Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 38


__ADS_3

...****************...


5.45


Tyno membenturkan kepalanya ke tembok di belakangnya untuk bersandar.


Tyno POV


Sudah 3 hari sejak kejadian aku di pukuli Lesma kedua kalinya di rumah sakit. Dan hari ini aku kembali menjaga Paman Galang sendirian. Lesma masih ada kerjaan sedangkan Budhe masih harus mengajar.


Oh iya, perkenalkan aku Althyno Dharma Arisakti, umur 26. Cukup? Pastinya tidak kan. Sebenarnya aku anak tunggal, jika ayah ku tidak menikah lagi. Tapi ya kalian tau lah. Karena itu aku jadi 3 bersaudara. Dua adik tiri ku itu perempuan. Aku termasuk anak yang kabur dari rumah. Ya juga karena istri baru bokap. Bukannya mendengarkan penjelasan anak, anaknya malah di tampar. Sesudah di tampar di kenalkan dengan lintah. Menjijikan. Untungnya ada Paman Galang yang selalu bersama ku.


Sejak SMP aku sudah bersama Paman dan Budhe di Purwokerto, tapi menjelang SMA aku memilih kembali ke Jakarta dan mencari kost disana. Sebelum jadi Tentara sudah banyak kerjaan yang aku lakukan sejak SMA. Dari ya g halal sampai haram. Eits haram disini bukan berarti melanggar hukum, tapi menjadi anak nakal. Eits tapi bukan berarti nakal artian buruk.


Paman tahu apa yang aku lakukan, maka dari itu aku lulus langsung dimasukan ke Akademi Militer tanpa perlawanan dariku, alias pasrah. Paman punya dua anak kembar. Satu sudah kalian ketahui, satu lagi akan muncul kok.


Sebuah kotak makan tiba-tiba terpampang di depan wajahku. Aku mendongak melihat siapa yang membawa bekal itu. Kekehan dan senyuman bahagia tiba-tiba muncul di wajahku.


"Wah liat siapa yang pagi-pagi buta sudah disini. Selamat lagi Dokter Alys"


"Pagi juga" jawab Aly dengan datar, "Nih, aku bawa sarapan dari rumah" ujarnya sambil duduk di samping ku, "Aku menghubungi mu, tapi sepertinya handphone mu mati"


Aku mengangkat salah satu alis ku lalu mengambil handphone ku dari saku belakang, dan memang benar handphone ku ternyata mati, "Iya, ternyata mati" celetukku sambil mengeluarkan charger handphone.


"Nah, makan. Aku gak tahu apa kesukaan mu jadi aku bawa apa yang ada di rumah saja"


Aku mengerjapkan mataku berkali-kali lalu menggeleng pelan. Aku mengambil kotak makan itu dan saat aku membukanya, senyuman ku memudar tetapi sesaat kemudian muncul dengan wajah sumringah, "Wah kebetulan apa ini?"


"Kenapa?"


"Aku suka udang"


Aku melihat wajah tidak percaya Alys, terlihat imut memang, "Kau suka Udang? Kebetulan sekali, adikku ingin makan udang jadi aku buat kan dia udang" jelasnya sambil terus menatapku.


"Kau yakin ini untuk ku bukan untuk pasien mu?" ledekku yang hanya meliriknya dan aku melihat dia menatapku kesal.


"Kembalikan" ujarnya datar, "Sini balikin" dia berusaha menarik kotak makannya dari tanganku, tapi aku tahan sehingga dia menjadi kesusahan menariknya kembali.


Aku menarik balik kotak makan itu sehingga membuat dia tertarik kearah ku. Karena ulah ku itu, jarak kami hanya tinggal satu jengkal saja.


"Ini tidak kau beri racun bukan?" goda ku lagi yang berhasil membuat diela semakin kesal. Baiklah hobi ku bertambah.


Tyno POV end.


...~...


Atha POV


"Jadi kenapa kau minta aku dibikinkan udang?" tanyaku yang sedang duduk di salah satu anak tangga di rumah Kak Alys sambil mengetik laporan dari praktek ku.


Zakra melayang di hadapan ku. Dia tersenyum tanpa menjawab.


"Hoi aku bertanya loh"


Dia masih tersenyum, "Mungkin hanya firasat saja" ujarnya tanpa menghilangkan senyumannya itu.


"Haha, lucu sekali" ucapku dengan tawa di paksa, "Kau pikir aku bodoh" gumamku yang ditertawakan olehnya, "Kau sepertinya tidak hanya punya hubungan dengan kakak ku saja, pasalnya Dokter Bima juga ada di pemakaman kemarin"


Senyuman Zakra tiba-tiba terlihat memudar. Walau senyuman tipisnya masih terlihat tapi dapat di lihat dari wajahnya yang terlihat sedih.


"Ada beberapa alasan aku belum bisa pergi"


Aku menatapnya bingung, "Maksudmu? Karena kau punya dendam?"


Dia menggeleng, "Kau percaya jika aku bisa melihat masa depan?"


Aku menyerit heran dengan pertanyaannya. Tiba-tiba aku teringat pada sebuah buku yang tiba-tiba muncul setelah aku terbangun dari lucid dream. Buku yang seperti mengarahkannya pada beberapa peristiwa seperti saat Kak Alys dan Arif bertemu di pemakaman. Aku berlari menuju kamar ku dan mengambil buku bewarna cokelat itu.


"Ini milik mu?" Zakra memiringkan kepalanya lalu tersenyum dan mengangguk, "Jadi ini beneran akan terjadi?" tanyaku lagi dan kembali di balas dengan senyuman saja.


Aku menyerit lagi, "Lalu apa hubungannya dengan Kakak ku?"


"Jika kau baca semuanya kau akan paham nanti" ucapnya sambil mengendikan bahunya.


"Aku rasa orang yang sedang mendekati kakakku sekarang ada hubungannya dengan mu juga"


Zakra hanya menatapku dengan tatapan dingin, "Kalaupun iya, aku tidak menulisnya disitu" ujarnya yang membuatku kesal, "Untuk tahu, kau harus melawan yang terkuat dulu"

__ADS_1


Aku menatapnya dengan tajam, "Ha? Maksudmu kakekku?"


Senyuman Zakra kembali tapi kali ini aku merasakan kalau senyuman itu ada arti buruk, "Bukan, tetapi sesuatu yang sangat jahat"


Akh menghela nafas kesal, "Saat ini kau sedang menunjukkan kemampuan mu. Iya kan, Zakra?"


Kekehan kecil keluar dari mulutnya dan hanya membalasku dengan senyuman. Aku menghela nafas kesal sekali lagi. Bukan hanya maaf Arya saja yang membuatku kesal, senyumannya juga bisa buat aku jengah.


Sebuah pertanyaan seperti muncul dalam benak ku kemudian menatap Zakra dengan penuh pertanyaan itu, "Jika kau bisa melihat masa depan..." aku menatapnya dengan tatapan bingung, "Kenapa kau tidak mengelak dari kematian mu sendiri?"


Tawa Zakra membuatku menatapnya semakin bingung, "Kau salah" ujarnya di akhir kalimat tadi, "Aku mengubah masa depan, dan aku sudah menerima akibatnya"


Aku semakin menyerit heran, "Maksudmu?"


"Aku sudah mengubah takdir" aku berdiri saat dia mengatakan hal itu. Bagaimana tidak, mengubah takdir itu adalah hal mustahil.


"Kau mengubah takdir mu sendiri?"


Dia menggeleng sambil tersenyum, "Aku mengubah takdirku dengan takdir Lysa"


Aku membelak terkejut dengan pengakuannya, "Maksudnya?!"


"Seandainya aku tidak datang saat itu untuk melindungi Lysa. Maka yang bergentayangan sekarang ini bukan aku, tapi Lysa"


"Omong kosong apa itu?!" seruku pada Zakra.


"Kau bisa membacanya, dan saat kekuatan jahat itu datang. Kau akan paham jika takdir yang ku ubah bukan hanya berdampak padaku. Tapi Lysa juga" ucapnya yang kemudian menghilang dari hadapanku.


"Dasar Setan!" seruku dengan penuh amarah.


Aku terduduk lalu tak sengaja melihat buku Zakra di lantai bawah, dan memperlihatkan sebuah gambar yang cukup menyeramkan. Aku mengambil buku itu.


"Iblis?"


Atha POV end.


...~...


6.35


"Gila anak satu itu. Udah berangkat dong, terus aku berangkat sama siapa?" monolognya sambil mengetik pesan lagi dan 5 detik kemudian di balas kembali, "Gila aja, minta Alfan!" seru ku tang menggema di seluruh kamar ku, "Tapi apa daya ku"


Alfi mencari kontak Alfan lalu menelfonnya.


Sedangkan di sebuah rumah cukup besar. Suara dering telfon terdengar sangat keras. Sang pemilik yang baru selesai mandi hanya bisa menghela nafas kesal saat waktu tenangnya di ganggu.


"Wah ini sih bukan pengganggu, tapi mood booster" celetuknya yang terdengar bersemangat, "Assalamu'alaikum, perawat manis" salam Alfan dengan lembut.


"Waalaikumsallam, apaan sih Fan? Pagi-pagi udah gaje aja" balas Alfi yang tersipu.


"Hahaha maaf maaf, aku cuma terlalu gembira aja"


Alfi menyerit heran dengan perkataan Alfan barusan, "Gembira kenapa?"


"Karena pagi-pagi udah di telfon seorang malaikat" gombal Alfan yang membuat Alfi tersenyum geli dan tentu senang, "Jadi ada apa nih telfon pagi-pagi? Kangen aku kah?"


Mendengar perkataan Alfan tadi membuat Alfi semakin tersipu, "Mana ada aku kangen. Aku cuma mau..." perkataan Alfi terpotong karena dia merasa tidak enak dengan Alfan.


Alfan yang sedang memakai pakaiannya merasa heran dengan diamnya Alfi sesaat, "Umm biar ku tebak" celetuk Alfan yang memakai kemeja biru hitam sebagai outernya, "Kau ingin aku mengantar mu ke rumah sakit kan?" tebak Alfan yang sangat tepat sasaran.


Sebuah tawa kecil terdengar dan membuat Alfan kebingungan, "Ada apa? Kenapa tertawa?"


"Maaf maaf, aku hanya merasa kau seperti Aly tadi"


Alfan semakin menyerit bingung, "Dokter Aly?"


Celetukan Alfi tadi membuat Alfan menjadi semakin penasaran. Sedangkan Alfi memukul mulutnya yang keceplosan, "Bodoh" gumamnya sambil memukul pelan mulutnya.


"Umm itu...aku akan ceritakan nanti" jawab Alfi sambil menatap dirinya di cermin kamarnya.


"Owhh baiklah, kalau gitu tunggu sebentar ya Manis. Assalamualaikum"


Alfi tersenyum malu, "Waalaikumsallam" setelah Alfi menutup telfonnya dirinya berjalan pelan ke ruang tengah. Dia duduk di bangku dan menatap langit langit rumahnya, "Aku memang harus cerita ke seseorang tentang Aly. Apalagi Alfan juga bisa cerita ke Kapten kan?"


Alfan melompat kegirangan sesaat dia menutup telfon dari Alfi tadi. Tetapi seperti teringat sesuatu dia langsung menelfon Tyno.


"Hallo kapt"

__ADS_1


"Apa?"


"Saya boleh pinjam mobilnya sebentar?"


"Mau kemana?"


"Ke RS"


"Bilang aja ingin menjemput perawat itu"


"Hehe, itu tau"


"Isi bensin" Tyno langsung menutup telfon milik Alfan dan menatap video cctv yang Aly berikan beberapa hari yang lalu.


"Apa mau dia sebenarnya?"


Tin.


Suara mobil mengejutkan Alfi yang sedang melamun di teras rumahnya. Dia tersenyum dan menghampiri mobil itu. Tetapi Alfan keluar terlebih dahulu dan tersenyum balik ke Alfi lalu membukakan pintu untuknya.


"Lama ya?" tanya Alfan sambil menyalakan mobilnya.


Alfi menggeleng pelan, "Tidak, ayo jalan nanti telat aku" ujar Alfi yang melempar senyuman manisnya ke Alfan. Hal itu membuat Alfan tak bisa mengatur detak jantungnya.


"Baiklah" timpal Alfan yang juga melempar senyuman.


Selama perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka. Alfan melirik Alfi lalu kembali fokus ke jalanan, "Tadi saat telfon kau ingin bercerita soal Dokter Aly. Cerita apa?"


Alfi sedikit tersentak dengan pertanyaan Alfan tadi. Alfi menatap Alfan sendu dan saat itu juga Alfan melirik Alfi lagi.


"Hey ada apa?" merasa khawatir dengan keadaan Alfi, Alfan menepikan mobilnya dan menatap Alfi yang mulai menetaskan air matanya.


"Aku bahagia" ucap Alfi di tengah tangisnya, "Aku merasa lega" celetuknya lagi sambil menghapus air matanya.


Alfan menarik Alfi ke dalam pelukannya, "Tenang, aku akan disini mendengarkan semua keluh kesahmu" ujarnya sambil mengelus kepala Alfi lembut, 'Karena aku ingin memeluk hati mu juga'


...~...


Bara tengah berada di sebuah tempat bekas gudang dengan tembok penuh coretan gravity. Dia melempar koin yang selalu ia bawa.


"Jadi apa alasan mu minta kumpul?" suara berat pria dan langkahnya yang mendekati Bara membuat Bara berhenti melempar koinnya.


"Ini harus ada sesuatu yang menarik, karena aku sibuk" kini giliran suara seorang perempuan mendekati Bara.


Bara tersenyum tipis lalu melemparkan mereka sebuah ht, "Boss minta kita mulai mengintimidasi mereka" ujarnya sambil mengeluarkan topeng full wajah polos bewarna putih dan hitam setengah wajah, "Kau yang urus Arikinan dulu, aku Arisakti. Sedangkan kau...sembuhkan dulu luka kau"


"Aishh bilang dong dari tadi, Baby I'm back" seru perempuan itu lalu meninggalkan kedua pria itu.


"Boleh gak ku jadikan dia tumbal?"


Tak ada jawaban dari Bara. Tetapi Bara merasa heran dengan pria di hadapannya, "Kenapa kau meminta ku mengambil topeng ini?" tanyanya sambil menyerahkan topeng itu.


"Hoho thank you" ujar pria itu sambil membuka tudung jaketnya, "Mau gimana lagi kan? Luka ku cukup parah"


"Kau kenapa seperti tidak bersemangat, Sakti?" tanya Bara yang menatap Sakti yang tengah memakai topengnya.


"Haishh, aku yang kurang info atau aku yang kurang kuat" ujar Sakti yang menyalakan rokoknya dan mengangkat setengah topengnya.


"Kenapa?" tanya Bara yang berdiri membelakangi dia.


"Feeling ku bilang ada sesuatu yang tidak beres dengan keluarga Arikinan itu. Maksudku, memang dia memiliki kekuatan magis, tapi gak mungkin backingan mereka sekuat ini"


Tawa Bara tiba-tiba menggelegar, "Kenapa kau terlihat lemah?"


"Bukan gitu. Ada seseorang yang cukup kuat, bahkan bisa menandingi kekuatan ku. Di tambah, arwah Zakra yang menyusahkan itu" jelas Sakti dengan suara sedikit begertar.


"Kalau begitu gunakan cara lama saja" celetuk Bara yang mulai menjauhi Sakti, "Culik, sekap, bunuh"


Smirk devil tiba-tiba muncul di wajah Sakti, "I have good idea, dan ini akan membuat tugas kita selesai lebih cepat"


"Maksudmu?"


"Kau lupa, Kapten sedang jatuh cinta dengan Dokter itu kan?"


Tanpa mereka sadari, seorang pria terus merekam apa yang merek katakan dan lakukan, "Kalian akan memperalat Kapten itu?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2