Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 36


__ADS_3

...****************...


17.54


Aly melihat-lihat dua handphone di kedua tangannya. Dia masih fokus dengan spek dari kedua handphone yang di rekomendasikan oleh penjaga toko itu.


"Kalo yang memo internalnya besar yang mana mas?" tanya Aly sambil menaruh kedua handphone itu di etalase kaca.


"Yang ini mba, tapi ada hp merk lain yang terbaru dan memo internalnya sudah 12 GB" ujar pelayan itu sambil menyerahkan handphone dengan merk lainnya.


"Biasanya perempuan itu nyari yang kameranya bagus. Tapi kau?" celetuk Tyno sambil melihat perempuan di sampingnya dengan heran.


Aly hanya melirik Tyno sesaat lalu kembali mengecek spek handphone yang tadi di berikan. Pelayan itu juga terus merekomendasikan handphone yang berkamera bagus.


"Mas dan kau" panggil Aly dengan dua nada berbeda yang pertama lembut dan yang kedua jutek, "Handphone saya yang berkamera bagus itu udah ada dua di rumah. Saya cuma mau cari yang bisa nyimpen data yang besar selain IPad dan Laptop" jelas Aly yang juga menjawab pertanyaan Tyno sebelumnya.


Pelayan itu hanya tertawa kikuk sedangkan Tyno hanya ber oh ria saja.


"Lysa?" seseorang memanggil Aly dan membuat Tyno serta ia berbalik mencari suara sang pemanggil. Aly berdecih lalu kembali melihat handphone yang akan dia pilih, "Kau sedang apa disini?" tanya sosok tadi lagi, "Dan sedang apa Kapten disini?"


"Apa kabar, Dokter Arif?" sapa Tyno yang ramah.


Arif hanya menatap pria itu tidak sula lalu berusaha menyentuh bahu Aly, "Kau bayar handphone ini, aku akan ke dalam mobil dulu" celetuk Aly dengan jutek lalu meninggalkan Arif serta Tyno disana.


Tyno yang mulai memahami jika ada sesuatu hanya mengangkat kedua alisnya lalu mengeluarkan uangnya untuk membayar handphone pilihan Aly.


"Kenapa kau yang membayarnya?" tanya Arif sinis.


Tyno tersenyum miring, "Memang kenapa tidak boleh?" ujar Tyno santai sambil menghitung uang yang  akan dibayarnya, "Ah iya, anda bilang untuk menghubungi atau sesekali bertemu dengannya kan? Sekarang saya disini, mencoba mendapatkan hati dan perhatiannya" lanjut Tyno sambil tersenyum, "Kalau begitu saya permisi dulu, Dokter. Terimakasih mas!" ucap Tyno yang meninggalkan Arif disana.


"Kau pikir kau siapa. Kan ku hancurkan kau jika kau berani menyakiti Lysa" gumam Arif sambil melempar handphonenya, "Mas ada handphone merk Samsung?"


Setelah membayar handphone Tyno menuju Aly yang sudah berada di dalam mobil.


"Ini, kartu perdana yang milik mu juga sudah ada disitu" ujar Tyno sambil menyerahkan kantong kertas berisikan handphone milik Aly yang baru saja ia belikan untuk Aly.


"Thank you"


Selama perjalanan Tyno dan Aly hanya diam. Keduanya sibuk dengan kegiatan masing masing. Tyno memperhatikan Aly yang sibuk dengan handphone barunya lalu tanpa sengaja mata mereka bertemu di spion tengah. Aly memalingkan pandangannya sedangkan Tyno tersenyum sambil terus melirik ke Aly.


"Terimakasih sudah membelikan handphonenya, padahal kau sedang potong gaji" celetuk Aly yang memecahkan keheningan diantara mereka.


Tyno tersenyum dan kembali fokus mengendarai, "No problem princess, itu juga permintaan maaf sudah buat handphone lama mu rusak"


Aly tersenyum dan tak berapa lama mobil Aly berhenti di depan gang yang hanya bisa di lewati oleh sepeda motor saja.


"Kita sudah sampai" ujar Tyno yang menarik rem tangan lalu turun bersama Aly, "Terimakasih sudah mengantarkan ku"


"Kalo bukan karena ini aku juga gak mau" celetuk Aly sambil memperlihatkan handphone yang Tyno beli.


Tyno terkekeh lalu memasang topinya lagi, "Sekali lagi terimakasih ya princess" ujar Tyno lagi tapi kali ini sambil mengacak-acak pucuk rambut Aly.


"Hey rambut ku!" seru Aly sambil menyingkirkan tangan Tyno dari pucuk kepalanya, "Dah lah aku pergi dulu" ujar Aly yang memutari mobil untuk pulang. Saat Aly akan menjalankan mobilnya dia membuka kaca jendela sisi kiri dimana Tyno masih berdiri disana, "Terimakasih juga handphonenya, bye~"


Tyno tersenyum sambil melihat kepergian Aly. Dia berjalan menuju kedalam gang, disaat bersamaan sebuah motor keluar dari dalam gang itu. Pengendara motor itu berhenti di ujung gang dan tak sengaja melihat plat nomor Aly.


"Itu mobil Aly kan? Kenapa di daerah sini?" pemotor itu membuka helmnya dan menatap lurus ke depan, "Atau mungkin karena dia mulai ingat aku dan Zakra?" gumam Bima yang menyerit bingung.


...~...


Aly sampai di rumah pukul 8, dia langsung melempar tubuhnya di atas sofa dan menatap langit-langit rumah. Dia memikirkan semua yang terjadi hari ini. Dia benar-benar lelah. Bukan hanya fisik, mental dan otaknya juga lelah.


"Kenapa Arif begitu?" gumam Aly yang kemudian menghela nafas kasar lalu menuju kamarnya.


Tak berapa lama, Atha juga pulang bersama Iyas. Sama seperti Aly tadi, dia juga lelah. Lelah fisik dan batin. Atha menatap Iyas yang langsung duduk di sofa, sedangkan dia berjalan gontai ke arah tangga.


"Orang gila dasar" gumam Atha yang masih bisa di dengar oleh Iyas.


"Heh! Yang minta kan kau!" kesal Iyas yang tidak mau disalahkan.


Atha mengepalkan tangannya di depan wajahnya, "Heh, manusia tanpa hati! Denger ya, aku ingin jadi kuat bukan berarti harus mati dulu!"


Iyas berdiri dan menarik kerah Atha, "Kau pikir bisa kuat itu instan ha?!" seru Iyas yang kemudian melempar tubuh Atha sampai terjatuh di ujung tangga.


Aly yang baru selesai mandi langsung keluar melihat keributan apa yang ada di rumahnya itu. Saat dia melihat Atha terduduk lemas di ujung tangga, Aly langsung menuruni tangga tanpa sepatah kata.


"Atha, kau kenapa?" tanya Aly sambil melihat tangan dan wajah Atha, "Astaga! Kenapa banyak luka gini sih?"

__ADS_1


Atha tak menjawab hanya menatap tajam Iyas yang lalu membuang wajahnya kearah lain. Sedangkan Iyas menatap sinis Atha lalu menghela nafas kasar, "Bersihkan luka-lukanya, Om ada kerjaan" ujar Iyas sambil berjalan keluar rumah.


Aly menyerit lalu menghela nafas kesal, "Kalian tuh aneh" gumam Aly sambil menatap kepergian Iyas.


Atha sesekali meringis saat Aly membersihkan luka di tangannya. Aly yang sebenarnya tau apa yang terjadi menatap Atha penasaran.


"Kalian abis ngapain?" tanya Aly pelan sambil membalut tangan Atha dengan perban.


Atha bergeming. Dia tahu kakaknya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia lebih memilih diam daripada mengatakan apa yang sudah kakaknya ketahui. Memikirkan itu tiba-tiba Atha mengingat sesuatu.


"Kak, aku minta ke kakak. Jauhi orang bernama Arif itu. Dia berbahaya. Dia pembunuh"


Aly menatap heran Atha yang tiba-tiba memojokkan Arif, "Emang kenapa sih?"


"Kak Zakra pasti pernah cerita ke kakak tentang Ayahnya yang meninggal tidak wajar kan? Kak Arif ya…"


"Kau tau Zakra dari siapa?" tanya Aly yang memotong perkataan Atha.


Atha terdiam lagi, "Jangan katakan aku masih disini" ujar Sakra yang tiba-tiba muncul di belakang Aly.


"Kak Bima" celetuk Atha yang secara reflek agar pikirannya tidak terbaca oleh kakaknya itu.


"Ouhh" Aly berdiri lalu menatap lembut Atha, "Kau tenang saja, kakak bisa jaga diri. Dan untuk Arif" Aly terdiam sesaat sambil menatap kotak obat, "Dia gak akan melakukan sesuatu yang buruk ke kakak"


"Kenapa kakak seyakin itu?"


"Karena Zakra pernah bilang, kalau kakaknya itu lemah pada permintaannya" ujar Aly sambil tersenyum lalu kembali ke kamarnya.


Atha bergeming. Dia menatap Zakra tajam, "Kakak mu payah"


Zakra terkekeh pelan, "Karena itu dia selalu ragu dengan jalan yang dia pilih"


Di kamar Aly merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi dering handphonenya membuatnya membuka kedua matanya dan terpaksa melihat siapa yang  menelfonnya. Melihat nomor yang tak dikenal membuat Aly sedikit waspada. Dering handphonenya berhenti tapi tidak berapa lama kembali berdering. Aly mengumpulkan keberaniannya dan mengangkat telfon itu.


"Hallo?"


"Kau mengangkat telfon dariku lama karena nomor tidak kenal ya?"


Aly terkejut lalu menjauhkan handphone dari telinganya, "Kek kenal nih suara" gumam Aly yang kemudian mengangkat telfonnya lagi, "Tentara Geblek?"


"Cocok dengan mu memang"


"Hey!"


...~...


Arif menjentikkan jarinya di atas meja lalu mengusap wajahnya kasar. Dia menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Sesekali dia menghela nafas kasar dan bersandar pada kursi di sebuah cafe.


Arif pov


Aku menatap laptop yang masih menyala sambil menampakkan artikel tentang kasus penculikan dan pembunuhan Aly dan Zakra 2 tahun lalu. Aku menghela nafas kasar saat melihat kalimat "Korban bernama Zakra Wildan Nugroho terbunuh dengan keji". Rasanya hati ini terasa sesak.


"Jika kau hanya ingin menyakiti kakak ku saja, lebih baik kau menjauh saja darinya" perkataan Atha seperti berputar di kepala ku secara otomatis.


Flashback 2 tahun lalu.


Aku berlari ke arah pintu masuk rumah sakit tempat ku bekerja. Aku berhenti di depan seorang Dokter yang menatapku sinis. Senyuman tipis terpampang di wajah ku.


"Dokter Zakra"


Suara perempuan tiba-tiba terdengar dan membuatku melihat siapa yang memanggilnya. Suara tenang dan lembut yang berhasil membuatku langsung jatuh hati. Sosok perempuan dengan rambut tidak terlalu panjang berjalan mendekati Zakra.


"Laporan milik mu. Asisten Perawatmu bernama Aisyah" ujar perempuan itu yang lalu mata kami saling bertabrakan. Perempuan itu menyerit lalu kembali menatap Zakra, "Aku ada acara sekitar pukul 3, kau bisa antarkan ku?"


"Tentu Princess"


Aku terdiam saat Zakra memanggil perempuan itu dengan sebutan princess. Satu tahun kemudian, Zakra dan Aly berpacaran selama itu.


"Cih. Sialan kau Zak" umpat ku sambil meninju samsak di depanku.


"Kau marah padaku?" celetuk seseorang yang bahkan tanpa berbalik pun aku sudah tau siapa itu, "Aku ada permintaan, bisa kau jaga Alyssa tanpa mencintainya?"


Pukulan keras membuat samsak itu rusak, "Bajingan seperti mu bisa diam tidak!"


Aku melihat senyum Zakra yang lembut, "Kaulah bajingan itu"


"Bangsat!"

__ADS_1


Di rumah aku masih menahan marah dengan Zakra. Aku menekan sebuah nomor yang tak dikenal, "Hei, aku ada informasi tentang perempuan dari keluarga Arikinan"


"Wahh, informan gratis kah?"


"Ini gak gratis"


Suara kekehan terdengar dari sebrang telfon, "Apa yang kau mau?"


Senyuman licik terpampang di wajah ku, "Setelah kalian mendapatkan apa yang kalian ingin kan, beri aku senjata"


"Deal"


Saat Anivv Zakra dan Alyssa yang pertama, akhirnya aku mengetahui apa maksud Zakra. Aku membaca buku harian Zakra. Dia bisa mengetahui masa depan. Aly akan meninggal dan itu karena aku?! Gak, itu gak boleh terjadi!


Flashback off.


"Bangsat! Kenapa aku begitu bodoh!"


Flashback di pemakaman.


"Bagaimana jika aku yang memberitahunya, Arif?"


Suara Atha tiba-tiba berubah. Suara itu…suara Zakra. Aku mundur beberapa langkah.


"Kenapa? Takut?" ujar Atha sambil mulai berjalan mendekati aku, "Kau memang pantas takut! Kau bersalah Arif!"


Aku menggeleng ragu, "Maafkan aku" ucapku yang berhenti mundur lalu menunduk, "Aku memang bersalah" seru ku dengan air mata yang mulai mengalir, "Maafkan aku Zak. Maafkan aku"


"Tidak! Kau membunuh Ayah! Kau membunuhku!" seru Atha yang mulai mendekati ku lagi tapi kali ini di cegah seseorang. Atha berusaha melawan tapi irang itu menutup mata Atha dan mengunci tangan Atha di belakang.


"Zakra, berhenti!. Jangan ganggu manusia yang masih hidup" ujar orang itu.


Seorang pria muncul dari belakang Atha. Pria yang ku kenal, "Zakra, tenanglah. Berikan sisanya pada yang masih hidup" ujar pria itu dan Atha berhasil tenang.


Aku melihat Atha terjatuh, untung saja pria dibelakangnya sangat sigap. Perlahan dia menaruh tubuh Atha di tanah dan kepalanya di pangkuannya. Mata Atha masib ia tutup.


"Terkejut?" tanya pria yang ku kenal itu, "Mari ku perkenalkan diriku lagi. Aku Bima Zarion, sahabat Zakra"


Aku mendelik terkejut, "Aku Tyas Rengganing Arikinan, Om Alys dan Atha. Aku sudah tahu semuanya dari Bima"


"Atha kerasukan Zakra?" tanya ku pada kedua orang di depan ku saat ini.


Bima terdiam dan membuat Iyas heran dengan diamnya Bima, "Kau juga marah dengan ku?" tebak Arif yang tepat, "Kau marah karena aku yang memberikan lokasi mereka? Atau kau juga marah karena aku mencabut laporan Akra?" Bima menatap ku dengan sinis dan tajam, "Aku ada alasannya untuk mencabut laporan itu"


"Alasan apa?" celetuk Atha yang sudah sadar dan berusaha duduk di bantu Iyas, "Membuat kakakku semakin dalam bahaya?" tanya Atha yang berdiri membelakangi ku dan Bima, "Jika kau hanya ingin menyakiti kakak ku saja, lebih baik kau menjauh saja darinya" lanjutnya yang berjalan pelan menjauhi makam Zakra.


Flashback off


Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi mobil lalu meninggalkan cafe tadi. Sesekali aku memukul pelan stri mobil karena merasa kesal dengan diriku sendiri.


Arif POV end.


...~...


Tiga orang sedang melakukan meeting online. Salah satunya adalah pria paruh baya yang memakai jas lengkap. Pria itu melipat tangannya di depan dadanya.


"Jadi alasannya belum di ketahui, kenapa mereka menghentikan investigasi itu?" tanya pria itu dengan serius.


"Iya" jawab seorang pria di dalam video.


"Tetap dalam rencana, Rabbit akan ikut dengan mu"


"Ck. Menyusahkan"


"Ku dengar kau sudah bergerak menghabisi marga Arisakti, Bara Rusdiantara?"


Tidak ada jawaban dari Bara malahan dia keluar dari meeting itu, "Hahaha, Bara memang begitu. Maafkan dia ya boss"


Pria paruh baya itu tersenyum lalu mengangkat tangannya membiarkan pria yang ada video untuk keluar dari meeting. Sebuah dering telfon membuat pria patuh baya itu melihat siapa yang menelfonnya.


"Kenapa telfon? Galang Adiputra Arisakti sudah beres tinggal anak-anaknya"


"…"


"Kau tau berisik? Untuk anak tiri mu itu belum ada kabar. Anak buah ku masih mencarinya!" kesal pria itu, "Kau jangan sampai lupa bayaran yang sudah kita sepakati"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2