
...****************...
30 menit sudah berlalu, Tyno menunggu di ruang tunggu operasi sambil sesekali bolak balik. Alfan yang melihat kaptennya gusar hanya bisa menghela nafas pasrah. Seperti teringat sesuatu Alfan menatap terkejut Tyno.
"Kapten menelfon Lesma kah?" tanya Alfan ragu.
Tyno duduk sambil menghela nafas kasar, "Kalaupun Budhe belum sampai. Kau tahu kau harus apa" ujarnya sambil menatap lurus ke depan.
"Althyno!"
Teriakan orang yang memanggil namanya membuat Tyno berdiri dan sebelum dia berdiri sebuah pukulan sudah mendarat di wajahnya terlebih dulu.
"Lesma!" Alfan langsung menahan pria yang hendak memukul Tyno sekali lagi, "Ini Rumah Sakit loh!" ujarnya sambil menahan pria yang dipanggil Lesma itu.
"Lesmana!" Budhe datang dan langsung menarik telinga Lesma, "Apa-apaan kau!"
"Ibu jangan cegah aku! Kami minta kau menjaga Ayah, bukan mencelakainya!" seru Lesmana yang ingin memukuli Tyno lagi.
"Lesmana!" sentak Budhe, "Stop! Stop! Kalo kau memukulnya lagi, Ibu yang akan memukul mu!" ancam wanita itu yang membuat Lesmana berdecih dan menjauh dari Tyno dan Alfan.
Tyno berdecih pelan lalu memegang pipinya yang masih memerah karena pukulan Lesmana tadi. 2 jam berlalu dan Aly keluar bersama Arif. Tyno menyerit heran mengapa Arif yang merupakan Dokter khusus paru juga ikut dalam operasi kali ini.
"Keluarga Tuan Galang?" panggil Aly yang juga mendelik terkejut saat melihat lebam di wajah Tyno.
"Saya istrinya"
"Mari ikut keruangan saya"
Budhe dan Lesmana sudah berada di ruangan praktek Aly. Sedangkan Tyno dan Alfan menunggu di luar ruangan Aly dan saat itu Alfi datang untuk menyerahkan laporan milik Tuan Galang. Alfi tersenyum saat melihat Alfan dan mendelik terkejut saat melihat Tyno yang babak belur.
"Kapten gapapa?" tanya Alfi khawatir.
Tyno tidak menjawab Alfi dan hanya menatap tajam ruangan Aly. Alfan menghela nafas pasrah, "Tidak, dia aman koo" jawab Alfan yang tersenyum.
"Ah baiklah" ujar Alfi yang tersenyum kikuk kemudian masuk kedalam ruangan Aly.
Alfi mengangguk lalu masuk kedalam ruangan Aly.
Klek
"Dok, laporan anda" ucap Alfi yang menaruh papan clipboard itu di meja Aly, "Saya permisi"
Aly mengangguk kemudian menghela nafas pelan, "Luka Tuan Galang sudah kami tangani, tapi saya minta maaf mengatakan ini. Saya dan Dokter Arif sepakat mengatakan jika Tuan Galang mengalami koma sekarang" jelas Aly yang terlihat tenang.
"Koma?! Kok bisa?! Kalian bilang jika keadaan Ayahku tidak begitu buruk dan bisa sadar secepatnya setelah operasi! Sekarang kalian bilang koma!" seru Lesmana yang protes dengan keadaan Tuan Galang sedangkan Budhe masih terlihat shock dengan perkataan Aly tadi.
Lagi-lagi Aly menghela nafas, tapi kini terdengar lebih berat, "Ada yang mencoba membunuhnya" celetuk Aly yang membuat Lesmana dan Budhe terkejut. Aly membuka komputernya dan menunjukkan hasil operasi tadi, "Ada luka baru di sebelah kanan dekat dengan pankreas, untungnya luka itu tidak dalam. Tapi luka lama yang di sebelah kiri menjadi lebih dalam 3 centi dan hampir mengenai ginjalnya" jelas Aly yang kemudian memutar monitornya dan mencari sebuah gambar lainnya.
"Selain itu sepertinya Tuan Galang sempat melawan dan penyerang memukul dada kirinya. Itu membuat kebocoran pada arteri di paru-parunya yang terluka akibat bekas tembakan itu" lanjut Aly yang kembali memutar monitornya.
Lesmana tiba-tiba mengebrak meja dan keluar dari ruangan Aly. Budhe masih menangis lirih.
"Anda jangan terlalu kuatir, kami akan membantu Tuan Galang sampai ia sehat kembali" celetuk Aly yang berusaha menenangkan Budhe.
Budhe mengangguk pelan, "Terimakasih Dok. Dokter sudah berusaha menyelamatkan suami saya" ucap Budhe dengan bibir bergetar.
Aly mengangguk, "Sudah tugas saya untuk membantu pasien. Sementara kami menempatkan Tuan Galang di ICU guna mempermudahkan penanganan lainnya" ujar Aly yang terlihat tenang sambil memegang kedua tangan Budhe.
Budhe mengangguk pelan dan tersenyum lembut.
__ADS_1
Brak.
Suara menabrak pintu membuat Aly dan Budhe reflek melihat kearah pintu. Budhe yang sepertinya tahu sedang ada sesuatu di balik pintu itu langsung berjalan cepat menuju pintu.
Bugh.
Pintu terbuka dan Tyno tepat jatuh saat itu. Aly mendelik terkejut dan mendekati Tyno yang wajahnya sudah babak belur.
"Lesmana! Sudah Ibu bilang kan, jangan sakiti saudara mu!"
Aly terdiam sesaat lalu menatap Tyno penasaran, "Saudara?" gumam Aly sambil menatap Lesmana dan Budhe yang masih berusaha menenangkannya.
Pertengkaran Lesmana dan Tyno sampai dipisahkan oleh keamanan Rumah Sakit. Lesmana dan Budhe memilih untuk pulang dan menyerahkan Tuan Galang pada Tyno. Sekarang Tyno berada di ruangan pribadi milik Aly. Di atas meja kecil sudah ada air antiseptik dan obat merah serta kasa dan hansaplast kecil.
"Ihss" rintih Tyno saat kapas yang sudah basah karena antiseptik menekan lukanya.
"Astaga belum aku tekan loh" celetuk Aly sambil menaruh gumpalan kapas kecil itu di pinggiran wadah air antiseptik.
"Kau pikir gak sakit kah?", Aly menyerit lalu menekan kapas antiseptik itu ke luka Tyno dengan keras, "Alys!"
Aly terdiam sesaat lalu menatap Tyno dan menutup luka Tyno dalam diam, "Kau panggil aku siapa?"
"Alys?"
Biasanya Aly akan marah saat seseorang memanggil nama kecilnya itu, tapi anehnya kini Aly merasa nyaman saja. Aly menghela nafas lalu membereskan alat-alat itu, "Kau kan bisa membalasnya, kenapa kau diam?"
Tyno memasang senyum tipisnya lalu tersenyum lembut, "Kalau aku lawan. Yang ada nanti aku kena marah dan dia ikut terbaring di ranjang Rumah Sakit ini" sombongnya sambil mengganti duduknya menjadi menyilangkan kakinya.
Aly kembali menatap Tyno tajam, "Arisakti huh?" tanyanya dengan nada sarkas.
Tyno terdiam dan mengubah duduknya lagi, "Rumah Sakit ini dan Pusat tempat ku bekerja…milik Rorety. Group kan?", Tyno tidak menjawab dia hanya menatap Aly tanpa ekspresi, "Ku tebak, Althyno Dharma Arisakti, benar?"
Aly tersenyum miring, "Kau tahu kan, masalah apa yang menimpa dua keluarga ini?"
Tyno akhirnya tersenyum dan terkekeh pelan, "Dan ku pastikan aku, Paman Galang dan keluarganya, tidak ikut dalam masalah itu"
Pandangan keduanya menjadi saling mencurigai satu sama lain. Aly menghela nafas kasar lalu melempar handphonenya ke Tyno, "Itu rekaman CCTV depan ruangan Tuan Galang"
Tyno memperhatikan handphone Aly, "Handphone mu kentang ya" ledek Tyno.
Aly melemparkan sebuah boneka kecil yang ada di atas mejanya ke arah Tyno, "Eitss tenang oke tenang"
"Handphone yang satu rusak juga karena dirimu!"
"Sorry okeh" sesal Tyno sambil tersenyum usil.
Aly hanya menghela nafas kasar lalu menatap Tyno yang melihat video di handphone Aly. Kerutan di wajahnya berganti dengan tatapan tidak percaya. Tyno meletakan handphone Aly di meja di depannya. Dia menatap Aly masih dengan tatapan tidak percaya lalu menghela nafas kasar dan menarik rambutnya keras.
"****! Gue kecolongan lagi" umpat Tyno lirih sambil menunduk.
...~...
Tring.
Sebuah koin berputar di udara lalu jatuh tempat di telapak tangan seorang pria. Pria itu membuka telapak tangannya dan gambar kepala berada di atas. Pria itu tersenyum tipis lalu kembali memperhatikan gerak gerik seorang pria lainnya lalu menghilang dalam kegelapan gedung kosong.
Arif menatap gedung Kepolisian lalu menghela nafas kasar, "Semoga aku benar"
Handphone Aly yang Tyno letakkan di meja tiba-tiba bergetar membuat Tyno yang sedang berfikir terkejut dan reflek melihat siapa yang menelfon Aly.
__ADS_1
'Bemz?'
Aly langsung merebut handphonenya dan sedikit menjauh dari Tyno, "Hallo iya Bim?"
"Aku harus memberitahukan mu tentang ini. Kepolisian menghentikan investigasi itu"
Aly terdiam sesaat, "Siapa yang cabut investigasi itu?" tanya Aly dengan nada dingin.
"Aku juga tidak tahu, tapi AKP Heru bilang, saudara dari salah satu korban. Karena laporan mu gak bisa di cabut, mereka cuma menghentikan tentang pembunuhannya, penculikannya masih berlangsung"
Aly mengeratkan tangannya, "Terimakasih Bim" ujar Aly yang mematikan sambungan telfonnya. Aly berbalik dan mengubah ekspresi wajahnya, "Aku ada urusan, jadi aku harus pergi" usirnya secara halus pada Tyno.
Tyno menghela nafas pasrah lalu berdiri, "Baiklah, terimakasih sudah mengobatiku. Aku pergi dulu" pamitnya yang kemudian keluar dari ruangan itu.
"Bemz? Panggilan yang tidak asing" gumam Tyno dengan senyuman kecut di akhir.
...~...
12.24
Aly dan Atha mengantar Sebastian dan Bernando ke stasiun. Sebastian yang masih memakai kursi roda di dorong Aly sampai ke peron.
"Jika aku kesini lagi, apa kau mau menemani ku jalan-jalan?" tanya Sebastian dengan wajah berharap.
Aly mengangkat salah satu alisnya, "Jika aku free"
"Okeh aku anggap iya" ujar Sebastian dengan nada memaksa.
"Hahaha jangan memaksa, karena aku juga pasti akan ikut" celetuk Atha yang membuat Sebastian merinding ketakutan.
Suara pemberangkatan terdengar dan membuat Sebastian serta Bernando buru buru masuk ke dalam kereta. Saat kereta jalan Aly menatap Atha dengan tajam.
"Antar kakak ke pemakaman Umah Raga sekarang" titah Aly sambil meninggalkan Atha yang masih melihat kepergian kereta itu.
Atha mematung sesaat setelah Aly mengatakan tentang pemakaman Umah Raga, "Gak mungkin" Atha bergumam sambil membuka mulutnya tidak percaya, "Itu buku apaan sebenarnya"
Di dalam kereta Bernando dan Sebastian saling diam. Tak ada suara sampai Bernando memecahkan keheningan mereka.
"I meet someone who can protect our lady"
"Hey!" sentak Sebastian pada Bernando, "Lady Alyssa, not “our lady“"
"But she is our family now, right?"
Sebastian terdiam lalu berdehem keras, "You say what about someone can protect Lysa?"
"Yes, He beat me in Lombok. He protect Lady Alyssa form me. And I hate to say this, but He is so fucking strong"
Sebastian terdiam dengan perkataan Bernando yang menyatakan bahwa pria itu lebih kuat darinya, "If Fox didn't came, I guest I will lose"
"Wow, a Bernando admit his defeat, it means that man is really fucking strong"
Bernando hanya bisa menghela nafas kesal dengan ledekan Sebastian, "Who is that man? Why He protecting Aly? Aly isn't the type of talking a lot" timpal Sebastian sambil melirik kaca jendela kereta.
"Maybe that man likes Lady Alyssa, until without realizing it, he has protected her" jawab Bernando seadaanya sambil bersiap untuk tidur.
"Or maybe he just wants to protect what he should be protecting" gumam Sebastian sambil menatap keluar jendela.
...****************...
__ADS_1