Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 21


__ADS_3

...****************...


Lombok, 7 Agust


Aly yang sedang mendata obat-obatan terkejut sebuah suara benda terjatuh dan tak sengaja melihat seorang berpakaian tentara duduk lemas di tanah dekat dengan box berisikan obat-obatan penting. Aly mendekati tentara itu, tapi langkahnya berhenti saat suara berat menahan sakit menghentikan langkahnya.


"Satu langkah lagi…kau bisa mati Dok"


Aly mengerjapkan matanya, dia bimbang. Tapi dia tetap mendekati tentara itu dan berjongkok di dekatnya. Aly melihat darah yang merembes dari pakaian tentaranya, saat Aly akan berbicara tentara itu kembali menginterupsinya.


"Diam" ujar Tentara itu lemah, "Jangan peduli…"


"Tidak, saya Dokter dan anda terluka" potong Aly sambil menyentuh luka Tentara itu.


Tapi tentara itu malah mendorongnya, "Menyingkir" gertak tentara itu berusaha berdiri.


Tapi keseimbangannya tiba-tiba hilang dan akan terjatuh. Seseorang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Aly membawa tentara itu duduk di sebuah kursi plastik.


"Saya diam…setelah saya mengobati anda"


Tentara itu menatap tajam Aly, tetapi yang di tatap juga tidak kalah tajamnya. Tentara itu menghela nafas pasrah dan membuat Aly tersenyum.


"Tunggu saya akan ambil peralatan dulu"


Tentara itu melihat kepergian Aly.


"Padahal…dia…sedang terancam" gumam Tentara itu sambil membuka pakaian tentaranya dan kaos hitamnya. Sebuah perban terlihat berwarna merah dengan darah yang masih mengalir, "Sakti sialan!"


Aly menjahit luka tentara itu perlahan dan menutupnya dengan kasa steril.


"Jangan banyak bergerak dulu" ujar Aly sambil membereskan peralatannya sesaat dia selesai, "Ini obat penambah darah, agar anda tidak drop"


"Terimakasih, Dok" ujar Tentara itu lirih.


"Sama-sama. Saya permisi dulu" pamit Aly yang membawa peralatannya.


Tentara itu menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit diartikan, "****!"


...~...


Hari berganti siang, tapi entah rasanya Aly sangat waspada. Seperti ada yang memperhatikan gerak geriknya. Aly menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali memeriksa pasiennya dalam rangka pemeriksaan rutin. Semenjak gempa kemarin, korban kembali bertambah. Hal itu yang membuat para Dokter dan Tentara kembali sibuk.


"Dokter Aly" seseorang memanggil Aly saat dirinya baru selesai memeriksakan pasien terakhir.


"Dokter Anji, ada apa?" tanya Aly ramah.


Tatapan Anji terlihat gusar, "Apa saya bisa seperti kapten?" tanya Anji lirih.

__ADS_1


Aly mengerjapkan matanya heran, "Maksudnya?"


Anji menghirup udara rakus, "Saya mencintai anda"


Aly mendelik terkejut, "Ha?"


"Apa saya bisa seperti kapten yang mencintai anda?"


"Maaf Anji" Aly mengeratkan genggamannya, "Tapi saya…" bayangan Zakra membayangi dirinya, "Tidak, begini saja" Aly berdiri dan tersenyum, "Jika anda bisa membuat saya jatuh cinta pada anda sebelum saya kembali, mungkin saya bisa memikirkannya lagi" jelas Aly yang kembali tersenyum, "Tapi jika tidak. Saya mohon lupakan saya. Saya permisi" lanjut Aly yang kemudian meninggalkan Anji.


Anji masih terdiam mematung, "Tapi lebih baik saya mencintai anda dalam diam" gumamnya sambil berbalik dan meninggalkan tenda pemeriksaan.


...~...


Aly tengah makan malam dengan teman-temannya sampai sebuah gemresak htnya membuatnya tidak nyaman. Saat dia hendak mematikan htnya sebuah panggilan terdengar.


"Beauty, disini Pearl. Mayday!"


Aly POV


Panggilan itu? Itu isyarat! Aku yang tengah makan bersama yang lain langsung pergi tanpa berpamitan. Aku berlari kearah tenda Langit dirawat. Sesaat aku sampai, aku bisa liat Lio, Cecil dan Ekgita berusaha untuk menenangkan Langit yang seperti saat kemarin. Kali ini sasaran Langit adalah Lio.


Aku mendekati Langit dan merebut kalung ku dari tangan Lio. Aku mengeluarkan mata pisau kecil dan menusukkannya di jari ku hingga berdarah. Darah itu mengalir mengenai liontin dan saat itu juga Langit kembali pingsan.


"Langit!" teriak Ekgita yang kemudian memeriksa keadaannya, "Gawat" aku ikut memeriksa keaadannya.


"Tidak" ujar Lio yang dibantu berdiri oleh Cecil, "Jika kau melakukan itu maka kau harus berurusan dengan Komandan kami" jelas Lio yang terlihat masih kesusahan bernafas.


Aku melihat Ekgita dan Langit bergantian, "Kau Dokternya. Kau yang harus memilih"


Ekgita sedikit terkejut. Dia menatap tanah pijakannya lama, "Cecil Lio, siapkan operasi. Aly ikut aku"


Aku mengikuti Ekgita yang ternyata ke tenda informasi milik tentara. Di sana terdapat Alfan dan Afrizal serta beberapa tentara lainnya, salah satunya pria yang aku temui tadi pagi. Aku tersenyum saat pria itu menatapku.


"Mana Tyno?" tanya Ekgita pada Afrizal yang memang sudah tugasnya jika Miko tidak ada maka orang yang akan dicari saat Tyno tidak ada adalah dirinya.


Afrizal menghela nafas berat, "Gimana ya aku bilangnya?" ujarnya sambil berdecak pinggang.


Aku menyerit dan membaca pikiran Afrizal, "Kapten sedang pergi menemui komandan. Tentang Langit" bisik ku pada Ekgita.


Ekgita menyerit dan menggebrak meja di depannya, "Dengar. Aku akan mengoperasi Langit, jadi kalian gak usah ikut campur" ujar Ekgita yang berbalik untuk meninggalkan orang-orang itu.


"Kau tidak bisa melakukannya" celetuk seseorang dari arah pintu masuk.


"Kau gila?! Kau ingin mengorbankan nyawa teman mu?!" seru Ekgita yang berusaha memukul pria itu, tapi dengan mudah di hentikan oleh pria itu.


"Kau yang gila! Kau tau jika kita mengoperasinya sekali lagi, bisa-bisa Langit kehilangan nyawanya" serunya yang membuat ku mendelik terkejut.

__ADS_1


Aku melihat hasil.kesehatan Langit yang Ekgita bawa tadi, "Tapi jika kita melakukan tindakan sekarang bisa-bisa nyawanya juga hilang!"


"Cukup kalian berdua!" ujarku memisahkan dua makhluk berbeda gender itu, "Kita harus lakukan operasi" aku menyerahkan data milik Langit pada pria di depan ku, "Gak ada waktu lagi"


"Hey Ekgita" panggil pria itu yang sedikit bergeser dari posisi berdirinya, "Apa kau bisa menyelamatkannya?"


Ekgita menatapku dan aku hanya tersenyum, "Kenapa menatapku begitu?" tanyaku polos.


"Haihh, tidak" jawab Ekgita yang membuatku menatapnya terkejut, begitu juga semua orang yang ada di sana, "Aku tidak mungkin bisa" lanjutnya yang terdengar pasrah, "Tapi Dokter Aly bisa kan?" tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Ha?"


"Kau Dokter khusus, jadi…"


"Ekgita yang benar saja!" gertak pria di depan kami, "Dia bukan bagian dari kita!"


Aku menatap sekeliling, benar apa yang di katakan nya. Aku bukan siapa-siapa disini. Tapi jika Langit dibiarkan maka…


"Aku akan mengoperasinya" ujarku penuh kenyakinan, "Jika kita menunggu lebih lama lagi, maka nyawa Langit terancam"


Pria di depan ku menatap sekelilingnya. Tatapannya berhenti lurus menatap Alfan dan Afrizal. Kedipan matanya seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Apa kau yakin?"


"Seharusnya memang bisa di…"


"Aku butuh jawaban pasti dari seorang Dokter"


Aku menatap pria itu dalam, "Yakin Kapten"


Althyno menghela nafas kasar dan mendekati meja yang terdapat beberapa alat komunikasi di sana.


"Disini Big Boss" suara gemrusuk terdengar dari radio itu.


"Iya, Big Boss ada apa?"


"Maafkan saya. Saya akan melanggar perintah anda"


"Ha?! Apa maksudmu?"


"Langit perlu di operasi dan sekali lagi maafkan saya" Tyno menutup panggilan itu dan menyerahkan htnya ke Alfan, "Ayo" ujarnya yang membuat kami mengikutinya.


Aly POV end.


Sttt "Hentikan Kapten kalian sekarang juga!"


"Baik"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2