
...****************...
22.54
"Kau yakin ini penculikan?" ujar seseorang dari radio.
Tyno sekarang berada di tenda informasi bersama Alfan yang memang salah satu tim pasukan khusus.
"Siap, benar" jawab Tyno tegas.
"Kau yakin penculiknya salah satu dari kita?"
"Siap, saya yakin mereka adalah anggota kita. Ralat, mantan anggota kita"
Jeda lumayan lama membuat Tyno makin mengeratkan genggamannya, "Kalau begitu kau tunggu tim pembebas yang akan aku buat"
Tyno memejam matanya kesal, "Siap, maaf salah. Saya tidak akan tinggal diam"
"Kau berani melawan! Ikuti arahan!"
"Waktu kita hanya 2 jam lagi dari sekarang, dan anda bilang mempersiapkan pasukan pembebas? Itu akan makan waktu lama, bodoh" ujar Tyno yang membuat semua orang disana tercengang kecuali Alfan yang memang sudah tahu sifatnya. Tyno menghampiri radio itu lalu membungkukkan sedikit tubuhnya, "Jika kau memang tidak mau, harusnya bilang sejak tadi"
"Ini perintah jadi jangan membantah, Kapten!" sentak orang dalam radio itu.
"Aku akan tetap pergi" ujar Tyno dengan kata non formal dan berniat keluar tenda.
"Siapapun yang ada disana, hentikan dia!" tim pemantau yang sedang bertugas disana langsung menghentikan jalan Tyno, sedangkan Alfan yang berniat menghentikan Tyno terhenti karena dia juga merasa Aly yang harus segera diselamatkan.
"Menyingkir kalian!" sentak Tyno dengan nada dingin.
"Maaf Kapten, tapi ini perintah dari komandan"
"Althyno" mendengar suara yang berbeda yang mereka kenal membuat orang-orang disana berbalik terkejut. Begitu juga Tyno yang mendelik terkejut, "Ini perintah. Kau harus kembali dengan sandra. Tidak ada identitas ataupun senjata. Aku beri kau 3 jam untuk misi personal ini" ujar orang itu yang membuat semua orang disana terkejut.
"Siap, laksanakan" ujar Tyno datar tanpa ketegasan lalu hendak pergi dari tenda itu.
"Kembali dengan selamat, Althy" ujar lirih Galang dari radio.
"Siap" ujar Tyno yang pergi dari tenda informasi.
Alfan mengejar Tyno, "Kapten" panggilnya yang membuat Tyno berhenti, "Apa perlu saya panggil tim?"
Tyno hanya melirik Alfan sesaat, "Tidak perlu. Miko masih menjaga Ekgita, kau dan yang lain juga harus berjaga disini"
"Tapi anda…"
"Ini misi ku, jadi…" Tyno menepuk bahu Alfan pelan, "Serahkan padaku" ujarnya yang meninggalkan Alfan disana mematung terdiam.
Tyno melepaskan pakaian serba tentaranya lalu menggantinya dengan pakaian serba hitam. Dari topi sampai sepatu dia ganti dan semua berwarna hitam. Terakhir dia melepas kalung identitasnya dan menaruhnya di atas pakaian tentaranya.
Arif menunggu Tyno dengan mobil jeep tentara di tempat yang sebelumnya sudah mereka sepakati. Lalu dari kejauhan Arif melihat Tyno yang berjalan mendekatinya. Dia menaikan salah satu alisnya saat melihat penampilan Tyno.
"Kita belum tau keberadaan Lysa sekarang" ujar Arif sambil berpindah tempat duduk ke sebelah supir.
Tyno hanya mengangguk, "Sebelum itu, kita perlu ketempat teman lama"
Arif menyerit bingung dan mobil mulai berjalan, "Kemana?"
Mereka sampai di depan sebuah bangunan yang seperti cafe kecil. Tyno masuk diikuti oleh Arif. Keadaan dalam cafe itu berantakan karena gempa.
Prang.
Seorang wanita menjatuhkan piring yang sudah susah payah dia kumpulkan, "Impossible, you?" Wanita berwajah eropa itu menatap dan menunjuk mereka berdua.
"Mila, kau gi…" seorang pria muncul sambil membawa sebuah kardus yang juga dia jatuhkan saat melihat keduanya, "Althyno?"
"Hei guys" sapa Tyno dengan senyuman lembutnya.
Kini mereka berada di sebuah ruangan yang cukup gelap. Pria tadi membuka sebuah pintu rahasia dengan menekan sebuah batu yang berada di tembok yang memang memakai aksen batu-batuan. Tembok itu membelah menjadi dua dan memperlihatkan jejeran senjata api hingga senjata tajam.
Arif sedikit tercengang tapi kemudian dia menyentuh sebuah knuckle, "Kau ambil apa yang menurutmu bisa kau gunakan" ujar Tyno yang tak dijawab Arif. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Arif.
__ADS_1
Perempuan bernama Mila terus menatap Tyno tajam, "Terakhir kau kemari 8 tahun yang lalu kan?" tanya Mila dengan nada kecil.
Pria tadi merangkul Mila, "Bagaimana kabar Zakra dan Bima?" tanya pria itu gantian.
Tyno sibuk menyiapkan beberapa senjata berhenti sejenak saat mendengar dua nama itu, begitupun Arif yang langsung berbalik melihat ketiga manusia itu. Tyno yang terdiam lalu melanjutkan aktifitasnya lagi.
"Bima baik, dia sudah menjadi Dokter hebat sekarang" perkataan Tyno itu membuat Arif membeku terkejut, "Tapi Zakra…" ucapan Tyno berhenti dan terdengar suara senjata api yang tengah di kunci, "2 tahun lalu, dia pergi"
Mila menatap pria itu sedih, "Maaf kan kami"
"Tak apa" Tyno berbalik dan menatap keduanya tajam, "Terimakasih atas bantuannya"
Pria itu mengulurkan tangannya, "Kami yang berterimakasih, kau kemari tandanya kau masih percaya pada kami, walau kau sudah keluar dari underground"
Arif makin terkejut dengan kata underground, 'Dia kenal Zakra dan Bima? Dan Underground?! Dia anggota bawah tanah juga?! Siapa sebenarnya Kapten ini?' pikirnya yang benar-benar terkejut dengan semua identitas Tyno.
"Bila kau menikah, undang kami okeh" ujar Mila yang mengantar keduanya keluar cafe.
Tyno tersenyun tipis, "Tentu"
Selama perjalanan Arif dan Tyno hanya diam. Sampai akhirnya Arif merasakan pusing karena memikirkan semua yang terjadi.
"Kapten, boleh saya bertanya?" Tyno hanya bergumam untuk membalas Arif, "Anda berasal dari underground?"
Citt
Pertanyaan Arif tadi membuatnya mengerem secara mendadak. Arif yang terkejut langsung memegang seat belt. Tyno masih terkejut dengan tindakannya barusan lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Anda tahu underground?" tanya balik Tyno.
Arif menatap Tyno lalu menghela nafas pelan sambil melihat arah lain, "Hanya sebatas tahu saja"
Tyno memutar bola matanya malas lalu kembali menjalankan mobilnya, "Itu hanya masa lalu yang kelam"
Arif kembali menghela nafas panjang dan menatap Tyno lagi, "Apa hubungan anda dengan Bima dan Zakra?" tanya Arif yang benar-benar sudah tidak tahan untuk bertanya.
Tyno terdiam sesaat, "Bima dan Zakra yang mana?"
"Bima Zarion dan Zakra Wildan"
Citt
Arif menyeritkan dahinya, "Tentulah, mereka kan Dokter juga"
Tyno menghela nafas kesal, "Tapi kan gak mungkin kalian tahu sama lain kan?" tanyanya yang menatap mata Arif yang seakan tahu segalanya, "Tahu darimana anda tentang mereka?" tanya Tyno yang menatap sinis Arif.
"Kuncinya mereka juga punya hubungan dengan Lysa. Di tambah, Zakra adalah saudaraku yang mereka bunuh" jawab Arif yang tenang sambil melihat sisi lain.
Tiba-tiba Tyno mengecek saku celananya lalu mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin kucing berwarna putih, "Apa ini milik Alys?" tanyanya sambil menyodorkan kalung itu.
"Darimana kau mendapatkan kalung itu?" tanya balik Arif yang heran dengan kalung yang Tyno pegang.
"Apa ini milik Alys?" sergah Tyno lagi yang berusaha mencari tahu pemilik kalung yang dia dapatkan saat ziarah ke makam Zakra.
Arif mengambil kalung itu, "Ini memang milik Lysa, lihat ada inisialnya disini" ujarnya sambil menyakinkan Tyno dengan menunjukkan ukiran inisial di tengah liontin kucing itu.
Tyno merebut paksa kalung itu, "Hei!" protes Arif yang tidak terima dengan tindakan Tyno barusan.
"Kita bisa menyelamatkan Alys tepat waktu" ucap Tyno bersemangat sambil memastikan mobilnya benar-benar sudah dia rem.
"Caranya? Kita saja belum tahu lokasi Lysa dimana sekarang"
Tyno tidak menjawab dia hanya berkonsentrasi pada kalung itu lalu memejamkan matanya. 30 detik berlalu, Tyno membuka matanya perlahan dan mulai kembali menjalankan mobilnya, "Bingo!"
Arif yang sejak tadi memperhatikan Tyno hanya bisa menyerit lalu menatap lurus ke depan, "Apa kau memiliki sixt sense?"
"Tidak"
"Sixth sense itu beda sama Indigo ya"
"Aku baru tahu. Bisa kau jelaskan tentang hubungan Alys dengan mereka berdua?"
...~...
__ADS_1
1 jam Kemudian
"Setelah mendengar perintah dari jendral, Kapten langsung pergi begitu saja" ujar Alfan yang baru saja menjelaskan pada Miko apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Miko menghela nafas kasar lalu memijit pangkal hidungnya, "Apa dia gak bisa bilang ke timnya?"
Alfan mengangguk sekali, "Dia bilang ini misinya"
Helaan nafas kasar kembali keluar dari mulut Miko, "Kita tidak bisa tinggal diam" celetuknya setelah terdiam cukup lama, "kalau begitu kita akan menyusulnya"
"Di luar perintah?"
Miko tersenyum sinis, "Kau belum pernah melanggar?" tantang Miko pada Alfan, "Jangan katakan apapun pada lainnya, hanya kita bertiga saja yang tahu"
"Bertiga?"
Miko berjalan menjauhi Alfan, "Oh iya, katakan sesuatu ke perawat itu sebelum kau pergi. Bisa saja kita tidak akan kembali"
Alfan menatap Miko yang sudah mulai menjauh. Tatapan yang tidak bisa diartikan, kemudian Alfan memilih berlari ke sebuah tenda. Disana dia langsung menemukan Alfi yang sedang membereskan beberapa obat-obatan.
"Alfi" panggil Alfan yang tiba-tiba memeluknya.
Alfi yang terkejut mematung sesaat, "Al…fan lepaskan nanti ada yang liat loh"
"Biarkan seperti ini nuntuk sesaat" ujar Alfan yang mengeratkan pelukannya, "Aku tidak tahu dapat kembali atau tidak nantinya" mendengar itu Alfi berhenti mendorong tubuh Alfan.
"Apa maksud mu?"
Alfan melepaskan pelukannya lalu memegang bahu Alfi, "Aku janji akan membawa Dokter Aly kembali"
Alfi membelakan matanya karena Alfan akan pergi menyelamatkan Aly, "Kau…"
Perkataan Alfi berhenti saat Alfan mengecup dahinya sesaat.
Tring
"Jaga ini sampai aku kembali oke" celetuk Alfan yang kemudian pergi menjauhi Alfi lalu melambaikan tangannya.
Alfi masih mematung kemudian melihat kalung identitas milik Alfan dan menggenggamnya erat.
Miko menaruh segala perlengkapan tentaranya di atas tas miliknya lalu berjalan menuju medicube. Ekgita yang sedang membaca novel, menengok saat mendengar suara langkah sepatu. Saat dia akan melihat siapa yang datang, orang itu sudah mencium keningnya terlebih dahulu.
Ekgita yang tau siapa yang melakukannya hanya tersenyum lalu menatap si pelaku, tapi senyumannya seketika hilang saat melihat Miko dengan pakaian serba hitam, "Mengapa kau memakai pakaian itu?" tanyanya bingung.
Miko menunduk lalu mengambil kedua tangan Ekgita, "Perawat itu sudah cerita bukan?" tanya Miko lembut, "Aku juga terikat hutang budi dengannya, jadi aku harus membantunya" ujar Miko yang menjelaskan singkat apa yang akan dia lakukan.
"Tapi…kau akan kembali kan?" tanya Ekgita yang khawatir jika Miko tidak kembali lagi.
Miko tersenyum tipis lalu melepas kalung identitasnya yang terdapat sebuah cincin disana, "Ini janji ku"
Ekgita menatap kalung dan cincin itu, "Ini kan…?"
Miko mengangguk pelan, "Tanda cinta ku yang selalu ku jaga" ujarnya lalu berdiri dan mengecup kening Ekgita cukup lama, "Aku mencintai mu" ucapnya lalu meninggalkan Ekgita.
"Aku juga mencintai mu" jawab Ekgita yang sedikit berteriak karena posisi Miko yang mulai menjauh.
Miko berbalik lalu tersenyum di ambang pintu Medicube.
...~...
"Aku boleh bertanya?" Miko menatap Alfan yang baru saja tiba dan mengangkat dagunya mempersilakan dia untuk bertanya, "Kau tadi mengatakan bertiga, sedangkan kita hanya berdua. Siapa satunya?"
"Anggota kita juga, tapi sekarang…" ucapan Miko terhenti dan menunjuk ke depan, "Dia cuma sekutu, bukan kawan atau lawan" lanjutnya dan terlihat dua orang yang memakai topeng yang berbeda berjalan mendekati mereka.
Alfan memiringkan kepalanya melihat dua orang itu. Matanya terbuka lebar saat Bear membuka topengnya, "Afrizal?!"
"Mungkin kita memang tak perlu menutupi apa-apa lagi" ujar si topeng Panther yang membuka topengnya juga.
"Kau?!" seru Alfan yang semakin terkejut.
"Yo, mari bekerja sama menyelamatkan kakak ku dan Kapten kalian"
__ADS_1
...****************...