
...****************...
Saat tim Aly sudah sampai di bandara Militer Purbalingga. Atha sudah menunggu kakaknya itu bersama seorang pria yang duduk bersandar di kap mobil. Saat Iza, Ayda, dan Alfi melihatnya mereka sesaat terpana dengan kharisma pria itu. Sedangkan David berdecih tidak suka dan Arif dia memandang tidak suka pria itu, seakan tahu siapa pria itu.
Aly berhenti sejenak saat dia melihat Atha bersama orang lain. Saat Aly hendak mendekati mereka, Arif sudah berada di depan Aly seperti hendak melindungi Aly. Aly melihat Arif dan menepuk bahunya keras. Tatapan Aly seakan mengatakan untuk menyingkir.
"Oh kak Alys" panggil Atha sambil melambaikan tangannya dan berlari pelan mendekati Aly, "Apa kakak lelah?" tanya Atha sambil mengambil alih koper Aly.
"Arif"
Bisikan itu membuat Atha terdiam sejenak lalu kembali tersenyum, "Kakak jangan takut. Kan ada Atha" ujar Atha dengan senyuman manisnya, "Ayo"
"Siapa pria asing yang bareng Atha?" tanya Iza yang berbisik pada Alfi.
Alfi menggeleng pelan, "Tapi keknya Aly shock gitu"
"Dia mafia" timpal Arif yang pergi meninggalkan mereka yang masih mencerna perkataannya tadi.
"Bentar Mafia?" ulang David yang benar benar tidak paham apa yang sedang terjadi.
...~...
Selama perjalanan Aly tidak membuka suara bahkan saat Atha bertanya dia hanya menghela nafas atau bergumam. Atha melirik Aly dari spionnya.
"Bernando akan meminta maaf padamu atas kejadian itu" celetuk Atha dengan bahasa Indonesia.
Aly tidak menanggapi perkataan Atha tapi beberapa menit kemudian Aly membuka suara, "Lima tahun lalu dia kemana? Kenapa baru sekarang?"
"Karena permintaan Sebas..."
"Sebastian gak pernah salah, dia cuma kurang tegas dan gak tau kebenaran yang sebenarnya tentang bajingan ini" potong Aly menggunakan bahasa Inggris agar Bernando paham, "Aku di lecehkan olehnya juga karena nafsunya, bukan perintah Sebastian. Mungkin emang dia terobsesi dengan ku, tapi dia masih tau batasannya" lanjut Aly dengan penuh penekanan, "Lagian jika Sebastian tau jika orang di balik penyerangannya dan pembunuhan ibunya adalah bajingan ini, ikatan kekeluargaan mereka akan terputus saat itu juga" jelas Aly lagi yang kemudian membuka kaca jendelanya.
Atha yang mendengarkan penjelasan Aly tadi mulai mengerti darimana sifat tempramen milik Sebastian berasal.
"Kau punya masalah yang berat, tapi kejujuran adalah nomor satu di dalam sebuah kepercayaan" ujar Atha sambil menyetir memasuki basement sebuah Rumah Sakit.
Aly menyerit heran saat mereka memasuki basement Rumah Sakit tempat ia bekerja. Atha membukakan pintu untuk Aly.
"Kenapa kita kesini? Aku bisa laporan besok" ujar Aly sambil meraih tangan Atha yang terjulur untuk membantunya keluar.
"Ada yang ingin bertemu dengan mu"
Aly menyerit heran tapi saat dia melihat Bernando yang berjalan di depan dia baru sadar jika tangannya di gips dan dia juga lebih diam dari biasanya.
'Jadi Atha yang melakukannya' pikir Aly saat dia membaca pikiran Bernando. Saat dia membaca pikiran Bernando lagi, Aly terdiam sesaat "Apa Sebastian baik-baik saja?" tanya Aly dengan bahasa Indonesia.
Atha berhenti mendadak saat mendengar pertanyaan Kakak nya itu, "Tidak begitu baik, kau akan lihat nanti" ujarnya sambil menekan tombol lift.
"Aly?" panggil seseorang dari arah belakang Aly.
Aly berbalik dan menemukan Bima dan koas muda miliknya.
"Kapan kau balik?" tanya Bima dan saat itu pintu lift terbuka.
"Tadi, saya duluan" pamit Aly yang langsung masuk kedalam lift.
Bima menghela nafas kasar, "Dia masih marah kah?"
Saat ini mereka berhenti di depan kamar VIP bernomor 9. Saat Atha membuka kamar itu, suara mesin EKG dan sosok yang tak asing baginya tertidur di ranjang pasien dengan perban di kepala dan penyangga leher. Aly masih terdiam karena shock dengan apa yang dia lihat sekarang. Enda yang memang kebetulan sedang mampir untuk melihat keadaan Sebastian ikut terkejut.
"Nak?" panggil Enda yang membangunkan Aly dari lamunannya, "Kau baru sampai kah?"
Aly mengangguk pelan, "Kenapa Sebastian..." Aly masih mencerna apa yang sedang terjadi. Dia memegang kepalanya yang terasa pening tiba-tiba, "Atha, antar aku pulang"
"Huh?"
...~...
__ADS_1
Sudah dua hari Aly berada di rumah dan entah ada apa Aly juha selalu bangun siang. Atha yang sedang memegang botol obat tidur Aly hanya bisa menatap nanar kakaknya. Dia menghitung sisa obat Aly dan memang dia meminum lebih dari dosis yang di tentukan. Atha membawa obat itu keluar dan di kejutkan dengan sentuhan di bahunya.
"Om Iyas!" sentak Atha setengah berteriak.
Iyas mengangkat salah satu alisnya dan melihat botol obat Aly yang dibawa Atha, "Dia minum melebihi dosis?"
Atha melihat botol obat itu lalu menghela nafas berat, "Iya, aku takut dia bertindak lebih jadi aku yang akan membawakan obatnya setiap malam" ujar Atha sambil menatap Iyas.
"Bagus, jadi terkontrol dia" timpal Iyas yang menyetujui ide Atha, "Om ada meeting online di rumah, kamu di sini aja jangan kemana-mana. Om pergi"
"Hati-hati Om" ujar Atha yang masuk kedalam kamarnya saat mendengar pintu tertutup.
Suasana kamar Atha berubah sesaat dia baru memasuki kamarnya. Hawa dingin membuat Atha terdiam sesaat. Dia melirik setiap sudut kamarnya, merasa ada yang sedang mengawasinya membuatnya semakin waspada.
"Kau ternyata hebat juga ya" celetuk sosok yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
Atha menunduk sambil memegang dadanya, "Kau mengejutkan ku!" sentaknya sambil menatap marah sosok di depannya.
Sosok itu tertawa lirih, "Kau tidak memiliki riwayat jantung"
"Kau hantu yang membantu ku kan?" tebak Atha yang melihat penampilan sosok itu yang terdapat sedikit perubahan.
"Betul" ujar sosok itu sambil tersenyum lembut.
"Bagaimana kau bisa masuk kemari?"
Sosok itu memiringkan kepalanya, "Tinggal masuk?"
Atha menggeleng, "Bukan maksudku, rumah ini ada pagar ghaibnya. Tapi..."
"Tidak ada pagar ghaib"
Atha terdiam dengan penuturan sosok itu. Nafasnya terasa tercekat dengan perkataan sosok itu. Dia ingat dia memasang pagar ghaibnya.
"Kau masuk karena kak Alys?"
Atha POV
"Aku tidak tahu nama mu. Kau ingat nama mu kan?"
"Zakra" ujarnya sambil tersenyum. Tapi dengan cepat juga senyuman itu memudar dan menatap sekitar waspada, "Kau harus hati-hati, ada orang yang mengincar kalian"
"Kalian? Maksudmu aku dan Kak Alys?"
Zakra tidak menjawab tapi langsung menghilang, "Hey! Astaga makhluk sialan" umpat ku lirih.
Setelah kejadian itu aku berjalan turun dan mengambil segelas air minum. Sesaat setelah minum, aku menaruh gelas itu di meja makan lalu berjalan menuju dapur.
"Baiklah, buat cemilan kali ya" monolog ku sambil membuka salah satu lemari persediaan makanan milik Kak Alys.
Prangg
Suara benda pecah membuat ku sedikit tersentak, "Apa...?" saat aku melihat gelas yang tadi aku taruh di atas meja makan terjatuh, aku hanya bisa menyerit heran dan mendekati serpihan gelas kaca dengan tatapan penuh tanya juga.
Aku mengambil salah satu serpihan besar dari pecahan gelas itu. Saat aku mengambilnya sebuah bayangan muncul dari balik serpihan itu membuat ku spontan terjatuh karena terkejut. Darah perlahan mengalir dari telapak tangan ku yang terluka karena jatuh tepat di atas serpihan pecahan gelas. Saat ini aku hanya bisa menatap dan membeku pada sosok di depan ku. Sosok perempuan berkepang satu dengan wajah sudah terlihat tengkorak bahkan hanya tersisa setengah wajahnya saja.
Merasa sosok perempuan itu ancaman, aku hanya bisa terdiam karena lidah ku terasa kelu hanya bisa menggerakkan salah satu jari tangan saja membuat sebuah tulisan dari darah yang masih mengalir. Sosok perempuan itu tahu apa yang akan di lakukan diriku langsung menggerakkan tangannya yang sudah berupa tengkorak ke arah ku dan seketika aku seperti di cekik.
"Arya!" teriak ku yang terus memanggil nama sosok penjaga ku itu.
Sosok itu terus berbicara dengan bahasa yang bahkan manusia biasa juga tidak akan mengerti. Perlahan sosok itu mendekati aku dan saat itu cekikannya juga semakin kencang. Aku berusaha melepaskan cekikan itu dan saat dara ku menyentuh tangan sosok itu, bayangan ingatan entah milik siapa tiba-tiba muncul secara random. Dari sosok sepasang kekasih dan kematian mereka sampai sesosok kakek dengan janggut panjang tersenyum pada ku.
"Bilih sampeyan badhe wilujeng, sampeyan kedah **** pencipta sampeyan. Ingkang jahat kesah, ingkang sae wangsul. Ingkang asalipun saking latu badhe tindak dhateng latu, ingkang saking bantala badhe tindak dhateng bantala. Donya menika sanes lah kagunganipun sampeyan-sampeyan sedaya"
Ingatan itu membuat aku mengeratkan gigi lalu menyentuh tangan sosok itu dengan tangannya yang penuh darah, "Ingkang jahat kesah, ingkang sae wangsul. Ingkang asalipun saking latu..." aku tetap berusaha untuk melepaskan cengkeramannya. Tangan ku yang berdarah semakin terasa panas.
Entah karena nafasnya yang mulai menipis atau hal lain, aku tidak bisa memikirkan atau bahkan mengatakan kelanjutan mantra itu.
__ADS_1
"Ingkang asalipun saking latu Badhe tindak dhateng latu, ingkang saking bantala badhe tindak dhateng bantala"
Suara yang tiba-tiba melanjutkan mantra itu dan tangan yang gantian mencekik makhluk itu sampai ia melepaskan ku. Aku mendongak dan melihat Arya yang menatap marah makhluk itu.
"Raden maaf tapi dia disini karena sesuatu. Cari benda yang menjadi kekuatannya, maka kita bisa memusnahkannya" jelas Arya yang terus mencekik makhluk itu.
Aku hanya bisa mengangguk dan membuka pintu rumah. Aku menutup mataku dan mulai menarik nafas dalam dalam. Sebuah aroma yang berbeda membuatku langsung menemukan hal yang janggal. Aku mengikuti insting ku dan menemukan sebuah bungkus putih berbentuk pocong.
Woshh
Angin besar menerpa ku dan aku melihat makhluk itu menatapku marah. Aku menatap makhluk itu dan mengangkat tangan ku yang berdarah. Makhluk itu terpental cukup jauh. Arya menghampiriku, tetapi aku mencegahnya dengan memberikan isyarat dengan tangan ku yang berdarah itu.
"Kau boneka yang malang" ujarku sambil berjongkok satu kaki, "Arya, musnahkan alat ini" pinta ku sambil memberikan bungkusan itu.
"Maaf, tentu Raden"
Aku menatap makhluk itu penuh kasihan, "Aku punya teman seperti mu, aku juga gak bisa berbuat apa-apa" aku mengambil tangan makhluk itu, "Maafkan aku"
Makhluk itu menatapku kosong, "Hati-hati" ujar makhluk itu yang berubah menjadi serpihan debu bersama dengan bungkusan tadi.
Arya memusnahkan bungkusan itu dengan darah ku. Aku bahkan masih bisa lihat darahku yang melayang di atas tangan Arya bersamaan dengan helaan nafas panjang dan tersengal dariku.
Aku duduk bersandar pada meja makan tempat terakhir makhluk tadi, "Tadi itu apa?" tanya ku sambil menatap Arya yang masih melihat ku dengan tatapan lembut.
Arya tersenyum, "Dia adalah pemimpin setan" ujarnya dengan senyuman yang tak pernah hilang saat tengah bersama dengan ku, "Maaf, tapi bagaimana bisa ada pemanggil disini?"
"Pemanggil?"
Arya mengangguk dan saat dia akan menjelaskan suara pintu terbuka membuatmu mendongak.
"Atha?!" panggil kakak Alys yang panik saat melihat aku yang berlumuran darah, "Astaga kamu kenapa?" tanya kak Alys panik.
"Kakak tenang jangan panik gitu, aku gapapa cuma luka di tangan doang" ujar ku yang berusaha menenangkan kak Alys.
Kak Alys menarik tangan ku ke westafel dan menyalakan kran air. Saat darah dari tangan ku mulai mengalir mengikuti aliran air kak Alys langsung melepaskan tangan ku, "Tetap seperti itu, Kakak ambil peralatan dulu" ujarnya yang langsung berlari ke arah tangga.
"Jangan lari kak" peringat ku lembut, "Kau belum jawab aku, Arya"
Arya menunduk, "Maaf, tapi lebih baik saya menjelaskan saat kondisi anda membaik. Saya permisi, maaf" pamitnya yang langsung menghilang.
"Setan kurang ngajar"
"Siapa yang kurang ngajar?" ujar kak Alys yang membawa banyak peralatan.
Aku hanya tersenyum lembut, "Pecahan gelasnya"
Atha POV end.
"Kakak mau pergi sama Kak Alfi, kamu jaga rumah gapapa kan?" celetuk Aly sambil membersihkan luka Atha dengan hati-hati.
"Tentu, jangan kemalaman oke" ujar Atha sambil menyengir.
"Bawel"
...~...
"Gagal?"
Seorang pria melempar semua alat alat yang ada di depannya ke arah samping, "Brengsek!"
"Kan apa ku bilang, jangan mengandalkan alam lain deh" celetuk seorang wanita yang berpakaian dress.
"Kau tetap lalukan itu, kau jangan ganggu" titah seorang pria dengan jas lengkap.
"Baik boss" ucap dua orang itu.
...****************...
__ADS_1