
...****************...
Arif berlari menuju Medicube dan bertemu dengan Alfi.
"Alf ke mess obat-obatan, ada pasien disana" ujar Arif yang langsung membuka kotak obat dan mencari anti-venom milik Ekgita, "Bawa ini"
Setelah ia sampai di Medicube, Arif langsung menyambar sebuah suntikan di atas troli peralatan lalu menyuntikan anti venom ke infus Ekgita. Suara nyaring dari EKG membuat Arif mendelik terkejut.
"Dok, pasien terkena serangan jantung" ujar Iza yang mengecek alat EKG.
Arif berusaha memompa jantung Ekgita. Miko yang melihat itu menjadi makin khawatir.
"Kenapa dia bernafas seperti itu?!"
Arif yang masih melakukan CPR menjadi kesal dan mendorong Miko, "Ini bukan bagian mu. Nabil bawa keluar Miko!"
"Tidak! Aku akan tetap disini" seru Miko yang menolak perintah Arif.
Arif menatap Miko, "Jangan menghambat kami. Pak" ucap Arif datar dan dingin.
Miko menatap Ekgita sendu lalu keluar dari Medicube bersama Nabil. Arif meminta Lilis menggantikan dia, sedangkan Arif mengambil suntikan lainnya. Namun saat dia akan menyuntikan obat itu, Iza berteriak lagi.
"Pasien mengalami gagal jantung!"
"Krisna!" seru Arif sambil menunjuk Defibrillator. Krisna yang paham langsung mengambil dua besi listrik itu pada Arif, "Tegangan 1. Kejut!"
Belum ada reaksi yang signifikan, lalu sekilas Arif melihat jam tangannya yang menunjukan waktu 10 malam tepat, ,"Tegangan 2, kejut!"
'Ayo Dokter Ekgi. Aly menyerahkan nyawanya untuk mu!' pikir Arif sambil mempersiapkan kejutan lagi.
"Tegangan tinggi, kejut!"
Tiiiiiiiitttt
Miko mendengar suara nyaring mesin EKG seketika menjadi lemas. Dia terjatuh di atas tanah, setetes air mata lolos dan mulai mengalir. Nabil yang melihat Miko hanya bisa menepuk pelan bahu Miko. Alfan baru saja tiba saat mesin EKG masih berbunyi nyaring.
Alfan menatap ruangan Ekgita berada, "Dokter Aly mempertaruhkan hidupnya untuk mu Dok. Kembalilah"
"Ekgita…" Miko menunduk terduduk bertemu pasa kedua kakinya dan mengelus punggung tangannya, "Kau harus kuat" gumamnya dengan bahu yang mulai bergetar, "Aku mencintaimu"
Nabil menatap Miko sendu dan Alfan berusaha menenangkan Miko dengan mengelus punggungnya pelan.
Deg…
"Dok, nadinya masih ada walau lemah!" ujar Lilis.
"Tegangan tinggi!" titah Arif sambil menggesekkan dua alas besi itu lalu di tekannya kembali ke dada Ekgita, "Kejut!"
Dep!
Tit…tit…tit
Miko mendongak saat mendengar suara EKG yang kembali normal. Miko langsung berdiri dana masuk kedalam ruangan Ekgita.
Arif menghela nafas lega, "Syukurlah kita tepat waktu"
Dag!
Miko masuk dengan tergesa-gesa lalu melihat keadaan Ekgita. Arif menatap Miko sendu lalu menepuk bahunya pelan.
"Kekasihmu itu orang yang kuat" ujar Arif lalu pergi meninggalkan Medicube, "Hubungi Krisna atau Ayda saat Dokter Ekgita sadar" ujar Arif pada Iza dan Nabil yang sedang berada di luar ruangan Ekgita.
"Dok" Alfan mendekati Arif, "Kapten menunggu anda" ujar Alfan yang kemudian hanya diangguki oleh Arif.
Mata Arif menjelajahi setiap sudut pengungsian. Sampai terakhir dia jatuh pada Alfan yang berada di depannya, "Kapten pasti menyuruh anda hal lainnya kan?"
Alfan terdiam sesaat karena terkejut dengan aura intimidasi milik Arif, "I…iya, saya permisi" pamit Alfan yang lalu pergi menjauhi Arif.
Melihat Alfan yang sudah menjauh, Arif mulai berjalan menuju mess obat-obatan. Saat dia sampai di depan pintu mess, Arif menghirup nafas panjang, lalu menghelanya kasar.
"Arsa, aku tahu masih di dalam diriku kan?" gumam ku sambil menekan kuat bagian jantungnya, "Jika iya…" Arif terdiam sesaat, "Bantu aku, untuk kali ini saja" lanjutnya sambil membuka pintu mess.
Di dalam mess Arif melihat Alfi yang sepertinya baru selesai memasang perban karet pada tangan Tyno. Arif menghela nafasnya sekali lagi.
"Alf keluarlah" titah Arif pada Alfi yang langsung di turuti oleh Alfi, "Jaga Ekgita, jika sadar hubungi Ayda atau Krisna" Alfi mengangguk lalu benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah keadaan mess terasa benar-benar aman, Arif mulai mendekati Tyno lalu menarik paksa baju Tyno sampai-sampai tubuhnya ikut terbangun karena tarikan itu, "Mengapa kau membiarkan mereka membawa Lysa?!" seru Arif yang sudah di penuhi oleh kemarahan.
"Maafkan aku" ucap Tyno lirih sambil melihat arah lain agar tidak melihat mata Arif.
"Maaf? Kau pikir Lysa itu mainan yang kau sukai lalu kau tinggalkan saat kau sudah bosan ha?!" seru Arif lagi dengan wajah yang mulai memerah karena menahan amarahnya.
Tyno mendorong tubuh Arif agar menjauh darinya, "Aly bukanlah mainan!" sentak Tyno balik dengan nada penuh penekanan, "Kau pikir aku tidak berusaha mempertahankan Alys?!"
Bahu Arif sedikit bergetar. Dia merasa tidak dapat menopang tubuhnya lagi. Arif memilih bersandar pada rak obat-obatan, "Saudaraku sudah mereka bunuh! Mereka merenggut satu-satunya keluargaku!" Arif bangkit lalu menyatukan tangannya, "Kumohon, selamatkan harta adikku"
Tyno terdiam cukup lama lalu menatap Arif dalam, "Mereka menginginkan kita berdua" celetuknya sambil menepuk bahu Arif, "Aku akan melapor pada pusat terlebih dahulu"
"Itu akan lama!"
"Tidak. Jika mereka menolak, kita berangkat" ujar Tyno dengan tatapan tajam, "Bisa bantu aku?"
Arif menatap Tyno dengan penuh curiga, "Apa?"
...~...
22.43
"Aku akan pergi sebentar, Rabbit ada disini" ujar Sakti yang baru saja mengikat Aly di sebuah kursi.
Bara tidak merespon dan Sakti langsung meninggalkan Bara bersama Aly. Dia duduk di meja lalu melihat Aly sesaat. Helaan nafas berat dia keluarkan lalu berjalan menuju keluar ruangan.
Tak.
Sebuah benda jatuh membuat Bara menjadi waspada seketika.
Srek.
Bara melihat kebelakang nya dan tak menemukan apapun disana. Dia hanya melihat Aly yang masih pingsan di bangkunya.
Srek.
Suara kali ini Bara kembali berbalik dan menemukan sesosok yang langsung menghantamnya hingga dia terbentur dinding di dalam ruangan dimana Aly di ikat.
"Uhuk!" bercak darah keluar dari mulut Bara, "Apa-apaan tadi?" gumamnya sambil membersihkan darah dari sela bibirnya.
Tap.
Seketika tubuh Bara terjatuh ke lantai.
Bara terbatuk karena cengkraman tadi, "Makhluk apa tadi?" gumamnya sambil mengusap lehernya karena cengkraman sosok tadi.
Bara melihat darahnya lalu tersadar akan sesuatu. Dia berjalan mendekati Aly lalu sedikit membungkuk, "Pasti sakit ya?"
22.54
"Nngh" eluh Aly yang mulai tersadar. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya, lalu matanya tidak sengaja menatap Bara yang berada di bawah. Aly menarik kakinya dengan kencang, "Akh…" rintih Aly yang merasakan kakinya yang sakit. Dia melihat kakinya itu, dan menatap heran dengan perban yang sudah terpakai di lukanya itu.
"Lihat, putri tidur sudah bangun" celetuk Bara yang bangkit lalu menyenderkan tangannya di bangku Aly, "Nyenyak?"
Aly menatap tajam Bara, "Lepaskan aku" ucapnya dengan nada ketus.
"Hoho santai nona muda. Mari berbincang sebentar, sampai menghabiskan waktu hidup anda" ujar Bara sambil duduk di atas meja, "Saya boleh bertanya?" tanyanya dengan nada bercanda, "Apa yang anda sukai dari Kapten?"
Aly tidak menjawab. Dia memilih melihat arah lain.
"Anda tahu" Bara mendekati Aly lalu mendekatkan dirinya dan Aly yang membuat jarak diantara keduanya hanya tinggal beberapa centi saja, "Anda sudah menerima orang yang berbahaya" celetuknya lalu berdiri tegak dan menatap Aly dingin dengan senyuman palsu.
"Apa maksudmu?" tanya Aly yang akhirnya membuka suara.
Bara kembali duduk di atas meja, "Kapten berasal dari pasukan khusus. Anda tahu tugas pasukan khusus?" tanya Bara yang mengambil pistolnya dari sisi kirinya, "Berani mengambil resiko apapun dari tugas yang diberikan" ucap Bara yang menjawab pertanyaannya sendiri, "Anda akan tahu, saat dia pergi tapi kemudian tak akan kembali" ujar Bara sambil memutari tubuh Aly.
"Kapten juga orang yang misterius bukan?" celetuk Sakti yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
Aly menyerit menatap Sakti yang memiliki luka yang mengerikan diwajahnya, "Sebenarnya apa tujuan kalian membunuhku?!"
Bara menatap Sakti yang tengah bersandar di tembok dekat pintu balkon, "Karena sebentar lagi kau tiada, mari aku buka sebuah rahasia" Sakti mendekati Aly lalu mendongakkan wajah Aly, "Kamila Dorri Kayana, kau mengenal nama itu?" tanya Sakti yang membuang wajah Aly ke kanan.
Aly menyerit. Dia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya. Mata Aly tiba-tiba membulat sempurna, "Istri tuan Lian Garai Arisakti?"
Sakti bertepuk tangan, "Coba kau tebak?"
__ADS_1
Nafas Aly terasa tercekat jika dia menghubungkan hal itu, "Ibu…Tyno?"
Sakti tertawa puas mendengar jawaban Aly, sedangkan Bara tersenyum miring, "Ralat, Ibu tiri" ujar Bara.
"Mari saya ceritakan sebuah kisah tragis" ujar Sakti yang duduk di depan Aly, "Kamila adalah mantan kekasih Ayahmu, Axelsen. Tapi bodohnya Kamila, dia bukan hamil anak Axelsen. Ayahmu marah lalu meninggalkan Kamila yang tengah hamil itu, dan di waktu yang tepat Axelsen di jodohkan dengan Ibumu" Sakti menghela nafas pelan, "Kamila yang menemui Axelsen guna mendapatkan belas kasih. Tapi yang dia dapatkan adalah hinaan yang menyakitkan dari Kakekmu, Aji Arikinan"
Aly menyerit dengan setengah cerita yang Sakti ceritakan.
"Kamila kehilangan bayinya saat Aji melemparnya keluar dari mansion Arikinan" lanjut Sakti sambil menyalakan rokoknya, "Demi balas dendam dia menipu Arisakti lalu menikahinya. Tapi saat dia melihat kekayaan Lian, Kamila tergoda untuk mengambil semua hartanya, sambil balas dendam pada Arikinan"
Bara berdiri dari atas meja, "Ingat kejadian 7 tahun lalu saat Aji kehilangan salah satu putranya?" ujar Bara sambil melempar rokoknya yang sudah habis ke dekat Aly, "Itu ulah Mifta dan Kamila"
Sakti tersenyum senang, "Karena Kamila menjanjikan upah besar, aku ikut mereka" celetuk Sakti sambil menghembuskan asap rokok ke Aly, "Dan kejadian 2 tahun lalu, adalah aku pencetusnya"
Aly semakin mendelik terkejut dengan semua benang merah yang mulau terhubung. Ekspresi Aly seketika berubah, "Pantas" gumam Aly yang menatap Sakti di depannya, "Kalian memang pantas disebut sampah" ledek Aly dengan wajah sinis.
"Brengsek!" umpat Sakti sambil memukuli wajah Aly hingga sudut bibirnya berdarah.
"Jaga dia, aku akan melapor pada Mifta" ujar Bara yang meninggalkan Sakti yang masih memukuli Aly.
Saat Bara meninggalkan ruangan itu, atmosfernya seketika berubah menjadi dingin dan sedikit mencekam.
"Saya ingin bertanya" Sakti mendekati Aly, "Dimana Mustika Segoro Kidul itu?" tanya Sakti yang mencengkram wajah Aly kuat. Aly diam seribu bahasa, "Ah bangsat!" umpat Sakti lagi sambil membuang wajah Aly.
Seulas senyum tipis terukir di wajah Aly, "Iblis ya?" ujar Aly sambil menatap Sakti tajam.
"Oh? Anda tahu?" tawa Sakti seketika lepas, "Bagaimana anda tahu? Anda bukan seorang dengan Indigo loh?"
Senyuman sinis terukir di wajah Aly, "Kata siapa?" ujar Aly yang terdengar meremehkan Sakti, "Kau bertanya tentang Mustika itu kan?"
"Maksudmu?"
"Aku yakin" Aly menghela nafas pelan, "Kau lemah sampai tergantung pada Mustika itu" kali ini Aly benar-benar memprovokasi Sakti.
"Kau memnag ingin mati sekarang ya?!" seru Sakti yang berniat memukul Aly lagi.
Dor.
"Kau sentuh dia maka kau akan mati sekarang, Sakti" celetuk seseorang yang berhasil mencegah Sakti.
Sakti tersenyum memprovokasi, "Wah, sang Hero telah tiba" celetuk Sakti sambil melihat jam tangannya, "Dan kau lebih cepat 1 jam ya, Tyno"
Tyno tidak menjawab dan malah menatap wajah Aly yang babak belur. Sakti melihat apa yang membuat Tyno kesal, "Ya daripada kami membunuhnya langsung. Lebih baik menyiksanya terlebih dahulu kan?"
"Akan ku balas apa yang sudah kau lakukan, Sakti!" ujar Tyno yang bersiap melawan Sakti dengan tangan kosong.
Bugh.
"Hanya ini saja?!" Bara terus memukuli Arif yang terus melakukan pertahanan, "Kau dapat membunuh Gani, artinya kau kuat!" ujar Bara yang terus menyerang Arif, "Atau kau hanya berpura-pura lemah, Dok?!"
Tring.
"Maaf Letnan, tapi saya tidak menemukan Kapten dimana pun" laporan Langit yang memang juga salah satu anggota pasukan khusus, "Kenapa anda mencari Kapten?"
Miko menatap kalung identitas Tyno dengan lekat-lekat, "Ada yang tidak beres. Tyno hanya akan beraksi saat yang berharganya di ganggu" celetuk Miko yang kemudian tersadar dengan apa yang barusan dia katakan lalu berlari menuju Medicube.
"Miko?" panggil Ekgita saat dia sedang berbincang dengan Alfi.
"Kau perawat Dokter Aly kan?" Alfi hanya mengangguk, "Dimana dia sekarang?" tanya Miko dengan dingin.
"Miko kau menakutinya"
"Jawab, dimana Aly?" tanya Miko lagi kali ini terdengar lebih halus.
Alfi terus diam sambil menunduk, "Sakti membawanya" jawabnya lirih tapi masih bisa di dengar Miko dan Ekgita.
Ucapan Alfi barusan membuat Miko dan Ekgita terkejut bukan main, "Jaga Ekgita sebentar" ujar Miko yang berlari keluar Medicube.
'Jangan bilang dia pergi sendiri!' pikir Miko sambil berlari dan mengambil htnya, "King pada Bloody!"
"Bloody disini, ada apa?"
"Dimana kau?!" seru Miko sambil menatap jajaran mobil jeep tentara, "Benar dugaan ku. Dia pergi sendiri lagi"
"Aku bisa bantu kau" celetuk seseorang dari arah belakang mobil jeep yang terpakir. Seorang pria dengan hoodie menutupi kepala dan seorang pria dengan topi serta pakaian serba hitam.
__ADS_1
"Siapa kalian?"
...****************...