
...****************...
Beberapa saat sebelum Cecil meminta bantuan ke Tyno, dia tengah berada di tenda informasi sambil memperhatikan gerakan tanah yang diperkirakan tidak lama lagi akan ada gempa besar lagi. Tyno menghela nafas berat dan menepuk bahu tentara yang bertugas memperhatikan kontur gempa.
"Jika ada yang aneh lagi, langsung hubungi aku" ujar Tyno yang diangguki Alfan, "Aku harus check sekitar dulu"
"Siap"
Saat Tyno keluar tatapannya langsung mengarah pada tenda pasien.
Tyno POV
'Sedang apa dia ya?' pikir ku yang entah kenapa terpikirkan tentangnya, akhirnya aku memutuskan untuk menuju tenda pasien.
Saat sampai di tenda pasien, aku hanya melihat teman-teman satu rumah sakit dengan Aly. Tidak melihat orang yang yang ku cari aku berniat untuk meninggalkan tenda pasien. Tetapi saat berbalik aku malah menabrak seorang ibu yang membawa nampan makanan.
"Astaga maafkan saya" ujar Ibu itu yang hampir menjatuhkan nampan makanan itu.
Dengan reflek cepat milik ku nampan itu langsung tertangkap, "Ibu tidak apa?"
"Oh Kapten" panggil Ibu itu yang ternyata adalah Ibu Lisa. Anak kecil yang aku dan Aly selamatkan. Dia mengangguk menandakan ia tak apa, "Kapten pasti mencari Dokter Aly kan?" aku hanya mengangkat salah satu alis, "Tadi Dokter Arif bilang kalau Dokter Aly ada urusan lain" jelas Ibu Lisa sambil tersenyum.
'Urusan lain?' pikirku yang ku tepis langsung dengan senyuman yang ramah, "Saya bantu bawakan nampannya ya?" Ibu Lisa hanya tersenyum lebar dan mengangguk serta memimpin jalan menuju ranjang Lisa.
Lisa yang tengah bercanda bersama Arif dan Alfi dan saat Lisa melihat aku berjalan bersama ibunya dia langsung merentangkan tangannya.
"Kakak Ganteng!" teriak Lisa yang langsung aku gendong.
"Hoho sudah berat saja kau ya" ujar ku yang menggelitik dirinya.
"Iya dong, kata Dokter Cantik Lisa harus bertambah beratnya, baru dia akan membawa Kakak Ganteng" jelasnya yang membuat ku menatapnya tidak percaya dengan omongannya.
'Dia berkata seperti itu?' pikirku yang langsung terpecah oleh suara ribut saluran dari HT ku.
"Aly berjanji seperti itu karena dia tahu Lisa sangat merindukan mu" bisik Dokter Arif dengan nada yang sangat dingin.
Sepertinya dia tidak ingin aku salah sangka atau terlalu pede dengan perkataan Lisa. Aku tersenyum licik, "Jealously?"
"Kita lihat saja. Kau mampu meluluhkan dia atau tidak" tantang Arif yang benar-benar membuatku tertantang.
"Okay, let's make a bet" Aku menurunkan Lisa di ranjangnya, "Lisa makanlah dulu ya, Kakak ada urusan dengan Dokter Arif ya" Lisa mengangguk dan aku langsung menuju keluar tenda.
Saat di luar tenda sebuah pukulan hampir saja mengenai wajahku untung aku langsung menghindar. Aku menatap Arif dengan tatapan dingin, tapi aku juga melihat wajahnya yang serius dan sepertinya dia tidak main-main.
"Itu taruhannya" Aku mengangkat salah satu alisku, "Jika kau menang dalam meluluhkan hati Alyssa, kau bisa memukulku"
Aku tersenyum miring, "Oke, kalau anda menang saya akan menjauhi Aly. How?" tawarku sambil mengulurkan tangan ingin berjabat tangan.
Tatapan serius Arif berubah menjadi tatapan meremehkan, "Deal!"
Suara ribut saluran HT ku kembali berbunyi tapi kali ini suara itu sangat keras.
"Kapten! Ini Harmony, Mayday!" teriak seseorang dari HT yang langsung membuatku melepaskan jabatan tangan itu dan berlari kearah tenda rahasia yang bisa dibilang lumayan jauh dari tenda tenda pengungsian. Saat aku sampai di tenda itu aku langsung di hadapkan dengan pemandangan yang sedikit ambigu.
"Ekhem!" aku berdehem untuk menghentikan Lio memegang perempuan yang sungguh aku tak mengerti bagaimana dia bisa sampai sini.
"Kapten?" panggil Lio yang langsung berdiri sedangkan Aly berdiri di bantu Cecil.
"Dokter Aly kenapa anda ada disini?" tanya ku dingin dan tajam.
__ADS_1
Aly menatap mata ku dan menghela nafas berat, "Ekgita yang meminta" jawabnya singkat.
"Sekarang…kenapa semua berantakan?"
Lio dan Cecil saling berpandangan, tak ada yang menjawab dari mereka berdua.
"Apa anda percaya hal ghaib, Kapten?"
'Hm? Apa maksudnya hal mistis?' pikirku sambil mengangkat salah satu alisku, heran.
"Kalo anda percaya, mungkin saya bisa menceritakan apa yang terjadi"
Aku memperhatikan Aly dari atas sampai bawah, 'Leher dan bibirnya kenapa?!' pikiranku langsung kacau, tapi aku tidak bisa mengatakan sesuatu sebelum kami hanya berdua saja, "Baiklah, Lio kau tetap disini. Cecil ikut kami" titah ku yang keluar dari tenda.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' pikir ku dengan khawatir.
Tyno POV end.
...~...
Ekgita berlari kearah tenda kosong yang sebenarnya posisinya lumayan jauh dari tenda pengungsian. Saat dia sampai disana hanya ada Cecil dan Lio yang tengah membereskan bekas keributan tadi.
"Mana Dokter Aly?"
Lio menatap Cecil yang hanya menghela nafas.
"Woy!"
"Apa Dokter Aly punya sixt sense?"
"Ha?" Ekgita menatap Cecil dengan terkejut, "Seorang Dokter percaya hal ghaib?" sindir Ekgita yang sebenarnya untuk Cecil tapi karena Cecil tidak fokus dia hanya mengendikan bahunya. Ekgita hanya memutar matanya, "Jadi dimana Dokter Aly sekarang?"
"Auw"
"Auw!" teriaknya lagi.
"Dengar ya, aku tidak menekannya kenapa kau sangat lebay"
"Lebay kau bilang!" sang wanita mencubit perut sang pria kencang hingga membuat sang pria mengerang kesakitan.
"Sakit, Dokter Aly!"
"Bodo amat!" Aly mengambil obat salap dari tangan Tyno yang masih memegang perutnya, "Pinjam handphone!"
Tyno menatap Aly sesaat lalu memberikan handphonenya. Aly membuka kamera dan mengarahkannya ke lehernya. Luka biru melingkar itu membuat Aly tidak bisa berkutik selain menahan sakit dan menutupinya dengan syal atau baju yang memiliki kerah panjang.
"Mana handphone kau? Biasanya perempuan tidak akan jauh dari handphonenya" tanya Tyno sambil memperhatikan Aly yang masih mengoleskan salap pada lehernya.
Aly menaruh salap itu di sebuah meja dan kembali duduk sambil membawa sebuah salap lainnya, "Kau lupa dengan kejadian bandara kah?"
Tyno beroh ria mengingat apa yang sudah dia lakukan dengan handphone Aly.
"Hanya oh?!"
"Terus aku harus apa?"
"Cih!" Aly kembali menyalakan kamera Tyno dan kali ini mengarahkannya ke bibir miliknya, "Lukanya cukup parah ya?" gumam Aly sambil memeriksa bibirnya.
Tyno yang melihat itu tiba-tiba merasa aneh dan mendekati Aly lalu merebut salap itu. Tyno membuka salap itu dan mengoleskan salapnya perlahan.
__ADS_1
"Makannya sebelum bertindak pikirkan dulu" ujar Tyno sambil mengoles salap pada bibir Aly.
Aly sedikit memajukan bibirnya kesal. Dia ingin melawan perkataan Tyno, tapi sebelum dia berkata sesuatu, sebuah benda kenyal sudah menyentuh bibirnya. Aly mematung.
"Kau lucu saat kesal" ujar Tyno yang sepertinya belum menyadari apa yang sudah dia lakukan, "Eh?" beberapa detik Tyno terdiam, "Ehhh!" teriak Tyno saat dia sudah menyadari apa yang sudah dia lakukan, "Maaf! Serius tadi aku gak sadar sama sekali!"
Aly masih mematung, tetapi beberapa saat dia tersadar dan memegang bibirnya. Wajahnya berubah merah dan menunduk.
"Sa…saya permisi dulu"
"Wow" sebuah suara membuat Aly yang baru akan berdiri terkejut dan malah terjatuh karena kakinya yang belum siap.
Sekarang posisi Aly dan Tyno sedikit awkward, Aly menatap wajah Tyno yang hanya tinggal 3 mili lagi dari wajahnya. Aly langsung berdiri dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Sedangkan Tyno juga langsung duduk dan menatap kosong depannya sambil menutupi bibirnya dengan punggung tangannya.
"Wow" suara itu kembali membuat dua sejoli itu menatapnya, "Harusnya aku bisa mengabadikan kejadian itu"
Tyno berdiri di samping Aly, "Diam kau"
"Saya permisi" pamit Aly yang terburu-buru.
"Nice shoot"
"Ekgita Misella!" teriak Tyno sambil mengejar Ekgita yang berlari menyusul Aly.
...~...
Aly POV
Aku berlari cukup kencang sampai akhirnya aku menabrak seseorang.
"Astaga, Aly" suara yang sangat familiar untuk ku dan tanpa berfikir aku mendongak melihat sumber suara itu.
Sebuah ingatan tiba-tiba melintas di kelapa ku. Ingatan penting lainnya.
"Maafkan aku Lys" Zakra mengelus kepala ku dan mencium dahi ku, "Aku sangat mencintai mu" perlahan Zakra menutup matanya.
Mataku juga terasa kabur dan berat, "Za…kra"
"Tidak…Akra!" suara teriakan itu membuatku melihat siapa yang berteriak dan berlari mendekati kami, "Apa yang harus aku lakukan! Jangan tinggalkan aku lagi!"
"A…ri…f" panggil ku yang hanya di tatap dingin olehnya.
Arif mendekati ku dan memangku kepala ku yang terasa berat untukku, "Aku akan menjaga mu…seperti yang adik ku ingin kan"
"Al?" panggilan itu membuat ku tersadar, "Astaga kau membuatku terkejut. Apa ada yang terluka? Ini minuman untuk mu" ujar Arif sambil menyodorkan sebuah botol mineral yang masih tersegel.
Aku menerima botol itu dan membukanya pelan lalu meminumnya sedikit, "Kaki mu sudah baikan?" tanyanya yang tak ku respond.
"Kau…" Arif menatapku bingung, "Kakak Zakra?" mendengar itu Arif menatap ku terkejut saat dia ingin menggapaiku sebuah tangan sudah mencegahnya terlebih dahulu.
"Mau apa?" suara barito itu malah membuat ku mengingat kejadian beberapa menit lalu.
"Haishh" merasa malu aku memilih untuk meninggalkan dua pria itu.
Aly POV end.
"Bisa gak, gak usah ikut campur"
"Aku hanya merasakan aura bahaya tadi"
__ADS_1
Arif memukul angin dan menatap arah kepergian Aly, "Apa dia sudah ingat?"
...****************...