Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 58


__ADS_3

...****************...


2 Okt


Ulujadi, 8.30


Ekgita masih membaca di atas ranjangnya di medicube. Kondisinya sudah semakin membaik bahkan sudah dikatakan sembuh, tapi memang masih perlu bantuan infus untuk mengembalikan cairan serta menekan racun yang masih tersisa di tubuhnya.


Aly masuk kedalam ruangan Ekgita lalu langsung duduk di bangku dekat ranjangnya. Ekgita hanya melirik sesaat lalu kembali membaca bukunya.


"Aku akan kembali besok" celetuk Aly dengan nada ragu.


Pluk


Ekgita menutup bukunya kasar, "Kenapa!?"


"Aku harus cek kaki ku dan mendapatkan perawatan yang lebih baik" jelas Aly dengan senyuman manis miliknya.


"Yahh aku sendirian lagi dong"


Aly menyengir lalu memegang tangan Ekgita, "Kau tahu, aku sangat berterima kasih karena bertemu dengan mu dan berteman dengan mu"


Ekgita membalas genggaman itu lalu ikut tersenyum, "Aku juga berterimakasih, berkat mu aku dan Miko bisa kembali bersama"


Aly tersenyum lembut lalu terdiam sesaat, "Aku punya PTSD dengan suara tembakan" celetuk Aly yang tiba-tiba mengingat kejadian terakhir bersama Zakra, "Aku juga takut kehilangan yang berharga"


Mata Aly mendelik tanpa berkedip dan perlahan air matanya juga berjatuhan. Ekgita yang melihat itu menjadi sedikit panik.


"Aku sedang bersamanya melihat sebuah air terjun dan saat itu aku juga aku diculik" lanjut Aly dengan ekspresi yang masih sama, "Zakra datang dan menghajar Sakti juga temannya, sedangkan Dhita dia hanya melihatnya"


"Al?" panggil Ekgita sambil menggoyangkan tubuh Aly.


"Saat Zakra terdesak Arif datang" lanjut Aly.


Bruk.


"Al!" seru Ekgita saat melihat Aly tiba-tiba jatuh diatas ranjangnya, "Aly!"


Aly POV


Aku dimana? Kenapa sangat sejuk dan tenang disini?


Perlahan mataku terbuka dan memperlihatkan sebuah air terjun yang sangat indah. Aku terkesima sampai terdiam cukup lama


"Ini…tempat itu?"


"Lysa"


Aku berbalik saat mendengar seseorang memanggilku. Aku terdiam saat melihat orang itu. Tak ada ekspresi. Aku bingung ingin mengeluarkan ekspresi apa saat ini.


"Ei kenapa menangis?" pria itu mendekati ku lalu menghapus air mataku yang bahkan aku tak tau sejak kapan itu mulai berjatuhan.


"Zakra" panggilku lirih.


"Dalem" Zakra mengelus pelan pipiku, "Kau merindukan ku?"


Aku mengangguk pelan sambil memegang tangannya yang berada di pipiku, "Kau tidak nyata. Tapi terimakasih"


Zakra menggeleng pelan lalu menangkup wajahku, "Jadikan masa lalu itu cerita yang akan mengingatku. Tapi saat air matamu jatuh aku tidak akan memaafkan diriku sendiri"


"Jangan bilang gitu"


Senyuman hangat itu, "Dengar, kau masih memiliki cerita yang lain dan jalan yang panjang. Jadi tetaplah bahagia dengan Tyno ya"


Aku menyerit sesaat, "Kau mengenalnya?"


"Dia pasti akan bercerita suatu saat. Sekarang"


Dia mengelus pelan wajahku lalu, "Aku selalu mencintaimu, Alyssa"


8.45


"Kakak!"


Perlahan aku membuka mataku, "Atha" panggil ku yang membuatnya langsung memeluk ku, "Sesak"


Atha melepaskan pelukannya lalu menatapku, "Kau membuatku panik"

__ADS_1


Aku melihat sekeliling dan hanya ada Atha di ruangan medicube tempat ku dulu. Aku memegang kepala ku lalu menangis sejadinya.


Sakit memang. Saat kalian jatuh cinta lalu dipisahkan oleh takdir. Miris memang. Tapi inilah takdir. Di satu sisi, kita kehilangan. Di sisi lainnya mereka hanyalah ingin kembali pulang ketempat dimana mereka semestinya berada


Aly POV end.


Tyno sejak awal berada di depan pintu masuk medicube tempat Aly di rawat. Tapi dia enggan untuk masuk. Bukan karena ada Atha, tapi mimpinya tentang persahabatan dia dan Zakra Membuatnya merasakan kesedihan Aly saat ini.


Miko menyentuh bahunya membuat Tyno sedikit tersentak terkejut.


"Kau memikirkan sesuatu?" tanyanya tanpa ekspresi.


Tyno tak menjawab dan hanya menepuk bahu Miko lalu meninggalkan tempat itu, "Kau menyerah?" tanyanya lagi yang kini terdengar lebih tinggi.


Tyno tetap diam dan berhasil membuat Miko geram. Dengan paksa dia menarik kerah seragam Tyno, "Cinta tak pernah salah. Mereka muncul karena takdir yang sudah ditentukan"


Miko melempar tubuh Tyno kebelakang lalu meninggalkannya. Sedangkan Tyno masih terdiam dan melihat kepergian Miko dengan tatapan datar.


Helaan nafas pelan Tyno menyadarkan dirinya akan sesuatu lalu berbalik dan membuka pintu ruangan Aly.


20.00


Tyno dan Miko kini berada di tenda memasak milik tentara. Langit menatap keduanya heran dan khawatir.


"Kalian yakin mau masak?" tanya Langit yang masih sangat ragu dengan keputusan keduanya.


Langit memang ada di bagian dapur hari ini dan dia merasa terkejut dnegan kedatangan dua makhluk yang bahkan mungkin tidak pernah menginjak dapur dirumahnya.


"Tentu, kenapa kau terlihat ketakutan?" tanya Tyno saat melihat posisi Langit yang bersembunyi di balik tutup panci.


"Saya takut tempat ini terbakar"


"Heh" tegur Miko yang merasa Langit sedang menghinanya.


Langit mundur dua langkah karena teguran Miko tadi, "Kalian ingin memasak apa?"


"Yang mudah di makan, tapi bergizi dan bisa menambah tenaga"


Langit berfikir sesaat lalu tak sengaja melihat ayam dan beberapa sayuran di Panci yang siap untuk di masak, "Mau sup?"


Miko mengupas kulit kentang dan wortel, "Itu apa yang dimakan kalo dagingnya juga dibuang!"


"Apa kita perlu memasukkan lebih banyak garam?" tanya Tyno ke Miko yang sama-sama berdiri disebelahnya.


Langit menghela nafas kasar, "Pergi kalian berdua! Jangan pernah kembali ke dapur!"


Aly dan Ekgita duduk bersebelahan di cafetaria. Mereka memandang satu sama lain dengan heran.


"Miko menyuruhmu kemari?"


"Tyno juga?"


Aly mengangguk lalu mengambil ht dari sakunya karena ada panggilan untuknya. Disaat Aly sedang menjawab panggilan itu semangkuk sup sudah ada di depan kedua perempuan itu. Aly masih berbicara di htnya sambil menatap dua pria di depannya. Setelah selesai Aly menatap Ekgita lagi.


"Mereka kenapa?" tanya Aly yang berbisik.


"Entah" Ekgita kembali memasang wajah dinginnya, "Apa ini?"


"Sup lah" jawab Tyno ketus dan dibalas tatapan tajam oleh Ekgita.


Aly memutar matanya malas, "Kalian yang memasaknya sendiri?"


"Ho'oh" jawab Tyno dengan nada yang di buat manja.


Miko merasa mual sambil mengeluarkan lidahnya, "Kami kelinci percobaan kalian?" tanya Ekita lagi sambil mengaduk sup dalam mangkuk miliknya.


"Tidak, Langit sudah menjadi kelinci percobaan kami tadi" jawab Miko dengan senyuman lembut.


"Langit baik-baik saja kan?" tanya Aly sambil mengambil sejumput kuah sup itu.


"Dia lari terus gak balik lagi"


Jawaban Miko membuat Aly berhenti menyuapkan sup itu untuk masuk kedalam mulutnya. Sedangkan Ekgita sudah menyeruput sup itu. 5 detik kemudian dia menutup mulutnya.


"Kau harus coba" celetuk Ekgita sambil menahan mual.


Aly menyerit lalu menyeruput sup itu pelan dan alhasil dia memegangi kepalanya. Bukan karena pusing tapi karena berusaha menelan makanannya.

__ADS_1


"Kalian menambahkan ketumbar?" tanya Aly sambil membuka tutup botol mineralnya lalu meminumnya dengan rakus.


"Apa itu ketumbar?"


Setelah Aly menghabiskan setengah botolnya, "Ikut aku"


Aly berdiri membawa mangkuk berisikan sup itu diikuti Ekgita dan kedua pria itu ke tenda dapur milik Tentara. Disana mereka bertemu Langit yang terkejut dengan kedatangan Aly.


"Kau memberi mereka ketumbar?" tanya Aly pada Langit.


Langit hanya menggeleng. Aly mengerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya dia menghela nafas pelan, "Mana panci?"


Aly menambahkan beberapa bahan dan bumbu racik pada sup kedua pria itu lalu kembali menyajikannya pada Langit, Ekgita dan kedua pria itu untuk dicicipi. Ekgita membulatkan matanya terkejut.


"Enak" ujar keempatnya dengan semangat.


Aly hanya tersenyum menanggapi keempatnya. Dia senang karena masakannya di puji tapi dia juga merasa bangga karena apa yang diajarkan nenek dan Mamnya tidak sia-sia.


Stt "Dokter Aly, tim medis Jawa Tengah sudah berkumpul semua di cafetaria"


Aly mengambil htnya yang berada di saku rompinya, "Baiklah, aku kesana"


"Kau akan adakan rapat?" tanya Ekgita sambil memakan ayam dari sup.


Aly mengangguk pelan, "Aku akan pulang nanti malam, jadi aku ingin menyerahkan tugasku pada yang lainnya"


"Kau mau pulang?" tanya Miko yang menatap Aly bingung.


"Iya, kakinya perlu perawatan intensif ditambah dia juga perlu istirahat kan?" jawab Tyno sambil menyerahkan mangkoknya pada Aly.


Aly mengambil mangkok Tyno dan menyicipi masakannya sedikit, "Sudah, aku pergi dulu. Bye"


Saat Aly sampai di Cafetaria para Dokter muda langsung membicarakan dirinya sedangkan yang lainnya hanya diam. Beberapa terdiam karena sudah tau tentang keluarga Ay, sedangkan beberapa lainnya merasa enggan menyinggung Aly yang masih terluka.


Aly berdiri di ujung meja lalu meletakkan tanda pengenal relawan medisnya. Aly dapat melihat satu persatu wajah pada Dokter itu.


"Saya mundur" celetuk Aly setelah menghela nafas, "Dokter Della akan menggantikan saya disini dan Bian yang di pusat"


"Anda gak bisa langsung milih yang lain begitu saja" ujar salah satu Dokter muda yang tidak terima dengan keputusan Aly barusan.


"Kau berharap kau yang dipilih?" tanya Arif dengan tajam.


"Alyssa milih pasti ada alasannya" ujar Ayda sambil memperbaiki duduknya.


Aly menutup matanya sesaat lalu menatap tajam Dokter muda tadi, "Kau ada masalah? Atau kau tidak suka? Baik siapa nama mu?"


Dokter muda itu sedikit gelagapan, "Karin"


"Kau ketua disini" celetuk Aly tanpa ekspresi, "Rapat selesai, kalian bisa pergi" ujar Aly menutup rapat lalu meninggalkan Cafetaria.


Karin yang melihat Aly yang berjalan kesusahan berniat jahat. Dia berjalan cepat lalu sengaja mendorong Aly dengan bahunya agar terlihat tidak sengaja. Sebuah tangan di perutnya berhasil mencegah Aly terjatuh.


"Kau sedang berusaha mencelakai Nona ku?" Panther muncul lalu berdiri di depan Karin, "Mau ku tunjukkan kecelakaan sebenarnya?" bisiknya dengan dingin dan datar.


"At…Panther cukup, ayo"


Aly menarik tangan Panther menjauhi cafetaria. Tapi tanpa disadari Aly ada tiga orang yang melihat kejadian itu.


"Ada Barbie"


"Mau kita apakan dia?"


"Kau yang urus, kalian kan akan sering bertemu"


22.14


Sebuah jeep berhenti di pantai yang berjarak jauh dari tenda-tenda pengungsian. Tyno menuntun Aly pelan berjalan diatas pasir. Sebuah suara baling-baling terdengar dari kejauhan dan sebuah Helikopter turun perlahan diatas pantai itu.


"Jika sudah di Rumah Sakit hubungi" ujar Tyno setengah berteriak.


Aly hanya mengangguk lalu menggenggam tangan Atha untuk naik ke dalam helikopter itu. Saat Helikopter itu menjauh, Tyno menatap sinis Bear yang ditinggal disana.


"Bara akan diadili oleh Predator" celetuk Bear sambil menyerahkan sebuah map ke Tyno lalu menghilang di balik kegelapan.


Tyno mengambil sebuh pisau dari dalam map coklat muda itu dan terkejut bukan main.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2