
...****************...
"Hay" sapa Tyno di sebelah kanan Aly yang tengah berjalan.
Aly sedikit tersentak tapi kemudian dia tersenyum, "Tumben?"
"Gak kaget kan?" ledek Tyno dengan senyuman usil.
Aly menggeleng sambil tersenyum, "Kenapa jalan sendirian?"
Pertanyaan Tyno barusan membuat Aly menunduk menatap tanah pijakannya, "Melihat Miko dan Ekgita, membuat ku merasa bersalah"
Tyno terdiam, dia tahu perasaan Aly saat ini. Saat Aly berjalan di depannya dia melihat Aly yang menggosok kedua tangannya, "Apa aku boleh tanya?" ujar Tyno sambil memberikan jaketnya pada Aly lalu mengambil ht milik Aly.
Aly yang terkejut dengan tindakan Tyno terdiam sesaat lalu menggeleng pelan, "Silakan"
"Saat aku mengutarakan perasaan ku, kau bilang mau menyelesaikan masalah mu terlebih dahulu" Tyno terdiam sesaat lalu memberikan kembali ht Aly, "Kalau boleh tanya, masalah apa itu?"
Aly terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Sampai mereka tidak sadar jika mereka sudah cukup jauh dari tenda dan medicube. Aly menghela nafas panjang.
"Singkatnya 2 tahun lalu aku pernah di culik" ujar Aly yang terus berjalan sedangkan Tyno menatap gadis itu terkejut, "Karena insiden itu, aku kehilangan ingatan ku karena syok dan aku baru tahu akhir akhir ini jika kekasih ku juga tiada dalam insiden itu"
Tyno terdiam memikirkan perkataan Aly barusan, "Jadi kau ingin menyelesaikan teka teki ingatan mu lalu mencari pelaku pembunuhan kekasih mu serta penculikan mu, begitu?"
Aly hanya mengangguk, "Apa para pelakunya sudah ketemu?"
"Aku sudah menemukan mereka, tapi aku harus menyakinkan polisi dengan bukti"
"Darimana kau tau kalo mereka pelakunya?"
Aly berhenti tapi masih menunduk, "Karena aku bisa membaca pikiran orang"
Tyno membelakkan matanya terkejut. Dia tertegun sesaat lalu menggeleng pelan, "Siapa saja mereka?"
"Mantan kekasih mu dan…" ucapan Aly berhenti begitupun langkahnya lalu menunjuk sesuatu, "Mereka"
Tyno melihat arah tunjuk Aly lalu menariknya kebelakang tubuhnya, "Kau ingat perintah lari?" Aly mengangguk pelan, "Saat aku bilang lari, lari"
Kini di depan mereka terdapat 2 orang dengan topeng yang berbeda. Tyno menjadi waspada karena dia tahu salah satu orang di balik topeng orange nya.
"Bara" gumam Tyno dengan nada kesal.
"For your info saja ya, aku tidak ikut dalam kasus 2 tahun lalu" ujar Bara yang duduk di atas sebuah batu.
"Sepertinya si Kapten sudah tau identitas mu" ujar si topeng putih polos.
Bara menghela nafas panjang lalu membuka topengnya, "Ada penyusup di anak buah yang ku bawa"
"Penyusup?"
"Bear, Predator"
Tawa kencang terdengar di telinga ketiga orang itu. Selama Bara dan si topeng putih berbincang Tyno menarik tangan Aly.
"Lari" gumam Tyno yang di dengar Aly dan langsung di lakukan oleh Aly.
Bara menggeleng pelan lalu melihat Aly yang sudah berlari, "Bangsat! Sakti, Arikinan kabur!" seru Bara sambil menunjuk kearah Aly.
"Brengsek" gumam Sakti sambil berlari menyusul Aly tapi dengan mudah di cegah Tyno.
Tapi Tyno salah, Bara sudah menyerang dirinya dengan pisau adventure nya. Dengan cepat juga Tyno mengeluarkan karambit nya dan menahan serangan Bara. Melihat celah Sakti lari sambil tertawa kencang.
"Jangan lupakan aku" ujar Bara sambil menekan pisaunya dan tersenyum jahat.
Sakti melompat dan hendak menusuk Aly dengan pisau adventure nya juga. Dengan cepat Aly menghindar dan saat dia kehilangan fokusnya, Sakti kembali menyerang Aly.
__ADS_1
Tring.
Hantaman pisau Sakti dan Aly membuat suara keras. Sakti tertegun sesaat, tapi merasa di remehkan dia menambah kekuatannya. Aly terdorong hingga jatuh, tapu dengan cepat dia kembali berdiri.
'Kekuatan macam apa itu?' pikir Aly sambil memasang kedua knife knucklenya.
"Sebenarnya apa tujuan kalian?!"
Bara tersenyum, "Menghabisi anda kapten. Tapi untuk Sakti, dia hanya ada urusan dengan Dokter itu" jelasnya sambil terus menyerang Tyno dnegan pisau adventure nya.
Merasa mulai terpojok Tyno berniat mengambil pisaunya juga, tapi dengan kekuatan penuh Bara menendang tangan Tyno sehingga pisaunya terjatuh cukup jauh.
Tyno memegang tangannya yang di tendang Bara, "Bangsat"
Sakti tersenyum jahat lalu berlari kearah Aly dengan cepat. Aly belum siap tapi dengan was was dia memiringkan tubuhnya membuat Sakti kehilangan keseimbangannya juga. Tapi disaat itulah dia menyerang Aly kembali. Suara dentingan dua pisau itu menandakan kedua serius tapi.
Brugh.
"Dasar menyusahkan" celetuk Sakti yang menusuk kaki kanan Aly.
"Akhhh!" teriak keras Aly yang membuyarkan fokus Tyno.
"Alys!" panggil Tyno yang akan menghampiri Aly tapi di cegah Bara dengan menendang perut Tyno.
Tyno mundur beberapa langkah, "Fokus Kapt!"
Aly masih menangis menahan sakit pada kaki kanannya yang di tusuk Sakti, "Ah begini saja Dok, saya ada penawaran bagus" ujar Sakti yang berjongkok satu kaki dan mengeluarkan sebuah kotak plastik steril yang ternyata berisikan obat-obatan penting serta anti venom milik Ekgita, "Mari kita barter. Saya akan kembalikan ini, tapi anda harus ikut saya" tawar Sakti yang masih berjongkok dan membuka kotak itu.
Tyno terlempar di depan Aly. Sesekali Tyno terbatuk batuk dan menahan sakit pada perutnya yang di tusuk Bara, walau tidak dalam. Tyno berbalik dan menatap Aly yang masih menangis.
"Bagaimana?" tanya Sakti lagi sambil memainkan tutup kotak itu, "Anda ingat bukan, batas waktu hidup Dokter Ekgita itu hanya sampai…" Sakti melirik jam tangannya, "Pukul 10 saja dan sekarang pukul 09.45, berarti tinggal 15 menit lagi kesempatan hidup Dokter Ekgita akan berakhir"
"Baiklah, lebih baik kita akhiri saja semuanya sekarang" ujar Bara yang mengeluarkan pistolnya dan menarik pelatuknya.
"Alys!" sentak Tyno yang tidak terima dengan ide yang Aly katakan tadi, "Akhhh!" teriak Tyno saat Bara menginjak tangannya yang sempat dia tendang juga tadi.
"Okey" ucap Sakti yang berdiri dan memberikan kotak plastik itu pada Bara, "Anda bisa bangun atau perlu saya gendong?" tawar Sakti saat Aly berusaha berdiri.
"Aku bisa sendiri" judes Aly yang sudah berdiri dan berusaha berjalan. Tapi melihat Aly yang kesakitan Bara memukul tengkuk Aly sampai ia pingsan.
"Alys!" teriak Tyno dan menatap Bara marah.
"Dasar gila" ucap Sakti yang menggapai tubuh Aly dan menggendongnya seperti karung beras.
"Bawa mobil" titah Bara yang langsung di ikuti Sakti. Bara kemudian berjongkok, "Mari bermain hide and seek. Aku tidak akan membunuh Arikinan sampai pukul…" Bara melirik jam tangannya, "12, jadi jangan sampai terlambat" ujarnya yang lalu melempar kotak plastik itu di samping Tyno.
"Brengsek!" umpat Tyno saat Bara sudah mulai menjauh darinya. Tyno perlahan berdiri setelah dia terdiam sesaat. Pertama ia mengecek perutnya yang sempat tertusuk oleh Bara. Akhirnya dia berjalan pelan sambil membawa kotak plastik itu.
Bara duduk di samping Aly yang sudah pingsan, "Ayo, jalan" ujar Bara sambil menatap keluar jendela.
"Kau terlihat sedih, ada apa?" tanya Sakti saat melihat wajah Bara yang sedang melamun.
"Entah, aku hanya sedang memikirkan tentang kematian Gani" celetuk Bara sambil mengeratkan genggamannya.
Sttt "Alys, I will come. I promise" terdengar suara dari ht Aly lalu Bara mencarinya dan mengambil ht itu.
"Just try it. I'll wait you and Doctor Arif, Captain" ujar Bara lalu membuang ht itu keluar jendela.
Sakti tertawa lalu melepas topengnya. Bara sekilas menatap luka Sakti.
"Luka mu belum sembuh?"
Sakti tersenyum, "Biarin aja, manti juga sembuh sendiri"
...~...
__ADS_1
Arif POV
Aku sedang fokus memeriksa pasien di tenda pasien. Perasaan aneh tiba-tiba menjalar dalam benak ku. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati ku. Aku menghela nafas panjang lalu setelah memeriksa pasien aku keluar tenda.
"Dokter Arif!" panggil suara yang sudah ku kenal lama.
"Iya, ada apa Alf?" tanya ku pada suster kesayangan Lysa ini.
"Anda lihat David?" tanyanya dengan wajah khawatir.
Aku mengangkat tangan ku dan melihat jam tangan ku. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.47 malam, "Bukannya dia mengambil obat?" tanya ku juga dnegan khawatir.
"Nah itu masalahnya. Obat Dokter Ekgi belum juga sampai" ucapnya dengan nada penuh ke khawatiran disana.
Aku menghela nafas berat dan membuka kacamataku lalu menekan pelan mataku, "Dimana Lysa?"
Alfi menatapku bingung, "Tadi keknya keluar…"
Tanpa mendengarkan kelengkapan perkataan Alfi, aku berlari meninggalkannya. Saat Alfi melihat apa yang ku dekati, dia juga ikut berlari dan mendekati ku.
"Astagfirullah, David!" seru Alfi sambil membantu ku menopang tubuh David.
"Bawa tenda darurat" ujarku sambil berusaha berjalan membawa tubuh David.
"Arif" panggilnya lirih, "Obatnya…Sakti…" sebelum dia meneruskan perkataannya, dia sudah pingsan.
"Sakti?" gumam Alfi yang sepertinya tahu siapa Sakti ini.
'Obatnya di Sakti? Siapa Sakti?' pikirku sambil tetap berusaha menopang David.
Aku dan Alfi sedikit kewalahan karena tubuh David yang lumayan gempal. Disaat yang tepat, Alfan lewat.
"Alfan! Help, please!" seru ku yang langsung di kerjakan oleh Alfan dengan menggantikan posisi Alfi, "Bawa tenda darurat"
Saat di tenda Darurat, aku memeriksa ² David lalu meminta Alfi mengobati luka yang ada di tubuh David.
"Siapa Sakti?" tanya ku tiba-tiba yang membuat Alfi dan Alfan membeku.
Stt "Alys, I will come. I promise"
Stt "Just try it. I'll wait you and Doctor Arif, Captain"
Suara di ht itu membuat Alfi dan Alfan semakin membeku dalam diam, sedangkan aku sudah membelakan mataku.
"Kapten? Lysa!" gumamku yang panik dan hendak keluar tenda.
"Dokter" panggil Alfan pelan, "Anda harus berhati-hati mulai sekarang. Mereka bukan lawan anda"
Mendengar itu aku hanya keluar dari tenda darurat lalu berusaha berlari mencari Lysa. Dari kejauhan aku melihat seseorang berjalan gontai ke arah ku. Aku menyerit lalu menghampirinya.
"Kapten! Mana Lysa?" tanya ku sambil memegang bahunya. Tak mendapat jawaban aku menarik kerah kemejanya, "Dimana Lysa?!"
Stt "Dokter Aly, Kondisi Ekgita kritis"
Suara pada ht itu membuat ku terkejut panik. Tanpa sepatah kata, Kapten mendorong sebuah kotak obat pada ku.
"Alys ingin kau mengobati Ekgita terlebih dahulu" ucapnya lemah, "Panggilkan perawat ke mess obat-obatan" lanjutnya yang berjalan menjauhi aku.
Aku menyerit lalu melihat kotak obat yang terdapat bercak darah itu lalu berlari menuju ke medicube.
'Lysa, kenapa?'
Arif POV end
...****************...
__ADS_1