Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 55


__ADS_3

...****************...


Tyno yang baru kembali langsung mencari keberadaan Aly tapi dia tak menemukan siapa pun di ruang rawatnya. Kemudian dia mencari Miko di ruangan Ekgita tapi tidak menemukan siapapun juga di ruangab Ekgita. Merasa tidak akan menemukan siapa pun, Tyno memilih untuk kembali ke pantai dimana dia juga baru dari sana.


Saat dia baru sampai di pantai, Tyno dibuat heran dengan parkirnya sebuah jeep yang bukan dari militer dan bahkan dia baru lihat jeep itu. Dia membuang rasa herannya itu dan berjalan menuju bibir pantai. Dari kejauhan Tyno dapat melihat seorang wanita dan lelaki yang  tengah menatap ke arah laut. Perempuan itu dibantu berdiri oleh lelaki itu dengan menahan pinggang perempuan itu.


Langkah Tyno perlahan memelan saat melihat jelas siapa keduanya. Disaat bersamaan perempuan itu berbalik dan mata keduanya tidak sengaja bertemu. Tyno terdiam sesaat lalu berjalan lima langkah dan berhenti.


"Lihat, dia beneran kesini kan. Seperti yang kakak bilang" ucap Aly dengan senyuman lembut.


Atha berbalik dan menatap Tyno jengah, "Kemampuan kakak bertambah?" tanya Atha dengan heran.


"Tidak, kakak hanya menduga saja"


"Wahhh kakak ku jadi hebat" kagum Atha sambil menggenggam kedua tangan Aly, "Kalo kakak butuh sesuatu atau jika dia macam-macam teriak saja, aku tinggal tidur bentar oke" ujar Atha yang menggodanya.


Aly tersenyum sambil mendorong tubuh Atha cukup keras karena godaannya barusan. Atha berjalan mendekati Tyno yang masih terdiam yang berjarak tujuh langkah darinya dan Aly. Atha menyentuh bahu Tyno yang masih terdiam itu, "Kau macam-macam, aku tak akan segan menghabisimu" ancam Atha yang kemudian melewatinya begitu saja.


Setelah Atha meninggalkan mereka berdua, Aly berjalan pelan mendekati Tyno, "Berhenti" Aly berhenti saat mendengar perintah itu. Jarak keduanya hanya tinggal lima langkah, "Mengapa kau kemari?" tanya Tyno tanpa melihat Aly.


Aly memiringkan kepalanya, "Kau marah padaku?" tanya Aly lembut, "Apa kau menyalahkan ku atas hilangnya Alfan?" tebak Aly yang berusaha berdiri dengan kakinya yang tidak sakit.


Tyno mengepal erat, "Jangan seenaknya menggunakan kemampuanmu untuk membaca perasaan orang lain!" sentak Tyno yang tetap mengepal menahan marahnya. Dia juga bingung kenapa dirinya sangat marah sekarang.


Aly merasa terkejut karena Tyno yang mengetahui kemampuannya, tapi dia menipis hal itu sekarang, "Salah"  celetuk Aly yang membuat Tyno melihat dirinya yang tengah menatap Tyno dengan tatapan datar, "Hanya kau yang tidak bisa ku baca isi pikirannya" lanjutnya dan berhasil membuat Tyno menatap nya bingung.


Mendengar perkataan Aly tadi membuat Tyno melupakan rasa amarahnya. Hening. Tak ada yang kembali memulai pembicaraan diantara keduanya. Perlahan bahu kokoh Tyno bergetar. Aly yang melihat itu perlahan mendekatinya.


"Mengapa harus orang yang sudah ku anggap keluarga?" tanya Tyno lirih, "Apa aku tidak bisa bahagia dengan keluarga ku sendiri?!" seru Tyno dengan air mata yang mulai mengalir, "Bunda, Fina, dia, bahkan sekarang Alfan! Orang yang sudah ku anggap saudaraku sendiri" teriak Tyno yang terdengar putus asa, "Apa aku gak berhak bahagia?!" Aly tiba-tiba memeluk tubuh Tyno erat, "Apa ini karma ku?" tanya Tyno lirih.


"Ini bukan karma, tapi takdir" Aly mengelus pelan punggung Tyno, "Tak ada yang bisa menentang takdir, walau mereka memiliki kemampuan melihat masa depan sekalipun"


"Hiks…kenapa…kenapa harus aku…kenapa?" ujar Tyno dengan tangis sesenggukan di pelukan Aly.


Aly menuntun Tyno agar dia mau duduk diatas pasir. Selain kakinya yang terus terasa sakit, Aly juga tidak ingin terjatuh bersama Tyno sekarang.


"Menangislah. Dengan menangis kau bisa merasa lebih baik" ujar Aly dengan lembut dan terus mengelus pelan punggung Tyno. 15 menit berlalu, tangisan Tyno sudah berhenti tapi dia masih sesekali sesenggukan, "Lebih baik?"


Tyno mengangguk pelan lalu membalas pelukan Aly walau dia masih belum menunjukkan wajahnya, "Terimakasih"


Aly tidak menjawab Tyno, "Maafkan aku. Jika saja kejadian itu tidak terjadi, pastinya Alfan masih ada sekarang" sesal Aly yang menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Tyno tanpa air mata, "Tapi semua sudah berlalu dan penyesalan memang selalu diakhir" Aly menghela nafas pelan.


"Untuk sekarang yang  mereka inginkan bukanlah kesedihan kita. Mereka juga tidak ingin melihatmu sedih dan terus menyalahkan dirimu sendiri" ucap Aly dengan tenang, "Bukan air mata yang mereka inginkan. Yang mereka inginkan adalah kebahagian mu dan doa darimu…hanya itu yang mereka inginkan dari mu untuk sekarang" lanjut Aly sambil terus mengelus pelan punggung Tyno.


Tyno masih terdiam, dia makin mengeratkan pelukannya, "Kau tahu" celetuk Tyno lirih, "Kau membuatku semakin jatuh cinta" ujarnya pelan, "Aku ingin melindungi mu terus, dan bersama mu selamanya" lanjutnya dengan nada yang begitu berharap.


"Mungkin aku bisa mempertimbangkan itu sekarang" celetuk Aly yang berhasil membuat Tyno langsung melepaskan pelukannya.


"Maksudmu?"


"Aku bisa saja mengatakan ya atau tentu" ujar Aly dengan senyuman usilnya.


Tyno menatap Aly tidak percaya, "Kau mau menerimaku?!" ulang Tyno dengan semangat.


Aly tidak langsung menjawab pertanyaan Tyno barusan, "Kan aku masih memikirkan"


Mendengar jawaban itu Tyno melompat kegirangan, "Artinya masih ada harapan lah!" Tyno berlari mendekati ombak, "Alyssa aku mencintaimu!" seru Tyno yang membuat Aly menatapnya tidak percaya.


Sekelebat ingatan bersama Zakra tiba-tiba saja muncul, "Aku mencintaimu Alyssa!"


Senyuman Aly menjadi sangat bahagia, "Kalian berdua sama. Dan aku mencintai kalian berdua" gumam Aly yang masih duduk di pasir sambil melihat Tyno yang terus berteriak kearah laut, 'Sekarang kita harus pikirkan bagaimana mengatakan kepadanya tentang Kamila'


Atha yang sejak tadi melihat keduanya dari kejauhan hanya bisa tersenyum kecil, "Kakak bahagia, aku juga ikut bahagia. Jangan sampai kau menyakitinya, Arisakti" gumam Atha dari balik pohon yang kemudian berjalan menuju mobil jeepnya.


...~...

__ADS_1


Jakarta, 1 Okt


07.00


Galang baru saja sampai di kantornya. Hari ini adalah perdananya berangkat ke kantor setelah kejadian penembakan dirinya beberapa saat lalu.


"Hormat, lapor ada tamu yang menunggu anda di ruangan" seorang tentara melapor dengan tegas saat Galang baru saja memasuki koridor dimana ruangannya berada.


"Apa dia mengatakan kepentingannya?" tanya Galang sambil membuka knop pintu, "Ouh lupakan, bisa kau buatkan kami teh?" pinta Galang yang sebenarnya sedang terkejut dengan kedatangan tamu yang tak pernah dia harapkan.


Tentara itu pergi saat Galang menutup pintunya, "Apa kabar…Lian?"


Lian tersenyum lembut saat Galang menyapanya hangat, "Seperti yang kau lihat, Kak"


"Ada perlu apa sampai orang sibuk seperti mu datang ke kantor ku?" sindir Galang sambil menyenderkan punggungnya ke kursi single yang dia duduki.


"Aku hanya ingin bertemu Kakak. Aku dengar Kakak sakit" ujar Lian yang duduk menopang pada kakinya.


Galang menatap Lian tajam, "Aku tahu siapa kau. Kau kemari bukan hanya itu kan?"


"Kau masih marah dengan ku?" tanya Lian yang terus melirik Galang.


Hembusan nafas berat dikeluarkan oleh Galang dan membuat Lian menatapnya heran, "10 tahun. Kau pikir 10 tahun itu singkat?" tanya Galang lirih, "Kau membuang anak mu demi Wanita itu" ujarnya dengan penuh penekanan.


Lian menunduk dalam, "Apa dia akan memaafkan ku?"


"Siapa yang sedang kau maksud?" seorang tentara masuk sambil membawa nampan berisikan 2 gelas teh, "Althy atau Ika?" tanya Galang setelah dia menyesap tehnya.


Lian menatap Galang terkejut setelah mendengar nama mendiang istrinya disebut, "Keduanya"


"Aku bukan cenayang yang bisa berkomunikasi dengan mereka yang sudah tiada, jadi aku gak tau perasaan Ika sekarang. Tapi kalau kau tanya Althy" Galang berhenti sesaat menyesap tehnya lagi, "Dia pasti akan memaafkan mu, tapi kapannya itu aku juga tidak tahu" jelasnya yang kemudian kembali meminum tehnya.


"Aku akan menceraikan Kamila"


"Karena dulu aku menjadi buta dan tuli" Lian menatap teh yang berada di dalam gelasnya, "Seandainya aku mendengarkan perkataan Althy dulu, pasti sekarang aku masih aman dan nyaman dengan hidupku"


"Kenapa?" tanya Galang yang menyeruput tehnya sampai habis.


"Kamila sudah melakukan tindakan hukum. Juga dengan Arikinan"


Pufttt.


"Kakak!" Lian mengambil tisu di depannya lalu membersihkan sekitaran mulut dan baju Galang, "Kakak gak kenapa-napa kan?"


Galang tercengang sesaat, "Arikinan?! Kenapa mereka?"


Lian mengangguk, "Kamila punya dendam lama dengan mereka dan ternyata aku cuma alat untuknya, guna membalaskan dendamnya itu"


"Kejahatan apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Wanita itu ha?"


Lian mengeluarkan sebuah map cokelat berukuran besar dar dalam tas kerjanya, "Jawabannya ada dalam itu"


Tok…tok


Seorang tentara masuk dan langsung memberi hormat, "Maaf Jendral, Mayjen Hari dan Komandan Setyo bilang untuk melakukan persiapan sidang"


"Baiklah" celetuk Galang yang mempersilakan Tentara itu keluar, "Aku terimakasih dengan kemurahan hati mu, silakan keluar karena aku ada urusan" usir halus Galang yang berdiri dan menuntun Lian untuk keluar.


Lian menatap Kakaknya itu sinis, "Baiklah. Jangan lupa buka map itu" ujar Lian yang mengiatkan Galang dan hanya di balas anggukan-anggukan kecil darinya.


Setelah Lian pergi Galang langsung membereskan beberapa perlengkapannya untuk dia bawa ke tempat sidang berlangsung nanti. Saat akan keluar Galang tidak sengaja melihat map cokelat yang tadi Lian berikan dan langsung dia bawa juga.


"Ayo jalan" perintahnya pada salah satu bawahannya yang akan menyetir.


Di dalam mobil Galang membuka map itu dan mengeluarkan tumpukan foto Kamila dan seseorang yang tidak dia kenal. Lalu dia mengeluarkan sebuah tumpukan kertas dari map itu dan mulai membacanya. Salah satu judul dalam tumpukan kertas itu membuatnya menyerit dan terus membolak-balikkan kertas-kertas itu dengan kasar.

__ADS_1


"Apa ini?" gumam Galang yang kembali membuka kertas yang membuatnya bingung dan heran, "Bagaimana mereka tahu tentang kejadian penembakan ku?" ujarnya lirih.


...~...


Donggala, 05.30


Aly dan Tyno tengah melihat sunrise sambil meminum teh yang Tyno buat. Saat mereka selesai berbincang Atha bilang untuk memberinya waktu tidur 15 menit sebelum mereka kembali, karena itu mereka bisa santai sesaat.


"Ini pertama kalinya aku ke pantai melihat sunrise" celetuk Aly sambil menyesap tehnya lagi.


"Kau belum pernah camping di pantai?"


Aly menggeleng, "Aku besar di luar negeri, jadi harus berfikir dua kali jika ingin keluar rumah"


Tyno tersenyum lebar, "Kau besar di laur tapi sepertinya keluargamu masih mencintai dan menyanyangi mu"


"Karena aku anak pertama dan cucu pertama perempuan satu-satunya"


Tyno berhenti meminum tehnya, "Apa di keluargamu hanya kau perempuannya?"


Aly menggeleng pelan, "Ada Mam sama Nenek, tapi kalau darah Arikinan aku dan Mam"


"Berdua doang?!"


Aly mengangguk sekali lalu kembali melihat matahari, "Miko cerita soal pertemuan kalian"


Puffttt


Semburan keras itu membuat Aly sedikit panik, "Kau tak apa?"


Tyno hanya bisa menggeleng, "Dia cerita apa aja?"


"Underground, komanya dia sampai kegilaan mu (?)"


Tyno tersenyum getir lalu senyuman itu menghilang setelah dia mengingat perkataan Aly tadi. "Bentar, kau tau underground?", Aly mengangguk ragu, "Tau dari mana?"


"Apa aku harus membeberkan rahasia keluarga?" celetuk Atha yang bergabung diantara keduanya.


Keduanya terkejut bukan main sampai Aly memukul Atha cukup keras, "Rahasia keluarga?"


"Oh, ho'oh" jawab Atha mengiyakan, "Arikinan itu bisnis keluarga yang berjalan di bidang pengembang marketing dan sekarang app creation" Atha menjeda penjelasannya sesaat lalu mengambil teh milik Aly, "Tapi kami tentu ada bisnis lain"


Tyno menatap Atha curiga, "Di underground?"


"Gotcha" Atha menjentikkan jarinya beberapa kali agar Tyno mendekat, "Kami ada bisnis bodyguard, killer sampai kidnapped" bisik Atha yang membuat Tyno mundur, "Selain itu kami juga menawarkan pengambilan organ dari orang-orang yang kami tangkap" Atha merangkul Tyno, "Dan tenang saja. Semua itu karena kontrak bukan kehendak kami"


Tyno hanya bisa bergidik ngeri dengan perkataan Atha tadi. Aly memukul keras bahu Atha sehingga membuat di empu meringis kesakitan, "Jangan nakut-nakutin dia bisa?"


Atha tersenyum usil, "Ayo balik, aku lapar" ujar Atha yang memegang perutnya, "Ah iya, Kakak sama Kak Tyno aja ya, Atha ada rapat bentar soalnya"


Selama perjalanan Tyno terdiam sambil memperhatikan Aly terus menerus, "Tadi…Atha bercanda kan?"


Aly menatap Tyno, "Dia hanya melebih-lebihkan beberapa part, tapi untuk killer dan kidnapped benar" dia bentar sesaat merasakan hembusan angin di wajahnya, "Predator berisikan orang-orang yang mempunyai hutang pada Arikinan dan membayarnya dengan nyawa "


"Hutang yang dibalas nyawa?"


"Hutangnya bukan hanya uang, budi bahkan sampai nyawa Arikinan yang mereka incar dulu" mengeluarkan tangannya keluar jendela, "Contoh saat Bernando menyerang kita, ingat ada orang bertopeng membantu kita?" Tyno mengangguk sesaat, "Dia Fox, dia masuk Predator karena hutang nyawa. Ada juga Monty yang masuk Predator sebagai hukuman karena hampir membunuh Mam"


Tyno ber oh ria lalu menatap Aly sesaat, "Beast juga seperti itu dulu"


"Kau mau membangun Beast lagi?" tawar Aly dengan wajah misterius.


Tyno melirik Aly lalu tersenyum kecil, "Kau bisa bantu?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2