahkan sebuah amplop, "Gaji gue?"
"Dih! Baca dulu deh~"
Bima membacanya dan terkejut bukan main, "Bentar!" Bima kembali membaca kertas itu, "Ini beneran?"
Zakra menaik turunkan alisnya dan tersenyum penuh arti, "Gokil sih ini! Tapi Purwokerto?"
"Santai, gue ada kenalan disana"
"Lah Aly gimana?"
"Dia yang ngajuin diri buat jadi dokter disana"
"Tapi dia kan masih anak baru?"
"Itu yang buat aku tambah kaget. Dia itu dokter Residen!"
"Ha?!"
Flashback end.
...~...
"Setelah itu mereka pergi dan kabarnya mereka berpacaran, tapi kabar buruk itu tiba-tiba menghampiri ku" Bima menatap sedih lantai. Sedangkan Feni hanya menghela nafas pasrah.
"Zakra pernah bilang kalian bertiga sahabat, dia sangat sedih saat kalian bertengkar" celetuk Feni sambil berdiri hendak meninggalkan Bima sendirian, "Dan saat itu sebelum Aly di culik dia bilang, "Jika saja kami tetap bersama" artinya permintaan terakhir dirinya adalah kau memaafkan sahabat kalian yang lainnya" ujar Feni yang benar-benar menghilang dari balik pintu.
Bima terdiam dan kembali mengingat percakapan terakhirnya dengan Zakra.
"Seandainya aku udah gak ada di dunia ini, tolong maafkan dia"
Seperti pemutar suara yang otomatis terputar, Bima hanya bisa menghela nafas berat dan membuka handphonenya yang menunjukan 3 orang pemuda berpakaian pendaki.
"Seandainya…kau tidak mengatakan itu, Fina masih ada sekarang" gumam Bima sambil meremas handphonenya, "Seandainya…aku tahu dimana kau sekarang" genggaman Bima mengendur genggamannya dan menghela nafas terdengar sangat lelah itu, membuat makhluk yang berdiri di belakang Bima menatap iba.
"Kau tetap ingin mendengarkan ku?"
"Katakan apa yang ingin kau katakan"
"Gadis itu dalam bahaya"
...****************...
__ADS_1