
...****************...
Flashback
Seorang pria baru saja masuk kedalam sebuah rumah sakit sambil merapihkan kemeja yang dikenakannya. Dia tidak fokus pada jalan di depannya sampai…
Brugh.
Semua pulpen di saku jas Dokter yang akan dia kenakan terjatuh semua sampai menimbulka. perhatian semua orang disana.
"Yah, yah, yah" seru pria itu sambil memungut pulpen miliknya.
"Auww" rintih orang yang ditabrak pria itu yang ternyata dirinya juga terjatuh.
Pria itu mendelik dan buru-buru membuang pulpen yang tadi dia pungut, "Kau tidak apa?" tanya pria itu sambil membantu perempuan yang dia tabrak.
Dengan sekali hentakan pada lengan perempuan itu, pria itu mematung dan hanya melihat perempuan itu berdiri sendiri, "Lain kali jalan pake mata!" kesal perempuan itu sambil merapihkan rok pendek yang ia gunakan.
Pria itu hanya mengelus tengkuknya, "Ya maap" pria itu melihat jam tangannya lalu buru-buru mengambil pulpennya kembali lalu meninggalkan perempuan itu sendirian.
"Dih gitu doang? Laki macam apa coba!" gumam perempuan itu kesal.
"Gue telat?" bisik pria tadi kepada temannya yang sekarang dia berada di ruang auditorium di rumah sakit itu guna mengikuti sidang operasi.
Teman pria itu terkejut dan berbalik menatapnya, "Kau gila jam segini baru berangkat?!".
"Ya sorry, gue bakal on time kalau aja tadi gak nabrak"
"Kau nabrak orang?!"
Pria itu mendelik dan memukul pelan kepala temannya itu, "Bukan tabrak lari!"
"Bima dan Zakra" mendengar seseorang memanggil namanya, mereka berdua berbalik dan menemukan seorang pria paruh baya tengah duduk di belakang Bima dan tersenyum kecil, "Bisa jangan kebiasaan?"
Keduanya mengangguk dan kembali memperhatikan presentasi di depan.
"Jadi sekian presentasi hari ini. Selanjutnya aku serahkan pada Dokter Iwan" ujar presentator dan menyuruh pria di belakang Bima untuk maju kedepan.
"Ya to the poin, hari ini aku hanya akan mengenalkan anak-anak koas dan residen baru" setelah berbicara seperti itu satu persatu koas dan residen maju kedepan, "Selanjutnya terserah kalian mau seperti apa. Aku selesai" pamit Iwan sambil meninggalkan auditorium bersama 10 orang lainnya dan menyisakan para koas dan residen baru bersama 6 orang yang masih duduk di bangku mereka termasuk Bima dan Zakra.
"Jadi, kita apakan mereka?" celetuk Zakra yang tersenyum manis.
"Kata Dokter Iwan ada 5 koas baru, dan 4 residen baru" seorang perempuan berpakaian nyentrik mendekati para koas dan residen itu.
Bima turun dan mendekati perempuan itu, "Wait, harusnya ada 10 orang…" celetuk Bima saat mendekati panggung.
"Tapi disini hanya ada 12?" timpal seorang perempuan lainnya yang berpakaian sangat elegan.
'Mangsa baru' pikir mereka bersamaan kecuali Zakra yang sejak tadi memperhatikan pintu atas.
Saat mereka sedang di ospek oleh senior di rumah sakit itu, perempuan berpakaian elegan tadi mendekati salah seorang koas baru yang terlihat sangat lusuh.
"Kau perempuan tapi kenapa sangat lusuh sih?" tanya perempuan itu dengan nada menghina.
Seorang laki-laki berkacamata memainkan rambut koas baru iru lalu menariknya,"Menjijikan, kau tidak pantas menjadi Dokter jika berpakaian seperti ini"
Perempuan berpakaian nyentrik mendekti koas itu dan membantunya berdiri, "Kalian tega deh!"
"Benar kata Sachi, kalian berdua kok gitu sama koas" timpal Zakra yang ikut membantu koas baru itu.
"Kenapa? Nyatanya liat,.lusuh jelek,menjijikan" ujar seorang perempuan lainnya yang memakai kacamata.
"Gia, jaga ucapan lu!" peringat Bima sambil mendekati Zakra.
"Dengar, jangan pernah menunjukkan wajahmu di depanku atau akan ku jadikan kau maid bukan Dokter"
"Hendra!" seru Sachi memleringatkan laki-laki berkacamata itu.
"Memang kenapa jika kami berpakaian aneh, lusuh dan wajah yang tidak menarik? Apa itu akan mempengaruhi keadaan pasien nanti?" celetuk seseorang dari arah pintu atas auditorium itu.
Bima menoleh kearah pintu atas, begitu juga yang lainnya. Seorang perempuan berkacamata dan memakai rok pendek diatas lutut jalan dengan angkuh menuju panggung audit. Bima menyadari siapa perempuan itu langsung berpaling dan mengumpat pelan. Sedangkan Zakra masuh tertegun dengannya.
"Senior yang budiman, semua itu sama saja anda menggoda pasien. Boleh kita berpakaian menarik dan rapih untuk menyemangati pasien. Tapi kita harus sadar juga kemampuan finansial kita" ujar perempuan itu dingin dan datar.
"Kau koas baru kan?!" seru perempuan berpakaian elegan tadi sambil mendekati perempuan tadi, "Sudah telat, main ceramah pula! Emang kamu siapa ha?!"
Perempuan itu tersenyum tipis dan menggunting sedikit ujung baju perempuan elegan itu, "Malikat penghancur kehidupan mu, senior" ujar perempuan itu sambil memaikan gunting di tangannya.
"Kau gila! Ini baju baru!"
"Apa peduliku. Sekarang minta maaflah atau…"
"Atau apa?" celetuk Hendra yang mendorong perempuan itu sampai terjatuh, "Kau itu anak baru! Bertingkahlah sepatutnya ya!"
Perempuan itu bangun dan berdiri tegak, "Nama ku Alysa Mustika…" perempuan itu terdiam sesaat lalu tersenyum, "dan aku memang masih remaja" ucap Aly dnegan bangga.
"Kau koas muda itu?"
"Iya,Rekomendasi dokter Viktor Bel. Rumah Sakit Addenbrooke Inggris" jawab Aly dengan nada sombong, "Sebenarnya kalian terlalu gila harta dan hormat" ucapnya sambil membantu perempuan yang tadi di bantu Sachi dan Zakra.
"Makasih Aly"
"Not probs" ujar Aly sambil tersenyum manis dan berbalik dengan wajah datar, "Andai Paman Iwan lihat apa yang kalian lakukan, aku bisa langsung habisi kalian" lanjut Aly dengan aura yang mencekam.
3 orang yang melihat aura Aly langsung terdiam tapi saat Hendra hendak mendatangi Aly sebuah deheman membuat mereka melihat siapa.
"Kalau kau bisa melakukannya sekarang kenapa menunggu aku?" Iwan melangkah untuk duduk di bangku penonton paling depan dengan tatapan dingin.
Aly menaiki salah satu alisnya dan menghela nafas kesal, "Aku bukan pecundang yang hanya menggunakan senjata rahasia, jadi terserah Mama mau gimana"
Iwan menatap Aly heran lalu berjalan menghampiri mereka, "Bima kau bawa 1 koas dan Zakra kau juga bawa 2 koas" titah Feni yang di angguki mereka berdua, "Sachi kau bersama Aly dan Dian. Sisanya senior yang ambil. Semua selesai, bubar"
Semua keluar kecuali 3 orang yang tadi membuat kegaduhan dan Iwan, "Kalian tau siapa Aly?" tanya Iwan sambil bersidekap di depan dada, "Karena dia, kalian selamat. Berterimakasih lah padanya" ujar Iwan yang lalu meninggalkan 3 orang itu.
"Kita dalam masalah"
...~...
__ADS_1
Aly sedang memeriksa seorang pasien yang tadi Sachi titipkan padanya. Saat dia masuk ternyata Zakra dan Koasnya sedang memeriksa pasien juga. Aly yang notabenenya cuek dan bodo amat langsung melewati mereka dan memeriksa pasien Sachi.
"Anda sudah mulai membaik Tuan Dika. Kalo sampai besok keadaan anda bisa stabil seperti ini, nda bisa pulang lusa" ujar Aly dengan senyum manisnya.
"Terimakasih Dokter, tapi biasanya anda bersama Dokter Sachi?" tanya orang yang menemani pasien itu.
Aly kembali tersemyum, "Dokter Sachi sedang ada urusan"
"Kalau begitu, saya lebih suka bersama anda" ujar pasien itu dengan genit.
Aly kembali tersenyum bahkan sampai menutup matanya, "Saya masih belajar. Saya pamit dulu" Aly keluar dan Zakra sudah menunggunya di depan kamar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Zakra khawatir.
Aly menyerit dan meninggalkan Zakra yang akhirnya menarik Aly, "Pasien itu menggoda mu tadi"
"Bukan urusan mu kan? Lagian kau siapanya aku?"
Mendengar itu Zakra terdiam bahkan sampai tak sadar Aly sudah tak ada disana. Sesampainya di ruangan sudah ada Bima yang memang ruangan mereka berdua sama. Zakra masih memikirkan perkataan Aly, Bima yang melihatnya melemparkan kertas kosong ke Zakra dan berhasil mengejutkannya.
"Sialan ya Bim!" umpat Zakra sambil balik melemparkan kertas itu.
Bima yang merasa sahabatnya itu kesal hanya bisa tertawa, "Habis lu ngalamun mulu, kenapa?"
"Tadi aku ketemu Aly di ruangan pasien"
"Koas muda yang jadi incaran lu itu?"
Zakra mengangguk, "Dia di goda pasien itu, aku ngerasa gak terima langsung negur Aly. Tapi dia malah bilang aku bukan siapa-siapanya" lanjut Zakra sambil membenturkan kepalanya di atas meja.
Bima tertawa mendengar cerita Zakra dan menedekatinya, "Jangan nyerah bro, pasti nanti luluh juga. Oh iya nanti malam kita ada band" ujar Bima yang meninggalkan Zakra sendirian di ruangan itu. Mengiat cerita Zakra membuat Bima sedikit mengendik geli. Saat Bima akan memanggil koasnya, tidak sengaja Bima melihat Aly yang sedang berdebat dengan seorang dojter senior.
Bima POV
"Tapi anda sudah memerasnya" ujar Aly dengan nada sedikit tinggi.
"Kau pikir rumah sakit gratis he?" tanya Dokter senior itu yang sepertinya dari bagian Bedah syaraf.
"Tapi ini sudah keterlaluan!" sentak Aly yang membuat Dokter itu mendorong Aly keras.
"Kau itu hanya Koas disini! Jadi gak usah ikut campur!"
Aku melihat kesombongan Dokter itu berniat memakinya, tetapi seorang Dokter lainnya menyenggolnya hingga hampir terjatuh.
"Kau tidak apa kan Sa?" tanya Dokter itu sambil membantu Aly berdiri, "Maaf Dokter Jo, apa yang dikatakan olehnya benar. Ini tidak seperti SOP Rumah Sakit" ujar Dokter itu dengan tenang.
"Dokter Elvan, kau hanya Dojter pindahan jadi kau diam saja"
'Elvan? Bukannya dia ada di Inggris?'
"Berapa yang harus dibayar Ibu ini?" tanya Aly secara tiba-tiba yang membuatku terkejut.
"Kau bertanya seakan kau bisa membayarnya saja" gumamku yang mulai mendekati mereka.
"Kau tanyakan saja pada bagian administrasi!"
Dokter bernama Jo itu hanya tersenyum meremehkan, "Deal"
Aku terkejut mendengar pertaruhan ini, "Akan sangat menarik" gumamku yang membuat Elvan menatapku.
"Beemz?" tanyanya bingung.
"Kapan lu datang?" tanyaku balik padanya.
"Seminggu yang lalu"
"Gue kok gak dneger kabar lu?"
"Kau kan kurang update"
Saat percakapan kami Aly berjalan menjauhi kami, tetapi di cegah Elvan, "Kenapa kau melakukan taruhan itu?"
"Kenapa? Takut aku kalah?" katanya dengan nada sombong.
Aku tersenyum miring, "Kau berani juga ya" celetuk ku yang ingin mendekatinya, tetapi di cegah oleh Elvan dengan menarikku hingga jatuh.
Aku menatap Elvan kesal, "Mending lu jangan sentuh dia"
Aku mendelik dan berdiri sambil menatapnya seakan ingin mengajaknya bertarung, "Kau saja baru pindah, gak usah sok"
"weh? Aku Dokter senior loh, hormati"
"Hoho, gak akan"
...~...
"Hallo sayang" sapaku pada kekasih ku yang sedang menunggu ku di sebuah Vet.
"Kau terlambat" ujarnya dengan nada menusuk sambil mengelus seekor anjing Retriever betina yang merupakan anjing milik kami berdua.
Aku hanya tersenyum kikuk, "Ya kan, aku harus ngurus pasien bentar tadi. Lagian Owa sayang sabar nunggu Papa kan?" tanyaku pada anjing itu, tapi kekasihku itu masih saja cemberut, "Ya udah, Maafin Kakak ya Syena sayang"
Syena hanya diam sambil mengelus pelan Snowa, "Merajuk dia" gumam ku sambil berdikirhafus melakukan apa, "Gimana kalo kita makan eskrim?" tawarku sambil menatapnya dengan wajah ceria biasa ku.
Syena tersenyum dan mencubit pipiku, "Gak usah,nanti aku harus keluar kita buat urusan Papa, kamu lupa?"
Aku menepuk kepala pelan, "Aku beneran lupa, Ya udah kalo gitu kita pulang dulu, anterin Snowee ke Ruben" ujarku sambil mengambil alih tali Snowa.
Selama perjalanan aku bercerita tentang Aly, bahkan Syena tidak percaya baru dewasa bisa jadi dokter bedah. Ah iya, kekasih ku ini seorang Dokter gigi juga, dia masih dalam pengawasan kampus sebenarnya.
"Sayang kayaknya aku langsung ke tempat band aja ya. Udah mepet soalnya" ujarku sambil mengeringkan badanku yang basah karena habis mandi.
Oiya, perkenalkan aku Bima Zarion. Dokter bedah tampan dan atletis. Hahahaha. Bisa dibilang aku juga cukup tampan. Aku punya hobi traveling dan memelihara anjing. Di temlat tinggalku sudah ada 3 anjing jenis Belgian Malions Dan Poodle. Sedangkan di tempat Syena ada 2 anjingku yang berjenis Golden Ratriver. Jika sedang senggang biasanya aku mengajak salah satu anjingku berjalan-jalan menemaniku berkeliling kota atau bahkan pulau.
Saat sedang makan malam dengan Syena dan keluarganya, hpku bergetar.
"Hallo Ben, kenapa?"
__ADS_1
"Lu tanya kenapa?! Ini dah jam berapa woy!"
Aku mengecek jam tanganku dan buru-buru mematikan sambungan telfon miliknya.
"Sayang aku langsung berangkat ya"
"Loh bawa Snoowe sama Snoowa ?" tanya mama Syena dengan wajah bingung.
"Iya, paling mampir rumah bentar buat nganterin Snowa" ujarku sayang memberikan tali pengaman ke Snowa dan Snowee.
"Beemz, berangkat dulu ya"
"Hati-hati Kak/Bim"
...****************...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...…To Be Continue…...
__ADS_1