Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 12


__ADS_3

...****************...


4 Agustus


Lombok, 16.00


"Tyno" merasa terpanggil Tyno berbalik dan menemukan perempuan yang pernah hadir dalam hidupnya. Sahabat yang pernah mencintai dirinya. Perempuan yang membuat persahabatan dirinya hancur. Perempuan yang mencairkan hatinya dan kembali membekukannya.


Tyno mengepal kuat dan menatap arah lain, "Kenapa…kau…" Tyno merasa enggan membuka mulut lagi.


"Kau lupa?" Tyno menatap perempuan itu heran, "Aku pernah bilang kan, jika hati mu kembali hangat aku akan datang"


"Apa maksudmu?" tanya Tyno yang merasa bingung dengan perkataan perempuan itu.


Perempuan itu tertawa, "Kau sedang jatuh cinta kan?"


"Ha?"


"Jangan pura-pura terkejut seperti itu, wajahmu semakin menggemaskan jika seperti itu" ledek perempuan itu, "Tempat dimana seseorang memikirkan dan mencintaimu, disitulah rumah untukmu kembali, Althyno" kata perempuan itu sambil tersenyum.


Tyno POV


"No…Tyno…Tyno!" teriakkan tepat di telingaku itu membuatku terbangun dan tersungkur.


"Alfan!" gentakku yang membuat Alfan langsung bergerak membantu ku berdiri, "Kau gila ya?!" gentakku lagi sambil memegang kepala ku yang terasa pusing.


"Maaf" sesalnya sambil tersenyum lima jari khas miliknya.


"Kenapa kau membangun kan ku ha?! Aku sudah bilang bangunkan aku saat menjelang maghrib!"


"Maaf kapten, saya hanya di perintah"


Aku menatap heran perkataan Alfan barusan, "Oleh?"


"Aku" suara perempuan memasuki tenda istirahat Tentara.


"Hiss" desisku pelan sambil menatap arah lain.


"Alfan kau boleh pergi" titah perempuan itu yang langsung di tanggapi Alfan dengan hormat.


"Jadi kapten sepertinya enak…selalu di dekati oleh banyak perempuan" ledek Alfan sebelum keluar.


Aku berniat memukulnya tetapi keburu lari anak itu, "Apa mau mu kali ini, Ekgita?" tanyaku datar tapi tidak dingin.


"To the point amat jadi atasan"  ujar Ekgi yang lalu menatap tajam dirikj, "Aku sempat berbicara dengan Dokter Aly tadi"


Aku menatapnya nanar karena terkejut, "Ada yang aneh…apa kau tidak merasakannya?" tanya perempuan itu dengan suara pelan, "Seperti ada yang mengawasi dirinya"


Aku mendelik terkejut dengan perkataan perempuan di depan ku sekarang, "Maksudmu?" tanyaku dengan nada bingung, oke aku memang bingung sekarang. Kenapa dia malah memberitahu ku tentang Kuntilanak hijau itu?


"Gak usah pura-pura" Ekgita menatapku jijik, "Kau sungguh menjijikan" ujarnya dengan nada jijik, "Kau bodoh, jatuh cinta aja gak tau?"


Aku menatap datar dia, "Ingin ku berkata kasar, besyukurlah kau perempuan" celetukku yang mengusap wajahku kasar.


"Terserah, yang jelas aku minta kau waspada juga" ujarnya dengan nada memerintah.


"Kenapa kau jadi yang repot?!"


"Karena aku menyukai Dokter Aly" jawabnya dengan wajah judes lalu keluar dari tenda istirahat.


Aku menarik rambutku kesal, "Sabar. Gak yang laki, gak yang perempuan. Sama-sama buat kesal" gumamku sambil mengambil minum air botol.


Sesosok pria masuk kedalam tenda istirahat, mata kami juga bertemu.


"Kau…"


Pria itu menatapku dalam.


"Tidak jadi" ujarku sambil menaruh beberapa barang di dalam tas gendong besarku.


"Kapten tau tidak, jika sesuatu milik anda tidak ingin direbut. Anda harus menjaganya bukan?" celetuk pria itu yang tiba-tiba naik, "Anda tau bukan…anda hanya akan jadi sumber masalah untuk orang yang anda cintai"


Aku menarik kerah baju miliknya, "Apa maksudmu, Sakti?" geramku yang menekan lehernya agar tercekik.

__ADS_1


"Hanya mengingatkan anda…seberapa buruknya dirimu!" ujarnya sambil mengatur nafasnya yang mulai pendek.


Bugh.


"Sialan kau, Sakti!"


"Althyno!"


3 orang memisahkan aku dari Sakti. 2 orang menarikku dan menahanku dan satu lagi membantu Sakti untuk bangun.


"Lihat! Lihat dirimu yang asli, Althyno!"


Aku ingin kembali memukul Sakti tapi ditahan oleh Miko dan Afrizal.


"Bangsat!"


"Bagus Kapten! Tunjukkan dirimu yang asli!" celetuk Sakti sambil menampis tangan Alfan yang membantunya berdiri, "Minggir gue bisa sendiri!" ucapnya sambil hendak berjalan keluar, "Ah iya…Kalian jangan cari aku lagi" ujar Sakti dengan nada mencekam, "Kapten, kita lihat kau atau aku yang akan menang" ujarnya sampai tubuhnya hilang dari pandangan kami.


"Akhh, Bajingan sialan!"


"Kejar Sakti! Dia memgambil beberapa senjata kita!" titah Miko pada Alfan dan Afrizal.


"Apa maksudmu?!"


"Komandan baru saja memberitahu kita tentang senjata yang hilang di markas beberapa waktu lalu, dan tadi aku serta Afrizal menemukan Langit terluka cukup parah, dia bilang itu ulah Sakti" jelas Miko dengan nada datar.


"Si Bangsat satu itu!" umpatku bergumam.


"Siap. Kami kehilangan jejak"


"Arghh!" kesal ku sambil memukul angin, "Bagaimana keadaan Langit?" tanyaku pada Miko.


"Dokter Cecil langsung mengambil tindakan, dan lukanya cukup serius"


Brak.


Merasa sangat emosi aku melempar kursi yang tadi aku duduki, "****!" umpatku lagi sambil berjalan keluar dari tenda istirahat,"Pantau semua sampai aku kembali" ujarku pada Mikobyang langsung memberi hormat.


Althyno Pov End.


"Kalian jangan lengah, bisa jadi yang seperti Sakti masih ada diantara kita" ujar Miko yang membereskan kekacauan yang dibuat Tyno tadi.


Di luar tenda Tyno hendak pergi untuk menenangkan dirinya. Tapi seorang perempuan menghadangnya, "Apa ada kemungkinan, dia ancaman itu?"


Tyno menatap tajam perempuan itu, "Kemungkinan iya"


"Kau harus extra hati-hati, seingatku Sakti itu salah satu pemilik ilmu bela diri yang berbeda"


"Apapun itu harus ku hentikan dia" 


...~...


Ayda tengah memindahkan beberapa kardus berisikan obat-obatan ke medicube. Sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahunya membuat kardus itu hampir terjatuh, untung saja orang yang mengejutkannya memiliki reflek yang bagus. Ayda berbalik dan menemukan Arif yang sedang melihat keadaan obat-obat itu.


"Lo gila ha?!" sentak Arif dengan emosi.


Ayda tertegun dengan perkataan Arif yang menurutnya bukan diri Arif. Beberapa detik Arif mengerjapkan matanya dan menarik nafas.


"Maaf tadi aku kaget liat kotak obat hampir jatuh" alasan Arif sambil tersenyum lembut.


Mendengar alasan itu Ayda hanya mengangguk saja, "Terimakasih" ujar Ayda yang kemudian melihat tangan Arif yang terluka, "Tangan mu kenapa?" tanya Ayda yang melihat Arif curiga.


"Aku tidak sengaja terjatuh tadi"


Ayda melihat kaos Arif yang memang kotor dengan tanah, "Kok bisa?" Ayda mengambil obat merah dan menggulung kaos setengah lengan itu.


"Seorang Tentara sepertinya tadi sengaja menabrakku" jelas Arif yang seketika mengepal kuat.


"Apa ada hubungannya dengan kejadian itu?" tanya Ayda sambil membersihkan luka Arif.


Arif terdiam sesaat dan menghela nafas berat, "Itu yang membuatku menemui mu"


Ayda berhenti mengobati Arif dan menatap pria itu tajam, "Aku gak ada urusan dengan masalah kalian. Aku membantu menyembunyikan fakta saja aku merasa sangat berdosa" ujar Ayda dengan penuh sesak di dada, "Jadi jangan bawa aku lebih dalam lagi ke masalah kalian" lanjut Ayda yang berjalan keluar medicube.

__ADS_1


Arif berdecih pelan dan melihat kotak obat-obatan yang tadi dibawa Ayda, "Setidaknya selesaikan dulu dengan benar pekerjaan mu"


Tap…


Sepasang kaki berhenti tepat di depan Arif. Merasa terkejut juga perlahan Arif mendongak dan menemukan Tyno yang menatapnya dengan tatapan datar. Merasa acuh Arif menggantikan Ayda membereskan obat-obatan itu.


"Anda teman Dokter Alyssa kan?"


Arif yang mendengar nama Aly disebut menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap Tyno heran, "Memang kenapa?"


"Anda teman Dokter Alyssa?" ulang Tyno dengan ekspresi bahkan nada yang sama.


'Cih. Tipe yang sangat ku benci' pikir Arif yang mengacuhkan pertanyaan Tyno dengan kembali menaruh obat-obatan pada tempatnya.


Tyno mengeratkan genggaman tangannya sampai memucat saat melihat Arif yang acuh padanya. Merasa mulai emosi Tyno mendekati Arif dan menyentuh bahunya.


"Apa lagi?!" gentak Arif.


Sengatan listrik bervolt rendah membuat Tyno mundur beberapa langkah dan terdiam beberapa saat. Tyno menggeleng keras dan memegang kepalanya yang sedikit pusing. Merasa sudah lebih baik dia menatap Arif yang sekaramg dengan tatapan heran.


"Tidak. Saya hanya ingin bertanya, dimana Dokter Aly sekarang"


Arif menaruh kotak kosong dan menatap Tyno tajam.


"Jangan pernah berfikir untuk melukainya, Kapten!" gertak Arif dengan nada yang lirih lalu meninggalkan Tyno yang masih terdiam dengan perkataan Arif barusan.


"Aneh. Kenapa aku melihat Zakra?" gumam Tyno yang melihat kotak kosong yang tadi dibawa Arif.


Arif yang berjalan melewati tenda informasi tiba-tiba terhenti dan berdecih pelan, "Bangsat, bisa-bisanya gue kebawa emosi!" gumamnya sambil memukul angin.


"Dokter Arif" mendengar seseorang memanggilnya Arif terdiam dan mengumpat pelan.


"Nabila" pamggil balik Arif sambil tersenyum lembut.


...~...


Inggris, 20.00


Seorang pria muda tengah membaca dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya. Pria itu membaca semua dokumen itu dan tiba-tiba melempar dokumen yang baru saja dia baca.


"Siapa yang buat laporan itu?!" teriak pria muda itu.


Seorang pria dengan wajah tegang masuk kedalam ruangan pria tadi, "Tuan Muda, saya dapat informasi tentang Nona Muda Arikinan" ujar pria yang tadi baru masuk.


Pria muda tadi tiba-tiba tersenyum lebar, "Finally, My Love, Alyssa"


Purwokerto, 20.00


Iyas tengah membereskan cafe tempat dia bekerja, namun ia di kejutkan dengan seorang pria berpakaian casual dengan topeng Singa tergantung di lehernya.


"Lukman! Apa-apaan lu di sini?" tanya Iyas sambil menarik pria bernama Lukman itu keluar cafe.


Lukman membungkuk sedikit memberi hormat pada Iyas, "Kabar buruk Tuan" Iyas menatap Lukman tajam, "Tuan Muda…keluarga Garvain sudah menemukan Nona Muda"


Iyas membuka mulutnya lebar dan menatap Lukman tidak percaya, "Kok bisa?!" Iyas mengusap wajahnya kasar, "Mama tau ini?" Lukman mengangguk sesaat, "Ya Rabb, Lukman!" tatapan Iyas berubah, "Hubungi Bear, ubah rencana"


Lukman menatap Iyas tidak percaya, "Tuan Muda saya ada ide yang lebih baik"  ujarnya dengan nada bergetar, "Kita kirim Fox kesana"


Iyas menatap Lukman makin tajam lalu mengalihkan pandangannya. Beberapa saat Iyas terdiam dan mengulurkan tangannya ke Lukman. Tanpa diberitahu Lukman memberikan handphonenya ke Iyas. Sebuah nada sambung terdengar…


"Heh Singa! Bisa diem gak?! Gue sibuk nih!"


"Sibuk apa?"


Beberapa saat tidak terdengar sepatah kata, "Raven? Nggak, anu aku…mau persiapan patroli nanti sama tim"


"Ke Lombok, jaga Lysa. Bastian udah nemu lokasinya"


"Ha! Kok bisa?!"


"Gak usah banyakan bacot, jalankan perintah!" Iyas langsung menutup telfonnya dan memberikan pada Lukman, "Kita pulang"


'Sebastian, bajingan satu itu'

__ADS_1


...****************...


__ADS_2