Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 4


__ADS_3

...****************...


Semua tim yang baru datang langsung turun dan diarahkan menuju tempat pengungsian dengan truk Tentara. Saat mereka sampai di tempat pengungsian sudah banyak relawan, Tentara, bahkan tim medis yang membantu para korban gempa itu.


"M 6,4 sudah bisa menghancur kota ini, bagaimana jika M 7,0?" gumam Iza yang menghapus air matanya.


Arif yang sedang membagikan pita pada tim nya menepuk pelan kepala Iza, "Mungkin sudah bisa menghancur satu provinsi" ujarnya sambil menyerahkan kotak berisikan pita pada Alfi.


Dengan santai Alfi menampar tangan Arif kencang, "Omongan doa loh" sentaknya halus.


"Sudah, ayo bekerja. Iza, Alfi, dan David kalian urus barang-barang kita dulu. Kalian berdua berpencar" ujar Aly yang langsung mendekati seorang ibu yang tidak jauh dari tempatnya turun tadi.


Setelah semua yang diperintahkan Aly selesai, Alfi langsung bergegas menghampiri Aly yang sudah berada di tenda darurat yang tengah memeriksa seorang pasien disana.


"Alf berikan dia infus kristaloid, dan terus pantau" mendengar itu Alfi mengangguk dan langsung melakukan apa yang Aly katakan.


"Umm permisi" seorang wanita berpakaian tentara namun memakai jas dokter mendatangi Aly, "Kau Dokter?" tanya wanita itu sambil menatap Aly.


"Umm iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Ah sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu, sebelumnya aku Mika Cecilia. Kau bisa memanggilku Cecil" ujar perempuan itu sambil memperkanalkan diri.


"Alysa Mustika, Aly"


"Sebenarnya bisa kau bantu aku mengurus salah satu tentara disana. Dia adikku, kakinya terkilir dan aku ada rapat sekarang, jadi aku tidak bisa mengobatinya. Bisakah kau mengibatinya?"


Aly mengerjapkan matanya berulang kali, "Tentu".


"Terimakasih, katakan saja padanya Cecil yang menyuruhmu" teriak Cecil sambil berlari menjauhi Aly.


Aly menghela nafas pelan dan berjalan menghampiri seorang pria yang tengah duduk di sebuah velbed, "Permisi, saya disuruh Cecil untuk mengobati anda" Aly masih berdiri menatap pria berpakaian Tentara lengkap itu.


"Hm" gumam pria itu.


Tanpa basa basi lagi Aly langsung memeriksa kaki pria itu dan memberikan obat salep lalu memasangakan perban elastis, "Anda keseleo dan mungkin efeknya akan nyeri, tapi mengingat kita sedang berada di tempat seperti ini, saya sudah memasangkan perban elastis agar mengurangi rasa nyerinya" jelas Aly sambil kembali menata peralatan pribadinya.


"Siapa nama mu?" Aly menatap pria itu bingung, "Ck, aku Miko Mahandika".


"Ah iya, Saya Alysa Mustika"


"Berapa umur mu? Kau terlihat 'muda' untuk seorang Dokter lama" tanya Miko yang bediri dan mencoba membiasakan pergerakan kakinya yang keseleo.


"Umur?" tanya balik Aly yang menbuat Miko mengangkat salah satu alisnya, "Memang saya masih muda untuk menjadi seorang Dokter, tapi itu bukan hambatan untuk saya berkembang kan?"


Miko tersenyum tipis, "Terserah kau saja, Oh iya terimakasih" ujar Miko sambil berjalan menjauhi Aly.


Aly menghela nafas pasrah lalu kembali kedalam tenda darurat.


...~...


Aly baru saja selesai dan berniat kembali ke tenda istirahat khusus Dokter. Tetapi mengingat tempat itu belum ada listrik, serta handphone Aly yang mati mau tak mau dia harus memakai senter kecil yang biasa dia pakai untuk memeriksa pasiennya. Sesekali Aly memeriksa jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Merasa dia sudah berjalan sangat lama, Aly berjongkok sebentar dan melihat sekitar.


"Aku tersesat atau gimana sih ini" kesal Aly yang menggembungkan pipinya sambil terus melihat sekitar, "Tapi…ngeri juga. Malem, sunyi, gelap. Seandainya gak ada kamu, suram jalan ku" monolog Aly sambil menunjuk bulan bulat yang berada di langit, "Okeh, walau tersesat aku harus berjuang menemukan jalan yang benar. Semangat!" ujar Aly yang menyemangati dirinya sendiri.


Saat Aly mulai berjalan lagi, karena jalanan begitu gelap dia tidak melihat bahwa di depannya terdapat lubang bekas gempa dengan diameter cukup besar dan cukup dalam juga. Aly tidak fokus pada jalan di depannya, sehingga.


Srekk.


"Kyaaa!"


Grepp.


Aly memejamkan matanya erat. Bibirnya bergetar hebat karena ketakutan, "Astaga…Astaga…Astaga" bisik Aly sambil menutupi wajahnya dengan tangannya, "Bentar, aku kan sendirian. Siapa yang nyelamatin aku?" gumam Aly sambil kembali menutup matanya dan wajahnya dengan tangannya sesaat dia mengingat dia sendirian dan siapa yang menyelamatkannya?


"Setan Lombok" suara serak nan berat itu membuat Aly secara otomatis mendongak mencari tahu siapa yang berbicara, tapi moment yang tepat bulan tetutup awan menbuat Aly tidak dapat meluhat siapa yang menyelamatkannya.


Pikirannya sudah melayang kearah yang menakutkan, "Siapa pun kamu, maafkan aku. Aku hanya numpang lewat, maaf jika tadi aku menginjak mu. Beneran deh, aku cuma tersesat tadi" celoteh Aly yang ketakutan membuat orang yang menyelamatkan Aly mendengus geli dan terkekeh pelan.


"Anda harus membayar semuanya"


"Okeh-okeh apa yang kau inginkan? Menyan? tumbal?" tanya Aly sambil masih terus menutup matanya.


Orang yang menyelamatkan Aly menatap Aly heran dengan tawaran-tawaran Aly tadi, "Anda itu benar-benar aneh ya"


"Apa…apa aku boleh pergi?"


Orang itu tersenyum usil melihat ketakutan Aly, "Tidak…anda harus ikut saya".


Aly berkata lirih karena ketakutan, "Aku…aku mohon, lepaskan aku oke, gantinya aku akan beri kau menyan. Tapi lepaskan aku dulu, ku mohon, aku hanya ingin ke tenda istirahat medis saja".


Orang itu mengeratkan pelukannya, karena posisi mereka yang sekarang berada di pinggiran lubang itu, "Coba anda pikirkan, mana mungkin ada tenda istirahat ditempat berantakan seperti ini? Sudah jelas anda salah jalan, nona aneh".


"Bagaimana kau tahu dimana tenda istirahat?" Aly terdiam sesaat, "Oh iya, kau kan penunggu sini, makannya kau tahu seluk beluk tempat ini".


"Ck" oke pria itu mulai kesal dengan celotehan Aly yang makin tidak masuk akal itu.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga pria itu menggotong tubuh Aly memindahkannya ke tempat yang pijakannya lebih aman, "Kyaaa, oke maaf aku hanya mengatakan kebanaran kan?" pekik Aly dengan suara ketakutan.


Brugh.


Pria itu menghempaskan tubuh Aly keatas tanah dengan lumayan keras karena kekesalan pria itu. Pria itu merosot kesamping dan berlutut satu kaki di depan Aly yang masih menutupi wajahnya dengan tangannya. Perlahan pria itu menyingkirkan kedua tangan Aly dari wajahnya, dan menarik dagu Aly agar mendongak melihatnya. Secara kebetulan juga cahaya rembulan kembali bersinar dan tepat mengenai wajah Aly.


'Malaikat?' pria itu menggeleng keras, "Oy, buka matamu" titah pria itu.


Aly yang masih ketakutan, tapi dengan keberanian yang ada dia membuka sebelah matanya perlahan, lalu menutupnya kembali saat melihat pria itu sekilas, "Aa…iya iya, kau tampan kok, aku mengakui hal itu"


Pria itu menghela nafas kesal dan mengacak-acak rambutnya yang tidaj terlalu pendek itu, 'Bagaimana bisa, aku sefrustasi ini karena wanita aneh ini?!', "Buka matamu itu atau aku buang kau ke bawah reruntuhan itu" ancam pria itu dengan tegas.


"Jangan! Oke oke" seru Aly yang langsung membuka matanya dan sedikit terkejut saat pria itu sudah berada di depannya yang hanya berjarak 4 jengkal, "Si penyerobot antrian?!"


"Saya punya nama" ujar pria itu dengan wajah datar.


Aly membuang wajahnya karena malu mengingat kejadian tadi, "Ya…maaf kan aku belum…tau namamu" ujar Aly lirih dan masih menatap arah lain.


"Anda itu Dokter tapi bisa buat orang fruatasi juga ya" kesal pria itu sambil menatap arah lain.


Merasa tak terima Aly bangun dari posisinya, "Kau Tentara tapi ketus banget. Lagian kenapa kau menceramahiku ha? Memangnya kau udztad ha? Lagi pula kau duluan yang menakut-nakutiku" sembur Aly yang mulai merasa kesal.


"Ck. Kenapa jadi memarahi balik?" gumam pria itu sambil mengusap wajahnya kesal, "Dengar ya, saya baru saja menyelamatkan anda. Setidaknya ucapkan terimakasih"


Aly melongo mendengar penuturan pria itu, "Songong kali kau! Main nuntut makasih pula! Oh ya, kau juga yang menakut-nakuti diriku duluan kan, jadi kau harus minta maaf!".


Pria itu meremas angin sambil menghela nafas kesal, "Dengar kalau saja tadi saya tidak menarik anda, anda pasti sudah menjadi salah satu penghuni tetap kawasan ini, paham!"


"Kau berteriak padaku?"


"Anda dulu yang memulainya" desis Pria itu sambil membuang wajah.


"Kau menyelahkanku? Aku hanya membe…"


"Saya tidak menakuti anda, nona aneh" pria itu mendekati Aly yang membuat jarak mereka hanya tinggal sejengkal, "Saya hanya mengikuti anda karena anda berjalan ke kawasan terlarang. Tadi anda bilang mencari tenda istirahat, jawabannya berada di bagian Timur bukan Selatan"


Aly menatap mata hitam pria itu, mata tenang itu…ada terlihat tatapan khawatir disana. Tiba-tiba kepala Aly berdenyut kencang, pijakan Aly menjadi oleng. Melihat gerakan aneh Aly, pria itu memegang salah satu bahu Aly erat.


"Anda kenapa?" tanyanya yang mulai khawatir dengan keadaan Aly.


"Dengar…larilah…jangan melihat kebela…"


"Terlambat"


Dor.


"Hey, kau kenapa?"


Aly menyingkirkan kedua tangan priaa itu dari bahu Aly, "Aku tak apa" ujar Aly yang berusaha mulai berjalan.


Pria itu menghela nafas pasrah. Tiba-tiba Aly berhenti, dan berbalik, "Kau berhutang maaf"


"Kau…wey hidungmu"


Aly memegang hidungnya dan melihat ada darah yang terus mengalir, "Astaga" gumamnya sambil mendongakkan kepalanya agar mimisannya segera berhenti.


"Anda bawa tisu?"


"Ah iya, ada di saku jas sebelah kanan" pria itu merogoh saku jas Dokter Aly dan langsung mengambil 2 tisu.


"Haish, sepertinya gula darahku rendah" ujar Aly sambil terus mendongak.


Mendengar itu pria itu langsung berjongkok, "Naik" titah pria itu, "Tak ada penolakan"


Aly ingin sekali berprotes, tapi karena mimisan itu tenaganya menjadi menipis dan menuruti apa yang dikatakan pria itu. Pria itu berjalan dan masih memberikan tisu pada Aly.


"Maaf kan aku"


Mendengar itu Aly menatap wajah pria itu dari samping. Diam-diam Aly tersenyum penuh kemenangan, "Gitu dong dari tadi, dasar penyerobot antrian" ujar lirih Aly sambil menaruh kepalanya di pundak pria itu.


"Althyno Dharma"


"Ha?"


"Althyno Dharma, Tyno"


Lagi-lagi Aly tersenyum tipis, "Dasar Setan Lombok" gumam Aly yang matanya mulai memberat.


"Aku masih bisa dengar" tak ada jawaban hanya dengkuran kecil yang membuat Tyno terkekeh lirih, "Selamat malam".


...****************...


.......


.......

__ADS_1


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2