
...****************...
13.03
Seorang pria berdiri menatap sebuah makam yang sudah ia bersihkan. Pria itu hendak pergi tapi sebuah suara menghentikannya.
"Kenapa kau mencabut laporan kasus pembunuhan itu, Arif?", Arif bergeming tidak ada jawaban bahkan berbalik saja tidak, "Kau gila?! Apa yang kau mau sebenarnya?!" tanya Aly berentetan.
Arif menarik nafas panjang dan membuangnya kasar lalu berbalik menatap Aly, "Memancing mereka keluar"
Aly berjalan mendekati Arif dan
Plak
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi kanannya, "Kau memang sudah gila!"
"Setidaknya aku tidak mengganggu laporan tentang penculikan mu kan?" celetuk Arif lagi yang tidak memasang satu pun ekspresi disana.
Atha terdiam melihat pertengkaran itu, "Kenapa dia melakukan itu pada mu?" tanya Atha yang berbisik pada makam dengan nisan bertuliskan Zakra Wildan Nugroho.
"Dia kakak ku, dia memang egois sejak dulu" jawab Zakra dengan wajah murung.
Senyuman miring terpasang di wajah Atha, "Ha~ Kau mau menyampaikan sesuatu, Zakra?"
"Jangan temui atau hubungi aku lagi" ancam Aly yang pergi dari tempat itu, "Kakak akan kembali ke Rumah Sakit, kau telfon saja siapa pun" ujarnya yang kemudian benar-bener pergi dari sana.
"Kau memang egois. Aku ada pertanyaan, apa kau bisa jawab?" tanya Atha pada Arif yang masih bergeming di tempatnya sebelumnya.
Arif berniat meninggalkan Atha tapi, "Ada yang bilang kalau kau membunuh ayah tiri mu"
Mendengar itu Arif berhenti dan berbalik menatap Atha dengan tatapan penuh keterkejutan, "Ho~ Ternyata benar ya?" ledek Atha sambil memasang wajah tengilnya, "Menarik, menambahkan sedikit racun bisa ular yang melemahkan saraf, kau petualang juga kah seperti Zakra?"
Lagi-lagi Arif menatap Atha terkejut. Dia mengeratkan genggamannya, emosinya sudah mulai memuncak.
"Wahh~ Ada info baru" celetuk Atha lagi, "Kau yang mengirimkan informasi keberadaan Zakra dan Kakak ku kan?"
Genggaman Arif melemah dan menatap Atha tidak percaya, "Bagaimana kau tahu semua itu?"
Atha tersenyum kemudian menunduk, "Bagaimana jika aku yang memberitahunya?"
...~...
13.28
Aly baru saja sampai di basement Rumah Sakit. Dia masih di dalam mobil, memikirkan apa saja yang sudah terjadi tadi. Kepalanya terasa berdenyut saat mengingat kejadiannya dengan Arif tadi. Aly memegang kepalanya kuat saat kepalanya terasa akan pecah sebuah ingatan muncul.
Flashback.
"Happy Anniversary ke satu tahun sayang!" teriakan seorang pria mengejutkan Aly yang tengah masak di dapur rumahnya.
"Zakra!" teriak Aly kesal.
Zakra membulatkan mulutnya tanda ia terkejut lalu tertawa keras, "Sayang, kau mandi tepung kah?"
Merasa geram Aly mendekati Zakra lalu mencubit pinggangnya, "Ini juga karena kau tau!" kesal Aly sambil mengambil alat-alat kebersihannya, "Sapu! Aku masih buat adonan" ujar Aly yang kembali membuat adonan.
Zakra memberikan hormat, "Siap Mam"
Aly hanya menggeleng dan tersenyum. Saat masakan Aly selesai, dia dan Zakra duduk berdua di depan meja makan. Zakra terpesona dengan setiap makanan Aly.
"Kau hebat, kenapa gak jadi Koki aja?" tanya Zakra sambil menyuapkan sesuap Zupa Soup, "Enak!" serunya dengan penuh haru.
"Aku udah punya rencana mo buat cafe kecil-kecilan" ujar Aly sambil memberikan Lagsana pada Zakra.
"Dengan nama Arikinan?"
Aly menggeleng, "Aku ada urusan, jadi gak bisa lama-lama"
"Operasi kah?"
Aly mengangguk sambil memakan lagzana yang dia buat, "Iya, jadi kita nge date nya besok aja ya?"
__ADS_1
Zakra tersenyum dan memegang pipi Aly, "Sekarang aja kita lagi nge date kan?"
Aly terkekeh pelan, "Benar, kau ke Rumah Sakit juga kan?"
Zakra mengangguk, "Nanti juga ketemu" ledek Zakra dengan senyuman lebarnya. Tapi tiba-tiba wajah Zakra terlihat murung, "Besok aku mau bawa kamu ke suatu tempat"
Aly menatap bingung Zakra, "Kemana?"
"Tempat yang indah dan bahkan kau juga akan terpesona" ujar Zakra dengan senyuman lembutnya.
"Kau sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Aly sambil melihat Akra khawatir.
"Tidak ada. Ayo habiskan, nanti aku yang cuci piring sama ngunci rumah gapapa"
"Makasih sayang" ujar Aly yang tersenyum lembut dan di balas senyuman lembut juga oleh Zakra, 'Ha kenapa aku gak bisa baca pikiranny?'
Flashback off
Ketukan di kaca mobilnya membuatnya kembali ke alam sadarnya. Aly mengatur nafasnya dan mengusap matanya karena berlinang air mata karena menahan sakir pada kepalanya dan mengingat kejadian yang mengharukan tadi. Aly membuka kaca mobilnya dan melihat Monty yang menatap khawatir dirinya.
"Nona tak apa?"
Aly menggeleng lalu menutup kaca jendela dan keluar dari mobilnya, "Terimakasih Monty"
"Ini memang sudah tugas saya" ujar Monty yang sebenarnya tak tahu apa-apa.
Aly mengangguk lalu berjalan masuk kedalam Rumah Sakit. Monty masih melihat kepergian Aly sampai suara Handphonenya membuyarkan apa yang sedang ia pikirkan.
"Halo?" Monty terdiam beberapa detik, "Alright, I will call you back later. Thank you" ujar Monty yang menutup telfonnya lalu, "Yes!" teriaknya yang menggema di seluruh basement.
Aly terduduk di dalam ruangan pribadinya. Dia kembali melamun mencari jawaban kenapa ingatan romantisnya dengan Zakra tiba-tiba muncul dan Zakra akan membawanya pergi kemana? Aly menghentakan kepalanya di meja. Sampai suara ketukan pintu membuatnya terkejut.
"Masuk"
Monty masuk kedalam ruangan sambil tersenyum senang.
"Ada apa?" tanya Aly yang menatap aneh Monty.
"Wow, lalu?"
"Saya akan tetap menjadi predator walau saya harus pergi jauh" ujar Monty sambil terus tersenyum senang.
Aly tersenyum senang juga, "Congrats, and…" Aly membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat, "Anggap sebagai hadiah keberhasilan mu"
Monty mendekati Aly dan mengambil amplop itu dengan wajah penasaran, "Ini…banyak banget Nona?"
"Kan aku dah bilang anggap itu hadiah keberhasilan mu"
Monty menahan air matanya lalu membungkuk memberi hormat pada Aly, "Terimakasih karena percaya pada saya. Terimakasih untuk semuanya, Nona" ujar ya dengan bahu bergetar.
Aly tersenyum lalu bangkit dari duduknya menghampiri Monty lalu memeluknya, "Kita kan keluarga" ucap Aly yang membuat Monty menangis di pelukannya, "Sekarang…" Aly menghapus air mata Monty, "Laporlah ke Nenek dan Iyas, mereka juga pasti sangat senang"
"Tapi anda?"
"Aku sudah biasa sendiri juga kan?"
Monty menatap khawatir Aly tetapi dirinya di dorong Aly agar keluar dari ruangannya. Setelah kejadian Monty tadi membuat mood Aly sedikit lebih baik. Melihat keluarganya sukses dan senang itu sudah jadi kebahagiannya sendiri untuknya. Mengesampingkan masa lalu Monty dan dirinya yang buruk, Monty sudah menjadi bagian dari Predator artinya bagian daro Arikinan.
Saat ini Aly baru saja selsai tour pasien bersama koas-koasnya. Alfi memperhatikan wajah Aly yang sembab dan terlihat lelah. Aly yang merasa risih berhenti dan berbalik menatap Alfi.
"Kenapa ngeliatin aku mulu?"
Alfi memeluk clipboardnya, "Kau seperti zombie"
"Heh!"
"Beneran" Alfi merogoh saku seragam perawatnya dan memberikannya pada Aly.
Aly mendelik saat melihat pantulan dirinya di cermin, "Haish! Gegara gak tidur 2 hari nih"
Alfi menggeleng, "Lebih baik kau perawatan gih"
__ADS_1
Aly menjentikkan jarinya, "Good idea" Alfi tersenyum melihat semangat Aly, "Eh, Ayda dah pulang?"
"Udah tadi waktu kamu pergi Ayda juga pergi"
"Haa~ Ya udah aku juga mo siap-siap balik" ujar Aly yang berjalan berlawanan arah dari ruangan pribadinya.
"Eh mo kemana? Ruangan mu kan kesana?" tunjuk Alfi.
"Kantin, beli pudding" seru Aly yang kemudian benar-benar meninggalkan Alfi.
"Dasar maniak manis"
...~~...
Di kantin Aly langsung menyerbu sisa pudding yang ada di kulkas. Baru saja Aly duduk, bangku di depannya juga ikut di tarik seseorang. Aly menatap heran sosok yang sudah duduk di depannya sambil terus memakan pudingnya. Tapi mengingat memang dia sedang Rumah Sakit yang sama dengannya membuat Aly bodo amat dan malah menyodorkan satu cup pudding susu pada Tyno yang menatap Aly dengan senyuman.
"Kau ambil semua pudding di kulkas kecil itu kah?" tanya Tyno sambil menunjuk pada kulkas berukuran sedang di belakang Aly.
Aly mengangguk sambil terus memakan pudingnya, "Itu puding susu, gak terlalu manis kok"
Tyno mengangkat satu alisnya dan tersenyum miring. Perkataan Aly tadi membuat dia mengingat sesuatu, "Tau darimana kalo aku gak suka manis? Oh jangan-jangan kau menstalker aku ya"
Mendengar itu Aly harus menelan bulat-bulat pudding yang belum sepenuhnya dia kunyah. Aly merebut botol air yang belum di buka Tyno lalu meminumnya sampai setengah.
"Aku tahu aku menyebalkan. Tapi kumohon jangan berencana membunuhku disini dong!" cerocos Aly yang kesal.
"Mana mungkin aku membunuhmu" tandas Tyno yang tidak terima dengan perkataan Aly.
Aly memanyunkan bibirnya, "Jadi kau beneran tidak suka manis?" Tyno mengangguk kecil, "Padahal aku hanya memberitahu mu kalau puding itu tidak manis"
"Tapi ada satu hal manis yang sangat aku suka. Bahkan sampai aku tergila-gila"
"Apa itu?" tanya Aly sambil memakan kembali sendokan besar pudingnya.
"Kau"
"Emm, UHUK!"
Tyno buru-buru membuka botol minum milik Aly lagi dan Aly langsung merebut botol minum itu, "Puding sialan, ku bunuh juga pembuatnya!"
"Kau ini beneran mau bunuh aku ya?!" geram Aly sambil meremas botol air mineralnya yang sudah habis karena dirinya.
Tyno menyerit lalu menghela nafas kasar, "Kau itu selalu saja suudzon dengan ku ya. Aku itu hanya berbicara apa yang hati ku katakan saja" ujarnya nada yang lembut.
Aly terdiam saat Tyno mengatakan hal itu, "Aku hanya mengatakan apa yang hati ku katakan saja" sebuah ingatan tentang Zakra tiba-tiba muncul dan membuat Aly menjadi pusing lagi.
"Kau kenapa?" tanya Tyno yang melihat Aly khawatir karena tiba-tiba memegang kepalanya.
Aly menggeleng lalu berdiri, "Aku akan pulang, kau menginap?"
"Tidak, tapi aku tidak ada kendaraan"
Aly menyerit, "Terus?"
"Bisa antar aku pulang, sudah tidak ada transportasi umum"
"Online kan bisa"
"Aku juga mau membelikan mu handphone sebagai tanda maaf ku yang telah merusak handphonemu" ujar Tyno dengan wajah di buat-buat.
Aly menatap datar Tyno lalu melempar kunci mobilnya, "Aku boleh milih sendiri kan?" tanya Aly dengan wajah di imut kan.
Tidak, Aly memang imut. Dan karena wajah Aly itu membuat Tyno terpesona dan memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena terpesona.
"Iya"
"Oke, aku siap-siap dulu" ujar Aly yang kemudian langsung meninggalkan Tyno.
Tyno menutup setengah wajahnya dengan tangannya, "Sialan! Terlalu imut" ujarnya yang kemudian pergi dari kantin.
...****************...
__ADS_1