
...****************...
Bugh
Arif mundur beberapa langkah setelah Bara berhasil menendang perutnya. Dia mengusap bibirnya yang terasa panas karena bekas pukulan Bara tadi. Dia melihat darah pada lengannya yang sehabis mengelap tadi.
Deg.
Perasaan terguncang membuat Arif sedikit pusing. Bara yang melihat itu langsung kembali menyerang Arif. Dia yang belum siap terlempar hingga terjatuh tengkurap.
"Hanya ini kemampuan anda, Dokter?" tanya Bara yang kemudian menendang tubuh Arif yang mulaintak.berdaya, "Ayolah, kau bisa membunuh Gani loh!"
Arif kembali tengkurap lalu melihat Bara dan langsung memegang kepalanya yang kembali terasa sakit.
Deg.
"Bangun!" provokasi Bara yang kembali menendang Arif hingga terlempar lagi, "Oh baiklah" Bara mendekati Arif lalu mengeluarkan pisaunya, "Karena membosankan, aku akan buat sedikit lebih menarik"
Crash.
"Akhhh!" teriak Arif saat Bara berhasil menusuk punggungnya.
Deg.
"Hahaha, ini batu menyenangkan!" Bara kembali mengambil pisau lainnya dari balik jaketnya dan berniat menusuk Arif lagi.
Dagh.
Sakti tertawa puas saat Tyno terjatuh tepat di depan Aly yang masih terikat di bangku.
"Althyno!" seru Aly saat Tyno berusaha bangkit, "Pergi!" ujarnya dengan air mata yang mengalir.
"Tidak akan!" Tyno bangkit dan membelakangi Aly. Senyuman misterius terukir tipis di wajah Tyno.
Tyno kembali menyerang Sakti dan berhasil membuat Sakti sedikit kewalahan.
Bugh.
Sakti berhasil menendang sisi rusuk kanan Tyno cukup keras.
"Tyno!"
"Ckckck. Kau semakin lemah ya, Kapt" ujar Sakti sambil membersihkan darah dari sudut bibirnya.
Tyno bangkit dengan sedikit kesusahan, 'Sial, rusukku patah' pikirnya sambil berusaha bernafas pelan, "Huh. Aku Tidak lemah" Tyno mengeluarkan pisau adventurenya lalu melemparnya tepat setelah Sakti kembali bersiap.
Sakti bisa menghindari pisau yang hampir saja menancap tepat di kepalanya. Tapi dia lupa jika lawannya adalah kaptennya sendiri dulu.
Dor.
Satu tembakan berhasil bersarang tepat di bahu kanan Sakti.
Dor.
Tembakan keduanya berhasil mengenai perut kiri Sakti.
"Sialan!"
__ADS_1
"Sepertinya kau terlalu meremehkan lawanmu sampai lupa siapa lawanmu sekarang" ucap Tyno yang kembali menyerang Sakti sampai dia terjatuh cukup keras.
Beberapa detik Sakti tidak bergerak sampai tangannya tiba-tiba mengepal kuat, "Sial" gumam Sakti, "Sialan!" serunya yang membuat Tyno kembali bersiaga.
Aura ruangan tiba-tiba berubah menjadi lebih sesak. Tyno yang merasakan perubahan itu juga merasakan aneh dan menjadi sangat waspada. Dalam sekejap mata Sakti sudah berada di depan matanya dan bersiap menendang perut Tyno. Namun sebelum kaki Sakti menyentuh Tyno, seseorang sudah mendorongnya hingga terjatuh. Serangan Sakti hanya berbekas pada tembok.
Tyno melihat bekas itu dengan wajah terkejut dan heran. Saat melihat bekas serangan itu, Tyno menjadi lengah. Sakti sudah bersiap menyerang mereka dengan kembali menendang. Tapi mereka sudah tidak bisa menghindarinya.
"Lindungi!" seru Aly saat kaki Sakti hampir menyentuh Tyno. Tiba-tiba Sakti terpental cukup jauh, "Untuk saat ini, hindari semua serangannya terlebih dahulu"
Awalnya Tyno meragukan perkataan Aly, tapi saat dia melihat bekas tendangan Sakti pada tembok dia akhirnya hanya diam mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Padahal…sedikit lagi" sesal Sakti yang berusa untuk bangun lagi, "Melihat ini…" perkataannya sedikit terjeda, "Membuatku semakin ingin memilikinya!" serunya lalu berlari mendekati keduanya.
Tyno langsung memeluk Aly untuk melindunginya. Sampai…
Bugh.
Bugh.
Arif terus menyerang Bara tanpa henti. Melihat kekuatan Arif yang tiba-tiba meningkat membuat Bara menjadi sedikit kewalahan. Serangan demi serangan terus di lancarkan oleh Arif. Senyuman jahat terukir jelas di wajah Bara. Dia mengeluarkan pedang yang hanya miliki panjang 30 cm dan kembali berusaha menusuk Arif.
Ting.
Gesekan dua benda berbahan besi itu terdengar sangat nyaring dan memekakkan telinga. Arif berhasil menyelamatkan dirinya dnegan memakai knuckle yang sebelumnya dia lihat.
Ting.
Ting.
Sruk.
Ting.
Dagh.
Bara terkena pukulan Arif dan mundur beberapa langkah. Dia meludah mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
"Haha…hahaha bagus. Bagus!" seru Bara sambil berusaha agar tetap berdiri tegap, "Aku suka kesakitan ini. Beri aku lebih!" teriaknya yang mulai menggila karena serangan demi serangan dari Arif.
Arif menyipit lalu tersenyum sinis, "Dasar menjijikan" gumam Arif lalu mengadah keatas dan berakhir mengusap wajahnya kasar, "Aku benar-benar muak dengan mu!" seru Arif yang kini tatapannya seperti bukan dirinya. Tatapan yang sama saat dirinya marah dengan Alfi saat di Lombok. Tatapan dingin nan tajam, "Akan ku bunuh kau seperti, bajingan itu 2 tahun lalu!" seru Arid yang bersiap menyerang Bara dengan pisau adventure nya.
"Itu yang kutunggu sejak tadi!" seru Bara yang juga menggila dan menyerang Bara terlebih dahulu.
Dor.
Dor.
Miko terus bersembunyi karena tembakan yang terus di lancarkan di luar rumah kosong itu.
"Ini akibatnya jika kita bergerak tanpa tahu situasi" ujar Alfan pada Miko yang sedang mereload amunisinya.
"Sial peluru ku tinggal 4"
"Tukar!" ujar Afrizal yang melempar senapannya kepada Miko dan Miko juga melempar senapannya pada Afrizal, "Aku capek" celetuknya yang kemudian rebahan di dekat Alfan yang masih fokus menembak.
"Dasar gila" hina Alfan yang membuka sebuah granat lalu melemparnya kearah segerombolan orang yang berkumpul sekitar 7 orang.
__ADS_1
"Kenapa Kapten bisa masuk?" tanya Afrizal yang membuka sebuah tas cukup besar.
"Mereka sengaja membuka jalan untuk Kapten, karena dia juga sasaran mereka" jawab Miko yang menembak tepat pada seorang pria, "Tukar!"
Afrizal melempar snipper pada Miko dan Miko melempar senapan tadi pada Afrizal. Miko menjadi sangat fokus dan…
"Jangan malas, tembak mereka!" seru Dhita pada anak buahnya yang terus menembak.
Syut.
Seorang pria yang sejak tadi berada di dekat Dhita tertembak tepat di kepala.
Syut.
Tembakan lainnya tepat mengenai pria lainnya yang sedang melewatinya. Merasakan bahaya Dhita bersembunyi di balik tembok.
"Sialan, snipper" gumam Dhita yang merebut senapan dari salah satu mayat anak buahnya.
Dor.
Dor.
Miko membidik pada arah tembakan berada. Tiba-tiba dia mendongak memastikan apa yang dia lihat benar atau tidak. Miko kembali melihat teleskop dari senjatanya.
"Dhita?" gumam Miko yang membuat Afrizal dan Alfan menengok Miko kompak.
"Siapa Dhita?" tanya Alfan yang tidak fokus.
Afrizal membidik arah tembakan itu berada.
Dor.
Sret.
"Berani sentuh dia, habis kau" gumam Panther yang baru saja membanting Sakti ke tanah.
Aly dan Tyno menatap heran kejadian itu. Beberapa saat lalu mereka takut karena kekuatan Sakti, tapi kini mereka kembali terkejut dengan kekuatan orang itu.
"Atha?" panggil Aly yang melihat Panther dengan heran.
Panther terdiam sesaat lalu berbalik menatap Aly dan Tyno, "Kau" panggilnya yang menatap Tyno, "Bisa kau jaga kakakku?" tanya Atha yang di balas anggukan oleh Tyno. Atha mengangguk lalu berbalik lagi, "Pergi!"
"Atha! Dia iblis" ujar Aly sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana.
Atha merenggangkan lehernya, "Maka dari itu aku harus fokus"
Sakti kembali berdiri kini tatapannya benar-benar berubah menjadi marah, "Siapa kau ha?!"
Tatapan Atha terlihat santai. Dia melihat kondisi Sakti sekarang lalu menghela nafas pelan, "Siapa aku? Itu tidak penting sekarang" Atha menarik kaki kanannya kebelakang, "Yang terpenting sekarang itu…" tiba-tiba Atha sudah berada di depan Sakti dan tanpa aba-aba langsung memukulnya hingga terpental beberapa meter, "Memberi mu karma"
Tubuh Sakti menghantam tembok cukup keras. Sampai terdengar beberapa tulang yang patah. Dia merasa tak berdaya dengan serangan Atha tadi, "Si…apa kau?" tanya Sakti lagi dengan suara parau.
Atha mendekati Sakti yang sudah melemas, "Kau membunuh Pak Rusdi lalu mengambil jantungnya" Atha menyentuh dada kiri Sakti dan dia berteriak kesakitan saat Atha menekannya, "Kau juga yang membunuh Mei dan menjadikannya tumbal pembangkitan kan?!"
"Akhhh!"
"Sekarang, muncul kau Iblis brengsek!"
__ADS_1
...****************...