
...****************...
5 Agustus
Lombok, 5.00
Tyno turun dari mobil jeep bersama Ekgita. Miko menghampiri Tyno dan tidak sengaja berpapasan dengan Ekgita yang akan meninggalkan Tyno. Ekgita menatap Miko nanar, tapi kemudian tatapannya berganti dingin dan berjalan melalui Miko. Tapi Miko menghentikannya dengan menarik tangan Ekgita. Karena perbedaan kekuatan Ekgita tertarik dan mendarat di dada bidang Miko. Sampai beberapa saat tak ada suara dari mereka berdua.
"Teletubbies lagi" celetuk Tyno yang menyadarkan Ekgita pada rasa keterkejutannya.
Ekgita mendorong Miko kasar lalu meninggalkannya bersama Tyno.
"Keduanya sama-sama egois" ucap Tyno yang bersandar pada mobil bagian belakang.
Miko menghampiri Tyno dan menatapnya tajam, "Apa kata Kolonel?" tanya Miko penasaran dan ikut bersandar pada mobil jeep itu.
Tyno menghela nafas berat, "Sakti akan di adili di persidangan militer, sebelum itu tugas kita adalah menangkapnya dan membawanya" jawab Tyno dengan nada lirih, "Salah ku juga yang tak bisa mengatur anak buahku" gumamnya dengan rasa penyesalan.
Miko memukul lengan Tyno sebagai tanda respect, "Kau Kapten kami. Ini jalan yang dipilih dia, bukan salah mu"
Tyno tersenyum kecut dan berdiri menatap langit yang mulai berwarna ke keunguan, "Kolonel juga tau kau di daerah yang sama dengan Ekgi" perkataan Tyno itu langsung membuat Miko refleks menatapnya, "Dia minta kau ke Bandung buat trainee anak-anak baru" ujar Tyno yang sambil melirik Miko yang sudah terlihat kesal.
"Seandainya dia bukan Kolonel...dan Ayah dari Ekgi...sudah ku habisi dia" gumam Miko yang memukul keras bagian belakang mobil itu.
Tyno tertawa garing, "Aku suka peperangan diantara kalian" bisik Tyno sambil memukul pelan dada Miko, "Dia minta besok untuk kau kembali" lanjutnya sambil berjalan menjauhi Miko.
...~...
Lombok, 07.00
Alfi dan Lilis menatap dari tim Tentara sedang apel pagi. Sesekali Alfi mengeluh senang melihat para Tentara itu. Sedangkan Lilis menatap mereka dengan senyuman senang.
"Malaikat diantara reruntuhan" celetuk Alfi sambil bersandar di tembok rumah warga yang masih berdiri dan digunakan untuk kegiatan bersih-bersih tim Medis.
"Pemandangan yang indah" timpal Lilis yang ikut bersandar di sisi lain tembok.
"Kalian tuh gak ada kerjaan lain apa?" suara itu membuat Alfi dan Lilis reflek menengok siapa yang berbicara.
Aly muncul sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk.
Alfi tersenyum dan kembali bersandar, "Liat, itu husbu ku" ujar Alfi sambil menunjuk seorang Tentara yang sedang push up.
"Mimpi" ucap Aly dan Lilis bersamaan.
Alfi berdecih tapi kemudian kembali tersenyum.
"Tapi..." Aly menggelung rambutnya dengan handuk yang tadi untuk mengeringkan rambutnya.
Tapi tanpa Aly sadari, kegiatannya itu berhasil membuat setengah pria di sana blushing saat leher Aly terlihat. Lilis yang menyadari kejadian itu hanya menggigit bibir bawahnya untuk berbuat usil.
"Dokter, kulit anda putih juga ya" ujar Lilis sambil menyentuh leher belakang Aly.
Aly menyerit dan mengangkat kedua alisnya, "Mau tau tipsnya?" tanya Aly sambil tersenyum dan memainkan tengkuk belakangnya.
"Gila, Dokter Aly sedang menggila!" seru Alfi yang tertawa kecil.
Aly, Lilis dan Alfi hanya tertawa kencang saat tahu bahwa Aly sudah menjadi pusat perhatian. Tanpa mereka sadari seorang pria terus berdecih dan membuka jaket yang sedang ia pakai. Aly yang masih tertawa dengan Lilis dan Alfi menjadi terkejut saat Tyno berdiri tepat di depannya.
"Kau...?!"
Sebelum Aly kembali berbicara Tyno menutupi bagian leher Aly dengan tudung jaketnya.
__ADS_1
"Jangan goda harimau lapar, Kuntilanak hijau" bisik Tyno tepat di telinga Aly lalu meninggalkannya bersama Alfi dan Lilis yang masih speechless dengan tindakan Tyno barusan.
"Wahh, adegan drakor apa tadi itu?" ujar Lilis yang masih menganga.
Aly memukul pelan kepala Lilis dan meninggalkan dua manusia yang masih belum percaya dengan adegan yang baru saja mereka lihat.
"Aku speechless" ujar Alfi lirih dengan tatapan yang masih belum percaya.
...~...
Purwokerto, 09.00
Brak.
"Bagaimana bisa mereka memberikan informasi itu ha?!" sentak seorang pria yang memakai topeng gagak yang menutupi sebagian wajahnya, tapi terlihat seperti menutupi seluruh wajahnya.
Di depan pria itu terdapat 6 orang yang juga memakai topeng hewan yang berbeda-beda. 2 diantaranya berada di sebuah panggilan video.
"Maaf Raven, kami juga kurang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi setelah penyelidikan, mereka menerima suap itu karena kesal dengan anda" jawab seorang pria yang memakai topeng berbentuk seperti buaya setengah wajah.
Cring.
"Haruskah kita habisi mereka, Tuan?" tanya pria lainnya yang memakai topeng singa yang sudah bersiap dengan pedang katananya.
"Kau harus lebih sabar Leo. Kita harus buat rencana yang matang dulu" ujar si topeng burung hantu dan merupakan satu-satunya perempuan disana.
Raven kembali duduk dan menatap seorang pria yang memakai topeng Panther. Pria itu memainkan gelas berisikan vodka. Hanya pria itu yang meminum vodka di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu.
"Tarantula" panggil si topeng Panther pada seorang pria yang berada di dalam panggilan video juga.
"Iya Tuan?"
"Buat mereka merasakan neraka di dunia. Jangan bunuh sampai ada perintah selanjutnya" ujar pria itu yang kembali menegak satu gelas kecil berisikan vodka, "Griff, apa kau dapat laporan dari bear dan Fox?"
"Raven" panggil Pria bertopeng Naga sambil berdiri dari posisi duduknya, "Kau urus mereka, aku akan urus Bear dan Fox. Jadi...fokus lah ke penghianat itu" ujarnya sambil meninggalkan ruangan itu bersama orang yang dipanggil Griff tadi.
"Tanpa kau perintah aku juga paham, Atha" gumam Raven sambil menatap kepergian Atha.
Atha berjalan gontai dan berakhir terduduk di ayunan kayu di dekat taman belakang rumah yang bergaya Netherlands Classic berukuran tidak terlalu besar, tapi tidak bisa dikatakan sebagai sederhana juga.
"Griff..." panggil Atha yang memegang kepalanya yang pening, "Ambilkan air jahe" pintanya dengan lirih.
"Baik Tuan Muda"
Griff berjalan meninggalkan Atha. Seorang wanita paruh baya tiba-tiba muncul bersama seorang wanita berambut pendek. Wanita paruh baya itu mendorong pelan ayunan itu, membuat rasa pusing Atha kembali dan bertambah.
"Nek...Pusing"
Wanita itu terkekeh pelan dan membuang kaki Atha kebawah. Merasa diusir Atha memilih duduk bersandar di sandaran ayunan itu.
"Salah siapa minum~"
Enda menatap cucu laki-lakinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Merasa ada ya g sedang memperhatikan dirinya Atha sedikit membuka matanya dan langsung menatap mata cokelat milik Enda.
"Nek, bunuh si Bastian keknya halal ya" celetuk Atha yang menutup matanya lagi.
Enda tertawa pelan dan mengayunkan ayunan itu pelan dengan kakinya, "Kita gak bisa bunuh Sebastian, kau harus ingat kita masih ada kerjasama dengan mereka" jawab Enda dengan lembut tapi mengisyaratkan kekecewaan disana.
Mendengar itu Atha tertawa pelan dan tawa itu semakin keras, "Bodoh memang. Takdir kita itu memang bodoh"
Enda memukul pelan paha Atha, "Jangan bicara seperti itu" tegurnya dengan lembut.
__ADS_1
"Tapi karena dirinya, Kakak berubah menjadi perempuan berhati dingin" seru Atha yang mengutarakan semua kekesalannya, "Jika saja saat itu, Kakak tidak menyelamatkannya dia masih menjadi seorang malaikat kehangatan di keluarga kita!"
Enda terdiam dengan perkataan Atha. Dia memikirkan perkataan Atha yang memang seluruhnya seperti yang dia inginkan saat itu. Tapi sekarang nasi telah menjadi bubur.
"Siapa pria dua tahun lalu yang sudah membuat Aly mulai kembali seperti dirinya dulu?" tanya Enda pada Santi.
"Maaf saya belum tau"
Enda menghela nafas pelan, "Griff?" tanya Enda sesaat Griffin datang sambil membawa segelas air jahe untuk Atha.
"Dia seorang Dokter. Tapi kita belum punya akses masuk untuk arsip itu" jawab Griffin yang sedikit membungkuk.
Atha meminum jahe itu lalu memuntahkan isi perutnya, "Seandainya ada malaikat pencabut nyawa yang bisa membantu kita" ujarnya lirih ditengah-tengah kegiatan muntahnya.
Enda terbengong, 'Seandainya manusia seperti itu ada, aku akan menerimanya'
...~...
Lombok, 12.00
Aly, Ayda dan seorang Dokter dari Bali tengah mengurusi seorang pasien baru di tenda darurat. Aly membereskan peralatan yang tadi dia gunakan.
"Dokter Kresna teruslah pantau dia, jika ada apa-apa anda tau harus apa" ujar Aly sambil menepuk bahu Dokter bernama Kresna itu.
"Tentu, terimakasih Dokter Aly"
Aly tersenyum dan memberikan clipboard pada Alfi, "Bantu Dokter Kresna, awasi kadar oksigennya. Karena dia bisa turun dan naik secara tiba-tiba" ujar Aly yang diangguki Alfi.
Saat akan keluar dari tenda darurat mata Aly menangkap Anji dan seorang perawat dari Bali tengah memompa jantung pasiennya dengan CPR.
"Ada apa?" tanya Aly sambil mendekati mereka.
Anji masih memompa jantung pasien sudah tidak fokus pada sekitar, Perawat yang bersamanya sedikit terkejut dan menunduk, "Nafas pasien beberapa detik lalu memberat saat Dokter Anji tengah memberikan tindakan" jelas Perawat itu lirih.
Aly menyerit heran saat melihat wajah pasien itu yang membuka mulut dan matanya. Reflek Aly menyentuh pergelangan tangan pasien itu. Merasa sudah tidak ada tanda kehidupan Aly mendekati Anji dan menariknya agar berhenti.
"Apa-apaan kau Dokter Aly?!" seru Anji yang membuat semua Dokter dan Perawat disana menatapnya.
Aly mengacuhkan Anji dan memeriksa detak jantung pasien itu, "Kau. Catat, waktu meninggal WITA puk…"
"Dia masih hidup Dokter Aly!" sentak Anji yang masih berusaha memberikan CPR.
"Cukup Dokter Anji, dia sudah tiada!" seru Aly yang mendorong Anji sampai dia terjatuh.
"Tidak! Dia masih…"
Plakkk
Sebelum Anji menyelesaikan perkataannya Aly sudah menamparnya cukup keras hingga membuat semua orang disana sangat terkejut. Suasana di Tenda Darurat menjadi tegang dalam kedipan mata.
"Dengar! Kau hanya Dokter bukan Tuhan yang dapat menentukan hidup dan matinya seseorang!" geram Aly sambil mencengkram kerah Anji.
Anji terdiam sesaat kemudian menarik rambutnya kencang, "Lagi-lagi aku gagal" gumamnya yang terdengar sangat frustasi.
Aly menatap Anji dan mendorongnya sampai terjatuh kembali, "Kau catat! Waktu meninggal WITA 12.25" ujar Aly sambil menggenggam kuat hingga membuat setetes darah terjatuh dari genggaman itu.
Arif yang melihat kejadian itu sejak awal menghampiri Aly dengan tatapan panik dan mengambil kedua tangan Aly yang masih menggenggam kuat. Arif melepaskan genggaman itu dengan sekali tarikan kemudian membersihkan luka itu. Aly masih terdiam dengan tatapan kosong penuh amarah.
"Aku tidak pantas dipanggil Dokter" Anji menahan tangis sesalnya.
"Sudah ku katakan kan! Kau adalah Dokter! Jadilah profesional! Ini bukan uji coba tapi kenyataan!" kesal Aly ingin mendekati Anji lagi.
__ADS_1
...****************...