Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 16


__ADS_3

...****************...


Lombok, 21.00


Hari semakin malam, beberapa dari tim medis berada di tenda cafetaria membersihkan bekas pecahan obat kaca. Keadaan tenda itu sangat berantakan, 5 rak terjatuh dan membuat obat-obatan berbentuk botol kaca jatuh dan pecahannya berserakan.


"Aww!" pekik Ayda saat kaca berujung tajam berhasil melukai dan menusuk dua jari kanannya.


"Ayda, kenapa?" tanya Alfi yang mendengar pekikkan Ayda tadi.


"Tidak, hanya luka kecil" ujar Ayda sambil tersenyum kikuk.


Dengan kasar Alfi menarik tangan Ayda yang dia sembunyikan di belakang. Alfi menatap tajam Ayda saat tau, jari tengah dan jari manisnya mengeluarkan darah cukup banyak.


"Aku akan meng…"


"Perawat Alfi" suara berat tapi terdengar ringan membuat kedua perempuan itu menatap asal suara, "Biar saya saja yang mengobatinya" tawar pria yang memanggilnya tadi dengan senyuman manis.


Alfi menatap Ayda sesaat dan tersenyum jahat, "Tentu Perawat Naufal" ujar Alfi yang berhasil membuat Ayda menjatuhkan rahangnya, "Aku akan membersihkan pecahan kaca lainnya di bagian sana~" lanjut Alfi dengan bahagia dan meninggalkan Ayda bersama Naufal.


Ayda menatap tajam Naufal, "Kenapa? Mari aku obati" ujar Naufal yang akan menyentuh tangan Ayda, tapi dengan sigap Ayda menarok tangannya, "Ada apa?"


"Gak usah pegang-pegang! Bukan muhrim!" celetuk Ayda dengan tatapan marah ke Naufal.


"Baiklah aku tidak akan menyentuhmu, tapi ulurkan tangan mu agar aku bisa mengobati lukamu itu" pinta Naufal dengan lembut dari suara sampai tatapannya.


Melihat itu Ayda mulai terpesona dan membuat wajahnya memerah. Dia mengulurkan tangannya dan menatap arah lain. Naufal yang melihat sikap Ayda hanya bisa tersenyum senang.


"Dokter Ayda" panggil Naufal yang memecahkan keheningan diantara mereka, "Apa aku boleh bertanya?"


"Apa?" tanya Ayda yang masih menatap arah lain.


Naufal kembali tersenyum, "Kau lebih memilih pacaran dulu baru menikah, atau menikah dulu baru pacaran?" pertanyaan Naufal.itu berhasil membuat Ayda menatapnya.


"Kenapa pertanyaanmu seperti itu?" Ayda menyerit dalam dan balik bertanya.


Naufal tidak menghilangkan senyumannya sedetik pun, "Jawab saja dulu"


"Menurutku…Menikah dulu baru pacaran. Itu kan yang di anjurkan" jawab Ayda santai.


"Begitu ya" Naufal membereskan perlengkapannya dan kembali menatap Ayda, "Bagaimana jika aku mengajak mu Ta'aruf?" wajah tersenyum tadi tergantikan dengan wajah serius.


Ayda mendelik terkejut dengan penuturan Naufal, "Ha? Kau ingin mengajak…aku Ta'aruf?" ulang Ayda dengan suara yang sedikit dia kecilkan.


Senyuman Naufal kembali, "Iya, dan mari kita lihat 3 atau 4 bulan ke depan" ujar Naufal yang kemudian meninggalkan Ayda yang masih shock.


"Dia gila?" gumam Ayda yang masih shock dengan perkataan Naufal.


"Firasatku saja atau memang kalian juga merasakan jika kedekatan Dokter Aly dan Kapten Tentara itu seperti sedang pdkt?" pertanyaan Lilis berhasil membuyarkan lamunan Ayda dan menatapnya heran.


"Kalo kau bertanya pada ku, aku akan menjawab kalo Kapten lah yang sedang berusaha mendekati Dokter Aly" celetuk Tio sambil berusaha mendirikan salah satu rak obat-obatan.


"Aku setuju, Dokter Aly tuh lebih ke cuek gak sih?" timpal Enta salah satu Perawat dari Bandung yang membantu membersihkan pecahan kaca.


"Please, kalian berhentilah bergosip tentang Alyssa. Jujur, dia itu peka kalo ada orang yang ngomongin dia, pasti dia akan ganggu mereka" celetuk Ayda yang berhasil membuat semua orang disana tertawa.


Tiba-tiba seorang pria masuk kedalam tenda cafetaria itu, "Permisi semua, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu dengan kikuk, "Umm Dokter Aly yang memintaku untuk kemari"

__ADS_1


Suasana seketika hening saat pria itu menyebut nama Aly.


"See, emang anak itu pekanya luar biasa" celetuk Ayda lagi yang berhasil membuat tawa semua orang disana kembali menggema, kecuali pria tadi.


Tio mendekati pria itu dengan tawa pelan dan menepuk pelan bahu pria itu, "Kau Anji bukan?" Anji mengangguk pelan, "Kau bisa membantuku mengangkat obat-obatnya yang baru datang" ujarnya sambil keluar tenda dan Anji hanya mengekorinya.


"Perhatikan tidak, Dokter Anji juga seperti berjuang mendapatkan hati Dokter Aly juga?" ucap Lilis pada Alfi yang berada di dekatnya.


Alfi menatap Lilis sesaat kemudian memasang wajah berfikir, "Dokter Aly hanya kasian pada Dokter Anji. Dia itu paling tidak suka melihat orang putus asa" ujar Alfi sambil membuang pecahan kaca ke kardus bekas, "Dia itu orang yang tegas, acuh, tetapi ada hati yang rendah dan peka disana" lanjutnya yang berdiri, "Jika di pasangkan antara Anji, Arif dan Kapten aku akan memilih dengan Kapten"


"Kau benar" timpal Lilis setuju dengan perkataan Alfi.


...~...


Aly keluar dari tenda Darurat. Sudah hampir 2 jam dia menangani pasien yang tiba-tiba mengalami pecah pembuluh darah itu. Aly meregangkan tangan dan tulang lehernya yang terasa kaku. Sejenak dia berhenti dan memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Sepertinya aku memang harus istirahat" gumam Aly yang memilih berjalan pelan. Selain pusing dia juga merasakan perih pada kakinya yang masih terluka. Walau lukanya tidak seperah 2 hari lalu, tetapi dia masih bisa merasakan perih di luka itu.


Tujuan Aly sekarang adalah tenda istirahat tim medis. Saat berada di depan tenda yang biasanya digunakan oleh tim Tentara untuk rapat Aly berhenti sesaat. Denyutan di kepalabya semakin terasa sakit.


"Kyaa!" pekik Aly saat dirinya ditarik seseorang kedalam tenda kosong itu. Sebuah tangan besar membekap mulutnya dan dia bisa mendengar suara detakan jantung orang yang menariknya. Perlahan dia melihat siapa yang menariknya, dan mata emeraldnya bertemu onyx misterius tetapi terlihat lembut untuknya. Mata Aly mendrlik sempurna.


"Kau tahu, kau itu orang yang suka membuat orang khawatir kah?!" gumam orang itu dengan geram.


Aly melepaskan tangan pria di depannya dengan kasar, "Apa maksudmu ha?!" tanya balik Aly.


"Kenapa kau balik bertanya?!"


Aly menggenggam kuat tangannya menahan marah, "Dasar Setan Lombok!" ejek Aly geram.


Orang yang tak lain adalah Tyno berdecak pinggang lalu mengusap wajahnya kasar, "Kenapa kau sangat keras kepala, Dojter?!"


"Kau sadar, kau sudah membuat orang khawatir. Termasuk aku"


"Sebentar. Aku punya salah apa sampai kau merasa khawatir ha?!" celetuk Aly sambil melipat tangannya di depan dadanya.


Tyno menghela nafas kasar dan saat menatap Aly dia memutar matanya malas, "Kau ingin tahu apa salah mu?"


"Iya, aku merasa tidak punya salah pad…"


"Kau tidak mendengarkan ku saat kau baru sadar tadi" potong Tyno yang terlihat kesal.


Aly makin menyeritkan dahinya, "Kau gila? Itu adalah tugas Dokter jadi sudah sewajarnya aku bertindak"


"Tapi kau juga terluka, kau tahu itu?!" bentak Tyno sambil memegang bahu Aly.


Aly terdiam sesaat, denyutan di kepalanya kembali datang tapi kali ini membawa memori lama. Memori yang sangat berarti untuknya.


"Aku pernah mengatakan itu juga" gumam Aly sambil memegang kepalanya.


"Dokter?" panggil Tyno saat merasa ada yang aneh dengan perempuan di depannya saat ini, "Maaf aku bukan ingin mem…" sebelum perkataan Tyno selesai tubuh Aly jatuh tepat di pelukan Tyno, "Dokter Aly!"


...~...


"Dokter Ekgi?" panggil seorang perawat yang baru saja memasuki tenda Darurat dan saat itu juga dia sedang melihat Ekgita tengah melepaskan infusnya yang sudah habis.


"Ah perawat Alfi kan?" tebak Ekgita sambil menunjuk Alfi yang berjalan mendekatinya sambil mengangguk, "Aly tadi bilang akan ke tenda istirahat saja untuk tidur sebentar"

__ADS_1


"Ah terimakasih informasinya, jika tidak aku sudah berlari mencari dia" ujar Alfi sambil tersenyum lebar.


"Kalian terlihat dekat" celetuk seseorang dari arah belakang Alfi.


Alfi sedikit berjingkat karena terkejut tetapi sedetik kemudian dia hanya bisa mengelus dadanya sabar, sedangkan Ekgita hanya menatap orang yang mengejutkan mereka dengan tatapan datar.


"Kau suka sekali mebgejutkan orang ya" protes Alfi yang kesal dengan orang yang mengejutkannya tadi.


"Dia memang cari mati"


"Anda cewek tapi omongannya sadis" celetuk orang itu.


"Jadi kenapa kau ada disini, Alfan?" tanya Ekgita dingin pada Alfan.


Alfan merasa tidak terima hanya bisa mengelus dada agar lebih sabar menghadapi Ekgita, "Aku sedang mencari kapten. Tiba-tiba saja dia menghilang" jawab Alfan yang duduk disalah satu ranjang kosong di sebelah Ekgita.


"Kenapa mencarinya kemari?" tanya Alfi yang bingung dengan sikap Alfan yang menurutnya semakin hari semakin aneh.


Alfan hanya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, "Kan kau juga tahu, kalau Kapten sedang dekat dengan Dokter manis" jawab Alfan yang sedikit gugup, "Ya sekalian aku liat Suster imut juga" lanjut Alfan yang sedikit lirih tapi masih bisa di dengar oleh kedua perempuan itu.


Ekgita menatap Alfan sedikit jijik, sedangkan Alfi menatapnya heran, "Dokter manis? Suster imut? Bahasa mu aneh" celetuk Alfi dengan nada geli.


Ekgita tertawa mendengar perkataan Alfi, "Setuju, aku juga geli dengernya"


"Diam kau!" geram Alfan yang mendelik pada Ekgita.


"Apa? Kau pikir aku takut ha?!"


"Ekgita!" teriak seseorang yang baru saja masuk kedalam tenda darurat.


Tiga orang itublangsung mberbalik mencari sumber suara tadi. Dan ketiganya langsung mendelik terkejut saat Tyno masuk sambil membawa Aly yang pingsan di dalam.gendongan ala bridal style.


"Aly?! Kau kenapa?" tanya Alfi yang tergesa-gesa karena khawatir.


"Jangan banyak tanya dulu, ambilkan aku tensi dan stetoskop" titah Ekgita yang langsung di lakukan Alfi.


Saat Ekgita tengaj memeriksa keadaan Aly, Arif masuk kedalan tenda Darurat dan heran melihat ekspresi Alfan dan Tyno yang terlihat panik. Arif mendekati Ekgita karena penasaran siapa yang sedang ia tangani dan sesaat kemudian dia mendelik terkejut.


"Alfi infus" ujar Ekgita sambil memasangkan alat bantu oksigen pada Aly.


"Ada apa dengan Aly?" tanya Arif yang tetap berusaha untuk tenang.


"Saya tidak tahu" celetuk Tyno yang tetap memperhatikan Aly dengan panik, "Tiba-tiba dia pusing saat kami mengobrol" lanjut Tyno yang mulai mendekati Aly.


Arif terdiam sesaat, "Apa dia sempat mengatakan sesuatu sebelum pingsan?"


Tyno terdiam sesaat dan kemudian mendongak menatap Arif, "Ya, dia bilang "Aku pernah mengatakan hal itu juga" saat mengobrol dengan saya tadi"


Arif menyeritkan dahinya, "Apa yang anda katakan sebelum Aly mengatakan itu?" tanya Arif penuh selidik.


"Kau juga terluka, kau tahu kan?" jawab Tyno singkat tetapi berhasil membuat Arif terkejut lalu menatap Alfi tajam. Alfi menggeleng pelan pada Arif.


"Kau Dokter Ekgita kan?" Ekgita hanya mengangguk, "Jaga Aly, aku ada urusan dengan Alfi sebentar" lanjut Arif yang kemudian menarik paksa Alfi keluar tenda Darurat.


Tyno menatap Arif curiga, sedangkan Alfan menatap mereka tidak suka.


"Sejak awal, aku tidak percaya pada Dokter itu" gumam Tyno yang dapat di dengar Ekgita.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2