Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 5


__ADS_3

...****************...


Atha POV


Aku langsung terduduk di sofa saat sampai di rumah, "Lelah" gumam ku.


"Raden"


Sesuatu memanggilku, tapi tak ku hirau kan, "Maaf, tapi ada yang mengikuti anda" jelas makhluk di belakang sofa tempat aku tengah duduk.


"Si pocong?"


"Maaf, bukan"


Aku menyerit bingung, "Pak Ruslan?".


"Sepertinya dia ingin meminta bantuan, Maaf"


Aku terdiam cukup lama, "Biarkan saja, aku tidak ada kemampuan seperti itu"


"Maaf, tapi ada hawa dendam yang besar dari dirinya" ujar Sosok di belakangku yang berpakaian seperti pakaian orang jawa tanpa blangkon dengan warna putih dengan bagian jarit bewarna hitam dan terdapat aksen emasnya. Tubuh dan rambutnya bewarna putih pucat, dengan mata bewarna hitam legam.


Aku menghela nafas kasar dan bangkit dari sofa, "Kau urus saja agar di tidak menggangguku" ujar ku sambil menatap sosok itu, "Sekalian cari tahu, siapa yang membunuhnya" ujarku dingin lalu meninggalkan sosok itu yang membungkuk dengan menekuk salah satu tangannya di dada.


"Baik Raden"


Apa aku belum memperkenalkan diri? Namaku Athala Nararya Putra Arikinan. Anak kedua, Putra pertama Axelsen Putra dan Ama Arikinan, serta Cucu kedua dari keluarga besar Arikinan. Seperti yang kalian lihat tadi, aku memiliki sixth sense atau indra keeanam. Makhluk tadi adalah salah satu penjagaku, Arya. Dia adalah salah satu tetua di kerajaan ghaib yang aku juga tak tahu pastinya dimana. Yang jelas, Arya adalah sosok yang selalu mengikutiku dan menjagaku dari hal ghaib.


Atha Pov end.


Iyas baru saja sampai di halaman rumah Aly saat dirinya akan turun dari mobil, betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Pak Ruslan yang mengerikan berdiri di depan mobilnya. Iyas yang terkejut, melompat masuk kedalam mobil lagi dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Beberapa detik kemudian sosok Pak Ruslan menghilang, Iyas turun dari mobil dan berjalan cepat masuk kedalam rumah. Tapi saat Iyas akan memegang handle pintu, tangannya malah menyentuh salah satu organ Pak Ruslan yang berdiri menghalangi pintu. Merasa dipermainkan Iyas menatap Sosok Pak Ruslan tajam, dan merampalkan beberapa ayat yang kemudian dia memegang leher Pak Ruslan.


"Arggghhhh!"


"Jangan…Ganggu…Kami!" ujar Iyas yang kemudian melempar sosok Pak Ruslan entah kemana. Iyas menghela nafas lelah dan masuk kedalam rumah lalu menatap tangannya, "Iyuhhh!" seru Iyas yang kemudian berlari kearah dapur.


Dia memuntahkan semua makan malamnya bersama teman-temannya, "Haa, makan malam ku sia-sia" setelah berkata seperti itu Iyas kembali memuntahkan isi perutnya.


"Om kenapa?" tanya Atha saat melihat Omnya itu masih memuntahkan isi perutnya.


Atha mengambilkan air minum dan memberikannya pada Iyas. Dengan rakus Iyas meminum air itu sampai habis, "Yahhhh" celetuk Iyas saat dia menaruh gelasnya di dekat wetafel, "Makhluk apa yang kau bawa ha?! Menjijikkan!" kesal Iyas sambil mencuci mukanya di wetafel dapur itu.


Atha menatap lantai dan terlihat enggan menjawab, tapi dia juga tau bagaimana sifat Omnya itu. Atha menghela nafas berat, "Namanya Pak Ruslan, dia security di kantor tempatku praktek".


Iyas mencari sesuatu di kotak obat milik Aly, "Lalu?".


"Dia ditemukan meninggal tadi sekitar pukul 9 malam, ya dengan tubuh yang om lihat tadi" lanjut Atha sambil masih duduk bangku pastry.


"Terus kenapa mengikuti mu? Kau bukan pembunuhnya kan?"


Atha membelak dengan pernyataan Omnya itu, "Enak aja! Lagian kalo aku ngebunuh orang, aku mending bunuh penjabat daripada satpam biasa yang jelas gak punya apa-apa" celetuk Atha sambil bangkit dari kursinya.


"Iya iya, Om sudah membuangnya. Tapi masih ada kemungkinan dia akan kembali" ujar Iyas sambil menatap air yang mengalir di westafel.


Atha menatap Omnya dengan tatapan tajam, "Apa mungkin dia korban pesugihan?"


"Om juga belum tau pasti" ujar Iyas yang akhirnya meninggalkan Atha sendirian di dapur.


Atha menatap keluar pintu kaca pembatas antara dapur dan taman mini belakang, 'Tapi firasatku bilang ada yang gak beres dari kematian Pak Ruslan'


...~...


2 Agustus 2018


David yang berada di tenda pasien terus memperhatikan setiap gerakan Alfi yang sibuk mengurusi pasien juga. Sesekali David tersenyum kecil setiap Alfi bergumam karena lelah.


Bletak!!


Sebuah clipboard berhasil mendarat di kepala David dengan mulus dan keras. David mengelus kepalanya itu dan berbalik melihat siapa yang sudah memukulnya.


"Ayda! Sakit!"


"Mau yang lebih sakit?" ancam Ayda sambil melotot.


David memajukan bibirnya dan menggerutu sambil terus mengelus kepalanya, "Dah gak usah ngegerutu, sekarang bantu aku ambilkan oxygen tambahan untuk anak-anak" perintah Ayda yang membuat David meninggalkannya sambil terus menggerutu.


Di waktu bersamaan seorang pasien masuk membuat Ayda langsung tanggap menerima pasien itu dan mulai mengobati luka pasiennya. Saat akan menutupi luka yang cukup besar di kaki pasien, Ayda tersadar bahwa dia tidak memiliki perban lagi.


"Harusnya aku minta David untuk membawakan perban juga" Ayda meraih walkie talkie yang berada di bawah kaki pasien tapi saat dia hendak menekan untuk berbicara, sekotak perban muncul di depan matanya.


"Anda mencari ini?" seorang pria berompi bertulisan dokter menyodorkan kotak itu dengan senyuman.


Ayda menatap pria itu datar dan meraih kotak perban yang dibawanya serta berterimaksih padanya, "Apakah kita pernah bertemu?" tanya pria itu yang berhasil membuat Ayda menyerit heran.


"Sepertinya tidak" jawab Ayda judes sambil memasangkan infus ke pasien tadi.


"Kalau begitu mau berkenalan?" ujar Pria itu sambil mengulurkan tangannya.


Tanpa menyentuh tangan pria itu bahkan melihat pun tidak, Ayda bangun dan pergi dari hadapan Pria itu.


"Bwahahaha. Dia lebih suka berkenalan dengan pasien dari pada kau" tawa mengejek terdengar dari arah belakang pria itu.


Pria itu berbalik dan menemukan dua manusia beda gender tengah mempraktekkan apa yang di alaminya barusan.


"Sudah kasian Naufal, lagian mungkin dia sedang sibuk" seorang perawat berhijab menyusul tiga manusia itu dan menarik telinga dokter pria dengan jas putihnya, "Lilis kau urus bagian stok saja, kau juga bekerja"


"Iya Cici" jawab keduanya yang langsung mengikuti perintah Perawat Cici.


Naufal tersenyum kecil, "Thanks Ci".


"No probs" ujar Cici sambil meninggalkan Naufal yang masih menatap Ayda yang sibuk dengan pasiennya.


Di tempat lain, unit Tentara dan SAR masih mencoba mencari korban lainnya yang tertimbun bangunan. Mereka sekarang sedang mencoba mengangkat puing-puing bangunan dengan bersama-sama menarik tambang.


"Saya mohon pak…anak saya pasti berada di dekat sini"


"Maaf bu tapi kami masih harus mendahulukan hal umum, jika ibu masih ingin pantau keadaan bisa bertanya pusat informasi"


"Tapi pak…dia berada di daerah sana…saya mohon pak…hiks…dia masih 7 tahun"


Seorang ibu terus berlutut di depan seorang Tentara berpakaian lengkap dan Tentara itu juga terus berusaha membuat ibu itu untuk bangun dari posisinya itu.


"Tetap kami masih harus mendahuluan kepentingan umum bu"


"Afrizal"


Mendengar namanya dipanggil Tentara tadi langsung berbalik dan memberikan hormat, "Hormat"


Pria tanpa baret itu menatap Afrizal dan memerintah menurunkan hormatnya, "Ada apa?"


"Maaf tapi ibu ini terus memaksa agar anaknya cepat ditemukan" Jelas Afrizal sambil tetap berdiri tegak.


"Kambalilah, biar ibu ini saya yang urus" ujar pria itu yang mambuat Afrizal kembali memberi hormat dan meninggalkannya bersama si ibu, "Apa ibu tahu dimana anak ibu terakhir?" tanyanya sambil berlutut satu kaki.

__ADS_1


Si Ibu yang masih menangis menunjuk ke arah tenggara tempat dimana tim SAR dan Tentara serta relawan lainnya belum menyentuhnya, "Ibu pasti lelah…istirahatlah di tenda informasi" titah pria itu sambil berdiri, "Insyaallah saya akan menemukan anak ibu" lanjut pria itu dengan tatapan hangat.


"Tapi…"


"Itu janji seorang Tentara"


Mendengar perkataan itu Si Ibu tersenyum dan menangis haru, "Ini boneka miliknya, anda tahu kan…"


"Baiklah, akan saya cari dan berikan boneka ini padanya" ujar Tentara itu sambil tersenyum manis.


Setelah Si Ibu itu pergi menjauh, seorang wanita berpakaian Tentara tetapi memakai jas Dokter berdiri di depannya.


"Kau gila?"


Pria itu hanya menatap Dokter Tentara itu dingin, "Diam saja kau"


"Ayah dengar ini, dia akan makin bangga padamu. Yang ada aku makin benci dengan mu"


"Hey! Aku juga mana mau nikah dengan manusia jadi-jadian seperti kau"


"Althyno!"


Tyno terus menutupi wajahnya agar tidak terkena pukulan wanita di depannya itu, "Sakit Ekgita!"


"Gapapa biar kau mampus sekalian!"


Merasa Ekgita tak akan berhenti Tyno terpaksa mengunci pergerakan Ekgita yang malah membuat posisi mereka sedikit ambigu.


"Kap…ten" mendengar suara seseorang memanggilnya mereka buru-buru Tyno melepaskan pegangannya pada Ekgita dan Ekgita juga langsung berdiri sambil menatap daerah lain.


"Ekhem. Ada apa?" ujar Tyno yang menjadi dingin.


"Siap. Bagian Utara sudah bersih dan tidak ada korban lagi yang ditemukan"


Tyno terdiam sesaat lalu menatap bagian Utara, "Kau yakin semua korban sudah di temukan?"


"Siap, sudah"


"Jika aku bisa menemukan satu saja korban lagi, push up 2 porsi" celetuk Tyno yang berbisik pada tentara yang tengah melapor itu.


Tentara itu menelan ludahnya susah payah, "Bagaimana, Alfan?"


"Siap saya akan cek ulang sekitar"


"Good, sekarang pergilah"


"Siap"


"Eh. Alfan tunggu" panggil Ekgita pada tentara tadi.


Alfan berbalik kembali dengan tatapan polosnya, "Katakan pada Anas untuk membantuku memindahkan obat-obatan ke medicube"


"Memang medicubenya sudah datang?" tanya Alfan yang masibmemakai tatapan polos.


"Belum, nanti sekitar 3 jam lagi"


"Siap" ujar Alfan yang kembali hormat lalu meninggalkan keduanya.


Ekgita menatap Tyno jijik, "Kau mau kemana?"


"Bukan urusan kau" celetuk Ekgita yang kemudian pergi meninggalkan Tyno.


"Hey aku satu pangkat lebih tinggi dari kau loh" teriak Tyno, "Haish, untung anak komandan kalo bukan dah ku habisi dia"


"To…long…tolong" mendengar suara minta tolong Tyno langsung mencari tahu dimana suara itu berasal.


Saat Tyno mengangkat beton sendiran dan melihat sebuah tangan melambai mata Tyno mendelik, "Kalian! Ada Korban disini!" teriaknya sambil terus mengangkat sisa beton semampu dirinya. Tim penyelamat yang mendengar teriakan Tynobitu langsung berlari kearah Tyno dan membantunya menyingkirkan beton-beton itu. Seorang nenek berhasil naik keatas tandu, "Biar aku juga bantu, yang lain lanjut pencarian"


"Siap"


Aly yang tengah mengecek tekanan darah seseorang di kejutkan tim penyelamat yang menandu seorang nenek, "Ayo kemari. Keadaan terakhir?" tanya Aly kepada sorang tim penyelamat yang tadi membawa tandu. Tapi matanya menangkap sepasang mata onyx yang sudah tak asing baginya, "Haish dia lagi" gumam Aly.


Korban digotong ke atas ranjang, "Sepertinya ada pembengkakkan dalam saluran nafasnya, di tambah ada rusuk yang patah, dan…"


"Hipertensi" celetuk Aly sambil terus mengecek keadaan pasien, "Siapa namamu?" tanya Aly pada relawan itu.


"Rakes"


"Kau hebat, aku apresiasi pengetahuan mu" ujar Aly sambil tersenyum manis.


Semua orang disana menjadi blushing saat melihat senyum Aly, termasuk Tyno yang melihat itu. Semua orang disana menjadi blushing saat melihat senyum Aly, termasuk Tyno yang melihat itu.


"Kenapa kalian masih disini? Kita harus kerja lagi"


Mendengar itu dan mata tajam Tyno yang menatap mereka membuat mereka menunduk pamit. Tyno menatap Aly yang masih memeriksa keadaan nenek itu.


"Alf, tetap pantau beliau dan siapkan operasi untuk tulang rusuknya yang patah setelah tensinya turun" titah Aly yang langsung di tanggapi Alfi dengan mengambil peralatan medis lainnya, "Anda juga mau jadi korban gempa?" tanya Aly ketus, "Sana pergi" .


"Pasien anda akan terkena serangan jantung saat tahu dokternya itu mengerikan" ledek Tyno.


"Pergi. Dasar setan Lombok" geram Aly yang berjalan menjahui Tyno.


Merasa tak terima, Tyno yang ingin protes terlanjur terpotong karena panggilan di htnya. Aly yang akan ke tenda obat-obatan tidak sengaja melihat seorang Dokter yang tengah menangani pasiennya yang sudah menandakan kritis. Aly melihat Dokter itu sangat panik bahkan dia tidak menyentuh pasiennya dengan benar. Melihat itu Aly akhirnya menghampirinya.


Tit…tit…tiiiiiiitt…tit…tit


Radar gelombang jantung yang berbunyi sesekali menandakan detak jantung pasien yang tidak beraturan. Dengan tangan bergetar Dokter itu memeriksa denyut nadi dan tekanan darah pasien. Aly semakin bingung melihat tingkah Dokter itu.


"Aku harus bagaimana…" mendengar perkataan Dokter itu membuat Aly semakin yakin ada apa dengan Dokter itu.


Tiiiitttt…tiiiittttt…


Mendengar EKG yang berbunyi nyaring membuat Aly langsung bergerak dan mendorong Dokter tadi agar menyingkir. Dengan sigap Aly langsung keatas tubuh pasien dan memompa jantungnya agar kembali bernafas dengan melakukan CPR. Saat Aly melakukan hal itu, Tyno masuk dan menatap kejadian itu dalam diam.


"Alfi atau siapapun, tolong bawakan aku oksigen tambahan!" teriak Aly yang di dengar Iza yang langsung membawakan dia tabung oksigen tambahan.


Tit…tit…tit


Mendengar EKG yang kembali normal Aly menghela nafas lega dan turun dari tubuh pasien, "Beri dia oksigen yang cukup" pinta Aly pada Iza, "Siapa namamu?" tanya Aly dengan wajah tegas.


"Anji" jawab lirih Dokter itu.


Aly menghela nafas berat, "Dengar, kita ini Dokter. Panutan dan penyelamat bagi mereka. Jika mereka melihat kita panik seperti anda tadi…mereka juga akan panik" jelas Aly dengan tegas, "Jika saya melihat anda seperti tadi lagi. Saya tidak akan segan mencabut kata Dokter dari anda" ancam Aly yang lalu meninggalkannya.


Aly ke tenda Informasi dan mengganti beberapa info tentang korban gempa di mading pemberitahuan korban. Tyno mengikutinya dan berdiri tepat di belakang Aly sambil terus melihat apa yang Aly lakukan.


"Kau mencium pria lain" celetuk Tyno yang berhasil membuat Aly tersentak hingga hampir merubuhkan papan mading yang merupakan papan tulis.


Aly menggenggam tangannya di depan wajahnya sendiri, "Sabar" gumam Aly yang kemudian menatap kesal Tyno, "Kau itu memang suka membuat orang terkejut ya!" desis Aly agar tidak terdengar orang di dalam tenda informasi.


"Karena saya suka membuat kuntilanak hijau terkejut" ujar Tyno sambil tersenyum tipis.


Aly mendelik kesal dan hendak pergi meninggalkan Tyno. Tetapi saat dia akan berbalik tangan kiri Tyno sudah menghalanginya. Aly yang merasa tertahan menatap tajam Tyno.

__ADS_1


Dalam kepala Tyno, suara kucing mengeong marah terlintas saat menatap mata Aly. Merasa terdapat persamaan membuat Tyno harus menahan tawanya dengan menarik bibirnya kedalam. Aly yang merasa sedang di ledek tetap menatap pria itu tajam bercampur kesal.


"Namaku Alysa!" seru Aly tidak terima dan langsung menutup mulutnya dan membungkuk meminta maaf, "Sebenarnya mau mu apa sih?!" tanya Aly dengan nada kesal.


Lagi-lagi suara kucing mengeong marah terdengar di dalam kepala Tyno, "Tidak, saya hanya ingin mengatakan…" Tyno mendekatkan kepalanya ke telinga Aly yang hanya memiliki tinggi sedadanya, "Anda mengerikan saat memarahi Dokter dari Bali tadi" lanjutnya dengan seringai mengiringinya kembali ke posisi semula.


Aly yang benar-benar kesal mengepalkan tangannya kuat hingga membuat kukunya memucat, dan berakhir pada…


Bugh.


"Awww" rintih Tyno sambil memegang perutnya yang terkena tinju milik Aly, "Kau itu petinju kah?" tanya Tyno sambil sedikit membungkuk menahan sakit.


"Lebih tepatnya mantan preman" ujar Aly sambil menendang kaki Tyno tepat pada tulang keringnya.


"Kau ingin membunuhku?!" teriak Tyno saat Aly pergi meninggalkannya.


Saat Aly keluar tenda, Tyno menegakkan tubuhnya dan menatap keluar tenda.


"Tidak buruk, mengusili kuntilanak hijau itu. Tapi…" Tyno memegang perutnya dan sedikit menekan bekas tinju Aly, "Sakit juga" celetuk Tyno sambil tersenyum miring.


"Dia sehat kan?" seorang tentara pria berpakaian lengkap tanpa baret menatap Tyno jijik.


"Sepertinya tidak, dari kemarin kapten seperti itu" Alfan muncul sambil membawa beberapa kabel di tangannya.


"Kerasukan mungkin" seorang tentara lain ikut muncul dengan botol minum di tangannya.


...****************...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.......


...****************...


...…To Be Continue…...

__ADS_1


__ADS_2