
...****************...
30 Sept
Donggala, 15.00
Ekgita tengah berada di tenda darurat mengecek keadaan para korban yang mulai membaik. Sesaat kemudian Alfi masuk bersama dengan seorang korban yang baru di temukan yang merupakan seorang anak-anak. Melihat itu Ekgita langsung mendekati Alfi dan korban itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Ekgita sambil memeriksa anak itu.
"Dehidrasi, juga beberapa memar. Tim penyelamat juga tidak sengaja menggores bagian nadinya yang di leher" jelas Alfi sambil berusaha mengehentikan pendarahan anak kecil itu.
Ekgita menyerit lalu melihat luka a ak itu, "Siapkan alat jahit" ujar Ekgita dengan tenang.
Tapi saat Ekgita berbalik anak itu tiba-tiba kejang. Merasa ada yang aneh Ekgita kembali mengecek keadaan anak itu, "Alfi ambil kan aku Antikonvulsan 1.2 ml" titah Ekgita sambil menggantikan Alfi memegangi luka anak itu, "Cepat!"
"Maaf Dokter tapi obat itu saya tidak ada"
"Cek tasku!" kesal Ekgita sambil memegangi anak itu.
"Obat Dokter habis" ujar Alfi dengan buru-buru.
"Hubungi bagian obat!"
Alfi mengangguk dan hampir berbicara di htnya, tapi sebelum ia berbicara ht miliknya sudah di ambil oleh seseorang terlebih dahulu.
"Ketersediaan obat kita mulai menipis Dokter Ekgi" ujar Aly dengan santai.
Ekgita menengok dan menemukan Aly yang menatap Ekgita dingin. Aly mendekati Ekgita dan memukul pelan dada anak itu dengan kayu, lalu dengan tenang juga dia membuka luka anak itu. Perlahan Aly menjahit luka anak itu lalu melakukan pemeriksaan lanjutan pada anak itu dalam diam.
"Tadi itu syok hipovolemia" celetuk Aly sambil membuka baju anak itu. Dan itu membuat Ekgita terkejut.
"Luka dalam?!"
"Aku sudah menjahit luka luarnya, jika kau tadi menyuntikan nya obat Antikonvulsan, bukan hanya membuang obat saja tapi kau juga hampir membunuhnya" ujar Aly yang masih dengan tenang menatap Ekgita yang masih syok dengan apa yang hampir ia lakukan, "Lebih teliti lagi saat sedang memeriksa. Sekarang kau harus menyelamatkan nyawanya" lanjut Aly yang masih menatap Ekgita dengan tenang.
Ekgita menatap balik Aly dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian dia menatap tubuh anak kecil itu, "Tapi melakukan operasi di tempat seperti ini…"
"Terus kau ingin apa?" potong Aly sambil menarik tangan Ekgita, "Nyawa anak ini sedang terancam" bisik Aly dengan penuh penekanan, "Dia kekurangan darah dan sekarang luka dalamnya juga sangat berbahaya" jelas Aly dengan penuh penekanan, "Apa yang kau pikirkan? Menunggu medicube? Itu terlalu memakan waktu" ujar Aly yang membaca pikiran Ekgita.
Awalnya Ekgita terkejut, tapi saat dia mengingat jika Aly adalah mind reader, Ekgita menjadi sangat ketakutan.
"Tapi dia adalah pasien mu, jadi terserah kau harus bagaimana" ujar Aly lagi sambil melempar tangan Ekgita.
__ADS_1
Ekgita menatap Aly lama, "Alfi bantu aku siapkan operasi" titah Ekgita yang langsung dilaksanakan oleh Alfi.
Aly tersenyum tipis lalu keluar dari tenda darurat. 30 menit berlalu, Ekgita masih fokus mengoperasi anak kecil itu.
"Kita butuh darah tambahan" celetuk Ekgita saat dia sadar bahwa persediaan darah untuk operasi kurang.
"Tapi kita tidak punya persediaan lebih" jawab Alfi sambil terus memperhatikan Ekgita dan membantunya melakukan operasi itu.
"Dokter Ekgita" seseorang memanggil Ekgita yang akan mengomel ke Alfi lagi. Ekgita melihat siapa yang memanggilnya, "Apa golongan anak itu?" tanya pria tersebut.
Ekgita menyerit karena tiba-tiba dia ada di tempat itu, "Golongan darahnya AB"
"Kebetulan saya juga AB"
"Kau yakin?"
"Tentu"
2 jam berlalu dan Ekgita sudah menyelesaikan operasinya sejak tadi. Dia sedang berada di kamar mandi darurat sekarang, membersihkan bekas operasi tadi.
Stt "Phoenix para pearl"
"Pearl disini" jawab Ekgita sambil mengelap tangannya dengan handuk kecil yang ia bawa.
"Over" timpal Ekgita yang langsung melaksanakan perintah itu. Tapi saat Ekgita berbalik ternyata Miko sudah berada di belakangnya, "Kau mengejutkan ku" gumamnya sambil mengelus pelan dadanya. Ekgita menatap arah lain agar dia tidak menatap mata Miko, "Bisa anda permisi, saya ada tugas" ujar Ekgita lirih.
"Tidak" jawab Miko tapi tiba-tiba dia bergeser sedikit untuk membukakan jalan untuk Ekgita.
Merasa ada yang aneh dengan perilaku Miko dengan terpaksa dia menatap mata Miko yang tengah menatapnya juga. Sedetik kemudian Ekgita kembali menoleh arah lain lalu menatap tanah pijakannya dan ingin pergi meninggalkan Miko. Tapi saat dia akan meninggalkannya, Ekgita mengurungkan niatnya.
"Kau terluka?" tanya Ekgita saat melihat pergelangan tangan Miko yang membiru.
"Tidak" jawab Miko yang berhasil membuat Ekgita berdecak kesal.
"Ulurkan tangan mu" titah Ekgita dengan nada memerintah. Awalnya Miko ragu tapu kemudian di detik ke 10 dia mengulurkan tangannya.
Ekgita memutar keras tangan Miko dan membuat si empu mengerang kesakitan, "Lihat kau tidak pernah bisa membohongiku" celetuk Ekgita sambil merogoh tas ransel medisnya dan mengambil perban karet disana.
"Apa kau sudah memaafkan ku?" tanya Miko lirih sambil menatap wanita yang sangat ia cintai dengan tatapan penuh harapan disana.
Ekgita terdiam tidak menjawab pertanyaan Miko tadi, dia hanya fokus memasangkan perban padanya. Saat Ekgita selesai dia ingin langsung meninggalkan pria itu. Tapi tangannya sudah ditahan duluan oleh Miko.
"Aku memang tidak pantas untuk dimaafkan bukan?" gumam Miko dengan nada yang terdengar menyedihkan.
__ADS_1
"Tidak" jawan Ekgita singkat lalu melepaskan paksa tangan Miko dari pergelangan tangannya. Saat Ekgita akan meninggalkan Miko dia berhenti sesaat, "Berhati-hatilah" ujar Ekgita dingin.
Miko bergeming setelah Ekgita mengatakan hal itu, "Aku benar-benar minta maaf, Ekgita"
...~...
17.55
Tyno POV
Aku baru selesai saat matahari mulai terbenam. Saat ini tim ku sedang beristirahat dan bergantian dengan tim selanjutnya. Aku berjalan menyusuri setiap tenda yang dibangun oleh tim-tim yang ada disini. Saat aku akan melewati tenda pasien aku melihat seseorang yang ku kenal. Dia duduk di depan tenda sambil memijit pelan kakinya. Dalam pikiran ku muncul ide jahil untuk mengejutkannya. Aku menghampiri perempuan itu dan duduk di sebelahnya tanpa ia sadari.
"Kau lelah?" tanya ku yang berhasil membuat dia terkejut.
"Kau!" sentak perempuan itu lalu menarik nafas dalam, "Kau kenapa suka sekali mengejutkan ku?"
Aku terdiam sesaat lalu tersenyum puas, "Soalnya itu sudah jadi salah satu hobiku"
Perempuan itu mengepalkan tangannya sambil menghela nafas kesal, "Alys" panggilku yang menatap langit orange yang sudah mulai berwarna keunguan juga, "Aku sepertinya benar-benar jatuh hati padamu"
Aly menatapku terjejut lalu menyeritbdalam, "Dan jawaban ku masih sama" jawab dia masih menyerit dalam.
Aku tersenyum kecut tapi lalu aku menghela nafas pelan, "Tak apa. Aku akan terus berada disisi mu sampai kau akan menerima ku" ucapku sambil tersenyum tulus.
Aly menatapku bingung, "Kenapa kau begitu menginginkan ku?"
Senyuman tadi tiba-tiba hilang lalu aku menumpukan tangan ku pada kedua lututku yang ku teku, "Ini bukan obsesi, tapi aku memang jatuh hati dengan mu sejak pertama bertemu"
"Kau…" ucapannya tiba-tiba berhenti lalu ikut menekuk kedua kakinya.
"Oh…" aku berdiri dan merogoh celana ku, "Mau refresh sebentar?" tawarku sambil menunjukan kunci mobil di tamgan ku.
"Kemana?"
"Pantai, tidak jauh dari sini"
Dia memiringkan kepalanya sambil menyerit bingung, "Memang sudah bisa di lewati?"
"Sudah" jawab ku dengan penuh keyakinan, "Ayo" ujarku sambil mengulurkan tangan.
Alys menatap ku cukup lama lalu meraih tangan ku. Sesaat aku bisa lihat senyuman tipis disana. Entah mengapa tapi senyuman itu mengingatkan ku pada Bunda.
Tyno POV end.
__ADS_1
...****************...