Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 6


__ADS_3

...****************...


3 Agustus 2018


"Jadi kalian dari Bandung?" ucap Iza dengan antusias.


Sekarang setengah dokter dan perawat tengah beristirahat di tempat yang bisa di katakan seperti mesh, karena itu adalah salah satu gudang sebuah gedung yang setengahnya sudah hanvur karena gempa dan gudang itu yang terasisa. Gudang itu dijadikan mesh cafetaria oleh para tim medis.


Di tempat itu terdapat meja sepanjang 3 meter dengan kursi sebanyak 15 buah. Bisa di katakan ini seperti markas untuk tim medis untuk berkumpul guna saling menyapa atau makan bersama.


"Tidak hanya dari Bandung saja, kami juga dari Surabaya" ujar salah satu perawat dengan tubuh sedikit gempal, "Namaku Lilis dan ini Indah, kami perawat dari Surabaya" lanjutnya sambil memperkenlkan dirinya dan salah satu temanya itu.


Aly yang baru datang sesaat Lilis memperkenalkan dirinya langsung mencari obat yang dia perlukan, dan saat dirinya akan meninggalkan tempat itu, pandangannya tak sengaja melihat sosok pria yang duduk menyendiri sambil menatap kosong gelas yang berisikan kopi di depannya. Aly menghampiri pria itu dan melempar clipboardnya sampai menyenggol gelas pria itu sampai sedikit tumpah.


"Ah, maaf saya tidak sengaja" pria itu hanya mengangguk tanpa mebgeluarkan sepatah kata pun, "Jadi anda dari Bali?" ujar Aly sambil menyesap teh yang tadi diberikan Alfi saat dirinya akan keluar.


Pria itu menatap Aly bingung, "Bagaimana anda tahu?"


Aly tersenyum dan menyenderkan punggungnya di senderan kursi, "Dari seseorang, jadi…" perkataan Aly terhenti dan menatap pria itu sambil tersenyum kikuk, "Saya lupa nama anda"


Pria itu juga tersenyum kikuk, "A…Anji" gumam pria itu menyebutkan namanya.


"Ah iya, Anji. Apa anda memiliki asisten atau perawat andalan?" tanya Aly dengan wajah yang mulai serius.


Anji hanya menatap Aly lalu kembali menunduk, "Tidak, saya Dokter baru" jawab Anji ragu sambil menunduk dalam.


Aly menyeritkan dahinya, "Dari kapan anda menjadi Dokter tetap?" tanya Aly sambil menatap Anji heran.


"Jika dihitung dari sumpah Dokter…" Anji menggerakan jarinya seperti tengah berhitung, "Baru satu bulan"


"Seriously? One month!? But why you can…I mean Kok bisa anda menjadi tim medis di tempat bencana. Padahal jika kita samakan dengan umur, anda itu baru batita"


Anji yang mendengar itu menatap Aly bingung dengan istilah yang tadi diberikan oleh Aly padanya, "Agar mentalku kuat" jawab Anji sambil kembali menunduk.


"Baiklah, kalau begitu…" Aly mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Namaku Alysa Mustika, mungkin kita bisa menjadi partner"


Anji menatap tangan dan wajah Aly bergantian, "Kau tidak takut aku repotkan?"


"Pftt" Aly menahan tawanya dan terkekeh sambil berkata, "Kalau begitu, mari saling merepotkan"


Melihat wajah tulus Aly hati Anji terasa hangat dan jantungnya juga berdegup kencang. Perlahan dia menggapai tangan Aly dan ikut tersenyum.


"Hei hei semuanya, kita mendapatkan kapal yang akan berlayar" teriak Iza yang memecahkan keributan lainnya.


"Benar, dan kapal itu sangatlah romantis" timpal David dengan wajah imutnya.


"Maksud kalian?" tanya Lilis yang masih belum paham perkataan dua tukang gosip itu.


"Apa kalian tidak tahu kalau semalam, Dokter muda Alysa Mustika…"


"Di gendong seorang tentara tampan"


Jelas David dan Iza yang hampir bersamaan itu membuat seisi mesh menjadi berteriak karena baper.


"Ck." decih Aly yang berniat pergi dari sana.


"Dokter muda?" celetuk Anji sambil menahan tangan Aly yang akan mengambil clipboardnya.


Aly memutar bola matanya dan menarik tangannya dari genggaman Anji, "Iya" jawab Aly seadanya.


"Jadi Dokter Aly tengah membangun cinta lokasi dengan tentara tadi" celetuk Cici sambil menutup mulutnya.


Aly kembali berdecak kesal, "Lebih baik kalian diam, bisa-bisa kalian mengganggu pasien"


"Aku yakin jika mesh ini kedap suara" tangkas David yang berhasil membuat Aly semakin kesal dan memilih keluar dari mesh itu.


Saat Aly keluar tawa dari semua dokter di meah masih bisa di dengarnya. Ayda hanya menggeleng melihat dua perawat divisinya mengusili Aly dan saat itulah iris cokelatnya bertabrakan dengan iris caramel milik Naufal. Ayda berdecih dan menatap tajam Naufal.


"Kenapa anda melihat daya seperti itu?" tanya sinis Ayda pada Naufal yang hanya di balas senyuman ringan dari Naufal.


Kali ini Naufal menopang dagunya dan menatap Ayda kembali, "Apa kau ada keturunan Arab?"


Ayda memasang wajah tidak suka, "Bukan urusan anda"


"Terlebih kau cantik hari ini"


Ayda menatap geli Naufal dan meninggalkan Naufal yang masih tersenyum ringan. Enta salah satu perawat dari Bandung menatap Anji yang masih terbengong di kusinya.


"Ada apa?" tanya Lilis yang sejak tadi memperhatikan Enta mencuri pandang ke arah Anji.


"Bukannya dia tampan?" ucap Enta yang kemudian menyenggol lengan Alfi yang berada di samping kananya, "Bukannya tadi Dokter Aly berbicara dengannya?"


Alfi yang sadar siapa yang sedang Enta bicarakan langsung menghela nafas pelan, "Memang dia tampan, tapi dia kikuk dan sepertinya dia masih baru" jelas Alfi sambil menopang dagunya dengan tangannya.


David yang mendengar kata tampan dari mulut Alfi langsung mendekatinya dan berbisik pada Alfi, "Siapa yang kau sebut tampan?"


Enta, Lilis dan Alfi terkejut bukan main dengan keberadaan tiba-tiba David disana.


"Gak usah buat kaget bisa kan!?" kesal Alfi sambil menampar pelan David, "Lihat…" Alfi mengarahkan kepala David ke Anji yang masih terbengong di kursinya, "Bukannya dia tampan?" tanya Alfi dengan mata berbinar.


David yang merasa tersaingi menatap malas Anji, "Tampanan aku lah!"


Arif baru saja memasuki mesh saat David mengatakan hal itu hanya bisa menatap datar David. Tampa sepatah kata dengan sadis Arif mempiting David lalu menyeretnya keluar.


"Weyy, lepasin!"


"Daripada kau membuat mual satu mesh, lebih baik bantu aku"


"Tapi gak usah nyeret juga!"


"Mereka itu unik ya" ujar Cici yang tiba-tiba muncul di sebelah Alfi.


Alfi hanya menghela nafas pasrah, "Ya memang mereka seperti itu"

__ADS_1


"Tapi kalo diperhatikan seksama, sepertinya Perawat David menyukai mu" celetuk Cici lagi yang kali ini berhasil membuat Alfi menatapnya terkejut.


"Mana ada!" bantah Alfi yang hanyda di tertawakan Cici.


...~...


Tyno yang berada di tenda istirahat tentara tidak sengaja menyenggol seseorang.


"Kau? Akhirnya kau kemari juga, Miko" ujar Tyno sambil melipat tangannya di depan dada.


Miko menatap datar Tyno dan menghela nafas berat, "Mau apa kau?" tanya Miko dingin.


"Hey, disini aku itu…"


"Iya aku tahu" potong Miko sambil menyerahkan sebuah laporan pada Tyno, "Hormat. Laporan kami Tentara Jambi berada di daerah lain dan sekarang kami diperintah untuk berada disini sebagai pergantian dengan anggota lainnya. Laporan selasai, Hormat"


Tyno berdecih dan meberikan hormat, "Dasar bedebah satu ini" umpat Tyno yang bergumam.


"Aku masih bisa dengar" celetuk Miko yang sebenarnya sudah biasa dengan hinaan Tyno padanya. Walau Tyno lebih muda 2 tahun darinya tetapi pangkatnya lebih tinggi satu pangkat darinya. Itu yang membuat Miko memilih diam saat diejek atau bahkan dihina olehnya.


Lagi- lagi Tyno berdecih dan menyerahkan laporan itu kepada Miko lagi, "Kenapa kau tidak kembali ke pusat?"


Miko menaikan salah satu alisnya, "Siap, Saya masih ada urusan di Jambi"


"Urusan apa?"


Miko menghela nafas kasar tetapi kemudian matanya menangkap sesuatu yang familiar. Tyno merasa ada yang aneh dengan bawahannya mengikuti arah pandangnya.


"Jadi itu alasan dia gak ikut grup Cecil" celetuk Tyno sambil menepuk dan mengusap kasar wajahnya.


"Dia disini sejak kapan?"


Tyno memasang wajah berfikirnya, "Dia kemari bersama grup ku" Miko terdiam tanpa mengatakan atau melakukan apapun. Dia terbengong, "Lagian kalau kalian jodoh, tuhan mu akan mendekatkannya" ujar Tyno sambil menepuk bahu Miko.


Tyno memegang bahu Miko lama dan membuatnya curiga. Saat mengikuti arah pandang Tyno, dia menemukan seorang perempuan berompi medis tengah berhjalan dibtengah reruntuhan di daerah yang belum terjamah oleh Tentara, SAR, atau bahkan relawan lainnya. Tetapi sesaat kemudian Miko seperti mengenali perempuan itu.


"Dokter Aly adalah perempuan yang tangguh, bahkan bisa dikatakan dia keras kepala" celetuk Miko yang berhasil membuat Tyno menatapnya bingung, "Sama seperti dirimu…dia memiliki aura yang berbahaya".


Plak.


Tyno menampar pipi Miko cukup keras sehingga membuatnya sedikit membungkuk, "Brengsek kau!" Tyno hanya menanggapinya dengan mengangkat salah satu alisnya, sedangkan Miko sudah menarik kerah kaos hitam Tyno, "Apa maksudmu ha?!" teriak Miko.


"Pembantu Letnan Satu Miko Mahardika, itu adalah peringatan bagi anda dari saya" celetuk Tyno sambil menyeringai.


Miko yang melihat seringai Tyno hanya berdecih dan melepaskan cengkramannya, "Dengar, jika kau takut kalau kau hanya membawa bahaya baginya, setidaknya jelaskan padanya untuk tidak jatuh cinta padamu" desis Miko sambil mendorong Tyno dengan jari telunjuknya.


Merasa itu sebuah nasehat Tyno menunduk dan tersenyum kecut, "Bagaimana jika dia malah meninggalkan ku juga seperti Fina dan membuangku seperti Dhita?" tanya Tyno lirih.


Miko mendorong tubuh Tyno kencang dan memukul perut Tyno sampai dia terjatuh. Miko berjongkok satu kaki, "Lupakan mereka" geram Miko, "Fina sudah tiada 7 tahun silam, dan…" Miko berdiri, "****** sialan itu, kenapa kau masih menginggat perbuatan menjijikannya itu!" ujar Miko yang berbalik, "Lagian Dokter Aly lebih baik dari mereka, kau hanya takut merasakan hal yang sama" Miko berjalan meninggalkan Tyno yang masih di tanah.


"Ukhh" rintih Tyno sambil berusaha bangun, 'Tapi apa yang dikatakan Miko benar. Aku hanya takut pada masa lalu' Tyno mulai berjalan ke arah Tenggara dimana Aly sedang disana, 'Dan aku sepertinya sudah jatuh dalam pesona Kuntilanak Hijau itu'.


...~...


Aly berjalan di daerah yang belum di jamah oleh semua tim. Dalam hati dia berdoa agar bisa menemukan korban lain disana. Ini sudah hari keempat dia disana tapi sinyal dan listrik disana masih belum normal, ditambah handphone miliknya yang rusak membuatnya semakin sulit berkomunikasi.


Merasa ada yang menyentuh bahu kirinya Aly langsung siaga dan menengok. Tak ada siapa pun disana, membuatnya langsung celingukan, "Mungkin cuma perasaanku aja" gumam Aly.


Saat dia menengok kembali kearah depan. Tyno sudah berada di depannya sambil memasang wajah usilnya, "Kyaaa! Astagfirullah" pekik Aly yang terkejut dengan hal itu, "Kau itu benar-benar Setan Lombok ya!" ujar Aly sinis ke Tyno.


Tyno hanya tersenyum saat mendengar suara kucing mendesis takut dan marah, "Anda sudah bertemu Setan itu?" tanya Tyno yang terus berjalan.


"Sudah, dia sedang di depan ku sekarang" sindir Aly dengan sinis.


"Haha, lucu" ujar Tyno dengan nada datar.


"Cih" saat Aly berjalan di belakang Tyno, dia melihat sebuah boneka sedang berada di saku belakang Tyno dan langsung mengambilnya, "Wahh lihat ini…" mendengar suara Aly yang tiba-tiba ceria membuat Tyno curiga dan langsung berbalik, "Walau kau seorang Tentara ternyata hatimu unyu juga ya" ledek Aly sambil menggoyangkan boneka itu.


Tyno yang terkejut melihat boneka itu sidah ditangan Aly, reflek langsung mengecek saku belakangnya, "Kembalikan, itu bukan milikku!"


Aly terus menghindari gerakan Tyno yang ingin merebut boneka itu, "Tidak bisa wle" ledek Aly yang terus menghindar.


"Kembalikan, itu…itu…"


"Ini apa? Mainan mu?" ledek Aly masih tertawa sambil menghindari Tyno.


"Kalo aku jelaskan kau tidak akan paham" akhirnya Tyno berhasil menangkap Aly. Tyno menangkap Aly dengan memeluknya dan berusaha mengambil boneka itu.


Tetapi pijakan Tyno yang terlalu licin membuatnya terjatuh dan Aly yang berada di depannya langsung ia pindahkan agar terjatuh diatasnya. Saat terjatuh tangan mereka masih berpegangan. Tyno merasakan sengatan listrik bervolt rendah.


Tyno pov.


Anak kecil? Aku berada di ingatan terakhir boneka itu ya?


"Hahaha, Ayah lihat. Kepiting!" ujar anak kecil perempuan itu dengan riang.


Aku terus melihat anak itu, dan dia berlari ke arah sebuah gedung, dan tiba-tiba getaran ditanah membuat aku ingin bergerak menolong anak itu. Saat gedung di depannya mulai runtuh, sebuah tangan mencegah ku melakukan itu. Aku berbalik dan menemukan Aly tengah menatapku. Seketika dunia itu seperti berputar dan aku mulai kembali sadar.


Aku mulai tersadar dan melihat Aly yang pingsan di atas ku, "Dokter Aly?" aku merubah posisiku dan memangku tubuhnya, "Dokter Aly?!" aku masih terus membangunkan dirinya, 'Sial!' aku yang berniat bangun untuk membawanya ke tenda darurat terhenti saat tangan dingin menyentuh pipi kiri ku, "Dokter Aly!".


"Jangan pedulikan aku…"


"Kau gila! Apa ada yang kau rasakan?" tanyaku khawatir dan aku melihat dia hanya menggeleng pelan.


"Sepertinya kaki ku terluka" ujarnya lirih dan aku melihat ada darah yang mengalir dari hidungnya.


"Hidungmu!"


Dia langsung mengecek hidungnya yang tiba-tiba mengeluarkan darah, "Jangan pedulikan aku…" ujarnya sambil mengambil tisu dari rompi nedisnya, "Anak itu akan tiada jika kita terlambat" mendengar itu aku hanya terdiam.


'Bagaimana dia bisa tahu?'


Tyno POV end.

__ADS_1


"Kenapa malah bengong!" sentak Aly yang membangunkan lamunan Tyno.


Tyno yang tersadar langsung bergerak menuju lokasi anak itu sambil memanggil bantuan lewat htnya.


Saat Tyno berada di dalam 'dimensi' masa lalu, Aly juga tidak sengaja 'melihat' apa yang Tyno lihat. Tetapi anehnya dia juga bisa memegang Tyno agar tidak terlibat jauh dengan ingatan itu. Saat ini Aly tengah bersandar di sebuah puingan gedung sambil berusaha menghentikan mimisannya.


"Ternyata kaki ku juga terluka" Aly sedikit menarik kakinya dan mengobatinya, "Ternyata 'energi' yang dia keluarkan cukup besar sampai aku bisa mimisan" monolognya sambil membersihkan luka pada kakinya.


"Ketemu!" teriak salah satu anak buah Tyno yang ikut membantunya mencari anak itu.


"Cepat bawakan tandu! Kalian langsung bawa dia ke tenda medis" titah Tyno yang langsung ditanggapi oleh bawahannya.


"Baik"


...****************...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...

__ADS_1


...****************...


...…To Be Continue…...


__ADS_2