
...****************...
Lombok, 06.00
Pagi ini Lombok terlihat cerah tetapi tidak dengan orang-orangnya yang masih terpuruk dan ketakutan. Begitu juga dengan seseorang yang tengah duduk di balik sebuah batu besar yang jaraknya lumayan jauh dari tenda pengungsian. Orang itu meringkuk takut sambil sesekali bergumam tentang sesuatu.
"Kau punya kemampuan membuat keributan yang bagus" celetuk seseorang dari sisi kanan batu besar itu.
Orang yang ketakutan itu langsung menatap lurus penuh ketakutan dan kekhawatiran, "Ak…aku sudah be…bas kan?"
"Nama mu Anji kan?" orang itu melempar sebuah kantung berukuran sedang, "Jangan harap kau bisa bernafas lega, kerjakan tugas mu lalu kau bisa bebas dan mendapatkan Dokter Aly" ujar orang itu lalu meninggalkan Anji yang masih menatap ketakutan kantung uang tadi di lempar olehnya.
"Aku salah…aku bodoh" gumam Anji sambil memukuli kepalanya keras.
"Anji?" panggil seseorang dari arah belakangnya.
"Dokter Aly?!" Anji sangat terkejut dengan kehadiran Aly, 'Sejak kapan? Dan kenapa Aku tidak merasakan kehadirannya?!'
Aly menatap Anji dari bawah sampai atas lalu menyodorkan sebuah kartu nama, "Itu kartu nama Direktur Rumah Sakit ku saat ini" sekilas Aly dapat melihat kantung berukuran sedang di belakang Anji, "Dia akan pindah ketempat mu Tahun Depan, jadi kau bisa minta di ajari dia" lanjut Aly sambil menatap Anji yang menunduk, "Dia juga terbuka, jadi kau bisa meminta dia kapan pun"
Mendengar itu Anji langsung menatap Aly dengan tatapan penuh keheranan, "Kau bilang dia Direktur, kenapa dia se free itu?"
Aly tersenyum sinis, "Karena aku yang meminta"
Anji hanya menunduk setelah mendengar jawaban dari Aly. Jujur Anji masih sangat merasa bersalah atas kejadian semalam. Di satu sisi dia ingin menjadi profesional, tapi disisi lain dia juga dia selalu takut jika dia disalahkan walau memang itu salah dia.
Anji menatap name card itu dengan seksama, "Saya akan berjuang Dok" ucapnya penuh semangat.
"Good" celetuk Aly sambil menepuk bahu Anji lalu menariknya mendekati dirinya, "Jangan ikuti, jika kau ingin mendapatkan ku, pakai cara yang benar" bisik Aly lalu meninggalkan Anji sendirian.
Perkataan Aly barusan membuat Anji terdiam membeku. Tak ada kata atau sorot mata disana, dia terkejut. Anji berbalik menatap arah kepergian Aly yang sudah tidak ada disana.
"Bagaimana dia tahu?"
...~...
16.25
Aly sekarang berada di tenda Langit bersama Lio yang juga mendata keadaan Langit saat ini. Sesekali Aly melirik kearah Lio yang sangat berkonsentrasi dengan periksaan itu.
"Kenapa anda terus melihat saya seperti itu?" tanya Lio yang mulai risih.
Aly menghela nafas berat, "Sejak pagi, saya tidak melihat Kapten, bahkan Alfan dan Afrizal juga tidak ada"
Lio menyerit heran. Bagaimana tidak dia memanggil rekan rekannya yang notabenenya memiliki kedudukan lebih tinggi darinya dengan santai seperti sudah mengenal lama. Lio menggeleng pelan, "Afrizal sekarang yang memegang alih pimpinan disini, Alfan dia sedang sibuk masalah jaringan sedangkan Kapten, anda belum tau?" Aly menggeleng pelan, "Dia di liburkan 3 bulan ke depan"
Mendengar itu Aly menjatuhkan clipboardnya, "Ku kira hanya potong gaji, ternyata ada surprise lainnya"
Lio menggeleng pelan dengan perkataan Aly barusan, "Umm" erangan kecil itu membuat Lio dan Aly langsung mengecek keadaan Langit.
"Langit apa kau mendengar ku?" tanya Lio.
Aly mengambil stetoskopnya dan mengecek keadaan Langit, "Langit?" panggil pelan Aly.
Perlahan mata Langit terbuka, dan membuat Lio serta Aly memandang satu sama lain dengan senyuman yang penuh arti.
"Syukurlah" ujar Aly yang tersemyum.lembut.
Lio ikut tersenyum tapi di dalam hatinya dia menjadi tahu kenapa Kaptennya bisa tergila-gila dengan Dokter muda di depannya sekarang.
"Lio? Sakti"
__ADS_1
Lio menggeleng, "Nanti saja saat kondisi mu sudah membaik"
Langit mengangguk lemas, "Dan kau?" tanyanya dengan suara parau.
"Saya Dokter Aly, Dokter bedah yang merawat mu"
...~...
18.46
Aly melihat kondisi Langit yang berangsur membaik.
"Terimakasih Dokter, entah apa yang terjadi jika tidak ada Dokter" ujar Langit yang bersandar di ranjangnya.
"Bukan apa-apa, ini sudah tugas ku"
"Tapi Dokter Aly, boleh saya bertanya?" Aly mengangguk kecil, "Kenapa Dokter bisa tau benda itu dan ilmu milik Sakti?"
Aly membulatkan matanya terkejut, "Itu…" ucapan Aly menggantung. Sesaat dia memikirkan tentang keluarganya dan kemampuan mereka, "Mungkin bawaan lahir?" ucap asal Aly yang membuat Langit sedikit curiga.
"Dokter Aly saatnya check up pasien" suara Alfi yang memanggil Aly dari ht nya.
Aly menghela nafas pelan, "Aku sudah di panggil. Jadi permisi" pamit Aly yang meninggalkan tenda. Saat dia sudah di luar tenda, Aly memejamkan matanya dan menghela nafas sangat panjang, "Ha…hampir" gumam Aly yang langsung meninggalkan tenda Langit.
Lio keluar dari tempat dia bersembunyi, "Sejak awal ada yang aneh dengannya" ujarnya sambil melangkah mendekati Langit.
"Dia punya pelindung, bahkan aura tubuhnya juga unik" celetuk Langit sambil memijit pelan pangkal hidungnya, "Sepertinya dia bukan dari keluarga biasa"
"Sama seperti Kapten, Dokter Aly cukup misterius" curiga Lio yang duduk di samping Langit.
"Kalian pikir dengan menduga seperti itu, kalian bisa menemukan jawabannya?" ujar seseorang yang baru memasuki tenda Langit, "Kapten titip ini jika kau bangun"
"Thanks"
Afrizal tersenyum tipis,"Jangan curiga pada Dokter Aly. Kalian tidak akan memahaminya" lanjut Afrizal sambil keluar dari tenda, "Oh iya, Kapten bilang untuk jangan mendekati Dokter" celetuknya sambil tertawa.
"Hahaha, Kapten emang benar-benar jatuh cinta" tawa Langit yang membayangkan bagaimana wajah Tyno yang sedang jatuh cinta.
"Jangan dibayangkan, kau akan iri nanti" ledek Lio yang dibalas tawa oleh Langit.
...~...
Jakarta, 12.30
Seorang pria baru saja jalan keluar dari boarding pass. Saat dia akan mengambil tasnya, dia melihat seorang pria berlaku mencurigakan di tempat pengecekan barang.
"Masih ada ya yang gitu?" gumam pria tadi sambil memasang earphone nya ke handphone dan telinganya pria itu berjalan mendekati pria mencurigakan itu dan mengambil barang yang pria mencurigakan itu ambil. Saat korban pria mencurigakan itu akan melewati boarding pass pria itu mendekatinya, "Permisi. Anda menjatuhkan ini" ujar pria itu sambil memberikan Ipad pada korban.
"Ha? Kok? Ah tapi terimakasih"
Pria itu tersenyum tipis, "Not problem" pria itu berbalik dan berjalan keluar dari bandara.
Di ruang tunggu, pria itu bermain dengan handphonenya sampai seorang berdiri di depannya. Tanpa melihat pria itu menaruh handphonenya dan menunduk.
"Bagus. Kau buat masalah disana" suara serak berat menambah kharisma pada seorang pria di depannya, "Kau tau, kau penting di dalam tim. Tapi kau juga yang paling sulit diatur"
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan"
Helaan nafas pria bersuara serak itu terdengar seperti sudah pasrah, "Aku akan memarahi mu sebagai paman mu bukan atasan mu"
"Memang Althy anak kecil?"
__ADS_1
"Iya, kau memang anak kecil Althyno"
Tyno hanya berdecih, "Aish"
"Ayo"
"Kemana?"
"Kantor"
"Harus ya?"
"Memang kau akan kemana?"
Tyno mengambil tasnya, "Bandung?"
Pria yang merupakan paman Tyno menepuk jidatnya pelan lalu turun memijat pelan pangkal hidungnya, "Kau akan menyusul Miko kan?"
Tyno mengendikan bahunya lalu meninggalkan Pamannya itu. Tetapi dia berhenti sejenak, "Jika Paman ada apa-apa hubungi saja Althy" ujar Tyno yang akhirnya benar-benar meninggalkan pamannya itu. Saat dia keluar dari bandara seorang pria tengah bersandar di sebuah mobil jeep. Dia mendekati pria itu.
"Dion" panggil Tyno pada pria itu.
Secara spontan pria itu berdiri tegak lalu memberi hormat, "Kapten terlihat baik-baik saja"
"Kau pikir aku akan habis disana?"
Orang yang dipanggil Dion itu hanya tertawa saja, "Jendral?"
"Dia gak akan ikut kita" ujar Paman Tyno dari arah belakang Tyno.
Tyno memperbaiki gendongan tasnya lalu tersenyum miring, "Ca adiue"
Dion memberi hormat lagi lalu tersenyum kearah Paman Tyno, "Kapten, terlihat lebih baik dari sebelum berangkat" celetuk Dion yang hanya di balas dengan memutar matanya saja.
...~...
Purwokerto, 11.30
Sebastian yang masih berada di rumah asri milik keluarga Arikinan menatap hamparan sawah di depannya sambil sesekali menyesap wine merah yang ada di gelasnya.
"Hai kau" panggilnya ke Monty yang memang sedang bertugas untuk menjaga Sebastian, "Kau tau alasan aku di benci mereka?"
Monty mengangkat salah satu alisnya, "Kau sedang berpura-pura bodoh atau pura-pura lupa ingatan?"
Mendengar jawaban Monty, Sebastian menyerit dalam, "Jujur aku tidak paham mengapa kalian begitu membenci ku? Aku hanya ingin bersama dengan Alyssa saja"
"Itulah masalah utamanya" ujar Monty yang menatap Sebastian bingung. Tiba-tiba dia terkekeh, Monty mengambil sebatang rokok dari balik jasnya lalu menyesapnya, "Karena obsesi gila mu yang membuat kami membencimu" lanjutnya sambil menyemburkan asap rokok ke wajah Sebastian.
Merasa direndahkan Sebastian melempar gelas berisikan wine itu ke arah samping, "Kau sedang menghina ku!"
"Memang" Monty membuang rokoknya lalu merentangkan tangannya, "Memang kalian pantas direndahkan! Kalian tau kenapa?" dengan keras Monty menarik kerah kemeja Sebastian, "Karena kalian sudah meredamkan lentera Arikinan dengan menghinanya juga!" seru Monty yang lalu memukul wajah Sebastian cukup keras sampai dirinya tersungkur di lantai balkon.
Sebastian menatap Monty bingung, "Apa maksudmu dengan memadamkan lentera Arikinan?" tanyanya yang linglung bahkan dirinya tak sadar jika ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
Monty berjongkok dan menarik kerah Sebastian lagi, "Karena kalian, Nona muda menjadi seorang berhati dingin. Kau tau alasannya?" Sebastian menatap Monty dengan penuh tanda tanta, "Karena obsesi mu padanya, dan pelecehan yang dilakukan oleh tangan kanan sialan mu itu, Bernando" ucapnya dengan penuh penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.
Monty melempar tubuh Sebastian lalu meninggalkannya, "Bi bersihkan itu" titah Monty pada seorang perempuan paruh baya yang sudah siap memegang sapu serta pel lantai.
Sebastian yang masih mencerna setiap kata milik Monty hanya bisa bergeming sambil memikirkan apa arti kata Monty tadi. Saat pembantu rumah tangga milik Enda akan menyadarkan Sebastian, dia tiba-tiba berdiri lalu meninggalkannya dengan wajah yang masih terkejut. Sebastian turun dari lantai dua dengan cepat, lalu membuka sebuah pintu kayu yang tengah diadakan rapat para 'bayangan' milik Arikinan.
Atha dan Iyas yang terkejut menatap Sebastian heran. Sedangkan yang ditatap berjalan cepat mendekati Iyas, "Kita perlu bicara, ajak Nyonya Enda juga" ujarnya dengan terburu-buru lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Atha menatap Iyas dan Iyas juga sebaliknya, "Mungkin Monty sudah memberi tahu apa kesalahannya" celetuk Iyas yang duduk sambil memijit pelan pangkal hidungnya.
...****************...