Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 39


__ADS_3

...****************...


27 Sep


Purwokerto, 10.00


Alfi POV


"Alfan lama juga ya" monolog ku sambil melempar batu di pekarangan rumah ku yang memang berbatu.


Hari ini adalah hari liburku dan Alfan juga mengajakku jalan-jalan. Tapi sudah 30 menit aku menunggunya. Tiba-tiba aku seperri terpikirkan tentang kejadian kemarin saat aku bercerita pada Alfan tentang Aly. Aku memeng kepala ku kencang.


"Semoga Alfan belum cerita ke Kapten"


Tin


Sebuah motor memasuki halaman rumah. Alfan turun dari motornya lalu mendekati aku. Aku tersenyum saat melihat cara dia berpakaian.


"Maaf ya aku telat, tadi Kapten sama Lesma berantem lagi jadi telat" ujarnya sambil menatapku dengan memelas, "Kau menunggu kelamaan ya? Maaf ya"


Aku terkekeh pelan, "Gapapa, lagian filmnya juga masih lama kan?" Alfan mengangguk anggukkan kepalanya, "Kalau gitu mending jalan sekarang, daripada nanti telat"


Alfan kembali mengangguk dan berjalan duluan lalu menyerahkan sebuah helm padaku. Saat dia juga selesai memakai helmnya, dia menatapku lalu terkekeh pelan. Dia mendekati ku lalu memasangkan pengaman helm milik ku.


"Safety first" celetuknya sambil tersenyum dan menepuk helmku lembut.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu, '**** ni muka mesti dah merah banget' jeritku dalam hati.


Selama perjalanan kami hanya diam. Tak lama kami sampai di bioskop yang terlihat antik dari luar tapi sangat elegan di dalamnya. Alfan menatap ke jadwal tayang di depan gedung bioskop itu. Setelah memeriksa bahwa film yang kami pilih masih ada jadwal tayang dia langsung tersenyum.


"Untung masih sempat" ujarnya sambil menggandeng tanganku, "Ayo beli tiket"


Aku tersipu dengan perlakuan Alfan barusan, 'Fix ni muka dah merah banget'


Saat Alfan sudah membeli tiket, ternyata jam tayang film yang kami pilih masih ada waktu 2 jam lagi. Alfan mengajakku makan di depan gedung bioskop yang memang ada sebuah restaurant disana.


"Alf!" seru seseorang saat kami baru saja menyebrang. Kami berdua menengok bersamaan, karena merasa ada yang memanggil kami.


Aku menatap Alfan dan Alfan juga menatap ku. Menyadari tingkah kami berdua, kami hanya bisa tertawa bersama. Tapi saat Alfan melihat siapa yang memanggil "kami" dia menjadi sangat waspada. Seorang pria berjalan mendekati kami. Aku menatap pria itu, sepertinya aku pernah melihat dia.


"Apa yang lucu nih?" tanya pria itu sambil menatap bergantian aku dan Alfan.


Alfan menariku ke balik tubuhnya, "Sakti" gumamnya dengan tatapan tajam.


"Wah santai dong, kenapa kau jadi siaga seperti itu?"


Aku menatap wajah Alfan yang memerah karena menahan amarahnya, "Mau apa kau?!" sentaknya sambil terus bersiaga menatap pria berna Sakti itu.


"Halo perawat Alfi" sapa pria itu yang membuatku juga menjadi waspada, "Kita pernah ketemu loh…umm masih ingat saat kau menabrak Bara?"


Aku mendelikan mataku saat aku mengingat kejadian itu.


"Kau sebenarnya ada perlu apa?" tanya Alfan lagi yang sekarang benar-benar marah.


Aku menyentuh tangan Alfan agar dia bisa tenang, "Tenanglah, Alf. Kau menyerang sekarang pun gak akan berguna. Apalagi menangkap ku kan?" remeh Sakti yang membuat Alfan mendekatinya.


Tenaga Alfan terlalu kuat untukku yang bertubuh kecil ini.


"Kenapa? Mau berantem? Atau beneran ingin menangkap ku sekarang? Sendirian?" ledek Sakti lagi.


Alfan menari kerah baju Sakti, "Bajingan seperti kau lebih baik mati"


"Sesuai perintah"


Aku melihat Sakti mengeluarkan sesuatu dari balik hoodienya dan menarik paksa Alfan dengan segenap kekuatan ku. Akhirnya kami terjatuh bersama sedetik sebelum Sakti menghunuskan pisaunya.


"Haish, kau cukup menggangu juga ya. Perawat" celetuknya sambil memainkan pisau di depan mataku dan Alfan, "Ya biarkan sih, aku disini juga mau bicara" Sakti berjongkok di depan kami, "Katakan pada Kapten, kalau sebentar lagi dia akan seperti Jendral. Dan untuk Dokter, katakan kalau malaikat mautnya sudah dekat" ujarnya yang kemudian berdiri dan berbalik, "Lain kali bawa teman agar bisa menangkap ku ya, Alfan"


"****!"

__ADS_1


"Dia kenapa ngancam Aly?"


Alfan membantuku berdiri dan membersihkan kotoran dari baju ku, "Sakti dan Bara terlibat skandal pemberontakan" celetuknya yang membuatku bergeming, "Jika benar, yang membuat Paman Kapten atau letjen kami di Rumah Sakit sekarang itu karena mereka"


"Jangan-jangan mereka orang-orang jahat itu!"


Alfan memiringkan kepalanya dan menatapku bingung, "Memang mereka jahat kan?"


"Bukan maksudku…benar mungkin benar" aku terdiam sesaat, "Antarkan aku ketempat Dokter Aly sekarang"


Alfan menyerit heran, "Filmnya?"


"Lupakan! Nyawa Aly lebih penting sekarang"


"Nyawa?"


Alfi POV end


...~...


Rumah Sakit, 10.00


Tyno baru saja sampai di Rumah Sakit dan sekarang dia berjalan santai menuju ICU tempat Galang di rawat. Saat ia baru memasuki Rumah Sakit, seseorang melewati dirinya lalu bersiul dan terdengar melodi dari siulan itu. Tyno yang merasa familiar dengan melodi siulan itu berbalik dan mencari suara siulan itu lagi.


"Siulan ini?" gumam Tyno yang berlari mencari dimana suara siulan itu berasal. Saat dia sampai di basement dia celingukan mencari suara itu lagi, "Dimana?"


"Kapten?" panggil seseorang daei arah belakang Tyno.


"Dokter Arif"


"Anda sedang mencari sesuatu?" tanya Arif yang melihat gelagat Tyno yang seperti mencari sesuatu saat dia baru saja turun dari mobilnya.


"Saya mendengar suara siulan yang terdengar familiar tadi" jawab Tyno yang membuat Arif menatapnya heran.


"Dan anda berniat mencari suara itu?"


"Bukan mencari, tapi mengejarnya"


"Well, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengumpulkan kalian berdua"


Suara seseorang menggema di basement membuat Arif dan Tyno menjadi waspada. Punggung keduanya saling berbenturan.


"Ayolah, santai sedikit kalian berdua. Jika tegang seperti itu, nanti lebih sakit penyiksaannya" ujar suara itu lagi yang kini membuat Tyno semakin waspada.


"Dari suaranya, dia seorang pria" ucap Arif yang mempersiapkan kuda-kuda bertarungnya.


"Anda harus hati-hati, Dok. Orang yang akan kita hadapi sepertinya bukan orang biasa" peringat Tyno yang diangguki mantap oleh Arif.


"Hahaha bodohnya diriku" tawa pria itu yang terdengar menggema di seluruh basement Rumah Sakit.


Tyno memejamkan matanya lalu memfokuskan ke sekitar. Arif masih pada sikap siaganya, "Aku selalu mengira jika kalian itu mudah ku atasi" celetuk pria itu lagi.


Arif membelakan matanya karena terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat kini. Tiba-tiba Tyno juga berbalik dan menatap pria bertopeng yang menutupi mata dan wajah bagian bawahnya. Topeng orange dengan retakan di bagian tengahnya dan bagian mata kanannya yang sudah pecah.


"Padahal kalian itu lumayan sulit jika diatasi sendirian" lanjut pria itu sambil mengendikan bahunya.


"Tidak mungkin" gumam Arif yang mundur satu langkah, "Siapa kau? Darimana kau mendapatkan topeng itu?!" seru Arif yang entah mengapa dia merasa marah dan takut.


Pria bertopeng itu menatap Arif tajam, "Hebat kau, Dokter. Kau masih mengingat ku"


"Iya, tapi bukan dengan kau" ujar Arif yang kemudian menyerang pria bertopeng itu secara tiba-tiba dengan berniat menyeleding kaki pria itu.


Pria itu melompat kebelakang tapi sebelum dia mendarat Arif sudah menendang perutnya. Pria itu terjatuh dan berjongkok satu kaki, menahan sakit pada perutnya.


"Sialan kau! Aku benar-benar akan membunuh mu, Arif!" seru pria itu sambil menodongkan pistol pada Arif yang sedang menatap pria itu.


Dor.


Arif terkejut, Tyno mendorongnya hingga terjatuh. Dia menyelamatkannya Arif dari peluru panas yang sudah bersarang di tembok di belakang mereka yang hanya berjarak 3 meter. Tyno langsung berlari menghampiri pria itu lalu memuntir tangan pria itu. Pria itu yang belum siap terkejut dengan kedatangan Tyno yang hanya jeda beberapa detik saja dari kejadian menembak tadi.

__ADS_1


Mata Tyno sangat fokus bahkan sampai terlihat seperti melebar hingga menutupi bagian putihnya. Pria bertopeng itu lalu melawan Tyno dengan memukul dan menendang Tyno. Tapi entah mengapa kecepatan Tyno seperti bertambah, dia berhasil menghindari serangan-serangan itu dengan cepat.


Pria itu menahan sakit pada pergelangan tangannya, "Brengsek! Akan ku bunuh kalian berdua. Terutama kau, Dokter!" ucap pria itu dengan penekanan pada kata Dokter.


Mata Tyno sudah terlihat normal tapi dia terlihat bingung dengan perkataan pria itu, 'Jadi dia punya dendam dengannya. Tapi apa hubungannya dengan ku?' pikirnya dengan tatapan bingung.


Saat Tyno melihat kearah pria itu lagi, dia sudah mengangkat pistolnya lagi. Tapi sesaat dia akan menembak Arif dan Tyno akan menarik Arif suara tembakan lain terdengar menggema di basement. Sebuah peluru panas bersarang tepat di tembok belakang pria itu.


"Cih pengganggu" gumam pria itu yang memasukkan pistolnya ke balik jaket hitamnya, "Kita pasti akan bertemu lagi" celetuk pria itu yang berlari ke arah jalan keluar basement.


"Hey! Berhenti! seorang tentara dengan kaos hitam dan jaket abu-abu serta masih memakai celana Tentara itu berniat mengejar pria bertopeng itu.


"Laksa, biarkan" cegah Tyno yang di dengarkan oleh Laksa.


"Ah sialan! Kau tak apa Al?" tanya Laksa yang mendekati Tyno dan Arif.


Tyno mengangguk saja, "Dokter boleh saya bertanya?" ujar Tyno yang meminta izin untuk bertanya. Arif mengangguk sambil mengambil jas Dokternya yang terjatuh karena dorongan Tyno tadi, "Apa anda mengenal orang itu?"


"Bukan orangnya, tapi topengnya" jawab Arif singkat.


"Topengnya? Maksudnya?" tanya Laksa yang kebingungan dengan perkataan ambigu Arif.


Arif menghela nafas panjang, "Saya pernah bertemu dengan seorang yang memakai topeng itu juga" Arif mengambil stetoskopnya yang jatuh lumayan jauh dari dirinya sekarang, "Tapi orang itu sudah tiada 2 tahun lalu" jelas Arif sambil menatap Tyno dan Laksa bergantian.


"Darimana anda tau kalo orang itu sudah tiada?" tanya Tyno yang curiga dengan cerita Arif tadi.


"Karena saya yang membunuhnya" jawab Arif singkat lagi.


Tapi jawaban kali ini membuat Laksa dan Tyno menatap waspada Arif.


"Terus bagaimana anda tahu itu topengnya yang sama dengan orang yang anda bunuh?"


Arif menghela nafas kasar, "Pertama buang pikiran. kalian tentang saya seorang pembunuh. Saya hanya membela diri. Lalu untuk pertanyaan anda tadi, karena topeng itu retak juga karena pukulan milik saya" jelas Arif yang membersihkan debu dari jas Dokternya.


Laksa menatap kagum Arif sedangkan Tyno hanya menatap tajam Arif dan tersenyum sinis, "Ayo Laksa kita keatas. Anda ikut Dok?" tawar Tyno yang diangguki Arif.


Selama perjalanan menuju lobby tak ada percakapan di antara ketiga sampai Tyno akhirnya buka suara sambil merangkul Laksa.


"Kapan kau kembali?"


Laksa terkekeh kikuk, "Barusan, aku minta di anterin Kio tadi waktu baru sampai di stasiun" jawabnya sambil merangkul balik Tyno.


"Dasar gila, setidaknya pulang dulu saja" ujar Tyno sambil memoles kepala Laksa, "Terus itu kenapa bawa senjata pula?"


Laksa tertawa lirih, "Titipan. Aku khawatir dengan Ayah. Jadi, tanpa mikir panjang aku langsung pergi gitu aja" jawab Laksa sambil mengelus pelan bekas polesan Tyno tadi.


Arif memandang kejadian di depannya dengan diam. Dia mencengkram jas Dokternya kencang-kencang, 'Senjata ya?'


"Kapt" panggil Arif saat mereka baru sampai di lobby, "Anda bisa keruangan saya sebentar"


"Memang ada apa?" tanya balik Tyno.


Arif menatap Tyno tegas, "Ada hal penting yang perlu saya katakan" jawabnya yang dibalas tatapan curiga dari kedua Tentara itu, "Tentang Lysa"


Mendengar tentang Aly, Tyno langsung mengangguk tanpa berfikir panjang lagi. Laksa yang melihat itu hanya bisa membuka mulutnya tidak percaya.


"Baby~!" celetuk seorang perempuan yang tiba-tiba juga bergelayut manja di lengan kiri Tyno.


"Dhita?!" seru Tyno dan Laksa bersamaan.


"Kalian kenapa sih? Kayak ngelihat hantu saja? Baby aku kangen tahu" ujar perempuan itu dengan nada manja.


Tyno merasa risih berusaha melepaskan tangan perempuan bernama Dhita itu, "Minggir!"


Arif melihat adegan itu menyeritkan dahinya tapi genggaman tangannya semakin erat sampai kukunya menjadi pucat. Ada rasa marah dengan Kapten dan perempuan itu. Nafas Arif semakin memburu setelah ingatan-ingatan Zakra di bunuh kembali ia ingat. Saat Arif akan mendekati Tyno dan perempuan itu, suara yang tak asing membuat Arif berhenti.


"Tyno?" panggil seorang perempuan lainnya.


Arif membelakan matanya dan Tyno juga terkejut melihat siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


"Alys/Lysa!"


...****************...


__ADS_2