
...****************...
Purwokerto, 23 Agust
12.30
Sebastian tengah duduk di balkon dengan Enda di depannya. Keduanya sibuk dengan dunia masing-masing. Sebastian yang sibuk dengan laptopnya dan Enda yang sibuk dengan majalahnya.
"Apa Garvain masih mau memberi bantuan pada kami jika kami memerlukannya?" tanya Enda tiba-tiba yang membuat Sebastian menatapnya acuh.
"Kita lihat dulu apa masalah kalian, baru kami akan membantu kalian" jawab Sebastian dingin.
Kekehan Enda membuat Sebastian sedikit heran dan menatapnya sambil menyeritkan dahinya, "Apa yang lucu?"
"Nada bicara mu berubah, lebih halus dan tenang" jawab Enda sambil menghapus air matanya, "Saat bertemu Alys usahakan berbicara seperti ini, tapi lebih hangat" sarannya sambil menyesap tehnya.
"Aku belum bisa menghubungi Bernando"
Enda mengedipkan matanya berulang kali dengan pernyataan Sebastian, "Apa dia tidak peduli lagi dengan masternya?"
Sebastian menggeleng, "Tidak, malah sebaliknya. Aku pikir dia akan kemari dan mungkin akan menghabisi kalian"
Enda terdiam mematung, "Seperti itu?" Enda dengan tenang mengubah posisi duduknya, "Hawk" panggil Enda dan seorang laki-laki bertopeng elang mendekati Enda, "Panggil Griff, Raven dan Panther. Kumpulkan mereka di ruang rapat" titahnya dengan bahasa Indonesia yang di angguki pelan oleh pria itu.
"Apa para predator itu budak kalian?" sindir Sebastian yang melihat kepergian Hawk.
Enda menggeleng, "Mereka adalah orang yang siap menyerahkan hidupnya untuk melindungi kami, karena kami telah menyelamatkan hidup mereka"
"Memang apa yang kalian lakukan sampai mereka patuh seperti itu?"
Senyuman tulus terukir disana, telunjuk Enda berhenti di depan bibirnya, "Itu rahasia kami dan Tuhan"
Mendengar hal itu Sebastian hanya bisa menghela nafas pasrah lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
...~...
Atha yang baru selesai melakukan prakteknya langsung buru-buru masuk kedalam rumah sampai dia tidak sengaja menabrak seseorang di depan pintu.
"O maaf" ujar Atha sambil merapatkan tangannya meminta maaf lalu kembali berjalan meninggalkan orang itu.
Saat sampai di ruang rapat sudah ada Iyas, Griffin dan Enda yang sedang serius membicarakan sesuatu.
"Maaf Atha baru selesai praktek" ujar Atha yang langsung duduk di sebelah Iyas.
Atha POV
"Tidak apa nak, kita tau kau juga sedang sibuk praktek"
Aku mengangguk sesaat lalu menatap Griffin yang duduk di seberang ku, "Jadi ada apa?" tanya ku yang mengambil air mineral di tengah meja yang berukuran lumayan besar itu.
"Bernando akan datang merusuh" ujar Om Iyas yang duduk sedikit arogan tapi juga terlihat kesal.
'Sedikit berbahaya jika itu Bernando. Tapi…' aku menatap Om Iyas dan tersenyum licik.
"Apa?" tanya judes Om ku itu.
"Kita bisa sedikit balas dendam ke makhluk itu" ujar ku yang di beri respon terkejut dari Nenek, Griffin dan tentu Om Iyas.
Namun ekspresi Om Iyas berubah menjadi sangat licik, "Nice idea"
Nenek dan Griffin hanya bisa menggeleng pelan dengan ide kami, "Jangan sampai ada korban. Mengerti?!"
"Tentu Nenek" ujar ku yang sambil tersenyum manis.
Prangg
Suara seperti barang pecah memecahkan keheningan kami. Suara brisik dari ht Griffin tiba-tiba berbunyi.
"Griff kita di serang!"
"Griff seseorang masuk! Aku gak bisa menahannya lebih lama lagi"
"Griff tolong, akhh!"
"Kalian! Hey! Siapa yang masuk"
__ADS_1
Tak ada jawaban disana. Melihat kondisi itu aku menatap Griffin yang setengah panik dengan tatapan dingin. Aku berjalan menuju sebuah meja yang terdapat banyak laci disana. Aku membuka laci paling atas dan mengambil topeng berbentuk Raven dan Panther. Om Iyas mengambil topeng berbentuk Raven miliknya dari tangan ku dan langsung memakainya.
"Griff tetap disini, jaga Mama" ujar Om Iyas, "Ayo" titahnya pada ku.
"Sepertinya itu Bernando" ujarku saat akan membuka pintu ruangan itu, "Saat aku baru masuk dia baru saja keluar juga"
"Artinya dia menerima perintah Sebastian" celetuk Om Iyas yang berjalan menuju tangga, "Menggila lah, aku urus dia dulu"
"Siap"
Atha POV end.
Iyas berlari ke lantai dua dan melihat Sebastian yang berada di Balkon sambil meminum wine kesukaannya dan melihat ke arah bawah.
"Wow, Ayo Bernard! Jangan kalah! Ingat aku tidak bisa keluar kalo mereka masih disana!" teriaknya yang seperti mendukung Bernando yang sedang mengamuk di lantai satu, "Ha pemandangan yang indah"
"Saking indahnya aku juga ingin mengamuk jadinya" celetuk Iyas yang berhasil membuat Sebastian tersentak terkejut sampai gelas dan botol wine yang dia pegang terjatuh dari lantai dua, "Memang…Ular tetap lah Ular. Mau berapa kali pun dia berganti kulit, sifat mereka akan tetap sama" ujar Iyas yang menatap tajam Sebastian.
"I…Iyas?!"
Atha baru saja sampai di bawah dan saat itu juga sebuah botol dan gelas kaca tiba-tiba terjatuh dari lantai dua. Dia bisa melihat Iyas dan Sebastian yang berada di Balkon.
"Akhh!" teriakan seorang membuat Atha langsung berlari mendekatinya.
Tendangan melayang milik Atha langsung mengenai wajah Bernando dan berhasil membuatnya mundur beberapa langkah.
"Haha memang kekuatan Arikinan itu unik"
Atha menarik sudut bibirnya dan melakukan posisi bertarung miliknya. Dengan gerakan ringan dia memprovokasi Bernando. Merasa di remehkan Bernando langsung menyerang Atha.
Senyum simpul tiba-tiba muncul di wajah Atha, "Arya" panggil Atha lirih.
Sekali serang Atha langsung mengambil salah satu tangan Bernando dan menendang salah satu kakinya yang membuat Bernando berjongkok satu kaki.
"Ini untuk Kakak ku" bisik Atha yang memuntir tangan Bernando lalu mematahkannya.
"Akhhhh!" teriaknya yang membuat Sebastian menengok ke arah bawah.
Melihat Bernando berlutut membuat Sebastian sedikit bergetar.
Sebastian melihat itu dengan wajah terkejut dan tanpa sadar Iyas sudah mendekati Sebastian dan memukul tengkuknya sampai ia pingsan.
"Master!"
Bugh
"Berisik!"
Krak
"Akhhhh!" teriak Bernando lagi saat Atha dengan mudah mematahkan kaki yang di jadikan tumpuan dia berjongkok. Karena merasakan sakit yang luar biasa, Bernando akhirnya pingsan.
Atha melakukan sedikit peregangan dan saat itu Arya juga keluar dari tubuhnya.
"Dasar menyusahkan" gumam Atha yang melihat Bernando yang pingsan, "Kalian tak apa kan?" tanya Atha pada 2 security dan seorang bertopeng buaya yang tak lain adalah Monty.
"Telat" celetuk Monty yang merasakan sakit pada lehernya, "Dia tuh monster!"
"Memang, makannya aku pake Arya biar seimbang"
"Curang"
"Kalo aku gak curang, kalian pasti akan mati"
"Cih"
...~...
"Sebastian"
Suara lembut itu membangun kan Sebastian yang perlahan juga membuka matanya.
"Ha syukurlah kau baik-baik saja"
Hal pertama yang Sebastian lihat adalah wajah Enda yang tersenyum tulus. Sebastian menoleh dan melihat sekeliling yang hanya bewarna putih.
__ADS_1
"Kau sedang di rumah sakit, Bernando juga disini" ujar Enda sambil menunjuk ranjang sebelah dimana Bernando masih terbaring.
Sebastian mengalihkan pandangannya, dia tak ingin melihat wajah Enda.
"Kau marah padaku?"
Sebastian tidak menjawab, dia hanya melihat keluar jendela yang berada di samping kirinya.
"Aku tidak marah padamu"
Perkataan Enda itu membuat Sebastian berbalik menatapnya, "Kenapa?"
"Hu?"
"Kenapa kau masih bisa berbicara lembut padaku?"
Enda tersenyum dan memegang tangan Sebastian yang dipakaikan infus dengan pelan.
"Karena kau adalah keluarga ku juga"
Mendengar itu Sebastian hanya bisa terdiam dan menatap Enda sendu. Sepanjang hidupnya tak ada yang mengatakan bahwa dia keluarga. Dia hanya menerima perlakuan sebagai seorang anak dari perempuan simpanan. Dia bersekolah saja sudah bersyukur, sampai ayahnya memberikan setengah sahamnya padanya, membuat hidupnya makin sulit dan tertindas. Hanya Bernando yang selama ini mendukung segala yang dia lakukan.
Sebastian sisi kiri lagi, "Tidak ada yang menganggap ku sebagai keluarga, kecuali Bernando"
Enda terkekeh pelan, "Sekarang kau punya"
"Alys?"
"Dia akan memaafkan mu jika kau tulus mengatakan maaf"
Sebastian menatap Enda lalu tersenyum, "Baiklah"
"Good boy" ujar Enda sambil menepuk pelan kepala Sebastian.
Sebastian tersenyum lembut tapi sedetik kemudian senyumnya memudar saat dia melihat kebelakang Enda.
"Awas!"
Dengan cepat Sebastian melindungi tubuh Enda dengan tubuhnya saat sebuah kursi berhasil menghantamnya.
Srak.
Grep.
"Berani sekali kau" Griffin tiba-tiba membuka paksa pintu kamar dan langsung mencekik Bernando.
Enda bangkit dan tubuh Sebastian sudah terlulai lemas, "Sebastian!" Enda menggoyang sedikit tubuh Sebastian dan tak ada respon. Merasa panik Enda menekan tombol untuk memanggil Dokter.
"Kau mau membunuh Master ku atau Master mu sendiri ha?!" seru Griffin yang terus mencekik Bernando.
Enda melihat itu seketika mengingat perkataan Sebastian tadi tentang Bernando lah satu-satunya orang yang menganggap dirinya keluarga, "Griff lepas!" ujar Enda yang berusaha menarik tangan Griffin dari leher Bernando.
Bernando sudah mulai kehabisan nafas, "Griff!"
Sekali hentak tubuh Bernando sudah terlempar sampai menabrak dinding. Dan disaat itu juga para Dokter masuk kedalam ruangan mereka. Griffin menatap Bernando yang lemas karena cekikikan nya, sedangkan Bernando menatap Masternya yang sedang di periksa oleh Dokter yang terluka karena dirinya. Perlahan Bernando juga kehilangan kesadarannya.
Griffin memegangi Enda yang masih terkejut dengan kejadian tadi. Dia terus mengusap pelan pundak Enda untuk menenangkannya.
"Anda harus tenang Nyonya"
"Tapi Sebastian menjadi seperti ini karena aku"
Griffin menggeleng dan kembali menenangkan Enda.
"Itu adalah kesalahan dari hewan peliharaan yang di latih dengan keras tapi memiliki Master yang lemah. Itu hukuman untuk Masternya juga karena terlalu lemah daripada peliharaannya" gumam Griffin yang dibalas tamparan ringan dari Enda.
"Apa-apaan kau menganggap mereka hewan!"
Griffin mengusap pelan pipinya sambil mendelik terkejut, "Bukan begitu maksud saya…"
"Kau dihukum"
"Ha? Kok…Nyonya!"
...****************...
__ADS_1