
...****************...
Ekgita tengah berada di tenda darurat dan Aly langsung memeriksa keadaan Ekgita.
"Apakah ada nyeri?" Ekgita mengangguk pelan, "Keringat dingin, nafas yang cepat dan demam tinggi" gumam Aly sambil melihat termometer yang baru saja dia gunakan.
Aly melihat setiap bagian tubuh Ekgita dan menemukan dua titik berdarah yang sudah mulai membiru di kaki sebelah kirinya.
"Alfi, siapkan aspirin dan anti-venom" titah Aly yang langsung diangguki Alfi, "Iza,bawakan aku air hangat dan antibiotik"
Saat Aly tengah memasang bidai pada kaki Ekgita,Miko masuk dan langsung mendekati mereka. Aly sempat terkejut bahkan hampir terjatuh karena dorongan Miko. Untung dia menabrak tubuh Tyno yang baru saja masuk.
"Ekgi!" panggil Miko dengan khawatir, "Ada apa denganmu?"
"Miko" panggil lirih Ekgita.
"Dia terkena racun neurotoksin" ujar Aly sambil berusaha tenang, "Melihat gejala Ekgi, racunnya sudah mulai menyebar" lanjut Aly yang sebenarnya ada nada ragu disana.
Miko berbalik dan menatap Aly terkejut sedangkan Tyno menariknya agar lebih dekat supaya mencegah apa yang akan Miko lakukan.
"Dokter!" panggil Iza dan Alfi bersamaan.
"Anti venom nya tidak ada!" ujar Alfi dengan tergesa-gesa.
"Ha?!" Aly menghela nafas kasar, "Benar, ambil antibiotik dan anti tetanus"
"Apa yang terjadi?" tanya Miko yang di geser oleh Aly.
"Ini antibiotik anda" ujar Alfi.
"Dokter!" seru Miko agar Aly menjawab.
"Lebih baik jika kau tenang dulu, ini bukan bagian kita" celetuk Tyno sambil berusaha menenangkan Miko.
"Kita harus bersihkan lukanya, jangan gunakan alkohol ataupun air panas"
"Kenapa kau tidak membuka lukanya dan menyedotnya keluar?" tanya Tyno tergesa-gesa.
"Itu hanya akan membuat pendarahan. Kapan dia tergigit?"
"Dia dibawa kesini saat kita kembali tadi, pukul 18.10"
Aly terdiam sesaat laku mencatat sesuatu di handphonenya, "Sudah lewat 5 menit" gumam Aly sambil menghela nafas berat, "Berarti…kita perlu anti venom dalam waktu 4 jam dari sekarang"
"Maksudmu?" tanya Tyno yang menyerit bingung.
"Kita belum ada anti venom disini. Jadi kita perlu kiriman daei pusat. Tapi batas waktunya hanya sampai jam 10.00, selama itu kita harus menghalau racunnya ke pembuluh darah. Jika kita terlambat, nyawa Ekgita…tidak akan selamat" jelas Aly dengan nada serius.
"Apa kau bilang?!" Miko menatap Aly tidak percaya, "Kumohon, selamatkan dia" Miko menatap Aly dengan tatapan sendu.
"Miko…keluarlah" ujar Ekgita dengan lirih.
Miko menggeleng lalu menatap Ekgita lekat lekat dengan tatapan penuh kekhawatiran disana, "Tidak…Aku tidak akan meninggalkan mu. Untuk kedua kalinya"
Ekgita menurunkan gangan Miko yang ada di dahinya lalu menggenggamnya, "Dan…aku…tidak akan mem…buatmu khawatir…lagi" Miko terdiam sambil menyeka keringat yang bercucuran karena menahan nyeri, "Seka…rang per…gilah" Ekgita kembali menyingkirkan tangan Miko.
"Ekgi!" seru Miko tegas, "Cukup, sekarang jangan bergerak, dan biarkan aku tetap disisi mu"
"David sudah berangkat dok" ujar Iza yang memberi laporan pada Aly.
"Semoga bisa dateng lebih cepat"
__ADS_1
Tiba-tiba Ekgita terkejang, "Nabil ambilkan aspirin! Kalian keluarlah!" seru Aly pada Miko dan Tyno.
Miko merosot ke tanah sesaat dia dan Tyno berada di luar tenda. Tyno menepuk pelan bahu Miko.
"Siap, lapor medicube sudah tiba" lapor Alfan yang memberitahu jika medicube tim medis sudah tiba.
Tyno menepuk bahu Miko lagi kali ini lebih keras, "Aku harus urus hal lainnya, Alfan katakan pada Aly jika medicube sudah tiba"
"Siap"
...~...
20.00
Miko terus memegang tangan Ekgita yang terasa dingin, tangannya yang bebas juga terus mengecek panas tubuh Ekgita, dari dahi sampai kedua sisi lehernya. Miko terus merasa was was karena panas Ekgita yang semakin tinggi dan juga waktu yang menipis.
"Miko" panggil Ekgita lemah, "Kembalilah"
Wajah Ekgita terlihat pucat bahkan kantung matanya juga terlihat memerah dan membengkak.
Miko hanya diam dan menatap Ekgita dalam, "Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Miko sambil menggenggam tangan Ekgita dengan kedua tangannya.
"Dingin…juga sakit" jawab Ekgita yang juga menatap mata Miko dengan sayu, "Tapi ada…satu hal…yang paling menyakitkan. Saat kau…meninggalkan ku" ucapnya sambil terkekeh.
"Maaf" sesal Miko, "Seharusnya saat itu aku tidak perlu kembali ke Jakarta" ujar Miko dengan penuh sesal, "Aku pasti menyiksa mu?"
"Sangat" balas Ekgita pelan tapi terdengar sangat menusuk bagi Miko, "Tapi…semua juga salahku. Aku…pergi tanpa…mencari kejelasan dari…mu terlebih dahulu. Aku memang egois kan?…aku anggap ini sebagai karma ku…Jika ku meninggal…setidaknya kau tahu…aku sudah memaafkan mu"
Miko menggeleng pelan dan mengeratkan genggamannya, "Jangan berbicara seperri itu" ujarnya tegas.
Ekgita menatap langit-langit medicube, "Terkadang…aku berfikir…apa aku harus sekarat…dulu baru…bisa mendapatkan perhatian mu?" Ekgita menatap Miko yang tertegun dengan perkataannya barusan.
Mendapat perlakuan tak terduga itu Ekgita menitikkan air matanya lalu mengangguk pelan.
"Ekgi, panas mu masih terus naik?" tanya Aly yang baru saja masuk kedalam medicube bersama Alfi.
Aly mengeluarkan termometer tembaknya lalu melihat angka suhu tubuh Ekgita. Melihat itu Aly menggigit bibir bawahnya pelan lalu mengecek detak jantung dan tekanan darah Ekgita, "Kau bisa minum obat penambah darah kan?" tanya Aly yang diangguki pelan oleh Ekgita, "Alfi minta tim dapur memasak bubur untuk Ekgi lalu bawakan antibiotik dan penambah darah"
"Apa aku akan…tetap hidup?" tanya Ekgita pelan.
Aly hanya diam sambil menatap Ekgita dalam, "Dokter hanya bisa berusaha, sedangkan hasilnya tergantung yang diatas"
Miko menunduk dalam setelah perkataan Aly tadi sedangkan Ekgita menatap Miko sendu.
"Aku permisi dulu. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku" pesan Aly pada Miko.
Miko mengangguk pelan walah masih menunduk. Setelah Aly keluar Miko menatap Ekgita sendu, "Dokter Aly benar. Kau akan tetap bersamaku dan kita akan terus bersama" celetuk Miko sambil mencium punggung tangan Ekgita sambil memejamkan matanya.
Ekgita tersenyum lembut, setitik air mata kembali terjatuh, "Iya, aku akan tetap bersamamu"
Miko menyembunyikan wajahnya di balik genggamannya itu. Getaran pelan pada bahu tegap Miko membuat Ekgita tahu jika pria itu tengah menangis tanpa suara.
...~...
Jakarta, 20.30
Drrtt…drrtt…drrtt
Getaran handphone yang berada di atas meja besar membuat si empu langsung mengangkat handphonenya.
"Hallo Ama, ada apa?"
__ADS_1
"Papa! Atha kabur!"
Aji bangkit dari kursi kebesarannya lalu keluar dari ruang kerjanya. Pintu sebuah kamar ia buka kasar.
"Ama baru saja telfon" sang pemilik kamar menyerit heran dengan mimik wajah Aji, "Atha kabur dari rumah sakit"
"Papa yakin?" Aji mengangguk pelan, "Aku juga gak yakin anak itu kemana"
"Kau lihat dia aneh atau tidak akhir-akhir ini?"
Iyas terdiam sesaat lalu menghela nafas panjang dengan ringan ia membanting tubuhnya ke atas kasurnya, "Udah lah Pa, biarin aja. Anak dah gede juga"
Aji menggebrak meja di sampingnya dengan keras, "Atha berbeda darimu!"
"Memang" Iyas bangkit lalu berdiri di depan Aji, "Maka dari itu, biarkan dia mencari pengalaman baru"
Aji mengepal kuat lalu menghela nafas kasar, "Gendr…"
"Gak usah panggil mereka" ujar Iyas sambil bermain dengan handphonenya, "Fox laporan" celetuk Iyas tiba-tiba sambil berdiri mendekati Aji, " Kita kehilangan 2 koper"
"Maksudmu?"
Iyas tersenyum miring, "Wah. Dia memang sulit di tebak kan?"
Aji menatap Iyas dengan tatapan khawatir, "Keknya Papa harus kirim kamu ke psikiater"
"Aku gak gila Pa!"
...~...
Donggala, 21.33
Tyno tengah memperhatikan semua anggotanya bekerja. Tiba-tiba Alfan datang dan memberi hormat.
"Bagaimana keadaan tanah?" tanya Tyno tanpa melihat Alfan.
Alfan menurunkan hormatnya, "Tanah masih terlihat labil tapi tidak akan terlalu besar seperti sebelumnya" jawab Alfan, "Kapt, boleh saya bertanya?"
"Kenapa?"
"Apa Afrizal belum ada kabar?"
Tyno terdiam cukup lama lalu menghela nafas berat, "Dia sudah disini katanya, tapi karena menghilangnya dia sampai 3 hari, sebagai hukuman dia masih di pusat komando"
Alfan menghela nafas lega, "Saya sempat takut jika Afrizal juga seperti Sakti dan Bara"
"Besok, saat kita kembali ke Jakarta. Kolonel akan mengumumkan anggota baru kita" ujar Tyno sambil terus memperhatikan kinerja bawahannya, "Oh iya, apa sinyal dan listrik sudah bisa di akses?"
"Listrik masih di usahakan, untuk sinyal beberapa sudah bisa di akses" jawab Alfan sambil memasang wajah berfikirnya.
Tyno langsung mengambil handphone dari dalam saku belakangnya, "Sinyal ku sudah ada"
Alfan menyerit bingung saat melihat kebelakang Tyno, leboh tepatnya arah medicube, "Kapten tidak menemani Dokter kesayangan anda?"
"Dia sibuk, aku gak mau buat dia terganggu"
"Tapi sepertinya dia sedang mencari udara segar" celetuk Alfan sambil menunjuk kearah Aly yang tengah berjalan menjauhi medicube, "Anda yakin gak mau menemaninya? Dokter Aly cantik, pintar, incaran banyak orang loh"
Tyno tersenyum tipis, "Jaga yang lain dulu, aku ada sesuatu yang penting lainnya yang harus di jaga"
...****************...
__ADS_1