
...****************...
Pagi hari Atha seperti biasa tengah mengerjakan tugasnya sebagai pegawai magang di perusahan kecil tempat dia praktek. Di dalam ruangannya hanya ada 3 meja, disana hanya ada dia dan temannya yang juga magang. Ruangan itu memang di khususkan untuk anak magang atau pkl saja.
Atha masih fokus pada pekerjaannya sampai teman seruanganya tiba-tiba harus izin karena dirinya tiba tiba merasa tidak enak badan. Merasa dirinya tengah sendirian Atha memasang earphonenya.
"Arya" panggil Atha.
"Nggih Raden"
Atha menjentikkan jarinya ke meja, "Saat aku akan pergi kemari, beberapa kali aku merasa seperti di ikuti makhluk. Tapi aku belum tau makhluk apa itu"
"Maaf Raden, saya sendiri juga kurang paham. Jika saya boleh bilang, sepertinya orang yang menaruh 'Pemanggil' itu masih mengawasi anda"
Merasa kesal Atha hanya bisa menyilangkan tangannya di dada, "Apa ada kemungkinan pengirim 'pemanggil ' itu lebih kuat dari ku?"
"Maaf Raden, benar"
"Sebenarnya 'Pemanggil ' itu apa? Aku memikirkan hal itu dari kemarin"
Arya melayang di depan Atha dan menunduk dalam, "Maaf Raden, mungkin ini akan jadi penjelasan yang panjang" Atha melayangkan tangannya tanda silakan, "Maaf, pemanggil itu sejenis dengan santet, dan pelet. Fungsinya pun sama yaitu untuk mencelakai orang orang yang mereka tuju. Tapi untuk 'pemanggil' ini, dukun atau penyimpan alat ini adalah seorang yang sudah memberikan jiwanya pada Iblis. Apalagi yang kemarin datang itu bukan setan abal-abal, dia adalah pemimpin setan. Jadi kemungkinan yang memanggilnya memang sudah bersekutu dengan Iblis"
Atha menopang dagunya lalu menutup matanya, "Mantra itu, apa maksudnya? Kenapa kau seperti sangat terkejut saat aku mengucapkannya?"
Arya tersenyum, "Itu adalah mantra penghancur. Seharusnya anda tidak menggunakan disaat anda belum sepenuhnya menguasai kemampuan anda. Maaf" ujar Arya sambil menunduk.
"Jadi itu alasan aku tidak bisa mengucapkan kelanjutannya?", Arya mengangguk tanda mengiyakan perkataan Atha.
Atha mengambil handphonenya dan menelfon Iyas yang kebetulan juga sedang rapat di salah satu cabang Kian. Corp di Purwokerto, "Hallo Om, nanti bisa nyusul?"
"Nyusul kemana? Om nanti gak bisa nganterin Sebastian juga"
"Ke pemakaman Umah Raga?"
"Pemakaman Umah Raga? Ngapain?!"
Atha menyerit heran dengan perubahan suara Iyas, "Kak Alys yang pengin kesana. Kenapa Om kedengaran kek panik?"
"Siapa yang panik! Om cuma kaget aja!"
"Aku cuma tanya, datang jam 1 an, dan ajak orang bernama Bima itu"
"Tau darimana kau soal Bima?"
Atha tidak langsung menjawab dia menatap buku yang Zakra berikan dalam-dalam, "Bukan urusan Om juga kan?"
"Ck"
Tut
Atha menghela nafas kasar. Sebuah keputusan berat akhirnya dia ambil. Keputusan besar dimana akan mengubah kemampuannya menjadi terkuat dalam keluarga Arikinan.
...~...
Sedangkan pagi ini Aly dan Alfi langsung mendapatkan pasien yang harus mendapatkan penanganan operasi segera. Aly meregangkan setiap ototnya dan menguap yang kelima kalinya pagi ini.
Alfi memperhatikan Aly yang terlihat sangat lelah, "Kau tidak tidur lagi?" tanya Alfi yang berjalan di belakang Aly.
"Tidak, Atha nyita obat ku"
__ADS_1
"Bagus deh" ujar Alfi yang di jeda, "Jadi kau gak nekat buat minum lebih"
Aly berbalik dan memukul pelan bahu Alfi, "Kenapa kamu dukung Atha sih?" kesal Aly yang mengerucutkan bibirnya.
"Ya habis kau biasanya minum melebihi dosis. Nanti kau OD kita yang repot tau"
Aly menatap tajam Alfi kemudian menghela nafas pasrah, "Oke, sorry"
Alfi menggeleng pelan lalu kembali mengikuti Aly dari belakang.
"Oh iya nanti aku izin bentar, ada urusan"
"Urusan apa?"
"Itu orang bule yang itu akan balik hari ini, aku akan mengantarnya ke stasiun. Siang ini aku ada tour pasien kan sama koas, bisa diun…?" Aly terdiam saat berbalik. Kosong tidak ada seorang pun disana, "Alf?" panggil Aly lirih, "Alf?" panggil Aly lagi yang sekarang naik satu oktaf, "Jangan bercanda deh Alf?"
Tap.
Suara langkah itu membuat Aly terdiam sesaat dan melirik ke belakangnya. Dia menyibakkan sedikit jas Dokternya. Dengan perlahan dia menggapai sisi pinggangnya. Dengan sekali sentak dia langsung menyerang seseorang di belakangnya. Seorang pria dengan pakaian kaos hitam yang di tutupi oleh jaket hitam juga. Dia memakai topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Serangan Aly bisa di tepis olehnya. Aly kembali menyerang kini di kedua tangannya sudah memakai knuckle. Pria itu menatap tangan Aly yang memukulnya lagi. Dia hanya bisa menghindari segala bentuk serangan dari Aly. Sampai akhirnya dia tersudut dan terjebak oleh tembok. Sebuah seringai muncul di wajah pria itu.
Pria itu mengambil tangan kanan Aly yang baru saja akan memukul wajah pria itu. Pria itu menarik tangan itu sehingga Aly mendekat padanya. Dengan mudah dia memutar tubuh Aly sehingga Aly lah yang terkunci di tembok. Pria itu mengangkat satu kakinya untuk mengunci kaki Aly. Merasa posisinya sedikit ambigu Aly hendak melawan pria itu lagi. Tapi gerakannya terhenti saat pria itu membuka topinya.
Mata hijau Aly menatap mata hitam legam yang sama saat dia akan jatuh di bandara. Mata yang saat itu terlihat acuh dan dingin kini menatapnya dengan lembut dan penuh kerinduan disana. Senyuman pria itu membuat siapapun yang melihatnya akan merasa meleleh.
"Kapt!"
"Dok?!"
...~...
Aly sekarang menatap bubur yang baru saja dia pesan lalu berganti pada dua orang di depannya. Terlebih pada orang yang duduk tepat di sebrang mejanya. Aly menatap pria berpakaian serba hitam itu dnegan tatapan kesal. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum ke arah Aly.
Aly mengedikan bahunya lalu mengaduk buburnya. Selama beberapa menit hanya ada keheningan diantara keempat orang disana. Tak ada yang membuka suara sampai Alfi akhirnya bertanya.
"Jadi kenapa kalian ada disini?"
Alfan menatap Alfi dan menaruh sendok bekas buburnya terbalik karena ia sudah selesai makan, "Kami sedang melatih anak-anak baru di Cilacap" jawab Alfan sambil tersenyum dan meraih gelas minumnya.
Aly berhenti makan sesaat dan menatap pria di depannya yang tak lain adalah Tyno, "Bukannya kau sedang cuti?"
Alfan menatap Aly dan Tyno bergantian, "Kok Dokter tau?"
Aly memutar matanya malas, "Dokter Lio yang bilang" jawab Aly acuh dan kembali melanjutkan sarapannya.
Tyno meminum teh hangat yang ia pesan, "Aku tidak ikut melatih, aku hanya mengawasi"
"Maaf tapi bukannya yang di Nusa kambangan itu, tempat pelatihan Pasukan Khusus?"
Alfan menatap Tyno yang menatap Alfi tajam, "Memang hanya untuk pasukan khusus? AL juga berlatih disana Perawat" jawab Tyno dingin sambil kembali meminum tehnya.
'Hik, kau benar dia dingin dan menyebalkan' pikir Alfi yang di baca Aly dan di balas senyuman tipis saja.
"Sebenarnya kalian ngapain pagi-pagi di rumah sakit?" tanya Aly yang membalikkan sendoknya tanda dia sudah selesai memakan buburnya.
"Jen…" sebelum Alfan berbicara lagi, Tyno sudah menendang kakinya dengan cukup keras.
"Saudaraku kebetulan sedang ada yang dirawat disini" ujar Tyno sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sakit Kapt" bisik Alfan pada Tyno sambil menahan sakit pada tulang keringnya.
"Makannya diem aja!" gertak Tyno sambil menekan ujung kaki Alfan yang membuat si empu menahan sakitnya.
"Kau tak apa?" tanya Alfi pada Alfan yang terlihat menahan sakit.
Alfan hanya dapat menggeleng sambil tersenyum menahan sakit.
"Kau orang sini kah?" tanya Aly lagi sambil menatap Tyno dalam.
Tyno kembali tersenyum dan menggeleng, "Ah iya kau selesai jam be…"
Getaran handphone Aly membuat Tyno berhenti bicara, "Hallo…Gimana?!…Baik saya segera kesana" Aly mematikan handphonenya lalu meminum tehnya, "Alf kita harus kembali. Kalian terimakasih" ujar Aly yang langsung berlari meninggalkan warung bubur itu.
"Aku duluan ya, terimakasih. Al tunggu" teriak Alfi yang kemudian menyusul Aly.
"Aku tunggu kau di kantin ya!" teriak Alfan yang di balas tanda oke oleh Alfi. Alfan hanya tersenyum senang sambil berjingkrak kegirangan. Tyno yang memperhatikan dirinya hanya bisa menatapnya heran, "Kenapa? Oh iya, boleh pinjam motor?"
Tyno menyerit heran namun kemudian dia mendorong kunci motornya ke arah Alfan dan terima langsung oleh Alfan, "Trims Kapt"
Tyno memutar matanya malas. Handphone yang dia pegang tiba-tiba bergetar, "Hallo…Iya saya sendiri…Baik saya segera kesana" Tyno tiba-tiba bangkit dan menaruh uang 100 ribu di meja, "Kita harus kembali sekarang" ujar Tyno yang langsung meninggalkan warung itu.
Alfan merasa seperti deja vu tetapi dia menggeleng pelan untuk menyadarkan dirinya, "Bentar Kapt! Pak uang kembaliannya untuk bapak saja" ujar Alfan yang menyusul Tyno.
Saat berada di jembatan Tyno tidak sengaja menabrak bahu seseorang, tapi karena terburu-buru Tyno tidak meminta maaf dengan benar. Alfan yang melihat itu meminta maaf mewakili Tyno. Tetapi sedetik kemudian Alfan berhenti dan berbalik mencari orang tadi.
"Wah, aku gak salah liat. Aku yakin itu" gumam Alfan yang kemudian berlari menyusul Tyno.
Aly langsung menuju IGD dimana sudah ada Arif dan Sita yang langsung berjalan bersama Aly, "Keadaan terakhir?" tanya Aly buru-buru yang langsung masuk kedalam ruang periksaan.
"Luka pisau yang bertambah, dan bekas luka yang terbuka. Luka tusuk sepertinya menjadi semakin dalam" ujar Sita yang memberikan clipboardnya pada Aly.
"Luka tembaknya juga terbuka" timpal Arif juga, "Anehnya ada kebocoran arteri di paru-paru"
"Terus kenapa kalian masih disini! Siapkan ruang operasi!" sentak Aly yang langsung di lakukan oleh beberapa perawat dan Sita. Tiba-tiba Aly terdiam sesaat, "Arif, tadi Sita bilang lukanya bertambah?" tanya Aly pada Arif yang akan bersiap dengan operasi itu.
"Iya" jawab Arif ragu yang kemudian mendelik terkejut.
Aly berlari ke arah resepsionis IGD, "Kau hubungi keamanan, minta CCTV lorong VVIP dan mengarah ke ruang nomor 6" pinta Aly yang masih di tatap bingung oleh Perawat penjaga itu, "Cepat!" gertak Aly yang langsung dilakukan oleh Perawat itu.
"Al, tenang lah" ujar Arif yang berusaha menenangkan Aly.
"Alf, biodata pasien" ujar Aly yang mempertanyakan biodata Pasien saat perjalan untuk mempersiapkan diri untuk operasi itu.
"Galang Adipura Arisakti, umur 48, pekerjaan Tentara"
Aly berhenti sesaat saay mendengar perkataan Aly, "Arisakti?" gumamnya yang menggeleng pelan, "Kau bilang Tentara?" Alfi mengangguk pelan.
"Saudaraku kebetulan sedang ada yang dirawat disini"
Perkataan Tyno seketika berputar di kepalanya, "Arisakti? Tentara? Saudara?" Aly menggeleng keras, "Suspicious emang"
Tyno baru sampai ruang IGD langsung menuju meja resepsionis, "Pasien bernama Galang Adipura Arisakti, ada dimana?" tanyanya yang tergesa-gesa.
"Baru saja masuk ruang operasi"
Tyno mengebrak meja resepsionis cukup keras, lalu berlari menuju ruang tunggu operasi sambil menelfon seseorang.
"Les, bad news…" belum dia menjelaskan apa yang terjadi sambungan telfon miliknya langsung terputus. Kemudian dia kembali menelfon seseorang, "Budhe, paman masuk kamar operasi lagi"
__ADS_1
"Kapt" panggil Alfan yang berhasil menyusul Tyno ke ruang tunggu operasi, "Saya seperti melihat Bara tadi"
...****************...