Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 31


__ADS_3

...****************...


Di sebuah rumah sederhana seorang perempuan tengah bermain handphonenya yang menampilkan beberapa merchandize tentang Kpop. Perempuan itu tersenyum dan mencengkram handphonenya kencang tanda dia gemas.


"Hehe gak sabar beli deh"


Tin.


Klakson mobil membuat perempuan itu sempat tersentak dan memegang dadanya yang masih berdegup kencang karena terkejut. Perempuan itu menaiki mobil dan tersenyum gemas pada sang pengemudi.


"Apa liat-liat?"


"Alyssa Mustika Arikinan, kau itu mengejutkan ku tahu!" teriak perempuan itu karena gemas dengan pengemudi yang merupakan Aly.


"Alfira Senja Ramadhani, jangan banyak omong. Kita mo kemana sekarang?"


Alfi hanya membuka mulutnya karena tidak percaya, "Astaga kenapa aku kesal banget ya?"


"Kesalnya nanti aja, sekarang kita kemana?"


Alfi menghela nafas geli, "Extramall aja"


Dia kesal tapi dia gak bisa apa-apa juga. Selain ukuran tubuh, otaknya dan Aly juga berbeda. Bahkan Alfi saja sempat heran saat dia disuruh jadi perawat andalan Aly. Bagaimana dia tidak heran, Aly yang saat itu berumur 20 sudah menjadi Dokter Khusus, dan dirinya baru bisa menjadi perawat pada umur 23.


"Kenapa makhluk seperti mu bisa jadi senior ku?" celetuk Alfi sambil melihat keluar jendela.


Aly hanya bisa tersenyum sombong, "Kalah di otak berarti kamu"


Alfi menatap Aly kesal, "Penghinaan banget yakin"


Aly hanya tertawa mendengar perkataan Alfi tadi. Beberapa menit kemudian mereka sampai di basement sebuah mall. Aly merangkul Alfi dan berakhir Alfi yang harus ke tempat penjual merchandise itu sendirian karena Aly harus ke supermarket.


Alfi POV


"Masih untung dia mau di ajak keluar" gumam ku sambil menaiki evalator.


Saat aku sampai di depan toko yang menjual merchandise itu, tiba-tiba semua pandangan ku menjadi gelap. Seseorang telah menutup mataku.


"Astaga! Siapa?!" tanya ku yang sedikit panik. Pasalnya jika Aly dia pasti akan langsung melepaskan tangannya saat aku sudah panik atau terkejut, tapi ini…


"Kau tidak rindu pada ku?" bisik orang itu tepat di telinga ku.


Perlahan tangan itu turun dan aku langsung berbalik menatap siapa yang mengejutkan ku tadi. Aku terbelak terkejut, "Alfan?"


"Hai, kita ketemu lagi" sapa Alfan dengan senyuman manisnya.


'Astagfirullah, nikmat mana yang kau dustakan Ya Allah. Senyumannya itu loh!' teriak ku dalam hati saat melihat senyuman manis milik Alfan.


"Hei, hello!" Alfan melambai-lambaikan tangannya di depan ku yang membuatku kembali ke alam sadar ku, "Kenapa bengong?"


"Ah iya, kenapa?"


"Tadi aku tanya, kau sedang apa disini?"


Aku menunduk malu, "Aku…aku ingin ke sana" ujarku lirih sambil menunjuk toko yang menjual merchandise itu.


Alfan mengikuti arah yang ku tunjuk, "Ohh, kau sendirian disini?" tanyanya lagi dan membuatku memberanikan diri untuk melihat matanya.


"Tidak, tadi bareng Dokter Aly kok, cuma dia sedang di supermarket sekarang" jelas ku sambil tersenyum malu.


"Jadi dia disini?" tanya seseorang yang membuatku terkejut. Gimana tidak tadi perasaan tidak ada orang di depan ku atau bahkan di belakang Alfan, tapi bagaiman ada suara seseorang dari arah belakang ku.


Aku terkejut saat melihat seorang laki-laki yang bersandar pada pilar yang tak jauh dari tempat kami berdiri, "Kapten? Sejak kapan anda disitu?"


Laki-laki itu menatapku datar dan dingin, "Sejak dunia hanya milik kalian berdua" sindir Kapten Tyno yang tepat menusuk jantungku. 


Aku menutup wajahku karena malu, tapi tiba-tiba Alfan menutup telinga ku dari arah belakang, "Jangan dengarkan setan iri"

__ADS_1


Aku mendongak dan melihat dia tersenyum dan tatapan yang sulit diartikan. Tatapannya seperti puas tapi senyumannya seperti sedang mengejek.


"Hei, yang boleh memanggilku setan hanya Dokter Aly saja!" ucap Kapten Tyno dengan penekanan pada kata Dokter Aly.


Aku melihat Alfan yang  sekarang tersenyum sinis seperti mengejek.


"Aigoo, kenapa sih kalian berdua gak bisa akur? Apa gak capek kalian?" suara cempreng itu terdengar dari arah evalator.


"Lupa gue lagi bawa dia" gumam Alfan yang hanya dapat di dengar oleh ku.


Sedangkan Kapten menatap perempuan itu acuh. Aku? Jangan tanya sekarang aku hanya bisa menatap perempuan itu bingung.


"Ah aku ada ide. Rara gimana kalo kamu pergi belanjanya sama kakak ini?"


Aku mendelik terkejut dengan pertanyaan Alfan tadi,sedangkan perempuan bernama Rara itu memasang wajah seperti sedang berfikir.


Rara mendekati ku dan mengulurkan tangannya, "Hai, nama ku Rara"


"Ah iya, aku Alfi" ucapku sambil menyambut jabatan tangannya.


"Kakak suka Kpop?"


"Umm iya"


"Good, aku akan belanja dengan kak Alfi aja. Kak Alfan jangan lupa buat jemput aku disini lagi oke" kata Rara dengan riang sambil menarik ku kedalam toko itu.


Alfi POV end.


"Siap bu boss" celetuk Alfan sambil memberikan hormat, "Akhirnya! Aku bebas!" Ujar Alfan yang terdengar lesu di akhir katanya.


"Minta nomor Aly ke Alfi,lalu kirim ke aku" kata Tyno yang berjalan menuju evalator yang turun diikuti oleh Alfan.


"Kebiasaan. Jadi kita ke supermarket?" tanya Alfan sambil mencoba melihat ekspresi Tyno saat ini.


"Tidak, belum waktunya"


...~...


Aly sampai di rak khusus kopi dan tak sengaja dia menabrak seseorang, "Ah maaf" sesal Aly sambil menunduk meminta maaf lalu melewati orang itu begitu saja.


Saat Aly akan mengambil sebuah kemasan teh dirinya tak sengaja terjatuh dan kotak kemasan teh itu juga hampir mengenai dirinya jika saja pria berpakaian serba hitam menyelamatkannya.


"Ha? Terimakasih" ujar Aly sambil mendongak menatap wajah pria itu.


Deg.


"Haha, tak apa. Lain kali hati-hati. Bisa berdiri sendiri?" ujar pria itu sambil membantu Aly berdiri.


Deg.


Sentuhan pria itu membuat Aly semakin risih dan takut.


"Ah terimakasih"


"Tentu, kau ingin mengambil yang mana?" tanya pria itu sambil menaruh lagi kotak teh yang berjatuhan tadi.


Aly menunjuk salah satu merk teh, "Itu"


Pria itu mengambilkan untuk Aly tapi saat Aly menyentuh tangan pria itu,pria itu merintih kesakitan, "Anda tak apa?"


"Oh ya saya tidak apa, tapi tadi anda menyentuh tangan saya yang terluka"


"Sungguh, bisa saya lihat lukanya?"


Pria menyerit bingung, "Ah, saya Dokter jadi jangan khawatir"


"Ohh, ini" ucap pria itu sambil memberikan tangannya yang terluka.

__ADS_1


"Bagaimana anda mendapatkan luka ini?" tanya Aly yang heran dengan luka pria di depannya.


Pria itu tersenyum tipis, "Ya bagaimana lagi, ini resiko punya pekerjaan…membunuh" ujar pria itu lirih.


"Ya?"


"Maksudnya saya, saya tukang jagal"


"Ohh, lain kali berhati hati lah. Memang dari lukanya terlihat seperti bekas benda tajam"


"Iya, kalau begitu saya permisi dulu Dokter" pamit pria itu yang menarik tangannya dan tersenyum lembut sebelum dirinya menghilang dari pandangan Aly dengan berbelok ke arah rak lain.


Aly terdiam beberapa saat lalu bersandar sebentar di pegangan trolinya, "Huh mengerikan" gumam Aly yang masih mengatur nafasnya, "Aku harus cari tahu siapa wanita itu"


...~...


Di sebuah ruangan Bernando yang masih di Rumah Sakit untuk merawat masternya itu terus memperhatikan alat EKG milik Sebastian. Dia menggenggam tangannya kuat-kuat. Monty yang memang sedang bertugas membantu Bernando dan menjaga Sebastian hanya melihat itu acuh.


Helaan nafas kesal keluar, "Kau bisa sedikit lebih tenang atau tidak?" tanya Monty yang mulai merasa kesal.


Bernando menatap Monty, "Kalau kau bosan, kau bisa keluar"


Monty hanya menganga tidak percaya, "Kau mengusir ku?"


"Monty" panggilan lembut itu membuat Monty mencari sumber suara. Begitu juga Bernando yang langsung mendongak melihat siapa yang datang, "Ini Rumah Sakit loh" tegur halus perempuan itu.


"Nyonya" sapa Monty sambil membungkuk, "Ada apa anda kemari?"


"Hanya ingin menjenguk, bagaimana keadaannya?" tanya Enda yang menatap Bernando sedangkan yang di tatap hanya acuh dan fokus pada EKG milik Sebastian.


"Masih sama" jawab Monty sambil menatap kesal Bernando.


"Seperti dia akan sadar" celetuk Enda yang menunjuk jari Sebastian yang bergerak.


Bernando langsung menghampiri ranjang Sebastian bersamaan dengan Enda.


"Panggil Dokter" pinta Enda pada Monty yang diangguki oleh Monty yang langsung menekan bel ruangan Sebastian.


"Syukur, semua mujizat dari Tuhan. Keadaan Tuan Sebastian sudah mulai membaik, bahkan jika hasil pemeriksaan besok baik dia bisa di pulangkan" jelas Dokter yang tak lain adalah Bima, "Saya pamit dulu, permisi"


"Dokter bilang kalau hasil pemeriksaan mu besok bagus, kau boleh pulang" ujar Monty yang menerjemahkan pada Sebastian dan Bernando.


Saat ini Bernando berada di rooftop sendirian menatap ramainya kota Purwokerto. Sebungkus rokok terpampang di depannya. Monty menawarkan rokok itu pada Bernando yang di terima baik oleh Bernando.


"Saat aku terlalu stress atau khawatir…"


Ctass.


"Aku akan lebih sering merokok" ujarnya sambil menyalakan rokok itu dan menawarkan koreknya ke Bernando, "Kalo ada yang di pikirkan"


Bernando mengambil seputung rokok dan langsung menyalakannya, "Sebastian dan aku punya selisih umur 10 tahun" celetuk Bernando memecahkan keheningan mereka, "Dulu sewaktu dia masih 5 tahun, Lady Reinly meminta ku untuk selalu berada di samping Sebastian apapun keadaannya" Bernando menyesap rokok dalam dalan lalu menghembuskan asapnya, "Suatu ketika aku di beri tugas oleh Master Dave untuk membunuh Lady Reinly" Bernando berhenti sejenak menatap rokoknya, "Aku menerima tawaran itu tanpa sepengetahuannya"


Monty menatap Bernando lalu tertawa ringan, "Aku berniat membunuh Lady Alys karena uang" Monty menyesap rokoknya dalam dalam lalu membuang putung rokok yang masih setengah itu, "Aku jujur pada mereka dan mereka memaafkan ku. Bahkan aku di tawari untuk menjadi predator"


Bernando menyesap rokoknya dan membuang putungnya yang sudah habis, "Bukannya kau Predator?"


"Bukan" tapi Monty sambil melihat keramaian kota Purwokerto dari atas, "Aku cuma mantan berandalan yang ingin memiliki pekerjaan"


"Kau bukan Predator?"


Monty menggeleng, "Kalau bukan keinginan saudaraku aku tidak akan disini sebagai penggantinya" dia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar, "Aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku di depan keluarga Arikinan" ujarnya yang langsung meninggalkan Bernando tanpa berbalik sekalipun.


Bernando melihat bungkus rokok yang masih terisi setengah itu, "Terus kenapa kau masih ada di dekat mereka?"


"Karena mereka keluarga ku!" teriak Monty dari bibir pintu yang membuat Bernando berbalik, "Mereka adalah keluarga terbaikku!" teriak Monty lagi yang di akhiri dengan tawa dan senyuman puas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2