Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 7


__ADS_3

...****************...


Setelah selesai Tyno langsung berjalan menghampiri Aly yang masih membersihkan luka pada kakinya. Mendengar suara langkah kaki mendekat Aly langsung mencari tahu siapa yang mendekat. Saat tahu kalau itu Tyno Aly hendak berdiri tapi di cegah Tyno dengan menahan kedua pundaknya.


"Bagaimana keadaan anak itu? Dia baik-baik saja kan? Dia dibawa ke tenda medis kan?" tanya Aly berturut-turut yang membuat Tyno harus memijat pelan pangkal hidungnya.


"Huftt, Berilah hamba kesabaran" gumam Tyno sambil berdecak pinggang, "Dengar anak itu pasti langsung di bawa ke tenda Medis, mana mungkin dia di kubur kembali kedalam reruntuhan" jawab Tyno yang sedikit kesal.


"Syukurlah. Kalau begitu aku harus memeriksa anak itu" sebelum Aly berdiri lagi-lagi Tyno mencegahnya dan membuatnya kembali duduk di atas puing bangunan yang sedikit tinggi itu.


"Kau tidak lihat keadaanmu sendiri!? Lihat kaki mu terluka dan tadi juga kau mimisan kan!" kesal Tyno yang sedikit berteriak.


"Terus kenapa kau juga masih berada disini? Apa kau tidak bekerja?!" tanya Aly balik yang juga berteriak.


Tyno menghela kasar, "Sudah banyak tentara yang bekerja".


"Ha? Apa kau tidak takut dengan Kapten divisi utama?!"


Tyno menatap Aly datar lalu berjongkok membelakangi Aly, "Naik, tak ada penolakan"


"Mau kemana?"


"Membuangmu kedalam reruntuhan! Tenda medis darurat!" kesal Tyno sambil masih dalam posisi yang sama.


Aly menatap punggung Tyno, sekilas bayangan Zakra melintas membuat Aly menggeleng kuat dan berjalan pelan kearah Tyno. Saat Aly menaiki punggung Tyno bau mint langsung menyergap indra penciuman Aly. Merasa Aly sudah menaiki punggungnya dengan hati-hati Tyno berdiri. Saat itu juga bau manis strawberry kembali menyeruak penciumannya.


'Sepertinya bau ini membuatku kecanduan' pikir Tyno sambil berjalan pelan.


"Apa aku tidak berat?" tanya Aly yang menyembunyikan wajahnya di balik bahu Tyno.


Tyno tersenyum tipis, ternyata di balik ketegasannya, keras kepala dan egois Aly juga ada sifat pemalu dan tidak enak pada orang lain, "Tidak, kau seringan bulu".


"Harusnya kau tetap bekerja saja".


"Kau orang keempat yang berani memerintahku".


Mendengar jawaban itu Aly menyerit heran, "Harusnya aku yang kelima dong!".


"Lupakan" jawab Tyno datar.


"Dasar Tentara geblek" gumam Aly sambil kembali menyembunyikan wajahnya di balik bahu Tyno.


"Aku masih bisa dengar Kuntilanak hijau"


"Kau?!"


"Apa?"


"Lihat, kau memang takut maju saja" monolog Miko sambil tersenyum tipis saat memperhatikan Tyno dari jauh, "Sekarang giliranku untuk berjuang ya?" gumam Miko sambil melihat seorang perempuan berambut sebahu dengan rompi medisnya.


...~...


Aly mengelus pelan pipi anak kecil itu. Setelah 2 jam penyelamatannya, anak itu terbangun sambil menangis. Ayda langsung menenangkannya dan memberinya makan, karena dia terlihat sangat kelaparan, ditambah dia juga dehidrasi parah. Setelah makan dia kembali tertidur, kini dia terbaring dengan oksigen menutupi mulut dan hidungnya di tenda pasien. Surai cokelatnya mengingatkan dia pada Ibunya sendiri.


"Dia tidak ada masalah, hanya dehidrasi dan gangguan pernafasan ringan" ucap Alfi sambil mendekati Aly yang duduk di samping ranjang anak itu, "Walau begitu, nafasnya sudah mulai teratur".


"Apa kau sempat tanya nama dan keberadaan orang tuanya terakhir kali?" tanya Aly sambil mengecek kecepatan infusnya.


Alfi mengangguk, "Namanya Lisa Crystalia. Dia bilang jika terkahir kali dia bersama Ayahnya yang kemungkinan juga berada di dalam reruntuhan bangunan yang sama".


"Apa dia juga bilang sesuatu tentang Ibunya mungkin?" tanya Aly yang mengambil alih clipboard milik Alfi.


"Iya, dia bilang jika dia berada di Lombok untuk liburan sekitar 1 minggu".


Mendengar itu Aly menghela nafas pelan, "Berarti kemungkinan Ibunya masih hidup" gumam Aly yang menyerahkan kembali clipboard milik Alfi, "Informasikan hal ini pada Kapten Divisi umum agar dia segera mencari Ibunya" titah Aly yang berjalan melewati Alfi.


"Tapi tadi ka…"


"Dokter Aly!?" seru Lilis yang membuat perkataan Alfi terpotong, "Bisa kau bantu kami?!" tanyanya buru-buru.


Aly yang memahami keadaan Lilis langsung mengikutinya keluar tenda pasien dan menemukan Dokter Anji bersama Dokter Tio tengah menangani seorang pasien yang tengah kejang. Aly bisa melihat Dokter Tio yang berusaha menyuntikan anti kejang pada pasien itu, dan Dokter Anji yang memegangi pasien itu. Saat Dokter Tio akan menyuntikan suntikan itu, Aly mencegahnya.


"Apa dia mengalami cedera kepala?" tanya Aly yang langsung mencari sesuatu.


"Iya"


Aly menemukan sebuah kayu yang digunakan untuk menahan kotak obat-obat.


Trek.


Aly menarik salah satu kayu yang sudah tidak terpaku.


Tak!.


Kayu itu patah, dan perlahan lalu dengan cepat Aly memukul dada pasien itu.


Bugh.


Pada pukulan terakhir, perlahan pasien itu berhenti mengejang dan bisa bernafas dengan sedikit normal. Aly membuang kayu itu dan mengecek keadaannya. Lilis, Dokter Tio, dan Dokter Anji bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Detak jantung pasien kembali normal" laporan Lilis itu membuat mereka menghela nafas lelah.


"Selain cedera otak, dia punya Epilepsi. Saya sarankan untuk terus mengawasinya karena bisa sewaktu-waktu hal ini kembali terjadi" ujar Aly yang kemudian menatap Anji yang masih terlihat shock, "Inilah dunia kita, menyusahkan bukan? Tapi menurutku menjadi Dokter itu lebih mudah daripada menjadi penjinak Harimau yang bisa saja menerkam mu kapan saja" ledek Aly yang seperti meraum di depan Anji, "Sekarang jangan pikirkan kata orang lain. Tegakkan kepalamu dan melangkah kedepan dengan penuh percaya diri" ucap Aly sambil menepuk pundak kanan Anji, "Buatlah keputusan yang sekiranya itu terbaik untuk semua orang" bisik Aly yang berhasil membuat Anji mematung.


Aly yang meninggalkan tenda darurat sambil membaca clipboardnya tidak sengaja menabrak seseorang.


"Ah maaf. Eh, Miko? Perlu sesuatu?" tanya Aly lembut sambil tersenyum manis.


Miko menunjuk ke tenda obat-obatan yang berada 3 meter dari tenda darurat itu, "Aku butuh obat merah".


Aly tersenyum dan berjalan pelan menuju tenda obat-obatan yang diikuti Miko, "Kakimu kenapa?" tanya Miko yang pura-pura tidak tahu.


"Ahh ini…" Aly berusaha mengambil obat merah yang berada di rak bagian atas, "Jatuh tadi. Memang obat ini untuk siapa?".


"Salah satu bawahanku terluka".


"Bawahan mu atau dirimu sendiri?" tebak Aly yang masih diiringi senyuman.


Miko terkejut dengan pertanyaan Aly yang sebenarnya tepat, "Mari aku obati" tawar Aly yang hanya diangguki Miko, "Kau ini komandan atau Kapten?" tanya Aly sambil mengoleskan alkohol untuk mensterilkan lukanya.


"Aku hanya Pembantu Letnan Dua" jawab Miko dingin.


"Jangan patah semangat, hanya karena pangkat. Suatu hari pasti bisa lebih tinggi dari dugaan siapa pun" celetuk Aly yang selesai memberikan perban tempel pada lengan Miko.


Lagi-lagi Miko terkejut tapi dia hanya memasang wajah datar, "Terimakasih" ujar Miko yang lalu meninggalkan Aly disana.


"Baiklah mari kita li…"


"Aku bilang tinggalkan aku!"


Aly POV.


Mendengar suara seseorang membentak membuatku mencari sumber suara itu. Aku melihat Ayda dan Naufal? Masuk kedalam tenda bersama.


"Ternyata kalian. Kalian…bersama?".


Ayda mendelik kepada ku, "Manusia ini terus mengikuti aku daritadi! Padahal aku tengah sibuk!" ujar Ayda sambil melirik sinis Naufal, Perawat dari Surabaya itu.


"Aku hanya mencoba membantu saja" celetuk Naufal sambil tersenyum dalam aksi membela dirinya sendiri.


"Kau itu menghambatku!" geram Ayda.


"Ayda" tegurku halus, "Naufal mungkin kau bisa membantunya, tetapi sewajarnya saja" aku berjalan melewati mereka, "Kalian kerjakan saja apa yang harus di kerjakan, aku juga punya banyak pekerjaan".


"Aku akan membusuk disini" gumam Ayda yang masih bisa aku dengar.


Di belakang tenda informasi tidak sengaja aku melihat Alfi yang tengah mengobrol dnegan seorang Tentara. Alfi terlihat sangat malu-malu, dan aku juga dapat melihat pipinya yang memerah.


"Terimakasih sudah membantu ku" ujar tentara itu sambil tersenyum manis.


"Sama-sama…lain kali lebih berhati-hati".


"Iya, kau juga" tentara itu menepuk pelan kepala Alfi, "Kalau begitu aku kembali kerja" pamit Tentara itu yang langsung meninggalkan Alfi sendirian disana.


Aku menghampirinya dan, "Hayo siapa tadi?".


"Aly kau buat aku kaget!".


"Hehe. Cie punya gebetan nieh ye" ledek ku sambil menoel pipinya.


"Apa sih, kami hanya saling membantu tadi"


"Siapa sih namanya?" Alfi terdiam yang malah meninggalkan ku, "Beri tahu atau aku…".


"Kau juga sudah tahu ngapain aku beritahu coba".


"Kan gak sopan gitu".


"Kau punya sopan santun?".


Aly POV end.


Seorang pria bersembunyi di balik tenda istirahat. Saat Aly dan Alfi baru memasuki tenda, pria itu menjauh dan mengeluarkan walkie talkie dengan warna berbeda.


"Seharusnya kau memberitahuku kenapa kau tidak ada disini. Jadi aku tidak repot mengawasi dia!" geram pria itu dengan sedikit lirih.


Sttt "Diamlah! 2 hari lagi aku akan kesana!"


Sttt "Kalian akurlah! Ingat misi kita!"


"Kau yang diam, kelinci busuk!"


Sttt "Apa?!"


Sttt "Bagaimana keadaan disana?"


"Ada kabar baik…" pria itu berhenti dan bersembunyi di balik tenda istirahat tentara, "Sekali tepuk dua lalat tertangkap" ujar pria itu yang berbicara lirih sambil memperhatikan tiga Tentara, dimana salah satunya sedang dia bicarakan.


"Jadi anda beneran suka Dokter itu?"

__ADS_1


"Diamlah kau"


"Wahh Kapten kita berubah"


"Diam kalian!"


"Kalian jangan buat singa tidur bangun"


"Miko?" dua tentara yang sedang mengusili Tyno terdiam dengan perkataan Miko barusan.


Mereka mengingat bagaimana saat singa itu terbangun. Tyno tersenyum licik dan merangkul dua Tentara itu dimana mereka adalah bawahannya sendiri, "Kalian pernah dengar, jangan kira air yang tenang tidak terdapat buayanya?"


"Siap!"


"Pergi" usir Tyno dengan dingin.


Dua orang itu memberi hormat dan meninggalkan Tyno bersama Miko, "Apa Sakti tidak ada kabar?".


Tyno menggeleng, "Katanya dia masih di daerah yang rawan" jawab Tyno sambil menatap Miko, "Ku dengar kau dapat promosi"


Miko tersenyum tipis lalu menghela nafas kasar, "Letnan Dua, seperti Alfan".


"Baguslah, setidaknya bawahanku di pasukan khusus tidak akan di pandang sebelah mata lagi" celetuk Tyno sambil berniat meninggalkan Tyno.


"Ya setidaknya perkataan Dokter Alyssa memang menjadi kenyataan" celetuk Miko yang berhasil membuat Tyno langsung berbalik dan menatapnya marah, "Kami hanyalah berbincang ringan tadi" jawab Miko saat melihat wajah Tyno yang seakan berkata mengapa dia membawa nama Aly.


...~...


4 Juli 2018


Bima baru saja selesai praktek menggantikan Aly dan Arif. Baru saja sesaat dia terduduk, barang yang berada di meja dekat tempat periksa pasien terjatuh dengan sendirinya. Melihat itu Bima hanya memutar matanya dan mengambil barang itu, tapi saat dia akan menaruh kembali sebuah tangan pucat memegang pergelangan tangannya. Reflek Bima menarik tangan pucat itu dan mencekik sosok yang mengganggunya.


"Kau!"


"Hehe"


"Jangan ketawa seakan gak bersalah ya" seru Bima pada sosok itu.


Sosok itu mengelus pelan lehernya dan melayang duduk di ranjang pasien, "Aku ada kabar nih".


Bima menaikan salah satu alisnya, tetapi sesaat kemudian dia menaikan tangannya tanda untuk berhenti, "Kita lanjutkan di ruanganku saja" ujar Bima sambil keluar dari ruang prakteknya.


Saat berjalan menuju ruangannya Bima hanya menatap lurus jalan dengan wajah datarnya. Sampai seorang wanita menabrak dia, Bima hanya membungkuk minta maaf saja. Tapi dia berhenti sebentar dan berbalik menatap wanita itu. Bima terus memperhatikan wanita itu dengan seksama sampai dia hilang dari pandangannya.


"Ada apa?" tanya sosok yang tadi mengobrol dengan Bima di ruang prakteknya.


Bima hanya menggeleng lalu kembali berjalan, 'Tadi itu aura darah kan?'


Tok…tok…tok


Pintu ruangan Bima terketuk membuat dirinya yang sedang melamun sedikit terkejut, "Masuk"


"Kau kenapa?" tanya Feni yang masuk kedalam ruang kerja sementara Bima yang merupakan ruangan milik Arif.


"Tidak"


Feni menyerit sambil menyerahkan laporan pasien milik Aly, "Kau memikirkan Aly kan?"


Bima menatap Feni sesaat kemudian menghela nafas kasar, "I just worrying. Sudah hari ke 5, tapi Arif dan Aly belum memberikan kabar".


"Mungkin sinyal disana belum aktif" kata Feni yang berusaha menenangkan Bima agar tidak terlalu khawatir dengan Aly, "Apa aku boleh bertanya?"


"Tentu"


"Sebenarnya apa hubungan kau dengan Aly?" tanya Feni penasaran.


Feni memang guru Bima dan Aly, tapi dia tidak terlalu mengenal Aly. Itu karena dia memang sedikit tertutup. Dulu saat pertama kenal, Feni pernah kena semprot Aly karena dia terlalu meremehkan Aly yang kala itu masih berumur 17 tahun yang sudah menjadi koas. Aly tidak pernah bercerita hal pribadinya kepada Feni, walau Feni adalah guru pribadinya.


Bima menghela nafas lagi, "Kami kenal karena dia dulu koas di rumah sakit pusat".


"Iya, aku tau itu".


"Tapi saat dia residen dia dipindahkan kemari".


"Iya aku ingat".


"Semua berawal dari mulut besar milik sahabatku yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke Aly".


Feni menyerit heran, "Maksudmu Zakra?".


Bima menatap Feni heran, "Kok…"


Feni tersenyum kecut, "Aku selalu merasa bersalah pada mereka" dia menatap Bima sendu.


"Jangan begitu" Bima mendekati Feni, "Jadi mau di lanjutkan ceritanya atau tidak?"


"Ya, lanjutkan lah!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2