Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 27


__ADS_3

...****************...


Bandung, 13 Agust


09.53


Di sebuah tempat, para tentara muda tengah berlatih untuk meluncur. Seorang pelatih berpakaian Tentara dengan kacamata tengah duduk di bahu dua Tentara muda yang berbeda. Pelatih itu menghela nafas pelan saat seorang tentara muda gagal mendarat saat meluncur.


"Kau berniat masuk Tentara atau tidak?!" sentak pelatih itu, "Turun!" Pelatih itu memukul pelan kepala dua Tentara muda yang menggendongnya. Pelatih itu meminta Tentara muda yang dia gunakan bahu kirinya untuk squad jump, "Push Up" ujar Pelatih itu pada Tentara muda yang gagal tadi.


"Siap!"


Setelah melakukan squad jump dan push up mereka ke posisi yang berbeda. Sang Tentara yang gagal tadi bahunya menjadi tempat duduk pelatih itu, sedangkan yang melakukan squad jump masuk kedalam barisan.


"Setelah naik pangkat kau menjadi ganas ya, Miko" celetuk seorang Tentara lainnya yang memiliki badan sedikit berisi.


Miko tersenyum tipis, "Prajurit selanjutnya!"


"Makin sombong dia" bisik seorang Tentara yang berdiri di samping Tentara tambun itu.


"Biarkan dulu saja. Dia memang memiliki pangkat yang sedikit rendah dari kita, tapi prestasinya lebih tinggi dari kita" balas Tentara tambun itu.


Setelah Tentara muda turun dan melakukan apa yang Tentara lain lakukan, Miko menghela nafas kasar, "Selanjutnya!"


"Trainee pemberani siap meluncur!" mendengar suara yang dia kenal, Miko langsung mendongak kearah flaying fox berada, "Meluncur!" 


Senyum tipis terukir di wajah Miko, "Turunkan aku" titah Miko pada 2 Tentara muda yang menompangnya.


Seorang laki-laki meluncur dengan penuh kharisma lalu mendarat tepat di dalam bangunan yang di jadikan tempat save untuk latihan meluncur itu. Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan memberikan tanda ok dengan jarinya, "Jangan terlalu banyak gaya, turun!" titah Miko yang  di balas tanda jempol oleh sang laki-laki itu.


Dua kopral yang tengah memperhatikan Miko dan laki-laki tersebut hanya bisa terdiam dan terkejut.


"Bentar, tadi itu…"


"Iya, dia…"


Seutas tali terjatuh dari arah tempat save, "Kalian semua perhatikan, ini adalah contoh yang benar untuk Repling" ujar Miko dan sesaat kemudian laki-laki tadi turun dengan posisi terbalik.


"Kapan kau free? Aku bosan"


Miko menatap datar laki-laki itu, "Tunggu di kantin"


"Siap" jawab laki-laki itu yang kemudian turun dari talinya.


"Hormat!" ujar salah satu kopral tadi.


"Haishh, saya sedang tidak aktif. Harusnya kalian usir saya, anggap saya sebagai orang asing yang masuk. Saya pergi dulu" ujar laki-laki itu sambil melepas ikatannya.


"Siap, Kapten"


Laki laki itu yang merupakan Tyno hanya menatap datar dua kopral itu, "Ah iya" celetuk Tyno yang berbalik menatap dua kopral itu, "Kecilkan perut kalian"


Miko hanya berusaha menahan tawanya dengan menatap arah lain, sedangkan para trainee ada yang berkekeh lirih bahkan ada yang tertawa pelan. Dua kopral itu hanya menahan marahnya lalu memberi hormat saat Tyno benar-benar pergi dari hadapan keduanya.


"Diam kalian!" seru salah satunya yang lalu pergi dari tempat itu.


"Dasar gak punya malu" gumam Miko yang kemudian menghela nafas pelan, "Ayo lanjutkan!"


11.20


Tyno masih memainkan handphonenya menunggu Miko di kantin yang tadi di janjikan.


"Kenapa kau disini? Seharusnya kau ada di Lombok kan?" celetukan itu membuat Tyno menghela nafas dan menaruh handphonenya di atas meja.


Tyno mengubah posisi tidurannya menjadi duduk, "Umm, Langit mengalami kolaps. Ekgita dan Dokter Aly bilang tidak ada jalan lain selain operasi"


Miko yang baru saja menyeruput minumnya sedikit terkejut, "Terus?"


"Aku mengizinkan mereka mengoperasi, tetapi tidak dengan Komandan"


"Jadi ini hukuman mu?" tebak Miko yang hanya di balas helaan nafas pasrah.

__ADS_1


"Potong gaji 3 bulan dan cuti 3 bulan"


"Sabar ya boss" ujar Miko yang sebenarnya menahan tawanya, "Besok aku free, ada ide?"


"Berapa hari kau free?"


"3 hari seperti biasa"


Tyno menepuk kedua tangannya, "Ayo blind date" bisik Tyno yang sedikit mencondongkan badannya ke arah Miko.


Mendengar perkataan Tyno, Miko hanya bisa mendelik terkejut, "Gila aja kau! Aku masih cinta Ekgi ya!"


"Haishh ini bukan date beneran, jadi cuma nongkrong gitu" goda Tyno yang menaik turun kan kedua alisnya, "Kau tau kan cewek Bandung tuh…cantik-cantik" bisiknya yang masih berusaha menggoda Miko.


Helaan nafas pasrah Miko membuat Tyno tersenyum kegirangan, "Hubungi Biru gih"


"Kok aku? Yang saudaranya kan kau"


Miko tersenyum penuh emosi lalu mengambil handphone dari saku celana. Sebuah nada sambung telefon terdengar cukup keras, "Biru? Iya ini Kak Miko, bisa bantu Kakak?"


...~...


15 Agust


20.00


"Jadi kau akan melatih mereka lagi?" tanya Tyno yang meminum minumannya.


Miko terdiam sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada seorang pria, dan pria itu memberikan beberapa bola padanya.


"Mau gimana lagi, Kolonel yang minta" ujar Miko yang memberikan baskom berisikan 4 buah bola.


"Kau ajudannya loh?"


Miko tidak menjawab perkataan Tyno, dia lebih fokus pada tumpukan kaleng yang di susun piramida. Lemparan pertama Miko berhasil menghancurkan bagian tengah sehingga piramida kaleng itu berantakan. Tetapi masih tersisa 4 buah kaleng di bagian bawah.


"Dia masih marah jadi aku bisa apa?" ujar Miko yang menjawab pertanyaan Tyno tadi.


Tyno menyerit sambil memperhatikan kaleng kaleng itu, "Tapi seharusnya dia tidak boleh seperti itu. Kau selalu noob ya" remeh Tyno yang melempar bola itu dan berhasil mengenai kaleng pojok bagian bawah. Tetapi kaleng itu tidak terjatuh, bergoyang saja tidak, "Wah, serius?"


"Sniper handal" puji Tyno dengan menepuk bahu Miko, "Sekarang giliran petarung garis depan" ujar Tyno yang menutup matanya dan bersiap mengarahkan bolanya ke tumpukan piramida yang masih lengkap.


Prangg


Piramida itu seketika berantakan dan tersisa 3 buah lagi, "Bola ku tinggal 2"


Miko melihat posisi kaleng yang tersisa, "Ambil bagian tengah untuk dua kaleng itu, dan ambil sudut 6 derajat untuk pinggir"


Tyno tersenyum dan melempar sesuai dengan arahan Miko.


Prang.


Tak.


Sang pemilik permainan hanya bisa menatap nanar permainannya sambil membuka mulut. Sedangkan Miko bertepuk tangan dengan keberhasilan Tyno yang merubuhkan satu piramida.


"Giliran ku" celetuk Miko yang bersiap melempar bola itu ke sisa kaleng di depannya dan


Tak


Tak


Miko berhasil menjatuhkan dua kaleng yang di paten oleh pemilik permainan.


"Whoooo!" seru Tyno sambil bertos dengan Miko.


"Hey kalian! Apa-apaan kalian ha?! Kalian curang kan?!"


"Loh kok marah?" ujar Tyno meledek, "Harusnya kami yang bertanya, kenapa anda curang?"


Perdebatan antara Tyno dan pemilik permainan membuat orang-orang sekitar menjadi penasaran untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"Jelas kalian pasti memakai bola lain kan!"


Miko menyerit dan menghela nafas kesal, "Jelas jelas kami mendapat bola dari anda, lalu yang curang disini itu anda, bukan kami" timpalnya yang sebenarnya sudah sangat kesal.


"Heh! Serang!"


"Haizz! Lari?" tanya Miko yang berjalan mundur perlahan saat 5 orang tiba-tiba muncul dari arah belakang stand permainan itu.


"Jauhi kerumunan dulu" titah Tyno yang menarik Miko untuk lari.


Miko dan Tyno terus berlari sampai mereka sampai di sebuah kebun yang cukup jauh dari pasar malam. Miko masih mengatur nafasnya sambil menunduk, sedangkan Tyno sudah bersandar di sebuah pohon. Saat nafas mereka sudah normal, orang-orang yang mengejar mereka muncul.


Miko yang masih tertunduk menghela nafas berat lalu berdiri sambil meletakan tangannya di pinggang. Tyno berdiri lalu melakukan sedikit pemanasan.


"Kapan terakhir kita di kepung gini?" tanya Tyno yang menarik tangannya ke atas.


"Kalo gak salah, 4 bulan lalu. Untuk sipil, 2 tahun lalu sampai aku koma" jawab Miko yang melihat orang-orang yang mengepung mereka.


Tyno terkekeh pelan, "Bad memories ya"


"Bacot"


Tyno hanya tertawa, "Kalian serang!"


Dengan satu aba-aba enam orang itu langsung menyerang Miko dan Tyno. Miko yang masih belum pada posisi siap hanya bisa menghindar dari serangan salah satunya yang membawa golok.


"Wey, bahaya loh pake gituan" ujar Miko yang langsung memuntir tangan orang itu sehingga golok yang dia pegang terjatuh.


Seorang lainnya akan menyerang Miko dengan santai dia mendorong orang yang tadi berniat membacoknya sehingga orang yang ingin menyerangnya ikut terjatuh. Miko tersenyum tipis tapi tanpa dia sadari seorang lainnya siap menyerang dirinya dari balik pohon. Orang itu juga membawa golok dan sudah siap menebas.


"Miko!" teriakan Tyno menyadarkan Miko akan bahaya.


Miko melihat belakang dan menemukan pria itu. Dengan mudah Miko menghindari golok itu, lalu mengambil tubuh pria itu dan menendang tubuh pria itu hingga terjatuh.


Di tempat yang sama Tyno juga menghajar 3 orang lainnya dengan mudah. Bahkan bisa di bilang dia menyelesaikannya dengan cepat. Dia mendekati Miko yang baru saja selesai menghajar juga.


Pria yang tadi memberi perintah pada orang-orang itu terdiam menahan marah. Tyno menghela nafas pelan. Dengan santai dia mendekati pria itu dan memberikan sedikit tekanan pada kehadirannya.


"Masih mau berkelahi?" tanya Tyno dingin, "Anda yang salah, anda yang galak. Harusnya anda meminta maaf, bukan mengeroyok kami" ujarnya yang menepuk bahu pria itu.


Pria itu seketika berubah menjadi ketakutan, "Ma…maaf"


Tyno menarik alisnya dan mendekati telinga pria itu, "Kau pikir kau siapa ha? Jangan kan kau, bisnis sampai keluarga mu akan ku hancurkan"


Mendengar itu pria itu menjadi sangat ketakutan, "Sa…saya mohon jangan apa-apakan saya" ujar pria itu bersujud.


"Saya tidak akan melakukan itu, sekarang ganti uang kami dan pelanggan yang sudah anda tipu hari ini" ujar Tyno yang lalu melemparkan sejumlah uang pada pria itu, "Itu untuk berobat"


"Si…siapa sebenarnya anda?"


Tyno yang hendak berjalan memilih berjongkok satu kaki lalu sedikit menunduk, "Beast, Spinx"


Mendengar sebuah inisial membuat pria itu langsung menatap Tyno penuh keterkejutan, "Wah lihat, sepertinya kita menemukan seseorang yang mengetahui apa itu…" Tyno mencengkram wajah pria itu, "Kematian di underground"


Miko menatap tajam pria itu lalu tersenyum licik, "Akhir-akhir ini standar underground sedikit menurun"


"Benarkah? Berapa untuk masuk dan keluar?"


"Kalau tidak salah 2 untuk masuk dan 10 untuk keluar"


Tyno tersenyum penuh arti, "Bisa kita bermain dengan mereka?"


"Jangan gila, ayo pergi sudah malam aku mengantuk"


"Kau selamat, tapi bertemu dengan kami lagi. Jangan harap bisa lihat dunia lagi" bisik Tyno lagi yang akhirnya benar-benar meninggalkan tempat kejadian.


"Kenapa kau memperkenalkan dirimu sebagai spinx? Bukannya itu nama saat masih di dunia bawah?" tanya Miko pada Tyno yang baru saja masuk kedalam mobil.


Tyno memasang wajah berfikir, "Karena dunia bawah sedang kacau, aku bahkan melihat anaknya yang di sandra karena dia ingin keluar dari sana"


"Jangan terlalu masuk kedalam masalah orang lain"

__ADS_1


Tyno hanya menghela nafas kasar atas nasehat Miko tadi.


...****************...


__ADS_2