
...****************...
29 Sept
Palu, 03.44
"Aku ingin menangis" celetuk Iza saat mereka baru tiba di Palu.
"Jangan menangis dulu, kita harus be…"
Perkataan Aly terpotong oleh suara gemresek ht sang sopir truk yang mengantarkan mereka.
"Kami perlu tenaga media tambahan di daerah Ulujadi"
Aly menatap teamnya yang dari Purwokerto. Seakan tahu apa yang Aly pikirkan, mereka mengangguk dengan serempak.
"Bawa kami kesana" ujar Aly pada sang supir.
Tentara itu berbalik dan menatap Aly serta teamnya heran. Lalu menyalakan mesin truknya kembali.
"Neli!" panggil Aly pada seorang Dokter yang baru saja turun dari truk itu, "Aku percayakan daerah ini padamu" Neli mengangguk mantap lalu berlari menuju seorang pasien yang baru saja di tandu.
Saat mereka baru sampai di tempat yang memerlukan lebih banyak tenaga medis.
"Oke, aku sudah menangis sekarang" celetuk Iza lagi sambil menghapus air matanya.
"Hentikan tangisan mu itu" ujar Aly yang dengan kasar mencubit pipi Iza, "Dengar, kita punya 4 pita" Aly mengeluarkan gulungan pita dari dalam tasnya, "Biru, untuk luka ringan dan kondisi membaik, orange untuk darurat dan luka berat merah kritis dan perlu pantau, dan…" Aly terdiam sesaat saat mengambil pita terakhir, "Hitam untuk korban meninggal dunia" lanjutnya dengan nada sedih, "Sekarang. Berpencar!" titah Aly yang langsung di tanggapi oleh Arif dan Ayda.
Sedangkan Alfi, Iza dan David harus membawa barang-barang mereka ketempat istirahat. Saat Alfi sedang membereskan barang-barang apa saja yang harus ia bawa bersama Iza. seseorang menutup matanya.
"Kau merindukan ku?" suara itu membuat Alfi tersenyum dan mengangguk.
"Hello! Aku masih disini loh!"
Alfi dan Alfan tertawa bersama melihat kepasrahan Iza.
"Kau romantis juga. Mengingatkan ku pada Zakra" celetuk Iza sambil menggendong tasnya, "Aku duluan" pamitnya yang langsung menghilang dari balik tenda.
"Zakra?" tanya Alfan pada Alfi.
"Mantan kekasih Dokter Aly yang meninggal karena melindunginya" jelas Alfi singkat karena Alfan sudah paham.kondisi Aly yang sekarang.
Alfan terdiam sesaat sambil memperhatikan sekitar, "Jadi selain penculikan ada pembunuhan juga? Dan Dokter Aly masih terlihat setegar itu?"
"Yang ku tahu" Alfi berdiri dan menggendong tasnya, "Aly yang ku kenal adalah seorang yang tak pernah menyerah" Alfi tersenyum dan di balas senyuman oleh Alfan.
...~...
Hari mulai terang karena sudah hampir fajar. Aly yang sudah berjam-jam bolak balik untuk membantu pasien atau mengecek keadaan para korban, mulai menghela nafas panjang sambil memperhatikan langit yang mulai bewarna keunguan. Dia menatap langit cukup lama sampai akhirnya dia menunduk dan menemukan tali sepatunya yamg susah terlepas. Beberapa detik Aly terdiam lalu dia berjongkok satu kaki sambil menurunkan tas ranselnya untuk memperbaiki ikatan tali sepatunya. Namun, saat dia akan mengikatnya, sepasang tangan sudah mengikatnya terlebih dahulu. Aly cukup terkejut sampai hampir terjatuh.
__ADS_1
Aly menatap orang yang membantunya mengikatkan tali sepatunya. Orang itu masih mengikat tali sepatu Aly lalu meminta Aly mengganti tumpuan kakinya.
"Aku benar-benar menyesal karena pergi tanpa menyelesaikan masalah kesalahpahaman kita" celetuk pria di depan Aly dengan nada penuh sesal.
Aly tertegun dengan pria dihadapannya kini. Pria itu lalu berdiri di susul Aly sambil mengangkat tas ranselnya. Aly menunduk sesaat lalu menatap mata hitam yang sekarang terlihat hangat dan penuh penyesalan itu.
'Zakra punya mata cokelat yang hangat juga kan?' pikir Aly sambil menebak-nebak ingatannya. Sekelebatan bayangan tersenyum Zakra yang mengalah saat mereka bermain kartu tiba-tiba muncul.
"Aku anggap penyesalan mu itu sebagai permintaan maafmu, Althyno" ujar Aly tanpa ekspresi dan nada yang datar.
Tyno menghela nafasnya pelan, lalu mulai mendekati Aly. Dia menatap Aly dnegan mata sendu lalu memegang pipi kanan Aly, "Aku tidak akan berada di dekat mu terus. Jadi, jangan terluka" Aly mendongak dan terkejut dnegan perkataan Tyno tadi, "Karena jika kau terluka, aku akan sangat menyesal dan tak akan memaafkan diriku" gumam Tyno yang membuat Aly membelakan matanya terkejut.
"Kenapa kau sangat memperdulikan ku?" tanya Aly yang masih memasang wajah terkejutnya.
Tyno tersenyum lalu menyatukan dahinya dengan dahi Aly, "Karena aku menyukaimu…tidak, tapi mencintaimu"
Kata-kata itu berhasil membuat Aly membeku. Ini susah ketiga kalinya dia mendengar hal itu dari Tyno. Tapi yang membuat dia membeku adalah keadaan ini persis seperti saat Zakra menenangkan Aly dari rasa bersalahnya.
Nafas Aly seketika memburu. Tapi sudut bibir Aly mulai tertarik dan membuat Aly tersenyum tulus kepada Tyno, "Kalau begitu, kau juga jangan sampai terluka"
Tyno merasa ada yang aneh dengan gadis di depannya itu, tapi melihatnya tersenyum membuat Tyno ikut tersenyum lalu menepuk pelan pucuk kepala Aly, "Tentu. Kalau begitu aku pergi dulu" pamit Tyno.
Aly hanya mengangguk lalu keduanya berjalan menuju arah yang berbeda.
...~...
Jakarta, 20.00
Dari lantai dua mansion itu, seorang pria melihat kedatangan pria tadi dengan wajah datar. Sedetik kemudian sebuah senyuman seperti terukir di wajah pria itu.
"Dia sudah sampai. Jangan sampai kau membuat Papa malu, Iyas" gumam pria itu sambil terus memerhatikan pria di bawah.
"Iyas tahu apa yang akan dia lakukan kok, Pa"
Pria itu tersenyum lalu berbalik dan berjalan menuju suara tadi, "Ya kita lihat saja nanti"
"Selamat datang, Tuan Lian" seorang wanita muda dengan blazer dan rok span pendeknya menyambut pria itu dan di balas anggukan. kecil saja dari pria bernama Lian itu, "Silakan tunggu sebentar" ujarnya lalu melenggang pergi meninggalkan pria itu sendirian di ruang tamu besar itu.
"Lian Garai Arisakti, lama tidak berjumpa" sapa pria paruh baya dengan tongkatnya berjalan lalu memeluk Lian.
"Tuan Aji, sepertinya saya pernah mengatakan soal pelukan" protes Lian yang langsung melepaskan pelukan Aji.
"Oh maaf, maklum sudah umur. Ayo duduk dulu" ujar Aji lalu duduk bersamaan dengan Lian, "Maafkan kami yang harus merepotkan mu datang kemari"
"Tidak, ini sudah sepenuhnya tanggung jawab saya sebagai kepala Keluarga dari Arisakti"
Aji tersenyum lebar, "Perkenalkan dia menantu ku, Axelsen"
Axel yang duduk di sebrang Lian mengulurkan tangannya, "Axelsen Putra"
__ADS_1
"Keluarga Surya Putra?", Axel tersenyum lalu mengangguk, "Anda hebat, tuan Aji. Memilih menantu yang luar biasa" puji Lian sambil menatap Axel datar.
"Hahaha, kau tahu alasan mu disini?" tanya Aji sambil mengambil cangkir yang baru saja dibawakan oleh salah satu maidnya.
"Karena kejadian 6 tahun lalu?"
Aji tidak menjawab, lalu memasang wajah seriusnya, "Kau tahu itu semua rencana istrimu?"
Lian menyerit dalam saat Aji membawa istrinya dalam pembicaraan mereka, "Maksud anda?"
"Istri anda bersengkokol dengan seorang musuh kami lalu membunuh salah satu adik ipar saya" jelas singkat Axel dengan wajah serius pula.
"Kalian tidak bisa menuduh tanpa bukti" ujar Lian datar tetapi terlihat urat di tangan dan lehernya yang menegang karena tidak terima dengan perkataan Axel tadi.
"Kami punya bukti kuat disini" celetuk seseorang dari arah pintu utama, "Dan incaran ular itu bukan hanya Arikinan, tapi anda juga tuan Lian"
"Iyas" panggil Aji yang menyuruhnya duduk di samping Axel.
Iyas melempar sebuah berkas ke meja di hadapannya, "Buka itu"
Lian menatap marah Iyas lalu membuka file berkas itu. Matanya bergerak melihat berbagai foto dan kertas lainnya yang berisikan bukti lainnya.
"Jadi, apa yang Althy bilang…" gumam Lian yang lalu mengusap wajahnya kasar, "Kenapa aku begitu bodoh"
"Saya dengar jika kau memiliki anak laki-laki?" tanya Aji yang memecahkan keheningan diantara mereka.
Lian terdiam beberapa saat lalu mengangguk sambil mengusap wajahnya kasar, "Dan sekarang aku benar-benar merasa yang paling bodoh disini"
Aji tidak menjawab perkataan Lian, "Berapa umur anak mu itu?"
Lian menatap Aji dengan bingung, "Aku lupa"
"Ayah yang buruk" celetuk Axel sambil menyesap tehnya.
"Aku memang ayah yang buruk" ujar Lian dengan nada penuh sesal.
Aji kembali tersenyum tulus, "Sudah berapa lama kau dengan istrimu yang sekarang?"
"Sudah jalan 17 tahun"
"Dan kau baru tahu kebusukan istrimu?" timpal Iyas yang bersandar pada sofa.
"Kenapa kau langsung percaya dengan semua ini?" sekarang giliran Axel yang bertanya dengan nada penuh selidik.
Lian menutup matanya lalu menghela nafas pelan, "Anak laki-laki ku sebenarnya sudah mengatakannya 11 tahun yang lalu, tapi aku malah menyalahkannya lalu mengusirnya" jawab Lian dengan nada lemah.
Aji menghela nafas panjang, "Berarti umur anakmu sekitar 25 atau 26an" Axel menatap Aji bingung karena terus membicarakan umur anak Lian, "Bisa sih dnegan cucu perempuan ku"
"Papa!" protes kedua pria di sisi kirinya dan dia hanya tertawa melihat tanggapan kedua anak laki-laki itu.
__ADS_1
...****************...